
Rasa pusing dan beratnya pikiran, saat ditanya dan digengggam tangannya oleh Alfarizi Neng hanya bisa diam saja. Neng memilih memejamkan matanya untuk mengurangi rasa perih di hati. Alfarizi dan Alfian duduk di samping ranjang dengan khawatir.
"Papi, Al tidak mau Mami sakit lagi dari dulu Mami sering sakit dan pingsan, nanti lamaaaa gitu terdiam kamar!"
"Mulai sekarang Papi yang akan menjaga Mami, Al jangan khawatir!"
"Papi jangan pergi lagi ya, Al mau jaga Mami berdua dengan Papi!"
"Tentu Nak, kita jaga Mami berdua."
Neng hanya mendengar percakapan duo Al yang sangat mengkhawatirkan dirinya. Memori putranya itu ternyata sangat tajam, rasa bersalah di hati selalu membuatnya khawatir. Ingin sekali membahagiakan putranya tetapi sekarang selalu saja kejadiannya membuat hatinya terluka.
Dokter Harry datang sambil berlari masuk kamar Alfarizi dengan khawatir, "Apakah Mitha sempat pingsan, Al?"
Neng langsung membuka matanya setelah Dokter Harry datang. Memandangnya dengan sendu, hatinya mulai bisa di kuasai, tidak terlalu memikirkan hal yang tidak dilakukannya. Neng sendiri juga merasa bingung, mengapa sekarang tidak pingsan, mengapa saat di gendong bridal oleh Alfarizi tubuhnya tidak menolaknya.
"Bang, apakah bawa obat yang biasa aku minum?" tanya Neng dengan lemah.
"Tidak Mitha, sekarang saatnya kamu lepas dari obat itu, hari ini kamu tidak pingsan, berarti kamu sudah banyak perubahan!"
"Kepalaku pusing, Bang!" jawab Neng lagi.
"Sekarang Neng Geulis istirahat dan tidurlah, itu akan mengurangi pusingnya!" perintah Alfarizi sambil menyelimuti tubuhnya.
"Papinya Alfian benar, Mitha; tidurlah sebentar kami akan keluar dulu!" Dokter Harry juga mendukung Alfarizi.
Neng hanya menganggukkan kepalanya lagi, tidak ingin lagi membantah apapun kata Alfarizi ataupun Dokter Harry. Rasanya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melakukan protes. Dia kembali memejamkan matanya untuk menenangkan diri dan mencoba untuk rileks.
Di luar kamar tepatnya di kantor Alfarizi, saat mereka berbincang serius perut Alfian tanpa sengaja berbunyi kerena lapar, "Aduuh Papi, Al lapar!"
Alfarizi tersenyum sambil memeluk putranya, "Mau makan apa, Nak?"
"Al mau tunggu Mami aja nanti makannya, kasihan kalau Mami di tinggal sendirian!"
"Eeee Mami yang jaga Papi, Al makan bareng Uncle dan Auntie saja, ok!" ajak Dokter Harry dengan tegas.
"Baiklah, nanti Al bawakan bubur buat Mami kalau sudah bangun."
__ADS_1
Dokter Harry, Rianti dan Alfian keluar kantor untuk mencari makan. Surya menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Alfarizi masuk kamar dan duduk di samping Neng.
Alfarizi hanya menandang sendu Neng yang sedang terlelap. Rasa bersalah selama bertahun-tahun meninggalkannya, membuat hatinya rapuh dan trauma, tanpa sadar dia meneteskan air mata. Sayangnya waktu tidak bisa di putar ulang, hanya sekarang berharap bisa menebus kesalahan dan mengobati lukanya.
Waktu sudah satu jam berlalu Alfarizi hanya memandang wajah wanita yang sekarang ini selalu membuatnya gelisah. Perlahan Neng mengerjapkan matanya, kepala terasa lebih ringan. Matanya menyapu seluruh kamar milik Alfarizi yang ada di kantor hanya melihat dia seorang yang sedang memandang wajahnya.
"Tuan, apakah saya ada di villa?"
"Neng Geulis kita ada di mall, apakah masih pusing?"
"Tidak, di mana Alfian?"
"Putra kita bersama Dokter Harry sedang makan."
"Saya mau pulang saja!" Neng ingin bangun mengangkat kepalanya, awalnya saat terbangun tadi rasanya sudah ringan dan tidak pusing lagi, tetapi saat diangkat seolah kamar itu terbalik, membuat Neng tidak jadi untuk bangun.
"Jangan terburu-buru dong, Neng Geulis; tunggu beristirahatlah!"
Neng kembali meletakkan kepalanya di bantal dan memejamkan matanya. Selalu ingin lari menjauhi orang yang ada di depannya, karena tubuh dan hatinya selalu tidak bisa sejalan jika di dekatnya. Neng hanya bisa menyembunyikan hati dan perasaannya rapat-rapat.
Dengan spontan Neng menjawab seperti dulu, "Ya Tuan!"
"Neng Geulis, sampai kapan kamu akan menghindari aku terus, berikan aku waktu sedikit aja, please!"
"Saya ... !" Neng langsung terdiam karena mendengar sayup-sayup suara putranya dari luar.
"Aku ingin, kita mulai dari ...?" Belum sempat Alfarizi melanjutkan ucapannya Alfian datang bersama Dokter Harry dan Rianti masuk kamar.
"Mami, Papi ayo makan dulu, kata Uncle, Mami harus minum obat setelah makan!"
"Al beli apa untuk Mami dan Papi?" tanya Alfarizi sambil menerima box menu makanan.
"Bubur untuk Mami, nasi campur untuk Papi."
"Mami tidak lapar, Nak." jawab Neng dengan lemah.
"Harus makan Mitha, ini aku bawakan obat dan vitamin untukmu!" kata Dokter Harry dengan tegas.
__ADS_1
"Jangan membantah ini demi kesehatan kamu, sebentar aku bantu untuk untuk bangun, jangan bangun sendiri!" jawab Alfarizi.
Alfarizi mengambil dua bantal yang ada di samping Neng. Bantal itu di letakkan di atas kepala Neng kemudian Alfarizi merangkul punggung Neng menarik bantal di masukkan ke punggung Neng. Sekarang ini posisi Neng setengah duduk karena bantal yang di selipkan di punggungnya.
Dokter Harry hanya tersenyum simpul melihat Neng hanya diam saja saat Alfarizi setengah memeluknya. Sudah lebih dari delapan tahun Neng tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis, bahkan dia sering pingsan jika di paksa berinteraksi langsung. Sekarang ini dia tidak menolaknya saat yang menyentuhnya adalah papi dari putranya.
"Al, kamu saja yang menyuapi Mitha, ini obatnya aku letakkan di meja, kami pulang dulu; sekarang ini Mitha sudah tidak perlu obat yang macam-macam, dia sudah mendapatkan obat yang ampuh yaitu duo Al." kata Dokter Harry sambil tersenyum devil.
Dokter Harry dan istrinya berpamitan pulang, Alfarizi hanya tersenyum penuh arti mendengar ucapan sahabatnya. Sambil melirik Neng yang sedang menunduk tersipu malu. Alfarizi mempersiapkan menu bubur untuknya.
Alfian merebahkan tubuhnya di samping tempat tidur Neng. Setelah makan rasanya mata terasa ngantuk dan ingin bobok siang, "Tidurlah Nak, nanti kerjakan PR setelah bagun tidur!" kata Neng dengan lembut.
"Iya Mi, Al tidur dulu ya." Alfian menejamkan matanya tertidur pulas dengan cepat.
"Ayo makan dulu, aku yang suapin!" kata Alfarizi menyodorkan satu sendok bubur dekat mulutnya.
"Aku makan sendiri saja, nanti merepotkan Anda!"
"Tidak, aku akan sangat bahagia bisa melakukan apapun untukmu, ayo buka mulutnya!"
Hanya sekitar setengah mangkuk bubur sudah terasa kenyang, Neng sudah menolak dengan menggelengkan kepalanya, "Saya sudah kenyang, bisa minta tolong ambilkan obat!"
"Tentu, sebentar ada bubur di bibir kamu yang menempel, aku lap dulu!" Alfarizi mengusap bibir Neng menggunakan jari telunjuknya.
"Eeee ...!" Neng menjadi kaget saat Alfarizi mengusap bibirnya.
Alfarizi hanya tersenyum, bersorak gembira dalam hati. Hari ini dia menang banyak bisa menggendongnya, memeluknya, bahkan bisa mengusap bibirnya. Doanya sebentar lagi pasti akan bisa menyatakan cinta untuknya.
"Ayo minum obat dulu, ini obatnya dan ini air mineralnya!"
"Terima kasih."
Setelah selesai minum obat dan memberikan gelas kepada Alfarizi, Neng tetap saja merasa canggung dengannya. Ingin rasanya pulang atau beristirahat di Butik AA, "Tuan, apakah aku boleh pulang sekarang?"
"Tidak boleh Neng Geulis, malam ini kita bertiga tidur disini!"
"Ha ...tapi Tuan!"
__ADS_1