
Rania masih cemberut saat Alfian tidak kunjung menjawab pertanyaan dia. Alfian masih menunggu jawaban Abah yang dari tadi di tunggu tetapi malah melamun dan kembali ragu. Alfian sampai tidak memperhatikan istrinya yang menunggu jawaban dengan wajah di tekuk.
"Baik Bang, besok pagi kita ke Bekasi." Abah akhirnya yakin dengan keputusannya.
Alfian yang melihat Rania cemberut dan wajah di tekuk, dia mentowel dagunya dengan gemas, "Jangan khawatir, tidak mungkin istri Abang di tinggal di rumah sendirian. Besok kita bertiga berangkat ke Bekasi."
Rania kembali mengerucutkan bibirnya masih kecewa dan kesal, "Telat ... Rani narik angkot aja," jawabnya sambil berlalu.
"Neng ...!" panggil Abah.
"Ya Bah, ada apa?" Rania berbalik badan mendekati Abah.
"Jangan marah, mulai hari ini Neng Rani tidak boleh narik angkot lagi, biar suami yang mencari nafkah."
"Tapi Bah ... Rani masih pingin bekerja, masih pingin cari uang sendiri dan tidak mau merepotkan Tuan Halu."
"Betul kata Kakek, mulai sekarang jangan narik angkot lagi. Abang yang akan memenuhi kebutuhan keluarga."
"Bagaimana dengan angkot Rani?"
"Ada yang akan menyewa, kemarin Abah sudah menghubungi sopir yang akan menyewa."
Rania masih cemberut sambil melirik Alfian yang duduk di samping Abah. Yang di lirik hanya memandang wajahnya sambil tersenyum. Membuat Rania semakin kesal dan meninggalkannya berjalan kearah dapur.
"Mau ke mana istrinya Tuan Halu?" tanya Alfian dengan cepat.
"Makan lapar," jawab Rania dengan ketus.
"Eeee masih marah?"
"Kagak ... cuma kesal aja."
Rania berlalu begitu saja masuk dapur, mempersiapkan makan malam dengan masakan sederhana. Nasi, sayur asem, sambal terasi dan ikan mas goreng kesukaan Abah. Rania belum mengetahui makanan favorit Alfian sehingga dia memasak menu kesukaan Abah saja.
Alfian berlari menyusul Rania ke dapur setelah Abah berpamitan untuk beristirahat ke kamar. Melihat Rania sibuk mempersiapkan peralatan makan di meja makan. Alfian langsung memeluknya dari belakang, "Masih marah?"
"Astagfirullah ... iiiih Tuan bikin kaget saja!"
"Rani masih marah?" Alfian semakin mengeratkan pelukannya tangan melingkar sempurna di pinggang Rania.
"Rani tidak marah, cuma kesel. Awas Rani tidak bisa gerak nich!"
Alfian membalikkan badan Rania dan memandang wajahnya sambil tersenyum devil. Wajah Rania masih di tekuk dan terlihat kusut, "Abang bukannya tidak mau menjawab pertanyaan istri Abang yang cantik, hanya Abang konsentrasi menunggu jawaban Kakek." Alfian mencolek hidung Rania dengan gemas.
__ADS_1
"Mengapa jawaban Abah harus di tunggu?"
"Hampir seumur hidup Abang, kami menunggu Kakek, wajarlah Abang takut kalau Kakek mengurungkan niatnya untuk bertemu Mami."
"Apakah Mami Tuan tidak pernah menemui Abah?"
"Pernah dulu saat Abang masih SD, sayangnya Kakek pergi dan menghilang tanpa pamit."
"Oooo ... Abah sangat merasa bersalah dengan Maminya Tuan ya?"
"Hhmm...! Alfian menjawab sambil memandang wajah Rania yang mulai bersikap biasa.
"Jangan melihat seperti itu Tuan, Rani malu tahu!"
"Rani cantik, Abang suka."
"Aiis ... Tuan gombal, awas Rani mau memanggil Abah untuk makan malam!"
"Kakek masih istirahat, tunggu dong sebentar lagi, Abang masih ingin memeluk Rani dan berbincang."
Rania ikut memandangi wajah suami halunya. Keduanya saling menatap dengan tatapan mata yang penuh damba. Alfian memajukan wajahnya sampai hidungnya hampir menempel di hidung Rania.
Saat Alfian fokus pada bibir Rania dan berniat menciumnya. Ada suara paggilan dari ruang keluarga, "Neng Rani ...!"
"Awas Tuan ... Abah memanggil. Ya Bah, sebentar!" teriak Rania.
Alfian duduk di kursi meja makan sambil menggelengkan kepalanya. Bisa menebak pasti Abah akan memilih makan malam dari pada minum kopi, kebiasaan ayah dan Mami Mitha saat malam hari kemungkinan sama saja. Mami Mitha hanya akan minum kopi jika siang hari, jika minum kopi di malam hari akan langsung ngantuk dan tidur cepat.
"Makan saja Abah sudah lapar!"
"Abah mau makan di sini atau di ruang makan?"
"Suami Neng Rani di mana?"
"Itu sudah duduk di ruang makan!"
Abah langsung menyusul Alfian di ruang makan dan duduk di hadapan Alfian. Rania bergegas mengambilkan menu nasi komplit sayur dan ikan untuk Abah, "Silahkan Bah!"
"Tidak ada petai gorengnya Neng?"
"Maaf Bah , Rani tidak sempat beli. besok deh insyaallah ke pasar."
"Besok kita ke Bekasi, Rani Sayang," jawab Alfian sekenanya.
__ADS_1
"Eeee ...?" Rani menutup mulutnya dengan tangan kiri tidak menjawab panggilan sayang dari suami halunya.
"Jangan pagi ya Bang, Abah barusan janjian sama sopir yang akan membawa angkot Neng Rani besok pagi."
"Ya Kek, sebaiknya agak sore saja pas Papi dan Mami pulang dari kantor."
"Tuan ... Rani ambilkan makannya pakai sayur dan ikan, mau?"
"Ya ... Abang mau sambal terasi yang banyak."
"Tuan suka sambal terasi?"
"Ya sangat, apalagi ada opor ayam."
"Baiklah, lain kali Rani buatkan buatkan opor ayam."
Makan bertiga dengan lahap tanpa suara, hanya sesekali suara sendok yang beradu dengan piring. Sampai menu makan di piring tandas mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun. Rania kembali mengambilkan satu gelas air putih untuk Abah dan Alfian secara bergantian.
Belum sempat menghabiskan satu gelas air putih yang ada di gelas, ponsel Abah berbunyi. Abah langsung menekan tombol hijau, "Halo ... ada apa Babe?"
" ... "
"Baiklah ... tunggu sebentar Abah ke sana!"
Abah kembali melanjutkan minum air putih sampai habis sambil memasukkan ponselnya di kantong celana, "Abang ... Neng Rani, Abah mau menemui Babe di warung kopi di gang depan. Kalian istirahat saja tidak usah menunggu Abah pulang, Abah bawa kunci serep."
"Iya Bah jangan pulang malam, ingat jaga kesehatan. Abah kalau sudah ngobrol sama Babe suka lupa waktu," jawab Rania.
"Ha ha ha iya Abah tidak lama."
Alfian mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak. Ada rasa takut kakek akan pergi menghilang seperti dulu lagi. Rasa khawatir di rasakan Alfian saat ini takut semua rencana yang sudah di rencanakan akan gagal.
"Apa perlu Abang temani, Kakek?"
Abah tersenyum dan bisa membaca raut wajah Alfian yang khawatir, "Jangan khawatir, Bang. Kakek tidak akan pergi lagi kali ini, Kakek hanya akan nongkrong bersama Babe saja."
Abah bergegas keluar rumah setelah menyambar jaket yang menggantung di belakang pintu dapur. Alfian masih melamun dan termenung bersamaan Abah tidak terlihat dari pandangan mata. Rasa takut Abah tidak pulang masih ada di dalam hatinya.
Rania mengambil piring kotor dan mencucinya sampai selesai, Alfian masih terdiam dan termenung. Dia membersihkan meja makan dan menutup sisa sayur dan lauk dengan tujung nasi, Alfian masih tetap termenung. Duduk di samping Alfian dengan meletakkan tangannya di paha Alfian, " Apa yang Tuan pikirkan?"
Dengan spontan Alfian menarik Rania dalam dekapannya, "Memikirkan Rani."
"Eeee ... Tuan!"
__ADS_1
BERSAMBUNG
Maaf shobat beberapa hari ini upnya agak terlambat padahal author tetap rutin up setia pagi. Tetapi terkadang review nya lama, semoga tetap setia dengan novel AST? Dan Gadis Jenius milik CEO Depresi di NT dan pf lain Terima kasih dan sehat selalu