
Umur kehamilan Neng sudah tujuh bulan, walaupun kegiatan semakin banyak, tetapi Neng masih bisa bersantai menikmati sore ikut bergabung dengan Ibu Yuni dan Mpok Atun sedang melihat tayangan infotaiment.
Dalam tayangan infotaiment itu di ceritakan ada seorang peragawati terkenal yang lama tinggal di negara Australia pulang ke Indonesia menggendong bayi berumur tiga bulan, dan rencansnya akhir bulan ini dia akan mengadakan syukuran aqiqah dan memperkenalkan bayi itu kepada publik.
Neng jarang melihat infotaiment saat di desa sehingga tidak banyak mengetahui artis ibu kota, biasanya dia melihat artis penyanyi indonesia atau artis korea, tetapi saat pembawa acara itu menyebutkan namanya Sinta Neng baru menyadari nama itu tidak terlalu asing di telinganya.
Neng memperhatikan lekat-lekat wajah model yang sedang ada di layar kaya itu, tinggi semampai badannya sangat ideal, cantik berkulit putih memakai baju bermerk dan menggendong seorang bayi perempuan dengan bando pink di kepalanya kembaran dengan ibunya.
Pada akhir tayangan muncul nama lengkap dari model itu yaitu Sinta Zulkarnain, kembali Neng mengerutkan dahinya dan bergumam dalam hati apakah wanita cantik itu adalah istri sah dari Tuan Alfarizi Zulkarnain.
Neng tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya setelah Mpok Atun menepuk pundaknya, "Neng Mitha kapan acara tujuh bulanan kehamilan kamu?"
"Aku tidak tahu Mpok, nanti aku tanya pada Ibu saja dulu," jawab Neng bingung.
Datang Ibu Ani dari arah kamar mandi yang berada di samping dapur ikut bergabung menonton acara infotaiment, "Neng Mitha mau tanya apa padaku?"
"Acara tujuh bulanan Bu, aku tidak tahu tentang hal itu, bagaimana mengadakan acara itu juga aku belum faham?"
"Sekarang ini jaman modern Nak, tidak harus mengikuti acara tujuh bulanan yang banyak sekali macam dan ritualnya, kita cukup membuat rujak dan es cendol, membuat nasi kotak dan dibagikan kepada karyawan dan tetangga sekitar, itu sudah cukup," jawab Ibu Ani dengan bijak.
"Apa tujuan membuat acara tujuh bulanan Bu?" tanya Neng penasaran.
__ADS_1
"Aku juga kurang faham Nak, yang pentjng saat kita membagikan nasi kotak, rujak dan es cendol sambil meminta doa restu agar selalu sehat dan lancar saat melahirkan."
"Kapan kita melaksanan tujuh bulanan itu Bu?"
"Hari Minggu saja, nanti aku, Bu RT dan karyawan konfeksi yang lain akan membuat nasi kotaknya, kamu tahu beres saja,"
"Baik Bu, aku ikut saja Ibu dan Bu RT saja yang mengaturnya."
Malam harinya Neng kembali termenung mengingat saat melihat tayangan infotaiment tentang seorang model yang bernama Sinta Zulkarnain, dia hanya menduga dan menebak kemungkinan dia adalah istri sah dari Tuan Alfarizi tetapi Neng enggan untuk mencari tahu di media sosial atau berita di internet, berniat menghapus masa lalunya yang kelam dan berniat tudak ingin mengetahui latar belakang dan kehidupan ayah dari bayinya yang masih dalam kandungan.
Neng berkali-kali meyakinkan hatinya untuk tidak mencampurkan masa lalunya dengan kehidupan yang di jalaninya sekarang ini, masa lalu biarlah menjadi masa lalu, tidak ingin menjadikan penghalang untuknya melangkah maju, masa lalu akan di tinggalkan di belakang, tidak ingin lagi menengok ke belakang agar hati bisa tenang dan ikhlas.
Hampir satu Minggu berjalan tanpa ada rintangan Neng sudah melupakan tayangan infotaiment itu, hari Minggu ini konfeksi berhenti beroperasi, seluruh karyawannya sedang berada di dapur membuat nasi kotak, rujak dan es cendol untuk acara tujuh bulanan owner mereka dengan riang.
Setelah selesai dan rumah kembali rapi seluruh karyawan makan bersama sambil melihat acara gosip di televisi di ruang tamu, awalnya Neng tidak ikut memperhatikan acara televisi itu, dia hanya berkonsentrasi menikmati rujak yang segar dan sangat enak, tetapi Neng tersentak kaget setelah acara infotaiment itu sedang mengadakan wawancara siaran langsung tentang pasangan suami istri yang sedang melakukan aqiqah putrinya yang berumur empat bulan.
"Selamat atas kelahiran putri Anda berdua, kalau boleh tahu siapa nama putrinya?" tanya membawa acara kepada sepasang suami istri yang sedang duduk berdampingan dan putrinya di gendong oleh sang istri.
"Putri kami bernama Marta Zulkarnain," jawab sang wanita dengan senyum yang mengembang.
"Satu tahun yang lalu kalian berdua di kabarkan pisah ranjang tetapi sangat mengejutkan sekarang kalian muncul kembali dengan kebahagiaan memiliki momongan setelah enam tahun menikah?" tanya pembawa acara lagi,
__ADS_1
"Suamiku ini tidak mungkin bisa hidup tanpa aku, itu hanya isu dia sangat nencintai aku apa lagi kami sudah memiliki malaikat kecil ini," jawabnya sang wanita lagi.
Infotaiment sedang menayangkan wajah imut baby Marta, memakai gaun berwarna pink, bando senada kembaran dengan Sinta Zulkarnain yang mengenakan gaun yang seksi tanpa lengan.
"Kabarnya Baby Marta lahir di Australia, apakah itu betul?"
"Biar suamiku Alfarizi Zulkarnain yang menjawabnya, ayo jawab sayang!" kata Sinta Zulkarnain sambil mengusap lembut pipi suaminya.
Alfarizi Zulkarain hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya dan tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mata Neng menatap nanar acara televisi itu tanpa berkedip, langsung meletakkan rujak diatas meja, badannya langsung mengeluarkan keringat dingin, rasa sakit dalam hatinya mulai muncul kembali, yang awalnya ikhlas dan tidak berniat mengetahui siapa Sinta Zulkarnain sekarang tanpa sengaja dia mengetahui melalui acara televisi.
Karena Neng merasa sesak di dada dan mulai berkecamuk dengan pikiran yang negatif, kepala Neng terasa pening, rumah seolah mulai bergoyang seperti terjadi gempa, Neng memegangi kepalanya rasanya dunia mulai gelap dan perut terasa kencang dan kram.
"Bu, Ibu aduuuh kepalaku pusing, perutku kencang sekali!" kata Neng dengan terbata-bata.
Ibu Ani dan semua karyawan yang awalnya tertawa riang akhirnya menjadi panik dan mengerumuni Neng yang mulai lemas, setelah semua mendekati Neng, dia semakin lemas dan pingsan di sofa dan tidak bergerak.
Semua menjadi panik berlarian, ada yang mengambil minyak gosok, air putih bahkan ada yang mengambil kipas angin, hanya Ibu Ani yang terliha tenang, menepuk pipi Neng dengan perlahan, "Neng Mitha bangunlah, Neng ayo bangunlah,"
Diantara semua karyawan yang ada Mpok Atun yang paling muda yang maling memahami teknologi, dia langsung menghubungi rumah sakit memanggil ambulance agar segera datang, "Bu Ani, cepatlah persiapkan perlengkapan Neng Mitha aku sudah memanggil ambulance!"
__ADS_1
Ibu Ani mengambil baju milik Neng seadanya, mengingat umur kandungan Neng baru tujuh bulan, ambulance datang bersamaan dengan selesainya Ibu Ani membersiapkan keperluan Neng.
Suara ambulance langsung menggema melewati jalan raya membelah kemacetan daerah kota Bekasi bersamaan para karyawan perusahaan besar pulang kerja, dalam ambulance ditemani oleh Ibun Ani dan Ibu Yuni.