Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Menengok Dikbay


__ADS_3

Setelah menemani Alfian mengerjakan pekerjaan rumah, malam ini Neng duduk di pinggir kolam renang. Kebetulan Alfarizi berada di kantor pusat yang ada di Jakarta. Rumah sepi Alfian tidur cepat sedangkan Ibu Ani keluar bersama Doni, dan para bibi sudah beristirahat di kamar.


Sambil kaki Neng bermain air pikirannya melayang teringat Ayah Asep dan Esih Suprihatin. Baru pertama kali melihat wajah adik tirinya tanpa sengaja. Belum pernah melihat wajah ibu tirinya mulai dari mereka menikah sampai sekarang bercerai lagi.


Membayangkan wajah ayahnya yang mungkin sekarang sudah berumur dan mulai beruban. Rasa rindu tawanya saat dulu masih tinggal berdua tiba-tiba datang melanda. rasa benci yang dulu di rasakannya setiap waktu kini mulai terkikis setelah mendengar cerita sekarang tidak tahu keberadaannya.


Teringat nasehat ibu untuk selalu menjaga ayah, memperhatikan kesehatan ayah membuat Neng sekarang ini merasa bersalah. Ayah yang mengidap penyakit hipertensi bagaimana kabarnnya sekarang. Merasa menyesal harus mengedepankan ego dan membencinya saat dia tega menikahkan dengan paksa.


Hammpir dua jam Neng duduk termenung di pinggir kolam renang. Air mata menetes di pipi tanpa terasa, hatinya kini ikut seperti suaminya mudah berubah dan mudah terbawa perasaan. Mungkin karena sedang hamil Neng menjadi sering memikirkan sesuatu sampai berlebihan.


Alfarizi yang pulang terlambat, di bukakan pintu oleh security dan di ceritakan rumah sedang sepi. Dia langsung mandi berganti baju dan menyusul istrinya yang sedang termenung di pinggir kolam renang. Alfarizi langsung duduk di belakang Neng, membuka kakinya memposisikan tubunya menempel di punggungnya, "Honey ...."


"Eee Papi kapan datang?"


"Baru saja, Mami menangis, ada apa?"


"Tiba-tiba Mami kangen sama Ayah Asep, Pi."


Alfarizi mengerutkan keningnya berpikir sambil melirik wajah Neng yang terlihat sedih. Dulu sering diajaknya untuk bertemu ayahnya selalu bilang belum siap. Sekarang mendadak merindukan ayah kandungnya membuatnya berpikir kemungkinan dia juga terbawa perasaan karena kehamilannya.


"Sini Papi peluk!" Alfarizi memeluk Neng dari belakang dan penciumi tengkuknya berkali-kali.


"Ayah kalau meluk tidak pakai cium tengkuk juga dong, Papi."


"Anggap aja tangannya Papi sebagai Ayah, tetapi wajahnya tetap Papi yang tampan."


"Aaah ...Papi, jangan modus!"


"Mami, apa kabarnya dikbay di sini?" Alfarizi mengusap dan mengelus perut Neng yang masih rata.


"Dia baik-baik saja Papi, tadi siang pingin makan bakso, tetapi Abang baksonya tidak jualan hari ini."


"Lo mengapa tidak beli bakso di tempat lain saja, nanti kalau dikbay ileran bagaimana, Honey?"


"Tidaklah Pi, tadi Mami sudah bilang sama adik bayi pingin baksonya di tunda dulu sampai besok, Abang baksonya tidak jualan."


"Mami enak bisa ngobrol setiap hari sama adik bayi, Papi kangen banget sama adik bayi, apakah Papi boleh menengok dikbay?" tanya Alfarizi sambil tersenyum devil.


Neng mengerutkan keningnya bingung apa yag di katakan suaminya. Masih belum fokus dan tidak faham apa yang di maksud menengok dikbay oleh Alfarizi. Berpikir pasti ada udang di balik bakwan karena dia meminta dengan tersenyum devil.


"Bagaimana cara Papi menengok adik bayi?"

__ADS_1


"Mau Papi ajarin di sini atau langsung praktek di kamar?"


"Eee ... apa maksudnya?"


Alfarizi semakin menempelkan badannya di punggung Neng. Bahkan senjata onta arab sudah menegang dan di tempelkan dengan sempurna tepat di bawah pinggang Neng atau pan*at. Neng baru menyadari apa yang di maksud dengan menengok adik bayi.


"Papi ... ini ada di kolam renang jangan macam-macam, itu senjata onta arab jangan di biarkan bergoyang di sembarang tempat!"


"Ayo kita ke kamar saja!"


"Mami malas jalan, Papi saja sana ke kamar sendirian."


"Terus Papi bergoyangnya sama siapa dong?"


"Tahu ...." Neng menaikkan pundaknya.


"Baiklah kalau cuma malas jalan Papi gendong." Sesaat kemudian Neng sudah melayang berada di punggung Alfarizi.


"Aaaaah Papi, tutunkan Mami!" Sambil tertawa Alfarizi menggendong Neng masuk rumah.


Melewati dapur dan menuju tangga Neng tetap berada di punggung Alfarizi, "Papi turunkan Mami, nanti capek naik tangga sambil gendong Mami!"


"Tenang aja Papi masih kuat, Yang penting bisa berboyang senjata onta arabnya, ayo semangat!" teriak Alfarizi memekikkan semangat untuk dirinya sendiri.


"Mami ... buka pintunya cepat!"


"Turunkan Mami dulu, Papi!"


"Tidak boleh turun sebelum sampai tempat tidur, ayo cepat buka!"


"Baiklah ...."


Setelah pintu terbuka, masuk dengan cepat dan menutupnya menggunakan kaki. Menuurunkan Neng di tempat tidur dengan perlahan. Neng langsung berbaring diikuti oleh Alfarizi berbaring di sampingnya.


"Napas sebentar ya Mi."


"Papi jadi capek, kan?"


"Tidak masalah Honey, yang penting malam ini Papi bisa bergoyang, bisa bertemu dengan adik bayi kalau perlu berbincang berkali-kali."


"Maksudnya berbincang berkali-kali mau bergoyang sampai pagi?"

__ADS_1


"Iya kalau boleh."


"Tidak boleh dong Papi, nanti kalau adik bayinya capek bagaimana, Papi bisa mijitin sampai pagi?"


"Bagaimana caranya mijitin adik bayi di dalam perut?"


"Gampang mijitin Mami sampai pagi itu sama artinya mijitin adik bayi juga."


"Tangan Papi jadi kriting dong nanti."


Alfarizi mengubah posisisnya yang awalnya terlentang menjadi miring sambil mengusap pipi Neng. Ingin memulai pemanasan dengan memajukan bibirnya untuk mencium pipinya. Neng menahannya dan bangun dari tempaat tidur, "Tunggu Papi, Mami sakit perut mau ada yang keluar."


"Waduh Mami ... mengapa harus ada iklan segala sih, buruan jangan lama-lama!"


Neng hanya tersenyum dan melenggang ke kamar mandi. Alfarizi hanya pasrah menunggu kembalinya Neng dari kamar mandi. Sambil mempersiapkan diri membuka bajunya sendiri tanpa sisa dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Setelah setengah jam berlalu Neng keluar dari kamar mandi. Mendekati tempat tidur perlahan melihat suaminya terpejam dan memakai selimut. Neng naik tempat tidur perlahan dan berbaring di sampingnya, mencoba sepelan mungkin agar tidak membangunkan suaminya.


Baru saja masuk dalam satu selimut, Alfarizi mengagetkannya dengan menarik selimutnya cepat, "Hayo ... mau tidur ya, Papi masih menunggu dari tadi lama banget." Alfarizi langsung mengungkungnya diatas tubuh Neng dan langsung mencium bibirnya dengan penuh gairah.


"Hhhhmm ...!"


Alfarizi melepaskan tautan bibirnya setelah Neng hampir kekurangan pasukan oksigen, "Papi ... Mami kira sudah tidur, mengapa malah sudah polos begini, kemana baju tidur Papi?"


"Ini di balik bantal, biar cepat ketemu adik bayi Mami."


Kembali Alfarizi mengabsen seluruh lekuk tubuh istrinya dan memberikan tanda kissmart di setiap jengkalnya. Sedang asyik menikmati indahnya bercinta, tiba-tiba perut Alfarizi berbunyi karena lapar, "Papi lapar, break aja sebentar sana makan dulu!"


"Eeee enak aja, kalau lapar bisa di tunda, kalau senjata onta arab Papi tidak akan mau di ajak break ... ayo goyang terus!"


BERSAMBUNG


*******


Shobat promo novel teman yang rekomen ya jangan lupa



Spin Off Menikahi Pamanmu. Kisah cinta karena perjodohan antara Reka (adik dari Kayla) dengan Nara seorang wanita berprofesi sebagai dosen pada kampus Reka. Keduanya tidak menyetujui perjodohan tersebut, mengingat Reka dan Nara sempat berseteru bahkan Reka menyebut Nara Perawan Tua.


Namun, kembalinya mantan kekasih Nara membuat wanita ini meminta Reka mempercepat pernikahan mereka.  “Please, jangan batalkan perjodohan ini. Aku minta sama kamu untuk bantu bicara dengan keluarga agar pernikahan kita dipercepat,” ungkap Nara.

__ADS_1


Reka menatap sinis pada Nara. “Jangan bilang kalau kamu hamil dan aku ketiban sial harus bertanggung jawab.” Nara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak hamil. Reka, tolong aku. Setelah kita menikah aku akan biarkan kamu tetap berhubungan dengan kekasih kamu. Sampai situasi aman kamu boleh ceraikan aku. Please, bantu aku,” pinta Nara. 


__ADS_2