Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Modus Zain


__ADS_3

Dokter Atha langsung mendorong Zain. Kesal dan emosi dengan pimpinan rumah sakit yang terkadang galak dan terkadang aneh. Ingin rasanya marah karena dia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


"Ada apa Dokter Zain, mengapa Anda ke sini tanpa ketuk pintu terlebih dahulu?"


"Apa perlu mengetuk pintu di ruangan calon ...?" Zain tidak melanjutkan ucapannya. Dia memilih menutup mulutnya sambil tersenyum devil.


"Calon apa?" tanya Dokter Atha jutek.


"Tidak usah di bahas, sebentar lagi Al datang ayo, cepat siap-siap temani dia ke ruang rawart inap Bu Titin!"


Dokter Atha lansung berjalan dengan langkah panjang menilnggalkan Zain. Tidak ingin berdebat lagi dengan dia yang selalu berbicara tidak jelas. Terkadang Dokter Atha kurang memahami perkataan Zain.


Zain langsung berjalan menyusul Dokter Atha, "Eee malah di tinggal!"


Zain berjalan mengikuti langkah panjang Dokter Atha. Dia berusaha berjalan mensejajarkan badannya dan berjalan beriringan. Berusaha bekerja sambil bisa mengenalnya lebih dekat.


Dokter Atha berjalan sambil memperhatikan ponsel. Terkadang dia fokus membaca dan terkadang mengetik sesuatu di ponselnya. Terkadang hanya melirik Zain tetapi tanpa kata.


Ada suara dering ponsel milik Dokter Atha dan dia langsung menggeser tombol hijau. "Ya dik ...."


" ...."


"Dia sudah bersama Kakak."


" ...."


"Baiklah."


Ponsel di matikan dan langsung di masukkan di saku. Berjalan lebih cepat menuju lobi rumah sakit. Tidak memperdulikan Zain ingin bertanya dan berjalan dengan cepat.


"Eee wanita ini, mengapa jalannya cepat sekali sih?" gerutu Zain dalam hati.


Selama ini Zain selalu dikeliingi wanita cantik. Selalu dengan mudah mendapatkan perhatian dari mereka. Baru kali ini bertemu dengan wanita yang tegas dan cenderung jutek dan cuek.


"Dokter Atha, apakah yang menghubungi barusaan Al?"


"Ya ...."


"Sampai di mana dia sekarang?"


"Depan."

__ADS_1


Alfian berjalan memasuki rumah sakit sambil menggandeng Rania. Dokter Atha langsung berlari dan menyambut kedatangan mereka. Dokter Atha memeluk Rania dengan penuh kehangatan, "Bagaimana keadaan dekbay di sini, sehatkah?"


"Alhamdulillah sehat."


Rania berjalan beriringan dengan Dokter Atha sambil berbincang. Zain dan Alfian juga berjalan beriringan di belakang juga sambil berbincang, "Jutek banget sih Kakak elu!" kata Zain.


Alfian hanya tersenyum dan merangkul sahabatnya, "Kena batunya lu, harus berjuang dengan keras kalau mau mendapatkan Kakak gue."


"Kalau di rumah apakah dia juga begitu sikapnya?"


"Tidak ... dia itu jutek jika bertemu dengan laki-laki modus seperti elu."


"Ceritakan dong, tentang Kakak elu, sebagai referensi agar gue lebih mudah mendapatkan dia!"


"Kagak mau, elu harus usaha sendiri. Gue hanya bisa memberikan satu informasi penting tentang dia."


"Ok apa itu?"


"Setelah peristiwa penusukan Papi oleh Papa beberapa tahun lalu, Kakak gue tidak berniat untuk berpacaran atau menikah."


"Kok Bisa, apa hubungannya?"


"Cari tahu sendiri, dong. Gue sudah bilang cuma memberikan satu informasi tentang Kak Atha."


Ibu Titin langsung duduk sambil tersenyum setelah melihat Rania, "Apa kabar, Neng Rani?"


"Rani baik, Bu. Ibu bagaimana?"


"Ibu sudah baikkan."


Sambil berbincang, Dokter Atha memeriksa kondisi Ibu Titin. Alfian berpesan jika ada yang di perlukan jangan sungkan meminta kepada Bibi Esih. Alfian meninggalkan Rania untuk bisa berbincang bersama Ibu Titin. Dokter Atha juga kembali ke ruangan pribadinya untuk melanjutkan pekerjaan.


Zain juga ikut keluar ruang rawat inap milik Ibu Titin Suhartin. Mereka berjalan bertiga menuju ruangannay masing-masing. Yang pertama berbelok adalah Alfian, kemudian Zain tetapi Zain terus berjalan mengikuti Dokter Atha berjalan.


Dokter Atha langsung menghentikan langkahnya saat menyadari Zain mengikuti dari belakang. Zain tetap berjalan sambil menunduk melihat ponselnya. Kedua kalinya Zain menabrak tubuh Dokter Atha dan dua kali pula dia langsung memegangi pinggangya.


Ponsel Zain terjatuh dan pecah menjadi dua. Dokter Atha mendorong tubuh Zain dengan cepat dan wajah yang memerah menahan emosi. Zain tidak melihat wajah Dokter Atha tetapi fokus pada ponsel yang jatuh dan pecah menjadi dua.


Dokter Atha tidak jadi emosi karena melihat ponsel yang ada di bawah kakinya dan pecah. Dengan bersamaan mereka mengambil ponsel yang ada di lantai. Hanya saja Dokter Atha mengambil satu dan Zain juga mengambil satu.


"Kalau begini siapa yang salah, ruang Dokter Zain ada di belakang Anda. Mengapa Anda mengikuti saya?"

__ADS_1


Zain gugup dan gelagapan, tanpa menyadari kantornya sudah terlewat."Tidak ada yang salah. Tidak ada masalah ponsel patah jadi dua, yang penting Dokter Atha tidak mematahkan hatiku."


"Sudah berapa wanita yang Anda rayu hari ini, Dok?" tanya Dokter Atha sambil menyerahkan separoh ponselnya.


Zain tergelak dan tersenyum, "Enak aja, aku tidak pernah merayu wanita selain Diokter Atha."


"Waow ... betulkah?"


"Betul dong, mengapa tidak percaya?"


Gantian Dokter Atha yang tersenyum devil, "Semua orang tahu siapa Dokter Zain. Prermisi saya mau kembali ke kantor."


Zain hanya membelalakkan matanya. Tidak menyangka dia mengetahui siapa dirinya. Harus mmemeliki ide agar masih bisa berdua dengan dia, "Tunggu dulu, Dok!" teriak Zain.


Dokter Atha langsung menghentikan langkanya, "Ada yang perlu saya bantu, Dok?"


"Aku ingin membicarakan tentang peresmian rumah sakit ini yang akan di laksanakan hari minggu lusa."


Dokter Atha mengerutkan keningnya karena kemarin mendengar sudah ada panitia yang menangani tentang peresmian rumah sakit yang akan di lakukan sebentar lagi. Dari awal Dokter Atha tidak ikut dalam kepanitiaan peresmian. Dia memilih fokus dengan tugasnya sebagai seorang dokter.


"Sudah ada panitia yang mengurusi tentang itu, mengapa harus membicarakan dengan saya?"


Zain tersenyum kecut, modusnya kali ini tidak berhasil. Biasanya wanita yang di modusin dengan mudah masuk perangkapnya, "Aku hanya ingin minta pendapat tentang acara yang aku masukkan pada acara itu nantinya."


"Baiklah, ayo ke kantor Anda saja!"


"Terima kasih ... ayo!" Tanpa sadar Zain mengulurkan tangnnya ingin menggandeng Dokter Atha.


"Maaf saya bisa jalan sendiri." Dokter Atha langsung berjalan mendahului Zain berbalik arah menuju kantor Zain.


Zain tersenyum cengar-cengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berjalan mendahului Dokter Atha dan membukakan pintu Untuknya, "Silahkan masuk!"


"Terima kasih."


"Silahkan duduk di sini, aku bukakan laptop sebentar!"


Zain menarik kursi kebesarannya untuk duduk Dokter Atha. Dokter Atha langsung duduk tanpa menolak. Zain langsung membuka laptop dan menekan tombol on.


Dokter Atha fokus melihat laptop milik Zain. Zain sedang menggerakkan mouse untuk mencari data yag akan di tunjukkan kepada Dokter Atha. Tanpa di sadari Zain berdiri di samping Dokter Atha hampir menempel badannya.


"Ini data yang aku ...!" Zain belum sempat melanjutkan ucapannya. Pintu terbuka ada Alfian masuk tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


"Mau elu apakan Kakak gue?"


__ADS_2