Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Tugas Pertama Asisten Pribadi


__ADS_3

Alfian Alfarizi sampai di rumah langsung merencanakan ingin mencari gadis yang mebuatnya gagal fokus selama satu tahun terakhir ini. Masih memikirkan akan mulai dari mana untuk bisa menemukannya. Berencana mencari sendiri atau meminta bantuan.


Pagi ini saat sarapan bersama, Papi Alfarizi berniat untuk memberikan tanggung jawab untuk bisa membantu mengelola sebagian bisnisnya, "Apa rencana Abang sekarang ini, mau menikah dulu atau membantu Papi terlebih dahulu?"


"Nanti dong Pi menikahnya, apa yang bisa Abang bantu?"


"Abang harus memimpin sebagian bisnis Papi, Abang harus mencari asesten terlebih dahulu, Papi carikan atau Abang cari sendiri?"


"Mami mengusulkan Julio saja yang menjadi asisten Abang."


"Apa alasan Mami mengusulkan Julio, padahal Papi berencana mau meminta pertimbanngan Surya?"


"Banyak pertimbangannya Pi, selama ini Mami memperhatikan Julio sudah sering membantu Abang dalam mengelola bisnis villa milik Abang. Julio juga memiliki kemampuan bela diri yang handal seperti Surya."


Alfian mengerutkan keningnya saat mendengar maminya mengusulkan Julio sebagai asisten. Berpikir dan mempertimbangkan kemampuan Julio dalam bidang teknologi juga tidak bisa di anggap remeh. Mempunyai ide agar dia bisa membantu mencari gadis itu.


"Abang setuju dengan Mami, Julio saja yang menjadi asisten Abang."


"Baiklah Papi juga setuju, Papi percayakan Abang untuk bicara dengan Julio sendiri setelah itu Surya yang akan membimbing Julio sampai menjadi asisten yang handal."


"Iya terima kasih, Papi."


Siang harinya Alfian menghubungi Julio untuk bertemu. Mereka bertemu di sebuah kafe dekat kampus Julio. Alfian langsung menceritakan tentang pembicaraan dengan kedua orang tuanya tadi pagi.


"Baiklah Bang gue setuju menjadi asisten Abang, mulai kapan gue akan bekerja?"


"Nanti tunggu Papi dulu, sebelumnya Julio harus lulus tes dari Abang mengerjakan tugas pribadi."


"Eee kirain gue langsung masuk kerja, ada tes juga ya. Ok apa tugas yang harus gue kerjakan?"


"Baiklah Abang akan bercerita, tetapi ingat ini sangat rahasia. Sebagai asisten pribadi elo harus bisa menyimpan rahasia ini dari siapapun termasuk orang tua atau Zain sekalipun, mengerti?"


"Siap Bos, gue siap menjalankan tugas hari ini."


Alfian menceritakan peristiwa pertemuan dan kejadian dengan gadis itu. Tidak bisa melupakan peristiwa itu walaupun sudah satu tahun berlalu. Memberikan foto gadis itu dengan mengirim fotonya melalui pesan WA.


"Waouw ... Abang beruntung sekali bisa melihat dia polos tanpa sehelai benang."


"Karena itu otak Abang selalu ngeres sekarang."


"Berarti otak Abang sudah tercemar. cantik banget sih Bang. Pantesan Abang tidak bisa move on dari dia."

__ADS_1


"Walaupun dia terlihat sederhana tetapi gadis itu sangat cantik dan natural, Abang selalu teringat dia saat mengatakan semoga Abang jodohnya kelak."


"Ha ha ha percaya diri banget, semoga dia jodoh Abang, gue tidak akan rela jika Putri mendekati Abang lagi."


"Abang saja ogah bertemu dengan Putri, tugas pertama elo mencari gadis itu sekarang!"


"Tugas gue mencari gadis itu hanya dengan bukti foto ini, Bang?"


"Ya, Abang beri waktu paling lambat satu minggu."


"Seandainya ketemu apakah Abang akan langsung menikahi dia?"


"Abang belum tahu, elo temukan dia saja dulu!"


"Ok Bang, gue ke villa saja untuk mencari informasi awal tentang Nyonya Bos."


Alfian hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Julio. Kini hanya bisa berharap Julio bisa menemukan gadis itu dalam keadaan masih sendiri. Berharap juga secepatnya melihat gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.


Malam harinya saat makan malam bersama, Papi Alfarizi kembali menanyakan kapan Alfian akan mulai bekerja, "Bang, kapan akan mulai bekerja membantu memimpin bisnis Papi?"


"Nanti hari senin aja Pi, Julio tiga hari lagi baru wisuda."


"Apakah Julio bersedia menjadi asisten Abang?" tanya Mami Mitha.


"Oya Bang, dulu Abang pernah bercerita tentang gadis pilihan Abang. Mami ingin bertemu dengan dia, bagaimana kabarnya sekarang?"


Alfian bingung dan gugup harus menjawab apa. Julio sampai sekarang belum memberikan kabar tentang gadis itu. Tidak ingin memberikan keterangan yang tidak jelas tentang gadis itu.


"Abang belum sempat bertemu dia, Mami. Nanti kalau sudah waktunya pasti Abang cerita."


"Mengapa Abang sekarang jadi misterius gitu sih, padahal dulu waktu kecil selalu terbuka sama Mami?"


"Abang belum bisa cerita sekarang Mami, ada hal yang masih Abang pertimbangkan sebelum melangkah lebih lanjut."


"Jangan di paksa Mami, Abang sekarang sudah besar. hanya saja Papi minta Abang jangan membuat kesalahan yang sama seperti Papi."


"Insyaallah Papi, Abang akan selalu berpegang teguh didikan dan ajaran Mami dan Papi."


Mami Mitha tersenyum dan mengangguk, "Semoga Abang mendapatkan jodoh yang terbaik."


"Aamiin ...."

__ADS_1


Elfa yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan abang dan kedua orang tuanya. Teringat dulu dia pernah di larang untuk berpacaran atau mengenal lawan jenis. Sekarang ini abangnya sendiri mempunyai kekasih yang belum di kenalkan dengan keluarga.


"Abang punya pacar?" tanya Elfa setelah selesai menghabiskan menu makan malammya.


"Sudah di bilang anak kecil di larang bertanya atau membicarakan tentang pacar!"


"Idiiih Abang ini curang, El tidak boleh ini tidak boleh itu, sedangkan Abang sendiri berpacaran." Elfa mengerucutkan bibirnya kesal karena Alfian.


"Eee masih membantah, El sekarang umurnya berapa?" Alfian mengajak rambut Elfa karena gemas.


"Papi ... Abang nich ngacak-ngacak rambut El!" Elfa memeluk papinya sambil kembali merapikan rambutnya.


"El kesayangan Papi, Abang benar di larang pacaran dulu sampai El dewasa." Papi Alfarizi menasehati putrinya dengan lembut.


"Wueeek, Papi mendukung Abang. Awas ya El ketahuan pacaran pasti akan Abang kirim ke Antartika."


"Sudah Bang, jangan berantem terus. Kalian ini kalau bertemu seperti Tom and Jarry saja, Mami dengar aja pusing!"


"Maaf Mi," jawab Alfian dan Elfa bersamaan.


"Naaah itu bisa kompak, Papi suka kalau melihat berdua kompak."


Belum selesai bercengkerama di ruang makan Alfian mendapat notifikasi pesan WA dari Julio. Alfian tidak berani membuka di hadapan ke dua orang tuanya. Belum saatnya mereka tahu tentang permasalahannya sebelum Julio memberikan keterangan yang jelas tentang gadis itu


"Papi ... Mami, Abang ke kamar dulu ya!" Alfian langsung berlari menaiki tangga menuju lantai atas.


"Hati-hati Bang!" teriak Mami Mitha melihat putranya berlari kencang terlihat terburu-buru.


Alfian membuka pintu kamar dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah sampai di dalam. Rasa penasaran ingin segera mengetahui latar belakang gadis yang selalu membuatnya berdebar tak menentu. Dia langsung membuka ponselnya membaca pesan Wa yang masuk dari Julio.


"Bang, gue sudah menemukan identitas gadis itu. dia tinggal di desa sebelah yang tidak jauh dari rumah Mami Mitha." Pesan WA pertama yang Alfian baca dari ponsel.


"Sayangnya gadis itu menghilang dari desa satu tahun yang lalu sampai sekarang belum di temukan." Pesan WA ke dua dari Julio.


Alfian mengerutkan keningnya dan bermonolog sendiri, "Menghilang dan belum ditemukan berarti dia ...?"


BERSAMBUNG


Jangan lupa mampir di novel teman author ya


Sambil menunggu AST up besok, rekomen banget lo

__ADS_1



__ADS_2