Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Gym Center Mini


__ADS_3

"Mami, bagaimana ini senjata onta arab Papi pingin bergoyang?" Alfarizi kembali menggosokkan senjatanya di sana sambil menciumi tengguk istrinya.


Neng belum sempat menjawab pertayaan suaminya ada suara tangisan baby Elfa dengan keras. Spontan Neng berlari ke kamar putrinya yang ada di kamar sebelah melewati pintu yang menghubungkan kamar ke duanya. Alfarizi juga ikut berlri masuk kamar putrinya dengan cepat.


Awalnya baby Elfa di gendong oleh Neng terus saja dia menangis. Alfarizi langsung megambil alih untuk menggendong baby Elfa, tangisannya berangsur mulai berkurang. Dengan tenang Neng merebahkan tubuhnya di tempat tidur, tidak menunggu lama dia langsung tertidur pulas.


Setelah baby Elfa tidur pulas, dia kembali di baringkan di box bayi. Bergegas Alfarizi masuk kamarnya untuk melanjutkan rayuan gombal untuk istri tercinta. Sampai di kamar dan melihat Neng tertidur pulas dan terlihat tenang.


Alfarizi tidak tega untuk membangunkan istrinya padahal senjata onta arabnya masih on seperti semula. Niatnya ingin menagih janji ada jalan lain menuju Roma. Akhirnya Alfarizi memutuskan untuk keluar kamar menuju ruang Gym Center Mini miliknya.


Alfarizi memilih menghabiskan waktunya untuk berolahraga di sana untuk menidurkan senjata onta arab yang ingin bergoyang. Padahal waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam saat dia berada di Gym Center Mini. Dia memilih berolahraga tidak seperti dulu selalu bermain solo di kamar mandi.


Umi Anna datang setelah melihat ruang Gym Center Mini terlihat terang dan ada suara alat gym yang terdengar dari luar. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu, "Al, ngapain tengah malam begini olahraga?"


"Umi, bikin kaget saja. Al lagi melakukan saran Umi."


"Ha ha ha Abi dan putranya sama aja, lanjutkan jangan berhenti kalau belum tertidur tuuh juniornya!" Umi Anna tersenyum devil dan menggelengkan kepalanya meninggalkan Alfarizi.


"Umi memang raja tega," jawab Alfarizi sambil mengerucutkan bibirnya.


Hampir dua jam Alfarizi berada di ruang Gym Center Mini miliknya sampai keringat bercucuran dengan deras. Tenaganya sudah hampir habis bersamaan tertidurnya senjata onta arab dengan damai. Menyambar haduk yang menggantung di balik pintu dan keluar menuju kamar baby Elfa yang terlihat sepi.


Berjalan menuju kamarnya sendiri setelah melihat putrinya masih tertidur pulas, tetapi baru sampai pintu antara kamar milik baby Elfa dan kamar miliknya. Suara tangisan melengking baby Elfa terdengar membuat dia harus kembali lagi, "Ada apa Nak, apakah haus atau pup, Papi periksa sebentar ya?"

__ADS_1


Alfarizi memeriksa popok baby Elfa dengan teliti, "Ooo putri Papi lagi pup ya, tidak nyaman pasti rasanya, baiklah ayo kita ganti popok dan ganti baju!"


Alfarizi menggangakat putrinya ke tempat tidur single bed yang berada di sebelah box bayi. Membuka popok dan mengambil air hangat dari shower kamar mandi menggunakan gayung. Mengambil tisu dan pupur khusus untuk bayi. Dengan ceatan Alfarizi membersihkan pup putrinya menggunakan tisu dan air hangat sampai bersih.


Sambil mengajak putrinya berbincang kemudian Alfarizi mengganti bajunya yang ikut basah karena terkena pipis. Mengganti popok dengan yang bersih sampai baby Elfa merasa nyaman kembali, "Sudah, sekarang putri Papi cantik dan nyaman kembali, sekarang mau bobok atau mau minum ASI?"


Baby Elfa langsung memberikan kode membuka mulutnya, menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari ASI kesukaannya, "Baiklah, ayo kita bangunkan Mami!"


Menggendong putrinya di kamar untuk menemui Neng yang masih tertidur pulas, "Mami ... El mau ASI," kata Alfarizi menirukan suara anak kecil dan meletakkan putrinya di samping Neng.


Neng mengerjapkan matanya sambil melihat putrinya sudah berada di sampingnya, "Hauskah Nak, sini ayo minum ASI dulu!" Neng langsung membuka kancing majunya dan memberikan ASI kepada putrinya sambil berbaring.


Mata Neng langsung terbuka lebar setelah melihat Alfarizi mengalungkan handuk di lehernya dengan kaos yang basah karena keringat, "Papi habis olahraga ya?"


"Maaf Papi, Mami ketiduran, mengapa tadi tidak membangunkan Mami?"


"Papi tidak tega, Mami tidurnya pulas banget."


Alfarizi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dari keringat dengan air hangat. Berganti dengan baju tidur kemudian berbaring di belakag Neng memeluknya dari belakang walaupun Neng sedang menyusui baby Elfa. Saat baby Elfa sudah kenyang dan tertidur, kembali ke box bayi, Alfarizi juga sudah tertidur pulas dan sudah lupa dengan keinginan mengajak senjata onta arabnya bergoyang lewat jalan lain menuju Roma.


Satu minggu berlalu Alfarizi bisa melalui waktu malamnya tanpa mengajak senjata onta arab bergoyang. Dia selalu berolah raga di Gym Center Mini miliknya baik malam ataupun menjelang pagi hari di sela-sela menjadi papi siaga untuk putrinya. Di samping badannya semakin fit dan sehat pikirannya teralihkan dan tidak selalu berpikir untuk mengajak senjata onta arab bergoyang.


Sudah setengah perjalanan Alfarizi mampu menahan hasratnya untuk bercinta dengan istrinya. Neng selalu memuji keberhasilan dan usaha keras suaminya seperti malam ini, "Papi memang hebat, Mami bangga sekali atas usahanya."

__ADS_1


"Terima kasih Mami, apakah Papi boleh tanya?"


"Tentu saja, Papi mau tanya apa?"


"Apakah Papi boleh memegang atau merabanya saja, Papi kangen?"


"Eee baru saja di puji, malah minta macam-macam."


Alfarizi hanya tersenyum devil sambil memeluk dan menciumi tengkuk Neng dengan lembut. Sepertinya usahanya mati-matian malam ini tidak bisa di pertahankan lagi karena hanya melihat senyumnya saja tiba-tiba senjata onta arab on sendiri. Rasa itu lebih besar dari pertahan yang di lakukan hampir dua puluh hari terakhir ini.


"Honey please, Papi hanya pingin memegang dan merabanya saja, tidak lebih dari itu," rayu Alfarizi dengan suara yang memelas.


"Papi yakin akan bisa menahan tidak akan mengajak senjata onta arab bergoyang."


"Entahlah, papi juga tidak tahu, yang Papi inginkan hanya menyentuh dan merabanya saja, Papi sangat merindukan itu. Boleh ya?"


Neng tersenyum mengelus pipi Alfarizi yang mulai memejamkan matanya karena menahan rasa yang tdak bisa di tahan. Rasa tidak tega melihat suaminya yang menahan rasa. Dalam nifas selama dua puluh hari terkadang masih ada darah yang keluar dari sisa-sisa saat melahirkan kemarin.


"Papi yakin akan memegangnya, terkadang masih ada lo darah nifas yang keluar dari sana, apakah papi tidak akan merasa jijik atau geli gitu?"


Alfarizi langsung mendongakkan wajahnya memandang Neng yang tersenyum manis. Dia tidak menyangka jika nifas itu akan terus mengeluarkan darah seperti saat melahirkan kemarin. Dia langsung terbayang peristiwa itu dan menara nyeri dan sakit yang teramat sangat.


"Apakah selama itu darah nifas keluar, Mami. Bagaimana nanti kalau Mami kehabisan darah?, tidak jadi deh kalau begitu, bukannya Papi jijik atau geli tetapi Papi takut nanti Mami terluka kalu Papi pegang, Papi ke Gym Center Mini saja sekarang."

__ADS_1


"Papi yakin?"


__ADS_2