Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Di Tangkap Polisi


__ADS_3

Alfarizi dan Encang Ginanjar keluar dari mobil. "Maksud Ibu apa, mengatakan miras itu milik yang punya rumah ini?" tanya Alfarizi dengan kesal.


Cek Kokom terpana dan tidak bisa menjawab pertanyaan Alfarizi. Dia hanya diam dan menatap dua orang yang baru saja turun dari mobil. Tidak menyangka yang datang Alfarizi sedangkan yang di harapkan adalah Ayah Asep.


Esih malah tersenyum manis bertemu lagi dengan Alfarizi. Walaupun tidak berani mendekatinya takut dia muntah seperti saat pertama kali bertemu. Dia melambaikan tangan, "Hai ... Abang ganteng." mulutnya berucap tetapi tidak bersuara.


Dua pengawal yang awalnya merasa menang dan petantang-petenteng saat bertemu dengan Encang Ginanjar. Kini mereka juga melempem tidak berani maju setelah pemilik rumah datang di dampingi polisi. Mereka hanya diam menunduk tidak berani menatap wajah Alfarizi yang terlihat garang dan galak.


"Sekarang katakan apa tujuan Ibu dan Bapak datang ke rumah ini?" tanya salah satu polisi yang paling garang wajahnya.


"Saya mencari ayah kandung yang punya rumah ini," jawab Cek Kokom gugup.


"Apa hubungan Anda dengan ayah kandung yang punya rumah ini, Bu?"


"Saya istrinya, Pak "


Alfarizi mendekati Cek Kokom dengan emosi yang semakin tidak terkendali, "Tunggu apa maksudnya ini semua, yang punya rumah ini saya, berarti Anda Ibu tiri saya?"


Cek Kokom hanya mengangguk ragu sambil melihat kearah Encang Ginanjar. Wajahnya terlihat pucat dan keringat dingin mulai mengucur deras. Ketakutan mulai terlihat di wajahnya.


"Sejak kapan ayahku menikah dengan Anda?" Alfarizi semakin bertanya dengan menunjukkan emosinya.


"Te ... te tetapi sudah bercerai," jawab Cek Kokom semakin gugup.


"Pak Polisi tangkap mereka semua, mereka ini penipu, saya tidak mengenal mereka semua!" perintah Alfarizi dengan suara yang tegas.


Mereka semakin gugup dan ketakutan, "Tungugu dulu, benar Pak saya ini mantan istri dari ayahnya Neng istri dari laki-laki tampan itu. Kalau tidak percaya silahkan tanyakan pada Akang tua itu!" teriak Cek Kokom menunjuk Alfarizi dan Ecang Ginanjar.


"Bagaimana Pak Ginanjar, Anda mengenal Ibu ini?" tanya Polisi menunjuk Cek Kokom.

__ADS_1


"Kagak, saya tidak mengenal wanita model begitu, lihat saja baru sekarang," jawab Encang Ginanjar sambil bertolak pinggang dan menggelengkan kepalanya.


Satu persatu masyarakat datang karena mendengar suara sirine polisi. Masyarakat hanya menyaksikan dari jarak dekat tanpa berani ikut campur tangan. Sedangkan Junaidi dari tadi merekam peristiwa itu menggunakan ponselnya.


"Maaf Ibu dan Bapak, kami menangkap Anda semua. Dengan tuduhan membuat keributan di kampung orang, minum minuman keras tanpa izin, dan berusaha menduduki rumah yang bukan milik Anda. Mari ikut kami di kantor polisi!"


Seluruh anggota polisi mulai mendekati mereka sambil mengeluarkan borgol yang ada di tangan. Mereka semakin ketakutan dan tidak mau di tangkap. Bahkan Esih meronta-ronta sambil berteriak memanggil Alfarizi, "Abang Gateng, Esih tidak tahu apa-apa. Tolong Esih dong, Esih tidak bersalah!"


Satu persatu mereka di borgol tangannya kearah belakang badannya. Cek Kokom dan Esih terus berteriak-teriak meminta bantuan Alfarizi dan Encang Asep. Dengan berbagai cara, mengaku keluarga, ibu mertua bahkan adik ipar. Polisi tidak pemperdulikan teriakan mereka, tetap saja memborgol tangannya.


Datang satu lagi mobil polisi dengan bak terbuka yang biasa mengangkut tahanan mendekati rumah Neng untuk mengangkut Cek Kokom, Esih dan dua pengawal. Satu persatu di naikkan mobil tahanan walaupun meronta-ronta tidak ingin di tanggap. Apa daya polisi tetap memaksa dan memerintahkan naik dan duduk di kursi kayu yang ada di belakang.


Dengan sirine yang sangat keras mobil polisi berjalan menuju kantor polisi. Alfarizi dan Encang Ginanjar hanya tersenyum devil berjalan memasuki mobil, Jun ... Surya ayo kita kembali ke villa!" teriak Encang Ginanjar.


"Siap!" jawab mereka serempak.


"Berapa lama Cang, bagaimana kalau Ayah datang menolong mereka?" tanya Alfarizi.


"Encang dari tadi siang menghubungi Ayahmu tetapi ponselnya tidak aktif. Sepertinya dia ganti nomor."


"Berarti Ayah tidak tahu tentang kelakuan mantan istrinya, Cang?"


"Kemungkinan tidak tahu, Al coba kamu suruh satu orang untuk mengawasi Ayahmu di Bogor mulai hari ini!"


"Baik Cang. Surya itu tugas kamu awasi Ayah Asep dan tempatkan anak buahmu, jangan upa laporkan setiap ada perkembangan!"


"Siap Tuan."


Ponsel Surya terdengar ada suara notivikasi pesan masuk. Dia langsung membuka pesan yang masuk melalui email. Pesan itu dari Roy yang sekarang ini berada di Bandung.

__ADS_1


"Tuan ini ada laporan dari Roy yang ada di Bandung," kata Surya.


"Coba bacakan saja sekarang!" perintah Alfarizi.


Roy mengirim pesan memalaui emil dengan keterangan yang lengkap dengan bukti dan foto. Dia mengatakan Cek Kokom telah menjual rumah peninggalan Ayah Asep setengah tahun yang lalu. Esih juga sudah menjual angkot dua bulan setelah dia mendapatkan angkot itu.


Ibu dan anak itu kini mengontrak satu pintu di Bandung. Mereka masih bekerja sebagai pengasuh balita dan menjadi buruh cuci gosok di laundry. Hanya saja gaya hidup mereka masih tetap mewah seperti orang kaya.


"Oooo karena itu mereka mencoba membuat ulah lagi?" Encang Ginanjar semakin emosi.


"Berarti mereka ingin mencari perhatian Ayah Asep untuk bisa meminta harta atau kekayaan yanag di miliki Ayah Asep ya, Cang?" tanya Alfarizi.


"Iya bisa di pastikan seperti itu."


Alfarizi mengerutkan keningnya, memikirkan mantan istri Ayah Asep yang selalu membuat ulah untuk mendapatkan kekayaan tanpa harus berusaha. Memikirkan bagaimana caranya agar mereka tidak bisa menemukan Ayah Asep. Dan mereka bisa jera serta menyadai kesalahannya.


Mungkin benar apa kata Encang Ginanjar hanya penjara satu-satunya cara agar mereka bisa jera. Dengan menuntut hukuman penjara seberat mungkin agar mereka bisa berubah, "Surya, perintahkan pengacara mulai untuk menuntut mereka besok pagi, biar mereka jera!"


"Baik Tuan."


"Pokoknya kamu jangan merasa kasihan kepada mereka Al, ini demi kebaikan mereka sendiri. Biar mereka tahu bagaimana rasanya menjadi nara pidana."


"Baik Cang, Al berharap mereka menyadari setelah peristiwa ini."


Alfarizi dan Encang Ginanjar merencanakan ingin memenjarakan Cek Kokom dan Esih tanpa meminta persetujuan Neng terlebih dahulu. Setelah mereka hampir sampai villa ada rasa bersalah di hati Alfarizi. Takut Neng akan marah karena tegas terhadap mantan ibu dan adik tirinya.


Waktu menunjukkan hampir pukul tiga pagi saat Alfarizi sampai villa kembali. Masuk kamar perlahan agar tidak membangunkan Neng yang terlihat berbaring menghadap samping memunggungi pintu kamar. Lampu masih menyala terang tetapi Alfarizi melihat Neng tidak bergerak seperti tertidur pulas.


Saat Alfarizi berjala perlahan ingin masuk ke kamar ganti dekat kamar mandi langkahnya terhenti saat ada suara memanggilnya, "Papi ... mau ke mana jalan seperti maling?"

__ADS_1


__ADS_2