Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Make Over


__ADS_3

"Siapa Bibi, suruh masuk saja!" tanya Rianti.


"Ada yang mau jemput Alfian pulang!"


" ... ?"


Jantung Alfarizi kangsung berdetak kencang, berharap Neng yang menjemput putranya. Sudah hampir satu bulan ini hanya melihat Neng dari foto yang di kirim Surya yang diambil dari CCTV mall. Mereka menengok bersama kearah orang yang datang dari pintu belakang.


"Al ganteng, apakah sudah selesai kerja kelompoknya?" tanya Ibu Ani berjalan mendekati mereka.


"Nenek, maaf Al belum selesai, apakah Nenek mau menunggu sebentar lagi?"


"Tentu, selesaikan sana, Nenek akan bicara sebentar dengan Papi."


"Ya Nek, terima kasih, Papi Al belajar dulu!"


Alfarizi mengangguk dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Alfian dan Zain berlari menuju rumah dan masuk kamar Zain mulai mengerjakan prakarya. Dokter Harry dan Rianti membiarkan Ibu Ani dan Alfarizi untuk berbincang dari hati ke hati.


"Bu, kami tinggal dulu, kami akan membantu prakarya anak-anak." pamit Dokter Harry.


"Iya Dok, terima kasih."


Ibu Ani duduk di samping Alfarizi, memandangi wajahnya yang terkihat kusut dan pucat. "Apa kabarmu Nak, aku ikut prihatin tentang keluargamu saat ini?"


"Aku baik-baik saja, terima kasih Bu."


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargamu, Nak; mengapa di berita televisi terus-menerus memberitakan tentang istrimu yang selingkuh?"


"Maaf Bu, mungkin ini karma yang harus aku terima, membuat Maminya Al menderita, ternyata aku telah di bodohi oleh istriku."


"Coba kamu ceritakan kepada Ibu dari awal, karena Maminya Al tidak pernah bercerita tentang kamu!"


Alfarizi bercerita mulai dari awal mula mendapatkan surat dari Dokter Mario, nikah siri dengan Neng, kembali bersama Sinta setelah mengadopsi Marta, serta mengetahui jika Marta adalah putrinya istri dengan selingkuhannya. Alfarizi juga bercerita sudah pisah ranjang selama enam tahun terakhir ini. Bertemu dengan sahabat Neng, mengetahui jika dia memiliki anak dan mencarinya selama tiga tahun dan terakhir Al bercerita tentang pemeriksaan ulang ke Singapura bahwa dia bisa memiliki keturunan.


"Bu, tapi tolong jangan cerita ini kepada Neng ya!" kata Al setelah selesai bercerita.


"Mengapa, Nak; apakah kamu ...?"

__ADS_1


Belum selesai Ibu Ani melanjutkan pertanyaanya, dipotong langsung oleh Al, "Aku tidak ingin Neng lebih menderita lagi karena aku, Bu; aku ingin mendapatkan cinta Neng bukan karena kasihan, aku akan berusaha sekuat tenaga berjuang untuk mendapatkan cintanya."


"Dari mana kamu tahu kalau Neng Mitha sangat menderita?"


"Dokter Harry dan sekilas dari ucapan putraku, hiks hiks hiks!" Tak kuasa Al menahan kesedihan karena mengingat ucapan Alfian saat bertemu.


"Apakah kamu sungguh-sungguh berniat kembali bersama putri angkatku?"


"Iya aku mohon restu dari Ibu!"


"Neng Mitha tidak mungkin mau kembali padamu jika kamu masih ada hubungan dengan istrimu yang model itu."


"Aku tidak ingin membuat Al dan Maminya menderita lagi, Bu; makanya aku bertekat akan menyelesaikan urusan dengan Sinta terlebih dahulu, setelah itu aku akan mengejar putri Ibu."


"Baiklah, aku pegang janjimu, jangan sekali-kali kamu libatkan Neng Mitha dan Al dalam rumah tanggamu."


"Baik Bu, aku mohon doa restu Ibu, oya Bu apakah aku boleh tahu kapan Ibu bertemu dengan Maminya Al?"


Gantian Ibu Ani bercerita tentang pertemuannya di jalan saat di usir oleh anak sambung dan menantunya. Berpindah ke Bekasi mendirikan konfeksi, lahiran Alfian yang prematur, kuliah bahkan pertemuannya dengan Reza teman kuliah Rianti juga Ibu Ani ceritakan. Hanya satu yang tidak Ibu Ani ceritakan kepada Alfarizi yaitu di mata masyarakat Ningtiyas Paramitha masih bersetatus bersuami.


"Mulai sekarang aku ijin Bu, aku benar-benar mencintai putri Ibu!"


"Iya Bu, terima kasih."


Alfian datang berlari mendekati gazebo setelah selesai mengerjakan prakarya. "Nenek, Al sudah selesai ayo kita pulang!"


"Ayo, tadi Mami berpesan kita mampir di butik dulu!"


"Apakah meeting Mami sudah selesai, Nek?"


"Tidak tahu juga sih, ayo pamit sama Papi dulu!"


Alfian mendekati Alfarizi, meraih tangannya dan mencium punggung tangannya. "Al pulang dulu Pi, jaga kesehatan ya Pi!"


"Ya hati-hati Nak, apakah Papi boleh memeluk Al?"


"Tentu Papi." Al junior memeluk Al senior dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


Ibu Ani hanya memandang dengan rasa haru. Cucu angkatnya bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang selalu di rindukannya selama ini. Ibu Ani hanya bisa berharap putri angkatnya bisa membuka diri untuk masa depan putranya terutama.


Alfarizi menatap langkah Alfian yang mengandeng tangan Ibu Ani. Rasa bangga memiliki putra yang pintar, mandiri sopan terhadap orang tua. Tidak menyangka gadis lugu yang dinikahi siri itu berhasil mendidik putranya dengan baik.


Rasa sakit yang di rasakan hampir satu bulan ini karena berita tentang perselingkuhan Sinta seolah lenyap setelah bertemu dengan putranya. Sengaja tidak keluar dari gemerlapnya dunia luar dan beristirahat total di rumah Dokter Harry sambil terapi membuat Al semakin membuat Al yakin untuk mengejar cinta dari ibu putranya. Sekarang ini hatinya semakin tenang setelah berbincang dengan Ibu Ani yang merestui perjuangannya.


Dokter Harry datang bersama dengan temannya seorang yang sering menjualkan rumah elite. Sesuai permintaan Alfarizi beberapa waktu lalu ingin memiliki rumah untuk di tempati jika sudah bisa bersatu dengan Alfian dan Maminya. Teman Dokter Harry menawarkan rumah yang jaraknya dekat dari rumah Neng, tepatnya posisi rumah ada di belakang konfeksi AA.


"Ini Tuan foto dari rumah yang ingin di jual, silahkan lihat sendiri!"


Al langsung melihat foto yang ada di ponsel milik teman Dokter Harry. Dari luas, model dan fasilitas sesuai kreteria yang diinginkan oleh Al. Apalagi letaknya tepat di belakang konfeksi milik Neng, hanya saling membelakangi posisi rumah itu.


"Ok aku tertarik dengan rumah ini," kata Al dengan antusias.


"Anda bisa melihat rumah itu sekarang, Tuan!"


"Bagaimana Bro, apakah bisa kamu keluar sekarang?" tanya Dokter Harry.


"Bagaimana caranya aku bisa keluar rumah tetapi tidak dikenali oleh media?"


"Ok tunggu sebentar, aku panggil istriku dulu!"


Dokter Harry memanggil Rianti untuk dimintai pendapatnya agar Al bisa leluasa keluar tanpa terendus oleh media terutama wartawan infotaimant. "Ada apa Papa?"


"Coba kamu make over Al sekarang, agar dia lebih fress dan tidak di kenali oleh siapapun!"


"Ok, tetapi tidak boleh membantah ya!"


Rianti memanggil tukang cukur langanannya untuk datang ke rumah, mengubah rambut Al yang biasa terlihat klimis kini dinpangkas cepak. Cambang dan jenggotnya di cukur habis terlihat bersih. Yang biasanya Al mehggunakan setelan celana kain dan jas rapi, kini Al hanya memakai celana jeans pendek selutut dan kaos distro dan jaket woody. Di tambah kaca mata hitam, topi kupluk dan sendal model gunung yang di pakai Alfarizi, penampilannya semakin berbeda, terlihat modis dan lebih muda.


"Bagaimana Papa, apa yang kurang?" tanya Rianti setelah selesai make over Al.


"Waaah 15 tahun terlihat lebih muda, pasti Mitha akan langsung klepek-klepek setelah melihatmu, Mama memang top markotop!"


"Apakah sekarang aku boleh bercermin?" tanya Al penasaran.


"Ok, ayo lihatlah!" perintah Dokter Harry.

__ADS_1


Hai shobat, promo lagi jangan lupa mampir ya



__ADS_2