Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Bertemu Mantan Bos


__ADS_3

"Inilah saatnya yang di tunggu-tunggu, juara pertama adalah Paramitha dan Al, selamat." kata MC sambil menyalami pemenang dan mengusap kepala Al.


Neng tersenyum sambil membungkukkan badannya, melipatkan dua tangannya di dada. Banyak yang beteriak mengucapkan selamat dan mengacungkan kedua jempolnya. Al langsung berdiri memeluk Neng, anak kecil itu seolah mengerti betul kebahagian dan kemenangan maminya.


"Untuk penyerahan tropi dan hadiah kami mohon ketua juri dan juri tamu untuk naik keatas panggung!" pinta MC kembali.


Neng membelalakkan matanya dengan sempurna. Berarti pasti akan kontak langsung dengan istri sahnya Papinya Alfian. Neng hanya terpaku mencoba untuk menguatkan hati. Berpikir positif dan berdoa semoga dia tidak menyadari saat dia berdekatan dengan putranya.


Menerima sertifikat dari ketua juri Neng merasa tenang dan bisa tersenyum manis. Saat Sinta Zulkarnain mendekati Neng, rasanya keringat sebesar jagung mengalir dari wajahnya. Neng tersenyum saat Sinta mengucapkan selamat memeluknya bahkan cipika-cipiki.


"Paramitha, selamat ya, semoga karir kamu semakin bagus, selamat datang di dunia mode," kata Sinta sambil tersenyum manis.


"Terima kasih." Neng hanya menjawab singkat, seolah lidahnya kelu saat berdekatan dengannya.


Ada wartawan dan fotografer yang meminta untuk Sinta, Neng dan Al untuk berfoto bersama. Membuat Neng menjadi gugup kembali, rasanya ingin kabur saat Sinta melingkarkan tangannya di pinggang Neng. Walau hanya beberapa menit kontak fisik dengan Sinta, bagi Neng rasanya berjam-jam.


Selesai pemotretan dan Sinta turun dari panggung rasa lega di hati Neng seperti lepas dari jeratan tali yang melilit di lehernya. Tidak seorangpun tahu tentang perasaan Neng. Orang lain tahunya jika Neng merasa gugup saat di panggung.


Setelah kemenangannya sebagai disainer muda berbakat, karir Neng semakin bersinar. karyawan semakin bertambah, selain kontrak dengan perusahaan besar, Neng mulai merencanakan membeli lahan untuk memperbesar konfeksinya. Rencana kedua adalah mendirikan butik dengan nama "Butik A" setelah lulus kuliah.


Ulang tahun yang kelima Alfian tinggal dua minggu lagi. Sejak Al umur dua tahun hingga saat ini Neng dan Ibu Ani akan berkunjung di Desa di mana putri kandung Ibu Ani tinggal. Neng akan bercerita kepada karyawan, teman kampus bahwa saat ulang tahun putranya adalah saat quality time bersama Papinya Al di desa.


Yang biasanya berkunjung di desa hanya satu Minggu kali ini mereka akan tinggal selama dua Minggu karena cucu kandung Ibu Ani akan menikah. Selama di tinggal ke desa konfeksi di pimpin oleh Mpok Atun dan Desi. Mereka berangkat menggunakan pesawat terbang dari Jakarta ke Surakarta, karena putri Ibu Ani tinggalnya di perbatasan antara Jawa tengah dan Jawa Timur, dari Surakarta menggunakan transportasi umum yaitu bus selama dua jam perjalanan.


\*\*\*\*\*\*


Sudah hampir tiga tahun ini Alfarizi dan Sinta pisah ranjang, semenjak Sinta terjun di dunia model, Sinta jarang pulang ke rumah. Dia sering melakukan pemotretan di berbagai negara bahkan merambah ke Asia Tenggara. Sinta masih sering berhubungan dengan Dokter Mario di sela kesibukannya. Hubungan mereka semakin intim semenjak pisah ranjang dengan Alfarazi.

__ADS_1


Sinta dan Alfarizi terlihat harmonis saat di depan publik saja. Mereka sering diwawancarai oleh wartawan bisnis ataupun infotaiment masih terlihat mesra dan harmonis. Marta hanya diasuh dan di besarkan oleh Beby Sister.


Perusahaan Zulkarnain Corp. semakin besar dan bertambah besar. Hari ini Alfarizi sedang menghadiri peresmian perusahaan pemintalan yang baru saja dibelinya dari seorang pengusaha yang bangkrut karena perebutan gono-gini antara pemilik perusahaan dan mantan istrinya. Persemian sekaligus pengenalan pemilik perusahaan yang baru kepada seluruh karyawan.


Saat peresmian berjalan lancar, ada wakil sekuriti yang mengenal CEO barunya lima tahun yang lalu. Awalnya dia hanya menatap tajam dengan amarah yang di tahan. Istri sekuriti itu juga bekerja di perusahaan yang sama menjabat sebagai wakil super bagian produksi.


Saat istrinya mendekati wakil sekuriti amarahnya semakin memunjak. Wajahnya memerah pandangan matanya selalu tertuju kepada pemilik baru perusahaan itu. Menyadari ada yang tidak beres dengan suaminya dia menariknya untuk diajak ke ruangannya.


"Ada apa Aa, mengapa wajahnya sampai merah menahan marah?"


"Aku sangat mengenal CEO baru itu,"


"Siapa dia, Aa?"


"Dia adalah suami siri Nona tempat aku bekerja saat masih di villa lima tahun yang lalu.


"Maksud Aa dia suami siri Neng sahabatku saaf SMK?"


Suami istri itu adalah Junaidi Said sekuriti yang pernah bekerja di villa milik Tuan Alfarizi saat menikah siri dengan Neng. Istri dari Junaidi adalah Lilis Dariyani sahabat karib Neng saat sekolah di SMK. Sudah hampir lima tahun terakhir ini mereka mencari Neng tetapi sampai sekarang belum pernah menemukannya.


Junaidi dan Lilis menikah setelah empat bulan Neng pergi dari villa. Sekarang mereka di karuniai satu putra berumur empat tahun bernama Julio Said. Setelah menikah mereka pindah ke Jakarta dan berkerja di pedusahaan pemintalan sampai sekarang.


"Ayo Aa, aku akan membuat perhitungan dengan CEO si*lan itu!"


"Bagaimana kalau kita di pecat?"


"Aku tidak perduli, aku ingin tahu Neng sekarang di mana?"

__ADS_1


"Apakah kamu yakin jika Nona sekarang bersama dengan dia?"


"Dengan siapa lagi, Neng memiliki anak dari dia, ayo cepatlah!"


Dengan emosi yang memuncah, Lilis berjalan dengan langkah panjang sambil menarik tangan Junaidi. Junidi juga sudah tidak perduli jika akan di pecat karena sudah mencari adik angkatnya selama lima tahun tidak pernah ditemukan. Hanya pada Tuan Al saja mereka menggantungkan harapannya untuk bertemu Neng.


Saat Lilis dan keluar dari ruangannya, mereka melihat Alfarizi masuk lift khusus untuk petinggi perusahaan. Mereka langsung menyusulnya walaupun menggunakan tangga. Rasa lelah saat naik tangga tidak dirasakan oleh Lilis dan Junaidi karena menahan amarah yang meledak-ledak.


Alfarizi sudah ada di kantornya bersama asisten pribadinya Surya Budiman. Mereka sedang meeting tentang masalah yang terjadi di perusahaan pemintalan yang baru di beli. Lilis dan Junaidi masuk kantor Alfarizi tanpa mengetuk pintu, mereka langsung masuk dan mendorong pintu dengan keras.


"Daaaaar!" Pintu membentur dinding dengan suara keras membuat Tuan dan asistennya tersentak kaget.


"Ada apa ini, siapa kalian?" tanya Surya kaget.


"Kamu tidak usah ikut campur, minggir!" Lilis mendorong Surya mundur beberapa langkah.


Emosi Junaidi yang dari tadi ditahannya kini tidak bisa dibendung lagi. Langsung mendekati Al tanpa menyapa mantan tuannya itu. Jun sudah tidak perduli lagi apa yang akan terjadi, langsung meninju wajahnya dengan keras.


"Buuug buug!" Berkali-kali Junaidi memukul wajah Alfarizi.


"Hai tunggu, mengapa kamu memukuli Tuan?" teriak Surya.


"Buug, ini untuk Nona dan bayinya!" kembali Junaidi memukul wajah Alfarizi.


Yang awalnya Alfarizi emosi karena dipukul tanpa tahu alasannya. Setelah mendengar Junaidi menyebut Nona dan bayinya, dia mulai bingung dan menahan amarah. Mengusap bibirnya yang berdarah dan mencoba menahan diri.


"Tunggu Surya kamu diam saja, ini urusanku dengan sekuriti ini!" Alfarizi menahan Surya yang akan balik memukul Junaidi.

__ADS_1


"Kamu jauh sana b*d*h!" Lilis mendorong Surya.


"Katakan apa maksudmu Nona dan bayinya?" tanya Alfarizi mendekati Junaidi.


__ADS_2