Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Buka Puasa


__ADS_3

Alfian bersama Rania dan si Kasep Al hari ini mengantar Ibu Titin Suhartin pulang ke kampung. Ini pertama kali si Kasep Al melakukan perjalan jauh. Alfian memenuhi permintaan ibu mertua yang di nyatakan hampir sembuh dari kanker serviks.


Ibu Titin di dampingi oleh Bibi Esih pulang ke kampung. Alfian langsung mengantar Ibu Titin Suhartin ke rumahnya yang sudah lama di tinggalkan. Ibu Titin Suhartin bahkan tidak mau diajak menginap di villa milik Alfian.


Bibi Tiwi yang diajak ke villa untuk membantu mengasuh si Kaep Al. Saat di rumah utama yang ada di Bogor. Yang menjadi pengasuh dua orang yaitu Bibi Tiwi dan Bibi Sri.


Sampai di rumah Ibu Titin Suhartin turun di bantu Bibi Esih menggunakan kursi roda. Alfian dan Rania turun sebentar membantu Ibu Titin Suhartin masuk ke rumah. Si Kasep Al di gendong oleh Bibi Tiwi.


"Sini Enin pangku dulu, cucu Kasep!" Bibi Tiwi menyerahkan si Kasel Al di pangkuan Ibu Titin Suhartin.


"Silahkan, Bu."


"Gantengnya cucu Enin."


Sambil berbincang dengan Rania dan Alfian di ruang tamu. Ibu Titin Suhartin mengajak si Kasep Al bercanda. Mereka berbincang dan bercanda sekitar setengah jam.


Alfian mengajak berpamitan setelah waktu hampir senja. Berencana menginap di villa selama dua malam. Ibu Titin Suhartin juga meminta unuk menginap dua malam.


Malam ini adalah malam yang sangat istimewa untuk Alfian dan Rania. Hari ini adalah waktunya buka puasa untuk kurma jumbo. Setelah empat puluh hari berpuasa dan tidak bergoyang.


Si Kasep Al sedang anteng tidur di kamar khusus bayi bersama Bibi Tiwi. Mereka sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Kamar si Kasep Al berada di sebelah kamar utama milik Alfian dan Rania.


Rania masih membersihkan muka dan memakai cream malam. Alfian memandangi Rania sambil tersenyum manis. Kemungkinan otaknya sudah penuh dengan hal yang sudah di tunggunya.


"Eee mengapa Abang senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Rania.


"Rani lupa hari ini hari yang ...?" Alfan sengaja tidak melanjutkan ucapannya, memilih mengedipkan mata berkali-kali menggoda istrinya.


"Iiih dasar genit, kayak kelilipan saja matanya seperti itu." Rania sengaja membuat suaminya kesal.


"Eee jangan menghilangkan mood Abang yang lagi bagus, ya! mau Abang makan sekarang?" Alfian mendekati Rania yang belum selesai membersihkan muka.


"Ha ha ha ... tunggu dulu, Bang. Jangan mendekat!" Rania bergelak sambil mempercepat memakai cream malam.


"Abang tidak akan mengganggu Rani pakai itu, Abang ingin mijitin Rani di sini!" Alfian memijit pundak Rania dengan lembut di pundak kanan dan kiri.

__ADS_1


"Waaah enak banget, terus sampai bawah dikit, Bang!"


"Rani tahu, demi kurma jumbo. Abang rela malam ini jadi pegawai terapis lo!"


"Modus, jadi pegawai terapis karena ada maunya, Abang mau berpindah profesi jadi pengusaha terapis seperti disabilitasyang terkenal itu?"


"Iya khusus untuk Rani saja."


Sambil terus memberikan terapi, tangan Alfian membuka kaitan helaian benang yang ada di depan. "Ini di buka dulu, Sayang. Biar lebih mudah untuk memijatnya." Alfian memberikan alasan yang aneh.


"Buat apa di buka, Bang. terapinya di belakang mengapa buka yang di depan?" tanya Rania yang tidak mudah di bohongi.


"Pemandangannya biar terlihat semakin Indah, Sayang."


Terapi Alfian tidak lebih dari sepuluh menit. Dia sudah mulai menahan rasa. Sudah tidak sabar lagi untuk membuka puasa selama 40 hari.


Masih berada di belakang Rania. Terapi Alfian pinggang berpindah sedikit demi sedikit pindah ke depan. Di depan tidak sampai lima menit sekarang pindah mendaki gunung kembar.


Karena bersemangat ASI keluar tanpa sengaja, "Eee maaf, Abang jadi kaget!" Alfian tersenyum sambil mengusap pangkuan Rania yang basah terkena ASI.


"Abang ... itu apa yang di usap?"


Alfian terkekeh dan memindahkan tangan ke gunung kembar yang tidak tertutup, "Awas ... Bang, nanti keluar lagi!"


"Tidak, Abang tau triknya!"


Alfian mulai menuruni lembah, mendaki gunung dengan hati-hati. Saat ini gunung kembar sering menumpahkan lahar jika di tekan kuat. Hanya mengusap dan menyentuh perlahan agar tetap aman.


Rania menutup cream malam dan meletakkan di meja. Tandanya dia sudah selesai dan bisa memulai pembukaan. Alfian langsung menggendong bridal Rania ke tempat tidur.


"Sekarang sudah waktunya."


"Aaaah ... Rani bisa jalan sendiri!" teriaknya.


"Kurma jumbo sudah bangun, Sayang. Ayo waktunya beraksi!"

__ADS_1


Alfian sudah mengungkung istrinya sambil mulai bergerilya. Tangan dan bibir sudah berjalan entah ke mana. Menyusuri setiap lekuk dan memberikan tanda di sana.


Rasa rindu yang menggebu ditumpahkan semua saat ini. Mulai menyusuri rongga mulut saat bergerilya. Memberikan tanda di setiap inci saat berpindah ke bawah.


Kini pindah di area sekitar dua gunung kembar. Alfian tidak bisa leluasa saat di tempat favoritnya kali. Pasalnya harus bisa menjaga agar putranya tetap menatap asupan gizi.


Alfian lebih memilih bermain di lembah diantara dua gunung kembar. Menenggelamkan wajahnya di sana berkali-kali. Menambah sensasi semakin terasa.


Saat rasa semakin memuncak Alfian membuka helaian benang yang menempel di dirinya sendiri. Membantu Rania membuka helaian benang dan di lempar entah ke mana.


Kurma jumbo sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan kesayangannya. Langsung menyusup dan terus masuk dengan sempurna. Tanpa jeda Alfian terus menggerakkan kurma jumbo untuk mendapatkan rasa.


Disertai suara yang keluar dari mulut Rania yang menambah semangat Alfian untuk tetap bergerak semakin cepat. Sampai ke duanya di puncak rasa dan seolah memasuki indahnya nirwana. Mendapatkan kepuasan berdua dalam ujung rasa.


Alfian langsung tumbang ke samping dengan napas memburu. Peluh bercucuran, disertai senyum yang mengembang. Kebahagiaan yang tiada tara bisa kembali menikmati indahnya bercinta.


Belum ada setengah jam beristirahat Alfian kembali mulai ingin beraksi. Dia mendekatkan kurma jumbo di badan Rania yang masih polos tanpa sehelai benangpun. Rasa candu ingin mengulangi lagi pupus karena terdengar suara tangis si Kasep Al terdengar.


Antara kamar Alfian dan si Kasep Al, ada jendela yang menghubungkan kamar ke duanya. Jika ada terjadi sesuatu Alfian dan Rania akan terhubung dan mendengar tangisan putranya.


Rania bergegas mengambil baju yang berserakan di lantai. Memakainya dengan cepat sambil berlari melewati pintu yang menghubungkan kamar putranya.


"Ada apa, Sayang. Apakah Kasep haus?"


Bibi Tiwi sudah menggendong si Kasep Al dari sepuluh menit yang lalu. Sampai saat ini si Kasep Al terus menangis, "Maafkan Mami. Sayang. Ayo minum ASI dulu!"


Si Kasep Al minum ASI hanya sebentar saja, Dia kembali menangis tanpa henti. Alfian berlari masuk kamar si Kasep Al ikut khawatir, "Ada apa, Sayang. Apakah putra kita badannya panas?"


BERSAMBUNG


Mampir yok bagi yang belum Mampir di sebelah


Gratis juga kok jangan khawatir


__ADS_1


__ADS_2