Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Cemburu Setinggi Langit


__ADS_3

Saat ini Alfarizi lagi-lagi merasa kecewa harapan satu-satunya ingin mendampingi Zain berkunjung ke Musium Satria Mandala agar bisa bertemu dengan Neng dan Alfian pupus sudah. Zain sedang di rawat di rumah sakit karena demam berdarah. Dengan otomatis Zain tidak akan ikut berkunjung ke sana bersama teman-temannya.


"Tuan, jangan menyerah ingat masih ada jalan lain menuju Roma." Surya memberi semangat.


Al hanya diam termenung belum berani mendekati Neng karena dua hal. Yang pertama karena sidang cerai dengan Sinta belum selesai. Yang kedua Dokter Harry sudah berpesan harus berhati-hati saat menghadapi Neng, jika terjadi sesuatu terjadi dengan Neng Sahabat SMP nya itu akan berhadapan langsung dengannya.


"Bagaimana caranya, Surya?"


"Anda cukup bersiap saja, berpakaianlah resmi, anggap saja kita sedang meeting dengan klien, sisanya saya yang akan mengaturnya, ok!"


"Apakah kamu akan bekerja sama dengan Desi pacarmu itu?"


"Desi sebenarnya belum menyadari jika Anda adalah Papinya Alfian, Tuan; Bu Mitha sangat tertutup orangnya."


"Benarkah jadi hanya beberapa orang yang mengetahui tentang ini!"


"Betul Tuan, aku baru tahu tadi malam saat Desi bercerita tentang suami dari Bu Mitha."


"Maksudmu apa, apakah dia sudah menikah lagi?"


"Tadi malam Desi bercerita bahwa di masyarakat tempat tinggal Bu Mitha, Bu Mitha berstatus memiliki suami, dia bercerita suaminya menjadi TKI di Arab Saudi."


"Tapi kemarin Harry bercerita jika dia ...!"


"Jangan khawatir Tuan, Desi mengatakan jika itu hanya trik Bu Mitha saja agar tidak ada orang laki-laki yang mendekatinya.


"Ooo syukurlah, aku hampir saja marah."


"Satu lagi Tuan, setiap tahun sekali Bu Mitha, Bu Ani dan Alfian akan pergi berlibur ke desa dengan alasan bertemu dengan suaminya."


"Di sana mereka bertemu dengan siapa sebenarnya?"


"Desi sering bertanya dengan Alfian, di sana bertemu dengan Bude, katanya."


"Siapa Bude itu?"


"Bude itu putri kandung satu-satunya Ibu Ani."

__ADS_1


Kembali Alfarizi tersenyum, dia akan tetap hanya menjadi milikku seorang gumamnya sendiri dalam hati. Akan tetap berjuang walaupun akan memakan waktu seumur hidup. Walau harus mendekatinya sambil menyembuhkan traumanya terkebih dahulu, waktunya akan di dedikasikan hanya untuk Neng dan putranya saja.


Pagi ini pukul delapan Al sudah rapi dan duduk di dalam mobil berdua dengan Surya. Mobil berhenti di seberang jalan sekolahan Alfian, berniat akan berangkat bersama walapun hanya secara diam-diam. Mengawasi Alfian yang sedang berdua dengan Maminya berdiri di antara para siswa yang lain sedang mendengarkan pengarahan Ibu Guru.


Ada seorang laki-laki yang menggandeng gadis kecil mendekati Neng dan Alfian. Neng terlihat kaget dan mundur beberapa langkah karena tidak melihat kedatangannya. Alfian spontan mencoba memeluk maminya takut terjatuh karena mundur tiba-tiba.


"Eeee siapa dia?" Alfarizi kaget melihat Neng terhuyung mundur hampir terjatuh.


"Yang mana, Tuan?"


"Itu yang langsung mendekati istriku!"


Surya hanya menggelengkan kepalanya, belum juga ada kesempatan untuk mendekatinya cemburunya sudah setinggi langit. Alfarizi menatap tajam laki-laki yang sok akrab dengan Neng. Neng yang di dekati terlihat sangat tidak nyaman dan selalu bergeser untuk menghindar.


Selesai pengarahan dari guru, semua murid dan orang tua menuju kendaraan masing-masing termasuk Neng dan Alfian. Mereka berkonvoi beriringan sampai di Musium Satria Mandala. Parkir berjajar dan berkumpul kembali di pintu masuk Musium.


Dari kejauhan Rangga Siregar sambil menggandeng putrinya mulai berjalan mendekati Neng dan Al. Neng bergegas mendekati Ibu guru kelas berniat membantunya agar tidak ada kesempatan untuk berbincang dengan orang yang selalu ingin mendekatinya. Neng menyibukkan diri terus membantu Ibu guru kelas, membuat Rangga Siregar berdiri tertegun sambil memandangi Neng yang sibuk.


Alfarizi yang mengawasi dari jauh hanya tersenyum devil. Seolah Neng sejalan dengan pikirannya untuk menghindar dari laki-laki itu. Rangkaian acara satu persatu terlewati tanpa kendala berjalan dengan lancar.


Perasaan lega terlihat di wajah Neng saat duduk di pojok restoran bersama putranya. Mereka mulai memesan makanan. "Al mau pesan makan apa, Nak?"


"Tunggu Mami, Al baca dulu menunya ada apa saja!"


Al membuka buku menu satu persatu, banyak menu dari masakan asli Indonesia. Alfian berbinar dan tersenyum saat membaca ada opor ayam kampung dengan gambar penyajian yang sangat menggugah selera. "Mami, Al mau opor ayam kampung."


"Minumnya apa, Nak?"


"Jus mangga dan air mineral."


"Ok, Mami pesan sekarang!" Neng memanggil pramusaji untuk memesan menu yang sudah dipilih.


Alfarizi yang mengawasi dari jauh Neng dan Alfian yang sedang memesan menu makanan. Kemudian menengok ke belakang dan mengetahui jika Rangga Siregar melihat Neng dan Alfian masuk restoran. Dia langsung memerintahkan Surya untuk memesan tempat private room di restoran itu.


"Surya kamu pesan private room, cepat!"


"Baik Tuan, oya Tuan, sebaiknya kita menggunakan masker saja agar tidak di ketahui oleh media!"

__ADS_1


"Ide bagus, mana aku pakai satu!"


"Ini Tuan silahkan dipakai!"


Dalam waktu lima menit Surya sudah kembali bergabung dengan Alfarizi untuk mengawasi Laki-laki yang selalu mengejar dan mendekati Neng. Dari kejauhan seorang ayah yang sedang menggandeng putrinya berjalan dengan langkah panjang masuk restoran. Dia melihat seluruh area restoran sambil tersenyum dan mendekati meja Neng dan Alfian.


"Bu Mitha, Anda di sini, apakah kami boleh berga ...?"


Belum sempat Rangga Siregar melanjutkan ucapannya, Alfarizi berjalan cepat mendekati meja mereka diikuti Surya dari belakang. "Al, kamu sudah pesan makanan, Nak?"


"Papi ...!" Alfian langsung berdiri menghampiri Alfarizi dan meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.


Neng kaget tidak cuma satu kali, dia kaget dua kali karena kedatangan Rangga Siregar yang menyusul ke restoran dan satu lagi kemunculan papi dari putranya secara tiba-tiba. Neng mencoba tersenyum untuk menutupi kegugupannya.


"Al sudah pesan opor ayam kampung, Papi mau pesan apa?"


"Nak, kita pindah di private room saja yok!"


"Mami, ayo kita ikut Papi saja, please!"


Neng mengangguk dan berdiri sambil tersenyum. "Maaf Pak Rangga permisi!" Rangga Siregar mengangguk dan tersenyum yang di paksakan.


Mereka meninggalkan Rangga dan Putri yang masih terpaku. Rangga tidak menyangka jika wanita yang selama ini dikejarnya memiliki suami. Suara dari papinya Al seperti familier tetapi karena memakai masker jadi tidak bisa mengenalinya.


Alfarizi berjalan menggandeng tangan Alfian, Neng hanya mengikuti mereka dari belakang. Surya berjalan paling belakang dan sesekali menengok Rangga Siregar yang masih memperhatkan Neng berjalan.


"Ayo masuklah!" kata Alfarizi membukakan pintu private room.


Neng tertegun berhenti di pintu, ada keraguan saat kakinya ingin masuk ke ruang private room. Menengok ke belakang masih ada Rangga Siregar yang memperhatikan dirinya.


"Mami ... ayo masuklah!"


Promo lagi, promo lagi


Rekomen novel bagus untuk shobatku


__ADS_1


__ADS_2