
Surya yang baru saja mendengar kabar jika tuannya di tikam oleh Dokter Mario dari kepala security yang bekerja di mall naik pitam. Memerintahkan untuk mengirim CCTV tentang kejadian itu saat itu juga. Menghubungi teman polisi dan memanfaatkan koneksinya untuk mengawal mobil yang membawa Alfarizi ke rumah sakit.
Saat ini Alfarizi berada di ruang operasi di tangani oleh dokter handal dan di dampingi oleh Dokter Harry. Seluruh keluarga menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Wajah mereka terlihat sangat tegang dan khawatir karena keadaan Alarizi yang pingsan saat memasuki ruang operasi.
Surya yang baru tiba dari ruangan rawat inap karena kebetulan Desi masih di rawat di sana setelah melahirkan. Dengan wajah merah padam karena menahan emosi, dia langsung mendekati Junaidi yang menunduk duduk di samping Doni, Pak Min dan dua security, "Bug ... bug ... hug ...!" Surya langsung menghajar Junaidi.
"Apa yang kamu lakukan sehingga Tuan Al terkuka?, dasar bod*h!" Kembali Surya memukuli Junaidi tanpa ampun.
Juaidi tidak membalas pukulan dan tendangan Surya. Dia diam saja dan menerima semua perlakuan Surya. Junaidi juga menyesali apa yang telah terjadi.
Saat kejadian Junaidi sedang beristirahat tidur di ruang security. Hampir sehari semalam dia tidak tidur karena menjaga rumah dan adanya peristiwa ledakan kemarin. Rasa penyesalan dalam hati karena tidak bisa menyelamatkan tuannya membuat dia diam saja saat di hajar habis-habisan oleh Surya.
"Ya saya mengaku salah, Bang. maafkan saya," jawab Junaidi sambil tertunduk jongkok dalam keadaan babak belur.
Doni dan dua security menahan dan mendekati Surya yang terus saja menghajar Junaidi, "Bang cukup, tidak cuma dia yang salah kami juga salah, kejadian itu terjadi dengan cepat." Doni mencoba membela Junaidi.
"Kamu juga Don, kamu lambat dan tidak bisa bertindak cepat, bug ... bug ... hug!" Surya juga menghajar Doni dan dua security yang mencoba melerai.
"Kalian semua memang bod*h, apa kalian tidak menyadari betapa pentingnya Tuan Al buat kita. Mengapa tidak ada yang bisa melindungi Tuan, dasar breng sek!"
Surya semakin kesal dan tambah naik pitam. Tangannya sampai panas karena memukul lima orang sekaligus. Rasa sesalnya tidak bisa di toleransi karena baru di tinggal dua hari saja sekarang ini tuannya luka dan harus di operasi.
Ibu Ani dan Neng tidak memperhatikan jika Surya sedang menghajar anak buah suaminya. Merek tetap konsentrasi menunggu pintu operasi terbuka. Sedangkan Junaidi dan karyawan yang lain duduk dan menunggu di taman di samping ruang operasi.
Banyak yang melihat aksi Surya tetapi tidak ada yang berani mendekat. Bahkan security rumah sakit juga tidak berani melerai. Nama Surya sangat terkenal di kalangan tertentu termasuk security, masa lalunya sangat terkenal di sebagian mereka di dunia laga perguruan karate.
Dokter Harry keluar dari ruang operasi mendekati Neng dan Ibu Ani, "Mitha di mana Junaidi dan yang lainnya?"
"Tidak tahu Bang, tedi mereka ada di taman sebelah sana!" Neng menunjuk arah taman.
__ADS_1
"Ada apa Nak, bagaimana operasinya?"
"Semua berjalan lancara Bu, hanya saja Al membutuhkan tranfusi darah?"
"Ambil darah dariku saja, Bang." Neng menawarkan diri untuk mengambil darahnya.
"Kamu tidak cocok, Mitha. Aku sudah memeriksanya sebelum ke sini tadi."
Neng kembali meneteskan air matanya, merasa tidak berguna karena tidak bisa membantu saat suaminya memmbutuhkan darah. Padahal semua ini di lakukan karena menyelamatakan dirinya dari Dokter Mario. Kecemasannya kini belum berakhir setelah suaminya membutuhkan darah.
Neng masih melihat arah taman, melihat ada segerombolan orang yang menghalangi pandangannya untuk mencari Junaidi dan lainnya, "Itu ada apa, Bang. di taman banyak yang berkerumun?"
"Ayo kita ke sana!"
Saat sampai di sana, masih melihat Surya sedang menghajar mereka, "Surya ... apa yang kamu lakukan?" tanya Dokter Harry dengan berteriak.
"Sekarang ini bukan saatnya saling menyalahkan, sekarang ini saatnya bagaimana bisa menyelamatkan tuan kalian, kalian mengerti?" Dokter Harry berkata dengan tegas dan lantang.
"Apa maksud Doker, apa yang terjadi dengan Tuan Al sekarang?" tanya Junaidi sambil mengusap darah yang keluar dari bibirnya.
"Al sekarang membutuhkan darah lima kantong, ayo cepatlah!"
"Ambil darah saya saja, Dokter!" teriak Doni yang tidak kalah babak belur di hajar oleh Surya.
"Kalian semua ikut saya!"
Neng hanya bisa memandangi mereka yang babak belur tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia tidak menyalahkan siapapun dari kejadian tertusuknya Alfarizi. Hanya bisa berdoa dan berharap operasinya berjalan dengan lancar dan dia selamat.
Bisa lepas dari ancaman Dokter Mario saja sudah merasa bersyukur. Bayangan tangan Dokter Mario melingkar di lehernya sambil memegang pisau membuatnya kembali berkeringat dingin. Walaupun ingin menunjukkan pada Alfarizi saat itu agar dia tidak khawatir sepertinya gagal sehingga membuat Alfariizi nekad merebut pisau itu.
__ADS_1
Dari enam orang yang di periksa darahnya hanya tiga orang yang bisa mendonorkan darahnya, Surya satu kantong, Junaidi dua kantong dan Doni juga dua kantong. Untungnya mereka bertiga cocok dengan golongan darah Alfarizi. Sehingga semua bisa di proses dengan cepat.
Surya tertunduk duduk di depan ruang operasi setelah selesai mendonorkan darahnya. Matanya berkaca-kaca mengingat tuannya belum juga keluar dari ruang operasi. Rasa penyesalan yang dalam di rasakan Surya saat ini tidak bisa melindungi tuannya yang sangat berjasa dalam hidupnya dan keluarganya.
Kini pikirannya menerawang pada masa lalu saat bertemu dengan Alfarizi ketika keluarganya terpuruk. Dulu dia pernah di selamatkan oleh Alfarizi dari jeratan hutang rentenir karean untuk biaya kuliahnya. Dengan diam-diam ayahnya berhutang sangat banyak kepada rentenir untuk membiayai kuliahnya.
Saat ayahnya di ancam akan di bunuh oleh rentenir tanpa sengaja bertemu dengan Alfarizi. Tanpa berpikir panjang Alfarizi membayar lunas hutang itu tanpa syarat apapun. Padahal hutangnya berpuluh kali lipat dari hutang semula.
Sejak saat itu Surya belajar dan bekerja keras ikut Alfarizi menjadi asistennya sampai sekarang. Kepandaian dan kecakapannya dalam mengatasi masalah membuat usaha Alfarizi semakin besar. Koneksi Surya juga tidak main-main kaena dia di segani oleh kalangan terbatas yaitu dunia karate.
"Bang ...." panggil Junaidi mengagetkan Surya yang sedang melamun.
"Ada apa?" tanya Surya dengan jutek.
"Mohon petunjuknya ini tentang Dokter Mario."
"Ada apa dengan laki-laki breng sek itu?"
"Saya mendapatkan kabar dari rumah sakit jiwa bahwa sampai sekarang Dokter Mario belum sadarkan diri setelah di pukul tengkuknya oleh anggota security kita."
Surya mengambil napas panjang, emosinya masih tinggi saat mendengar tentang Dokter Mario, "Biarkan saja dia mam pus, aku tidak perduli!"
"Eeee ...?"
BERSAMBUNG
Jangan lupa mampir ya di sebelah mulai up rutin tanggal 1 bulan september. Akan hadir setiap hari
__ADS_1