
Alfarizi selalu saja cemberut saat dia tidak berhasil icip-icip dengan istri tercinta. Bukannya merasa kasihan Neng hanya menanggapi dengan senyum-senyum sendiri. Sambil menggelengkan kepalanya teringat Alfian saat lagi kesal ternyata persis seperti papinya.
"Mami my Honey, bahagia ya lihat Papi sengsara?"
"Eee, sengsara apanya, biasa aja kali, Papi!"
"Itu dari tadi senyum-senyum sendiri sambil melirik Papi."
"Iiiih GR aja nich Papi, coba lihat ini wajah Papi saat ini seperti ini!" Neng menunjukkan foto Alfian saat masih berumur lima tahun, saat dia cemberut.
Alfarizi langsung mengambil ponsel milik Neng. Melihat Alfian yang memakai seragam TK wajahnya cemberut, sorot matanya terlihat menunjukkan kekesalan. Keningnya terlihat mengkerut karena menahan marah.
"Ha ha ha ...!" Alfarizi tertawa melihat ekspresi putranya yang terlihat lucu.
Alfarizi langsung terdiam dan tertegun setelah menyadari tidak pernah mengetahui perkembangan putranya dari lahir sampai berumur delapan tahun. Rasanya nyeri di dada mulai muncul lagi saat melihat foto di ponsel Neng. Tidak berani melirik Neng karena merasa bersalah tidak ada di sampingnya saat putranya lahir sampai dia besar.
"Papi mau melihat foto Al saat dari lahir sampai sekolah, sini kemarilah, kita lihat berdua!" Neng menepuk kasur brankar tempat tidur yang berada di sampingnya.
Senyum Alfarizi kembali menembang saat Neng menepuk kasur yang kosong di sampingnya. Hampir dua minggu resmi menjadi istrinya belum sekalipun dia berbaring di sampingnya. Setiap malam dia kebih memilih tidur di sampingnya dengan duduk di kursi dan kepalanya di letakkan di samping kepalanya sambil memegang erat dan menautkan jemarinya.
Bergegas Alfarizi membaringkan tubuhnya di samping Neng. Badannya miring sempurna kearahnya. Untung Alfian sedang mengerjakan tugas ketrampilan di rumah Zain putra Dokter Harry sampai senja nanti.
"Lihatlah Papi, saat Al berada di inkubator, berat badannya tidak sampai dua kg karena ...!"
"Mengapa berhenti cerita, katakanlah?"
"Dia lahir prematur, usia kehamilan tujuh bulan, saat itu pertama kali Mami melihat Papi di infotaiment sedang mengadakan konfrensi pers aqiqah Marta secara mewah." Neng bercerita dengan mata yang berkaca-kaca.
Dengan spontan Alfarizi memeluk Neng dengan erat. mencium pipi dan matanya yang berkaca-kaca berkali-kali. Karena baper Alfarizi lupa tidak ssmpat mencium bibirnya padahal dari kemarin ingin sekali merasakan bibir ranum milik istrinya.
"Maafkan Papi, Honey. Maafkan Papi much much!"
Berkali-kali Alfarizi menciumi pipi, mata dan keningnya, tanpa sengaja badannya menekan pundak Neng, "Aaa ... aduh punggungku tertekan, Papi!"
"Eeee maaf ...." Spontan Alfarizi meloncat turun dari brankar tempat tidur, sampai pan*atnya membentur kursi yang biasa dipakainya untuk duduk, Aduh ... pan*atku!" teriak Alfarizi sambil mengusap pan*atnya berkali-kali.
__ADS_1
"Ha ha ha ...!" Dengan spontan Neng tertawa lepas melihat Alfarizi seperti akrobat karena loncat.
"Sakit Mami my Honey, mengapa malah di ketawain?"
"Maaf, mau di lanjutkan lagi tidak?"
"Iya lah, Papi tiduran lagi ya?"
"Tiduran silahkan aja, tidak usah curi kesempatan, nanti terbentur lagi!"
Kembali Alfarizi merebahkan tubuhnya seperti tadi. Neng menunjukkan foto Alfian saat umur satu bulan tanpa memakai baju, tiga bulan saat imunisasi, lima bulan mulai tengkurap. delapan bulan bisa duduk dan satu tahun saat berjalan.
Alfarizi selalu mengusap foto Alfian kecil sambil berkaca-kaca. Rasa penyesalan sangat besar saat ini di rasakannya. Tidak bisa melihat tumbuh kembang putranya saat masih baru di lahirkan.
Alfarizi meneteskan air matanya saat melihat ada foto ulang tahun Alfian dari umur satu tahun sampai delapan tahun lalu berjajar rapi meniup lilin kue ulang tahun hanya berdua dengan maminya. Air mata itu semakin deras setelah melihat vedio saat Alfian ulang tahun ke lima di Tirtonirmolo Waterpark Ngawi dengan berdoa di tengah kolam renang dengan suara keras, "Ya Allah ... Al ingin mendapat hadiah ulang tahun bertemu dengan Papi Al sekali aja!"
"Maafkan Papi, Nak; Ya Allah ya Tuhanku!"
"Semua sudah berlalu, Pi, tidak perlu di sesali!" Neng lansung mengusap air mata Alfarizi dengan tembut.
Neng mengusap dan memeluk Alfarizi dengan satu tangan yang semakin tergugu menangis dan terisak, "Apalah Mami ini, wanita yang depresi dan tidak memiliki status tetapi memiliki satu putra, di banding Papi dan keluarga yang tersenyum bahagia,"
"Huuuu ... itu hanya sandiwara Honey, Papi ... !"
Neng langsung memotong ucapan Alfarizi, "Papi di nyatakan tidak bisa punya keturunan?"
Akfarizi langsung mendongakkan wajahnya sambil mengusap air matanya, "Dari mana Mami tahu?"
"Umi Anna dan Abang Harry."
Salah satu yang baru di sebutkan namanya datang tanpa mengetuk pintu dan merasa heran karena mendengar suara tangisan tetapi bukan Neng yang menangis, melainkan Alfarizi.
"Eee apa-apaan ini, sebenarnya ini yang sakit siapa sih, Al atau Mitha?"
"Umi ...!" panggil Neng kaget.
__ADS_1
Umi menjewer Alfarizi yang menangis dalam pelukan Neng, "Mengapa Al menyusahkan putri Umi lagi, mau di jewer ke dua telinganya?"
"Ampun Umi, ampun ...!" Al semakin meringseng menempel pada tangan Neng, bahkan lengan Neng sebagai bantal kepala Alfarizi dengan wajah di tenggelamkan di dekat ketiak Neng.
"Mami tolong Papi, Umi sekarang jadi ibu tiri!"
Abi Ali, Isya dan Fano datang menyusul ke ruang rawat inap jadi terheran-heran karena melihat Alfarizi yang berada dalam pelukan Neng dengan mata yang sembab karena habis menangis, "Abang ada apa, manja banget minta di peluk Kak Mitha?" Isya juga ikut memukul pundak Alfarizi dengan keras.
Akhirnya Alfarizi bangun dan turun dari brankar tempat tidur sambil mengusap sisa air matanya yang masih menggenang di sudut matanya, "Tadi Umi jadi ibu tiri sekarang Isya juga mau jadi adik tiri jahat banget sih!"
Keluarga Zulkarnain jadi menertawakan Al yang terlihat seperti anak kecil yang habis mengadu pada orang tuanya. Kemudian Alfarizi bsrcerita dan menunjukkan foto Alfian dari lahir sampai berumur delapan tahun. Yang tadinya menertawakan Alfarizi sekarang gantian merekalah sekarang ini yang menagis tersedu-sedu, bahkan Abi Ali dan Fano juga ikut meneteskan air matanya.
Mereka masih terisak dan menangis sambil melihat vedio Alfian yang berteriak di tengah kolam renang Tirtonirmolo Waterpark Ngawi datang Alfian bersama Dokter Harry yang kebetulan akan jaga pasa shitf malam.
"Mami .... mengapa semua pada menangis, apakah Mami baik-baik saja?" Alfian langsung memeriksa pipi dan dahi Neng.
Belum sempat Neng menjawab pertanyaan putranya spontan Umi Anna dan Isya langsung memeluk Alfian dengan erat, "Kami sangat sayang sama Al."
"Oma, Auntie ada apa sih kok semua menangis?" tanya Alfian masih bingung.
Alfian langsung mendekati papinya yang terlihat sembab, "Ada apa Papi, apakah terjadi sesuatu dengan Mami?"
"Tidak Nak , Mami baik-baik saja, kami menangis karena habis melihat vedio Al yang ini!" jawab Alfarizi menunjukkan vedio itu.
"Ooo itu, Papi sih, mengapa dulu jahat sama Al dan Mami, kayak Bang Toyib aja delapan lebaran tak pulang-pulang?"
"Eee ...ha ha ha!"
Jangan lupa mampir ya di novel teman
sangat seru lo, rekomen banget soalnya
trims dan I lovevyih all
__ADS_1