
Bukan cuma Eki Darsono yang emosi, kini Julio dan Zain juga ikut emosi setelah melihat Putri Siregar berteriak-teriak tidak jelas. Julio langsung menarik Tangan Putri keluar gedung diikuti oleh Eki Dasono dan Zain. Ada juga dua security hotel yang mengawal mereka.
"Kalau mulut elo tidak bisa diam gue sumpal pakai gudeg yang ada di resepsi Bang Al!" Julio ngedumel sambil terus menarik tangan Putri Siregar.
"Bodo amat gue masih marah!"
"Jul ... lempar saja dia ke RSJ, gedek banget gue!" teriak Zain ikut emosi.
"Gue masih waras Zain. Gue tampol lo!" Putri Siregar menunjuk Zain sambil meronta agar tangan terlepas.
Alfian dan Rania turun dari pelaminan karena waktu menunjukkan pukul lima sore. Mendengar ada keributan di luar, mereka ikut bergegas keluar juga. Melihat Julio menarik Putri, Alfian yang berjalan menggandeng istrinya langsung beteriak, "Jul ada apa?"
Belum sempat Julio menjawab, Putri Siregar menghempaskan tangan Julio dan berlari mendekati Alfian. Putri Siregar berniat meminta bantua kepada Alfian. Berharap layaknya kekasih yang sedang membela pasangannya.
Harapan Putri Siregar hanya tinggal harapan. Rania langsung menahan dan berdiri di depan Alfian melindungi suaminya dari godaan syaitan yang terkutuk eee salah godaan Putri Siregar.
"Mau ngapain lo?" tanya Rania sambil bertolak pinggang.
"Minggir gue mau bertemu Al!" Putri Siregar mencoba mendorong Rania.
Niat Putri Siregar mendorong Rania. Sayangnya dia yang terpental mundur karena terdorong oleh tangan Rania yang kuat. Walau Rania memakai gaun pengantin rancangan Mami Mitha yang menjuntai tidak menyurutkan tindakan dia menghempaskan pelakor dari hadapannya.
"Berani elo mendekati laki gue!" Rania kembali bertolak pinggang. Sangat tidak anggun memakai gaun pengantin tetapi wajahnya garang dan mode jutek.
Alfian hanya tersenyum ditahan melihat istrinya dalam mode cemburu. Dibiarkan dan seolah sengaja ingin melihat istrinya beraksi jika sedang marah atau cemburu. Rania berjalan maju mendekati Putri Siregar yang menegakkan tubuhnya yang tadi terhuyung karena dorongan Rania.
"Wanita miskin tidak tahu diri, awas elo ya!" teriak Putri Siregar lagi dan mendekati Rania dengan tangan mengepal.
Putri mengangkat satu tangan ingin menampar Rania. Dengan cepat Rania menangkis dan menangkap tangan itu diputar di belakang tubuh Putri Siregar, "Aauuw ... tangan gue!" teriak Putri Siregar.
"Jangan dikira gue wanita lemah ya, kalau elo tidak minggat dari sini gue jadikan bergedel mau?" Rania mendorong Putri Siregar kearah Julio yang masih berdiri sambil tersenyum devil.
__ADS_1
Putri Siregar terduduk di dekat kaki Julio. Sebelum Putri Siregar bangun Eki Darsono langsung menarik tangan Putri Siregar, "Bro ... kalian istirahat saja, gue yag mengantar wanita gila inii ke RSJ!"
Alfian tertawa lepas dan mengusap pipi Rania, "Ngeri juga ya kalau istri Abang lagi cemburu."
Rania hanya tersenyum dan tersipu sambil memeluk pinggang Alfian. Julio dan Zain berlari mengikuti Eki Darsono yang menarik Putri Siregar keluar gedung. Putri hanya diam saja mengukiti langkah panjang Eki Darsono tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Minggat elo dari sini, sekali lagi elu mengganggu gue ataupun Alfian, gue perkarakan elu pada polisi. Gue mempunyai bukti baik rekaman ataupun saksi laki-laki yang membantu elu kemarin!"
Eki Darsono mendorong Putri Siregar sampai depan hotel. Berdiri bertolak pinggang menunggu Putri Siregar pergi dari halaman hotel. Zain dan Julio berdiri di samping Eki Darsono ikut menunggu Putri pergi.
Putri Siregar dengan terpaksa meninggalkan hotel dengan wajah yang masih marah dan kesal. Berjalan tertatih-tatih menuju parkiran yang ada di samping hotel. Semua bernapas lega setelah Putri tidak terlihat lagi.
Alfian dan Rania beristirahat di hotel tempat resepsi yang sudah di pesan kemarin. Seluruh keluarga pulang ke rumah masing-masing, Kecuali Mami Mitha. Papi Alfarizi dan Elfa yang menginap di rumah Alfian yang ada di Bogor.
Rania membersihkan make-up sebelum membersihkan diri ke kamar mandi. Sambil termenung memikirkan Putri Siregar yang terbilang nekat sebagai seorang wanita. Dulu saat Alfian bercerita tentang Putri Siregar tidak menyangka dia bisa senekat itu.
Alfian yang baru saja keluar dari kamar mandi, Mengerutkan keningnya melihat Rania yang ternenung. Dengan sengaja dia menggelengkan kepalanya di samping Rania.
"Eee mengapa memanggil seperti itu lagi. Coba sekali-kali panggil dengan sebutan Abang Sayang, pasti akan Abang kasih hadiah!"
"Hadiahnya apa dulu?"
"Apapun Rani mau, tapi latakan dulu!"
"Eeemm ... entar aja deh. Rani pikirkan dulu hadiahnya Rani mau mandi dulu"
Rania berlari ke kamar mandi setelah mencium sekilas pipi Alfian. Mengangkat Gaun pengantin warna putih yang menjuntai panjang setinggi-tingginya agar bisa berlari kencang, "Sayang ... jangan tinggi-tinggi diangkat gaunnya, nanti ada yang bangun!" teriak Alfian sambil menggelengkan kepalanya.
"Nyanyikan lagu nina bobo saja dulu, Rani mau berendam."
Hampir satu jam Rania berendam di buthup yang berisi sabun aroma terapi. Sambil memikirkan sikap Putri Siregar yang tidak jauh dari sikap Ibu Titin Suhartin. Masih memikirkan untuk bisa mengatasinya mengingat Alfian paling malas jika menghadapi wanita itu.
__ADS_1
Rania tahu betul bagaimana sikap suaminya yang malas untuk berhadapan langsung dengan Putri Siregar. Jika dibiarkan pasti akan dimanfaatkan dengan mudah. Tidak ingin masalah berlarut-larut seperti menghadapi Ibu Titin Suhartin.
Rani langsung turun dari buthup setelah teringat Ibu Titin Suhartin. Membilas dengan air bersih dan menyambar handuk di lingkarkan di badan. Rania teringat saat turun dari panggung pelaminan tadi tidak melihat ibunya sampai sekarang.
Keluar kamar mandi langsung berteriak memanggil namanya, "Abang Sayang...!"
Alfian yang lagi duduk santai di sofa panjang dekat tempat tidur. Langsung tersenyum sambil merentangkan tangannya, "Kemarilah ... mau hadiah apa dari Abang?"
"Hadiahnya di pikir nanti, Rani lupa di mana Ibu Titin sekarang?"
"Mengapa bertanya tentang Ibu Titin, apakah tadi tidak pamit Rani?"
"Tidak Bang, nanti kalau hilang bagaimana?"
"Sini dulu Abang pangku, nanti Abang hubungi Julio!"
Rania duduk di pangkuan Alfian hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya dari dada sampai atas lutut. Tangan kanan membuka ponsel menghubungi Julio. Dan tangan kirinya menyusup di balik handuk menuju gunung kembar.
"Jul ... elu di mana?" tanya Alfian setelah ponsel terhubung."
" ...."
"Tolong cari tahu di mana ibu mertua gue sekarang!"
" ...."
Ponsel langsung dimatikan oleh Alfian dan di letakkan di samping sofa. Tangan Alfian mulai liar menelusuri seluruh area sensitif Rania tanpa terkecuali. Rania mendorong Alfian ingin bertanya tentang ibunya karena tadi tidak mendengar percakanan dengan Julio.
"Abang bagaimana sudah dapat kabar dari Julio?"
"Sabar dong Sayang, tunggu Julio masih mencari informasi. Abang mau menyedot tenaga Rani dulu sambil menunggu laporan Julio."
__ADS_1