
"Neng Geulis, jangan menangis aku bingung harus bagaimana, ayo duduklah di kursi itu!"
Alfarizi memapah Neng yang masih terisak duduk di kursi yang ada di samping pojok lobi hotel. Rasanya hati dan pikirannya selalu saja tidak bisa diajak kompromi. Biasanya dia akan selalu menolak saat kontak langsung dengan lawan jenis, tetapi saat ini dia diam saja saat dipapah olehnya.
"Neng Geulis, aku minta maaf membuat kamu kaget dan syok karena ini."
Neng hanya menggelengkan kepalanya, air mata tidak bisa berhenti mengalir. Alfarizi mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya dan mengusap lembut air mata yang ada di pipinya. Dan anehnya Neng hanya diam saja, pikirannya ingin menolak tetapi badannya tetap tidak bergerak.
"Cukup Neng Geulis, apapun mau kamu akan aku lakukan!"
"Maaf Tuan saya ingin pulang."
"Baiklah, ayo aku antar pulang, tunggu aku panggil putra kita!"
"Tidak perlu, Alfian berhak bertemu dengan orang tua Anda, antar saja nanti sore ke rumah!"
"Kalau begitu, kamu saja yang aku antar pulang!"
"Bukankah Anda akan menuruti apapun yang saya inginkan?"
"Ya katakan apa?"
"Anda tidak perlu mengantar saya!"
"Neng Geulis, bagaimana bisa aku membiarkan kamu pulang sendiri?"
"Tidak, saya tidak pulang sendiri, tolong panggilkan Desi atau Bang Harry!"
"Baiklah, tunggu di sini!"
Alfarizi berlari dengan setengah hati meninggalkan Neng yang masih syok dan terisak. Mencari Dokter Harry atau Desi diantara tamu yang datang. Dia hanya melihat Desi dan Surya sedang berduaan duduk di jejeran para tamu undangan.
Alfarizi menceritakan sekilas kejadian itu kepada kedua asisten dan ingin minta bantuan untuk mengantarkan pulang. Membuat Surya memiliki ide jahil agar dua bos itu bisa bersatu. Saat di panggung tadi Surya dan Desi juga sudah melihat kronologinya.
"Apakah Bu Mitha sudah makan, Tuan?" tanya Surya mulai aksinya.
"Belum ...."
"Sebaiknya Anda bawakan menu makan untuknya dulu sebelum pulang, Tuan!"
"Tidak mungkin dia mau makan, Surya."
"Di pakai senjatanya, Tuan!"
"Senjata apa maksudmu, aku saja baru bisa memegang tanganya, tidak lebih dari itu."
__ADS_1
"Idih Tuan ini pikirannya ke sana aja sih, maksud aku Alfian itu kelamahan Bu Mitha, jadi harus Anda gunakan sebagai senjata."
"Bagaimana caranya?"
"Ajak Alfian menemui Bu Mitha sambil membawa menu makan lengkap, bilang saja putra Anda ingin makan bersama maminya."
"Oooo baiklah, tetapi nanti kalian ya yang mengantar istriku pulang!"
"Istri, maksud Anda?" Desi bertanya kepada Alfarizi.
"Aku masih menganggap Bosmu masih istriku karena aku belum pernah mengucapkan kata pisah."
"Nanti kami yang antar Bu Mitha, tolong sampaikan kepadanya Desi masih di kamar mandi!"
"Baiklah."
Alfarizi melakukan saran Surya, membujuk Afian dan mengajak untuk makan bertiga. Untungnya putranya dengan mudah diajak kerja sama.
Neng melihat Alfian berlari mendekatinya, dan melihat Alfarzi berada di belakangnya membawa dua piring, yang satu piring khusus nasi putih dan yang satu piring lagi sayur dan lauk lengkap. Neng langsung bergegas menghapus air matanya tidak ingin putranya khawatir. Bersikap senatural mungkin saat Alfian sudah mendekatinya dan pura-pura fokus dengan ponselnya.
"Mami ...?"
"Hhhhmm, Eee ada apa, Nak?"
"Mengapa harus tunggu Mami, Al bisa makan bareng ...!"
"Tidak mau Mi, Al maunya bareng Mami dan Papi, ayo dong Mi!"
"Baiklah, Al mau makan apa?"
"Itu sudah dibawa sama Papi, ayo Mi kita makan bertiga!"
Neng tercengang dan bingung harus berbuat apa. Hanya ada satu piring nasi dan satu piring sayur dan lauknya. Pikirannya sudah kalut tidak bisa diajak berpikir.
"Mami ... kok malah bengong?"
"Eee, jangan di sini Al!"
"Mau di mana, atau kita kembali ke resepsi, Neng Geulis?" tanya Alfarizi dengan suara lembut.
Neng benar-benar bingung saat ini, bagai buah si malakama. Mau kembali ke resepsi rasanya tidak berani bertemu dengan kedua orang tua Alfarizi. Ingin sekali pulang tidak ingin mengecewakan putranya.
Alfarizi menunggu dengan harap-harap cemas. Dia mencoba mengikuti alur saja tidak ingin terlihat memaksa walaupun hatinya ingin sekali menunjukkan rasa cinta yang menggebu.
Surya dan Lilis yang memperhatikan dari jauh mulai menyadari ide jahil pertamanya tidak berhasil. Kini harus menggunakan ide plan B, kerja sama dengan Umi Anna. Umi Anna memberikan kunci kamar hotel miliknya kepada Surya agar bisa di gunakan untuk Neng beristirahat.
__ADS_1
Surya langsung berlari mendekati tuannya diikuti oleh Desi, "Tuan, ini kunci kamar Anda, sebaiknya Anda makan di sana saja, aku sudah memesan menu makan untuk Anda dan Ibu Mitha."
Alfarizi tersenyum kepada asistennya yang selalu memiliki banyak ide walaupun terkadang nyeneh tetapi sering berhasil. Memberikan dua piring yang ada di tangannya kepada Surya, "Ini kembalikan saja piringnya, terima kasih sudah membantu!" bisik Alfarizi di telinga Surya.
"Sama-sama Tuan, semoga berhasil!"
"Al ayo ajak Mami untuk beristirahat sebentar sambil makan di sana saja!" Alfarizi tetap memakai strategi menggunakan senjata andalannya yaitu putranya.
"Ayo Mi, kita makan di kamar Papi aja!" Alfian menarik tangan Neng, dengan terpaksa Neng mengikuti langkah Alfarizi menuju kamar hotel.
Alfarizi langsung membuka kamar hotel dan mempersilahkan istri dan putranya masuk. Bersamaan datang dua pramusaji hotel mengantar menu makan yang di pesan oleh Surya. Diletakkan di meja ruang tamu yang ada di dalam kamar hotel.
"Al, ayo Nak makan dulu!"
"Papi pesan makan apa?"
Alfian memperhatikan hidangan yang ada di meja, ada nasi, soup jagung, ayam goreng, sambal, lalapan, es krim dan salad buah.
"Waaah ada es krimnya juga, Al suka."
"Al makan sendiri atau Papi suapin?"
"Makan sendiri Pi, Al sudah besar."
"Maaf Nak, sayangnya tidak ada opor ayam kesukaan kita di sini!" kata Alfarizi setelah memperhatikan menu makanan yang ada di meja.
"Tidak apa-apa Pi, ini sayur soup jagung kesukaan Mami, Al juga suka sih."
"Neng Geulis, aku ambilkan ya!"
"Tidak usah, saya masih kenyang, makan salad buah saja, Nak sini piringnya Mami ambilkan nasinya!"
"Ini Mami." Neng mengambilkan makan untuk putranya.
Alfarizi hanya diam dan memandangi Neng yang mulai bisa bersikap biasa. Dia tidak terlihat syok seperti saat keluar dari balroom resepsi pernikahan Isya. Perasaan lega di hatinya setelah bisa melihat wajah Neng yang tidak terlihat cemas.
"Ini Nak, cepat di makan; Anda seberapa nasinya, sekalian saya ambilkan?"
Alfarizi tersenyum lebar dan mengangguk saat Neng mau mengambilkan makan untuknya. Rasa syukur berkali-kali diucapkan dalam hati. Kembali dia berterima kasih dalam hati kepada Surya yang telah memesan kamar hotel untuk keluarganya.
Mereka makan bersama seperti layaknya satu keluarga utuh. Wajah bahagia terlihat pada Alfian bisa makan bersama kedua orang tuanya. Bagi Alfian dan Alfarizi sangat berkesan moment seperti ini.
Datang Umi Anna tanpa mengetuk pintu, karen dia juga memegang kunci kamar hotel, "Al di panggil Abi sekarang, Umi mau bicara empat mata dengan Nak Mitha, sana cepat keluar!"
"Tapi Umi aku ...!"
__ADS_1