Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Belum Waktunya


__ADS_3

Si Kasep Al sudah mulai sehat dan ceria lagi pada pagi harinya. Rumah Alfian mulai terlihat berbenah diri karena lusa akan ada akad nikah antara Dokter Atha dan Zain. Keluarga jauh mulai berdatangan termasuk saudara jauh dari Almarhumah Mama Sinta yang ada di Australia.


Orang tua kandung dari Almarhumah Mami Sinta sudah meninggal dunia. Yang hadir saat ini adik laki-laki dari mama kandung yang tinggal di Jakarta. Paman yang hadir khusus untuk menjadi wali nikah besok.


Jadwal Rania pagi ini akan melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Sebelum nifas selesai harus melakukan pencegahan kehamilan. Bertujuan menunda agar si Kasep tidak memiliki adik terlalu cepat.


Pasalnya semakin hari kurma jumbo sudah tidak tahan lagi untuk begoyang. Setiap malam belingsatan bergerilya dan menuntaskan di kamar mandi. Rania harus selalu berwanti-wanti untuk bersabar sedikit lagi.


Yang awalnya dulu saat selesai lahiran Alfian berusaha kuat demi istri dan putra tercinta. Semakin ke sini hasrat tetap mengalahkan segalanya. Terkadang Rania membantu kurma jumbo bergoyang sendiri, hanya sayangnya kurang memuaskan tidak seperti berdua menikmati cinta.


Selesai pemeriksaan dokter Rania mengunjungi Ibu Titin Suhartin di ruangannya bersama si Kasep Al. Keadaan beliau kini semakin membaik. Hanya belum boleh pulang karena masih dalam pengawasan dokter.


Rania menyusul suaminya di kantor saat si Kasep Al terlelap di gendongan. Membaringkan putranya di box bayi di samping tempat tidur. Duduk di samping kursi kebesaran Alfian yang sedang berkonsentrasi dengan dokumen yang ada di depannya.


"Serius banget sih, Bang?"


"Sayang ...!"


Alfian menarik Rania dan memangkunya. Melingkarkan tangannya di pinggang dengan erat, "Abang sangat merindukan ini Sayang ... mengapa lama sekali sih?" tangan Alfian menyusup di balik gaun longkar Rania,


"Abang tidak sabaran banget sih, sedikit lagi ya!"


"Bagaimana bisa sabar, di senggol Rani saja kurma jumbo terbangun. Coba pegang dia jarang tidur tenang akhir-akhir ini." Alfian menarik tangan Rania dan di masukkan ke balik penutup.


Rania tergelak sambil mengelus kurma jumbo saat tangannya sudah menyusup. Tanpa sadar Rania memejamkan mata merasakan sensasi yang berbeda. Tidak di pungkiri dia juga sangat merindukan serangan maut kurma jumbo yang benggoda.


"Rani juga kangen, 'Kan?" tanya Alfian cepat.


"Sangat, Bang!"


Gantian Alfian yang tergelak. Jika istrinya di tanya dengan cepat pasti akan menjawab dengan jujur. Kebiasaan dari dulu tidak bernah hilang sampai sekarang.


Ke duanya mulai terbawa kerinduan bermesraan setelah alfian beraksi di bibir Rania. Mengabsen semua yang ada di dalam rongga mulut Rania. Berhenti dan melepaskan tautan bibir ke duanya setelah oksigen hampir habis.

__ADS_1


"Uuff ...!" Rania menghirup napas dengan cepat sambil mengusap bibirnya.


Alfian ingin berpindah ke leher, hanya ingin sekedar memberikan tanda kepemilikan. Ada suara tangisan kencang dari dalam kamar. Si Kasep Al rupanya memperingatkan ke dua orang tua jika belum waktunya bermesaraan.


"Maaf Abang, si Kasep Al sudah bangun."


"Yaaah, Kasep mengapa harus bangun sekarang sih?"


Rania berlari meninggalkan Alfian yang sudah mulai menikmati aksinya. Sambil menggelengkan kepala dan tersenyum kecut. Antara kecewa dan bersyukur menjadi satu.


Rania langsung mendekati box bayi, "Kenapa Sayang, putra Mami haus atau pup?"


Rania memeriksa popok si Kasep Al. Tidak ada yang basah dan masih bersih, "Haus ya?"


Rania memberika ASI eksklusif, saat Alfian sekali lagi harus meneruskan di kamar mandi. Rasanya akan terus pusing jika tidak di teruskan sampai lega. Alfian menyusul Rania ke kamar setelah selesai dari kamar mandi.


Melihat istri dan putranya tertidur lelap di tempat tidur. Alfian hanya mencium kening mereka bergantian. Kembali melanjutkan pekerjaannya sampai selesai di sore hari.


Hari ini Dokter Atha masih bertugas di rumah sakit seperti biasa. Ada jadwal operasi yang harus di lakukan hampir tengah malam. Zain setia menunggu sampai terkantuk-kantuk di ruang pribadi Dokter Atha.


Pernikahan yang hanya tinggal menunggu waktu tetap saja seorang dokter harus menjalankan tugasnya. Menolong insan yang ingin lahir ke dunia dan penyelamatkan sosok ibu yang sangat berjasa. Sedangkan di rumah Alfian pesiapan terus berlangsung namun sang calon pengantin masih berkutat pada tugas.


Hampir pukul tiga pagi Dokter Atha baru keluar dari ruang operasi. Lelah yang di rasakan terbayar lunas dengan senyum ibu dan tangisan bayi yang menggema. Masuk kantor dan begegas ingin pulang ke rumah Alfian.


Tidak menyangka ada Zain yang masih terlelap di kursi kebesarannya. Saat akan masuk ruang operasi meminta Zain untuk pulang terlebih dahuu. Ternyata dia memilih menunggu dan tidak ingin pulang terlebih dahulu.


"Abang ... Bang Zain ayo pulang!" Dokter Atha membangunkan Zain menyetuh punggungnya ketika kepala di letakkan di meja kerja.


Sebenarnya Zain sudah terjaga setelah Dokter Atha masuk ruangan sambil membuka pintu. Setelah di sentuh pundaknya, Zain mendongak sambil tersenyum saat wajah Dokter Atha tepat di sampingnya, "Darling, kita tidur di kamar aja yuk!"


"Huuus ... jangan macam-macam, ayo pulang!" Dokter Atha memukul lengan Zain perlahan.


Doter Atha membuka jas dokter di gantung di tempatnya. Mengambil tas yang ada di laci meja bawah sambil berjongkok. Zain masih di posisi yang sama duduk sambil memandangi Dokter Atha yang membuka laci.

__ADS_1


Setelah tas berhasil keluar, Dokter Atha mendongak dan berniat bediri. Zain langsung memajukan badannya sehingga wajah bertemu wajah hanya berjarak kurang dari satu inci. Ke duanya saling menatap mata terkunci dalam satu pandangan.


Rasanya Zain tidak sabar lagi untuk melahap bibir yang berwarna merah muda. Zain kembali memajukan wajahnya lebih dekat lagi. Dokter Atha langsung berdiri sambil memundurkan badannya.


"Ayo antar Atha pulang!" Spontan Zain tersadar dan memundurkan badannya kembali.


Dokter Atha lebih memilih untuk berjalan keluar duluan sambil menata hati. Antara malu dan gugup menjadi satu saat ini. Hampir terjadi ciuman pertama pada dini hari.


Zain langsung menyambar kunci mobil dan tas yang tergeletak di meja. Berlari menyusul kekasih hati yang sudah keluar kantor, "Darling tunggu!" teriaknya.


"Iiih Abang jangan berteriak," bisik Dokter Atha sambil meletakkan telunjuknya di bibir.


Berjalan beriringan menuju parkir, "Mau langsung pulang atau pingin makan?"


"pulang saja, Bang. Tidak banyak restoran buka jam segini, adanya jajanan kaki lima. Abang Zain lapar?"


"Sangat tetapi ...?" Zain hanya tersenyum devil karena otaknya yang tidak bisa di kendalikan saat berdua dengan kekasih.


"Tetapi kenapa?"


"Ingin makan Atha saja."


"Otak Abang perlu di sapu tuh, kotor banget sepertinya."


"Ha ha ha ...!"


BERSAMBUNG


Shobat mampir yok ke novel teman


ini rekonen banget lo sambil menunggu AST up lagi


__ADS_1


__ADS_2