
Setelah dua tahun berlalu Neng saat ini sudah selesai membangun rumah dan konfeksi yang letaknya tidak jauh dari rumah Bu Yani. Rumah tingkat yang terletak bersebelahan dengan konfeksi dan mess untuk karyawan yang terletak di belakang konfeksi. Karyawan Neng saat ini hampir mencapai 100 orang.
Rumah Neng tidak besar tetapi terlihat elegan dan bersih. Ibu Ani menempati kamar utama yang di lantai dasar. Neng dan Alfian kamarnya ada di lantai dua dan bersebelahan serta ada kantor pribadi milik Neng di ujung ruangan.
Di konfeksi ada kantor milik Neng yang sering digunakan untuk menerima para tamu, pelanggan atau klien, disebelahnya ada kantor milik Desi yang menjabat sebagai asisten pribadi Neng setelah mereka lulus kuliah. Mpok Atun menjabat sebagai kepala produksi.
Hanya dua yang tidak bisaa Neng lakukan setelah berpisah dengan Alfarizi yaitu tidak pernah bisa berhubungan dengan lawan jenis secara pribadi, membuat Neng tidak pernah pacaran walau banyak yang laki-laki yang menyukainya. Neng selalu beralasan masih mempunyai suami yang bekerja menjadi TKI di Arab Saudi, Dan dia tidak bisa berada di tengah-tengah orang yang menggunakan baju toga, sehingga saat Neng wisuda setelah lulus kuliah dia memaksakan untuk ikut memakai baju itu berkali-kali dia pingsan, akhirnya di pertengahan wisuda dia harus kembali dilarikan ke rumah sakit.
Trauma yang dialami Neng hanya orang terdekat saja yang mengetahuinya. Neng tidak pernah menyebut nama lengkap dari Ayahnya Alfian. Karyawan dan sahabatnya hanya mengetahui jika nama suami Neng bernama Alfarizi.
Penampilan Neng setelah berhasil membangun bisnisnya sendiri dan memenangkan juara lomba desainer saat kuliah sekarang ini sudah sangat berbeda. Wajahnya terlihat bersinar, cantik dan elegan, rambut panjangnya sering dibiarkan tergerai tanpa diikat. Neng selalu berpenampilan modis mengikuti tren mode yang berkembang.
Rianti istri Dokter Harry yang selalu menjadi orang pertama mengkritik penampikan Neng jika tidak sesusi atau kurang modis. Persahabatan mereka semakin akrab setelah Alfian dan Zain sekolah Taman Kanak-kanak bersama.
Setelah ulang tahun Alfian yang ke tujuh dan pulang dari desa selama satu Minggu, Minggu ini Alfian akan masuk Sekolah Dasar. Neng dan Rianti mendaftar sekolah yang sama untuk putranya masing-masing. Sebelum Alfian memulai Sekolah Dasar, Neng berniat menceritakan kepada Alfian kebenaran jika papinya sudah lama meninggalkan mereka.
"Al, apakah Mami bisa bicara penting tentang Papi?"
"Iya Mami, mengapa Papi tidak pernah pulang menemui kita?"
"Sekarang Al sudah besar, sudah waktunya Al tahu tentang Papi, tetapi Mami mohon Al harus merahasiakan tentang ini, ini tentang keluarga kita jadi hanya kita berdua yang mengetahuinya."
"Iya Mami, apakah Nenek Ani tidak tahu tentang Papi?"
"Tidak Nak, Mami tidak pernah menceritakan kepada siapapun, Al siap mendengarkan?"
"Iya Mi, berceritalah!"
__ADS_1
"Mami menikah dengan Papi tidak lama, Papi meninggalkan Mami begitu saja saat Al berumur 8 Minggu dalam kandungan, Papi tidak tahu saat itu Mami sedang hamil."
"Jadi sampai sekarang Papi tidak tahu kalau mempunyai anak Al?"
"Tidak Al, tetapi jangan khawatir Mami sangat menyayangi Al, Al tidak akan kekurangan kasih sayang walau Papi tidak menyayangi Al."
"Di mana alamat Papi sekarang ini, Mi?"
"Mami tidak tahu, Nak; yang Mami tahu Papi Al itu keturunan orang Arab, mata dan hudungnya persis seperti Al."
"Siapa nama Papinya Al, Mi?"
"Itu nama belakang Al adalah nama Papi."
"Alfarizi itu nama Papi."
Al juga sering merasa iri saat temannya yang mempunyai keluarga lengkap bisa menghabiskan quality time bersama. Seperti saat melihat Zain teman kecilnya yang sedang bercanda denga mama dan papanya di sela-sela mereka saat mendaftarkan sekolah. Neng selalu memeluknya dengan erat saat hati putranya merasakan kerinduan ingin bertemu dengan papinya.
"Maafkan Mami ya Nak, Mami tidak bisa memberikan keluarga lengkap untuk Al."
"Al ingin seperti teman-teman yang mempunyai Papi, mengapa Papi tega meninggalkan kita sih, Mi?"
"Al yang sabar ya, Mami sangat menyayangi Al, itu yang penting."
Dokter Harry dan Rianti yang mendengar percakapan Al dan Neng. Dokter Harry langsung mendekati Al dan duduk jongkok di depannya. Mereka memahami bagaimana perasaan Al yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah.
"Al boleh menganggap Uncle Harry sebagai Papinya Al, boleh kan Zain?" kata Dokter Harry sambil memeluk Al.
__ADS_1
"Iya boleh, Al boleh menganggap Papaku jadi Papanya Al." jawab Zain senang.
"Terima kasih Zain, Uncle." jawab Al memeluk Dokter Harry dengan berat.
"Eee mengapa terima kasihnya cuma untuk berdua, Aunti Ria tidak disayang nich?" kata Rianti pura-pura merajuk.
"Iya, terima kasih juga buat Aunti."
Tiga bulan setelah Alfian masuk Sekolah Dasar, Neng membuka butik impiannya yang berada di mall terbesar di Bekasi dengan nama "Butik AA". Butik itu sebagian besar menyediakan baju anak baik laki-laki atau perempuan. Ada juga untuk remaja dan dewasa tetapi tidak banyak.
Di depan butik AA di pasang foto Alfian dengan ukuran besar dengan menggunakan setelan jas rancangan Neng. Al berdiri menghadap samping menengok ke arah depan, tangan kiri di pinggang dan tangan kanan menunjuk seperti memegang senjata. Wajah oriental Al terlihat tampan dan cool dengan sorot mata yang tajam.
Seiring berjalannya waktu di kalangan ibu muda nama Neng sangat terkenal karena rancangan baju anak yang sangat nyaman dan harga miring. Nama Paramitha mulai di kenal oleh masyarakat daerah sekitar Bekasi. Nama Al juga mulai terkenal karena sering menjadi model rancangan Maminya sendiri, bahkan di media sosial Al mempunyai bayak follower dan penggemar.
Butik AA terletak di dekat pintu masuk mall, tempat yang strategis membuat Butik AA selalu ramai dikunjungi banyak pelanggan. Ada juga yang memesan melalui online untuk mereka yang berada di luar Bekasi. Ada lima karyawan yang selalu melayani dengan ramah membuat butik semakin terkenal.
Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, umur Alfian sekarang sudah delapan tahun, wajahnya semakin hari semakin mirip dengan Alfarizi Zulkarnain. Al sudah duduk di kelas dua sekolah Dasar. Wajahnya yang cool dan terlihat tampan tetapi dingin selalu menjadi idola.
Surya mendapatkan tugas dari Alfarizi untuk mengunjungi mall yang kabarnya akan dijual oleh pemiliknya. Saat Surya sedang berjalan sambil melihat keadaan yang sangat ramai tanpa segaja dia menabrak seorang wanita. Wanita itu sedang membawa kertas rancangan yang baru saja dibawanya dari dalam butik.
"Bruuuuk, aduh!" Kertas yang dibawa wanita itu berhamburan jatuh ke lantai.
"Eee maaf Mbak, aku tidak sengaja." kara Surya merasa bersalah, dan membantu ikut merapikan kertas HVS.
rekomendasi untukmu shobat, ceritanya menari lo, yok jepoin
__ADS_1