
Alfian masih termenung dan melamun, tidak jadi menjawab pertanyaan Mami Mitha. Hatinya sangat berat dan bimbang saat ini, seperti ada di persimpangan jalan. Memilih di jodohkan atau mencari gadis yang telah membuat hatinya tidak pernah tenang.
"Bang, Mami tidak memaksa tentang perjodohan ini, jadi jangan merasa tidak enak atau ingin berbakti, terus Abang memaksakan diri. Mami tahu betul siapa putra Mami."
"Papi juga tidak memaksa Bang, jika sekiranya ragu tidak usah di terima. Jika Abang sudah memilik pilihan hati sendiri. Papi, Mami, Opa, Oma dan Nenek akan menyetujuhi pilihan Abang."
Alfian tersenyum setelah mendengar kata bijak dari ke dua orang tuanya. Lebih memilih kata hati, tidak ingin menikah terlalu cepat padahal kuliah masih satu tahun lagi. Ingin menetapkan hati tentang gadis yang masih bersarang di relung hati.
Alfian mulai bertekat hati tidak ingin di jodohkan. Berniat mencari gadis itu setelah lulus kuliah nanti. Sudah memiliki alasan yang mungkin akan di terima seluruh keluarga.
"Mami ... Papi, Abang boleh menjawab sekarang?"
"Tentu Bang, katakan!" jawab Papi Alfarizi.
"Abang sudah memiliki calon sendiri jadi maaf Oma, Abang tidak bisa menerima perjodohan ini."
Mami Mitha dan Papi Alfarizi saling memandang dan tersenyum. Merasa lega mendengar jawaban dan kejujuran putranya. Mereka sangat menyadari cinta tidak bisa di paksakan, cinta harus datang dari hati.
"Gadis mana yang sangat beruntung mendapatkan cinta cucu Opa yang ganteng?" tanya Abi Ali mendekati Alfian dan memeluknya dari samping.
"Alfian tersenyum membalas pelukan opanya, "Abang belum bisa cerita sekarang, Opa. Karena Abang sudah bertekat akan menyelesaikan kuliah terlebih dahulu."
Hanya alasan yang masuk akal itu yang bisa Alfian sampaikan agar tidak di tanya lebih jauh tentang gadis itu. Berharap semua akan mengerti dan memahami situasi jika belum saatnya bercerita tentang identitas gadis yang ada di dalam hati. Mungkin jika di tanya pasti akan bingung bagaimana cara menjawabnya karena sama sekali tidak mengetahui tentang dia.
"Bocoran dikit dong Bang, di mana gadis itu tinggal?" tanya Umi Anna penasaran.
"Yang jelas dia asli Indonesia, dan ...!" Alfian tidak melanjutkan ucapannya sampai semua menunggu dan terdiam.
"Abang ... dan apa?" tanya Mami Mitha gemas.
"Dan apa Bang, jangan membuat Papi penasaran?"
Alfian sejenak menutup mata, membayangkan gadis itu kemudian tersenyum, "Abang ini asli dan tulen putra Papi, jadi gadis itu seperti Mami. Baik sikap dan pendiriannya sangat kuat."
__ADS_1
"Ha ha ha, berarti Papi dan Abang memiliki selera yang sama," jawab Papi Alfarizi sambil memeluk istrinya.
"Oma, sekali lagi maafkan Abang ya." Alfian melipatkan tangannya di dadanya, berharap omanya tidak kecewa.
"Tidak apa-apa Bang, Oma mengerti kok. Yang penting Abang bahagia."
Alfian teringat dengan penampilan gadis itu dari CCTV. Dia terlihat sederhana dan kemungkin dia bukan dari kalangan keluarga berada. Sehingga Ibunya rela menikahkan sirih putrinya hanya demi uang yang sangat fantastis.
"Satu lagi Mami ... Papi," kata Alfian.
"Ya Bang katakan pada Papi!"
"Gadis pilihan Abang itu bukan berasal dari keluarga berada, apakah akan tetap di restui?"
"Abang, dengarkan Mami. Jangan segala sesuatu di nilai dari harta dan kekayaan. Karena rejeki, pertemuan, perpisahan, jodoh, maut, ada di tangan yang Maha Kuasa. Mami tidak pernah membedakan seseorang dari derajat dan statusnya." Mami Mitha memberi nasehat panjang.
Mata Alfian berkaca-kaca mendengar nasehat maminya. Nasehat yang sangat menyentuh hati, apalagi sesuai keinginan dan harapan saat ini. Kini hatinya semakin merasa yakin dengan keputusan yang di ambil.
"Papi tetap akan mendukung apapun keputusan Abang, Papi percaya sepenuhnya pasti Abang akan memilih jodoh seperti Papi." Papi Alfarizi sambil tersenyum melirik Mami Mitha.
"Apalagi Papi, Bang. Mami adalah hidup dan mati Papi."
Mami Mitha tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar pujian dari dari suami dan putranya. Pengorbanan yang di lakukan dulu berbanding lurus dengan kebahagiaan yang di dapat saat ini. Apalagi sekarang ini melihat putranya tumbuh dan memiliki sifat seperti dirinya walaupun wajahnya persis seperti papinya.
"Haduuuh, mengapa berdua kompak begitu mengidolakan menantu kesayangan Oma. Abang tahu kalau Oma juga mengidolakan Mami Abang." Umi Anna tidak mau kalah membuat semua tertawa bersama.
Rasa laga saat ini di rasakan Alfian ketika berada di kamarnya sendiri. Masalah perjodohan sudah bisa di atasi tanpa adanya perselisihan. Bertekat akan menyelesaikan kuliah tepat waktu agar rencana sesuai dengan seperti yang di harapkan.
Sekarang tinggal bagaimana caranya agar pikirannya tidak selalu tertuju kepada gadis itu. Salah satunya harus menyibukkan diri dengan tugas dan kuliah. Berkonsentrasi dan mempersiapkan untuk skrepsi yang akan di kerjakan sebentar lagi.
Di kamar Papi Alfarizi tersenyum sendiri saat teringat Alfian. Ketika dia mengatakan jika gadis yang di cintai putranya adalah mirip dengan pujaan hatinya. Rasa bangga terhadap Alfian karena ternyata memiliki kesamaan tentang selera dan tipe seorang wanita.
Mami Mitha yang melihat suaminya tersenyum sendiri heran dan bertaanya, "Papi, mengapa tersenyum sendiri begitu?"
__ADS_1
"Papi teringat kata Abang tadi." Kembali Papi Alfarizi tersenyum.
"Perkataan yang mana, Papi?"
"Kekasih Abang seperti Mami, ternyata dia benar-benar putra Papi."
"Eee berarti selama ini Papi tidak yakin kalau Abang Al itu putra Papi?"
"Iiih Mami ... mengapa sensi begitu?, Maksud Papi selera Papi dan Abang itu sama."
"Tau aaah, Mami marah."
Mami Mitha menarik selimut menutupi tubuhnya dan membelakangi Papi Alfarizi. Hatinya kesal karena ucapan yang seperti tanpa sengaja meragukan dirinya. Memejamkan mata pura-pura tidur agar tidak di modusin olehnya.
"Mami jangan marah dong, Papi tidak bermaksud meragukan Mami."
"Hhmm ...."
Papi Alfarizi paling bingung dan takut jika Mami Mitha marah. Dia selalu saja akan berbuat apa saja untuk kembali mendapatkan perhatiannya. Bersemangat ingin memeluk istri dari belakang dengan cara ingin berbalik badan kearahnya tetapi badannya terlalu mundur, "Mami my Honey, aaaa aduh Mami!" teriak Papi Alfarizi terjengkang jatuh dari tempat tidur.
Mami Mitha langsung berbalik badan sudah tidak melihat suaminya tidak berbaring di tempat tidur. Dia menengok ke bawah tempat tidur dan melihatnya meringis sambil mengusap pan*at. Ingin sekali menertertawakan suami tetapi takut dosa.
Sambil menahan tawa Mami Mitha turun dari tempat tidur membantu Papi Alfarizi bangun dak kembali berbaring di tempat tidur, "Apa yang akan Papi lakukan sih?"
"Mami tega banget, Papi ingin memeluk Mami tetapi terlalu mundur jadinya terjengkang." Papi Alfarizi mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ffhh ...!" Kembali Mami Mitha menahan tawa melihat bibirnya yang monyong lima centimeter.
"Ayo Mami tanggung jawab, coba lihat pasti pan*at Papi merah deh!"
"Ogah, Mami hanya jawab aja, Papi yang tanggung sendiri, ha ha ha!"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Sambil menunggu up jangan lupa mampir ya di novel yang rekomen banget milik teman author, seru lo cerita dan ingat ini di NT juga