Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Ibu Kandung Lebih Kejam Dari Ibu Tiri


__ADS_3

Pagi ini kembali Alfian masuk ke kamar mami dan papinya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Untungmya tadi menjelang pagi sebelum tidur Alfarizi sempat membuka kunci pintu. Alfian masuk kamar melihat mami dan papinya masih tertidur lelap, papi memeluk mami dengan erat yang parahnya lagi keduanya hanya berselimutkan selimut yang tebal tanpa ada sehelai benangpun yang menempel di badan mereka.


Tadi malam yang niatnya hanya satu ronde bercinta dengan istrinya. Teori Alfarizi termentahkan karena senjata onta arab itu tidak bisa berhenti bergoyang. Bahkan selalu mengulangi setelah beristirhat sejenak sampai menjelang pagi, berkali-kali tangannnya kegajajahan tetapi senjata onta arab tetap bergoyang.


"Papi ... Mami!" panggil Alfian masuk kamar sudan lengkap dengan seragam sekolahnya.


"Jam berapa Nak, kok sudah memakai seragam sekolah?" tanya Alfarizi yang merasa baru saja tidur tetapi sudah di bangunkan oleh putranya.


"Ini sudah jam enam lebih seperempat Papi, ayo bangun!"


"Baiklah, Papi mandi dulu." Alfarizi berniat bangun dari tempet tidur, tetapi niatnya di urungkan karena menyadari dia masih polos tanpa mengenakan sehelai benangpun di badannya.


"Al, bisa tolong Mami ambilkan air hangat di dapur?" perintah Neng agar Al tidak mengetahui jika mami dan papinya masih polos.


"Iya Mami."


Alfian keluar dari kamar, Alfarizi melenggang ke kamar mandi tanpa menutupi tubuhnya dan tidak perduli di tertawakan oleh Neng. Neng bergegas memakai baju sebelum Alfian masuk kamar kembali dan kembali berbaring di tempat tidur. Badannya terasa sakit semua hampir sampai menjelang pagi harus bergoyang bersama senjata onta arab.


"Mami ini air hangatnya." kata Alfian saat masuk kembali ke kamar kedua orang tuanya.


"Terima kasih, Nak."


Selesai Neng minum air hangat Alfian duduk di samping Neng dan merangkulnya dari samping, "Mami hari ini Al berangkat sekokah diantar Papi ya?"


"Iya, apakah Al sudah sarapan?"


"Belum Mi, Al menunggu Mami dan Papi."


"Untuk hari ini Al sarapan bareng Papi, Opa dan Oma dulu ya, Nak. Mami istirahat dulu tidak apa-apa, kan?"


"Iya Mami, apa masih sering sakit punggungnya, Mami?"


"Nyeri aja sedikit."


Alfarizi keluar kamar seperti biasa mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya, kali ini Neng tidak menyiapkan baju untuknya, "Maaf Pi, belum sempat menyiapkan baju untuk Papi, badan rasanya sakit semua."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Papi bisa sendiri."


"Ayo Papi, Al tungguin sarapan, hari ini Papi ya yang antar Al sekolah?"


"Iya Nak tunggu sebentar, ok!"


Alfian dan Alfaruzi keluar dari kamar sambil bercanda dan bergandengan tangan. Terutama Alfarizi wajahnya berseri-seri seperti matahari yang baru bersinar setelah cuaca mendung, bibirnya selalu tersungging senyuman tipis. Sampai di ruang makan bergabung dengan Umi Anna dan Abi Ali yang sudah menunggu di meja makan.


"Alfarizi, mana istrimu?" tanya Abi Ali.


"Masih di kamar Abi, masih capek katanya."


"Kamu dari tadi senyum sendiri, apakah kamu tetap minta jatah walaupun istrimu sedang sakit?" tanya Umi Anna penasaran.


"Yang sakit punggungnya Umi, itunya tidak sakit, yang penting bisa bermain cantik tidak masalah, kan?"


"Dasar gelo, tega banget sih, berarti kamu gempur sampai pagi kalau sekarang istrimu masih kecapaen?" tanya Abi Ali lagi dengan kesal.


Alfarizi terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maklum Abi, sudah lebih dari sepuluh tahun senjata onta arab tidak masuk sarangnya!"


Umi Anna melempar kerupuk ke piring putranya, Abi Ali menggelengkan kepalanya sedangkan Alfian terbengong karena tidak tahu mereka sedang membahas tentang apa, "Apa itu senjata onta arab, Papi?" tanya Alfian yang penasaran di ikuti tertawa lepas dari Abi Ali dan Umi Anna.


Setelah pulang dari mengantar sekolah Alfarizi bergegas lari ke kamar untuk menemui istrinya yang di kira belum bangun dan kembali tidur setelah di tinggal mengantar sekolah putranya tadi. Di kamar sudah kosong dan terlihat tempat tidur sudah sangat rapi. Dia kembali keluar kamar mencari istrinya ternyata sedang duduk bertiga berbincang dengan kedua orang tuanya di gazebo samping kolam renang.


"Honey ...!" panggil Afarizi berlari mendekati mereka.


"Mengapa Papi tidak lamgsung ke kantor?"


"Besok saja ke kantornya, apakah sudah minum obat pagi ini?"


"Belum ...."


"Tunggu sebentar Papi ambil, Mami di sini saja!"


Setelah Neng minum obat, Alfarizi ikut bergabung dan duduk di samping Neng sambil memeluknya dari samping, "Kalau terasa nyeri, sini rebahan di pangkuan Papi!"

__ADS_1


"Tidak kok, Papi. Mami sudah enakan."


"Umi mau tanya pada kalian, kapan mau mengadakan resepsinya?"


"Al maunya bulan madu dulu Umi, bagaimana Honey?"


Neng menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata, sudah lebih dari delapan tahun harus menahan sakit hati mendengar ocehan orang karena status yang selalu tidak jelas dan selalu di sembunyikan. Sekarang Alfarizi mengajaknya bulan madu sedangkan pernikahan resminya hanya segelintir orang yang tahu. Pasti akan ada isu yang membuat namanya menjadi tercemar lagi seperti saat dia melahirkan dulu.


Tanpa terasa air matanya menggenang di pelupuk mata. Tidak ada kata yang bisa di ungkapkan hanya ada sesak di dada yang Neng rasakan saat ini. Membuat Alfarizi dan kedua orang tuanya panik dan bingung.


"Honey, mengapa menangis, apakah Papi salah bicara, maaf ada apa?"


"Mitha bicaralah, Abi ingin kamu terbuka kepada kami, mulai sekarang kamu adalah putri kami!"


"Aku ...aku, huuuu!" Neng semakin tergugu dan tidak melanjutkan ucapannya.


Alfarizi memeluknya dengan erat sambil mengusap pundaknya, "Maafkan Papi, jangan di pendam di hati terus, katakanlah!"


Sambil terisak Neng berkata, "Papi tega banget, setelah Mami melahirkan Alfian banyak orang mengatakan Mami wanita tidak memiliki status, memiliki putra tetapi tidak memiliki suami, jika sekarang Papi mengajak bulan madu tanpa adanya resepsi pernikahan. Apa kata orang nanti, lebih baik tidak usah bulan madu."


"Ok ..ok, jangan menangis lagi maafkan Papi, I love you." Kembali Alfarizi memeluk Neng dengan erat.


"Al ... Al, kamu itu seenak jidatnya aja kalau ngomong, coba dipikir dulu, menantu Umi jadi sedih kan."


"Iya maaf Umi, Al memang tidak peka. Honey maafkan Papi, please!"


"Baiklah ini perintah Abi tidak boleh ada yang membantah, satu bulan lagi kita akan mengadakan resepsi, hungungi WO yang pernah menangani pernikahan Isya kemarin, jangan libatkan menantu Abi, dia harus istirahat total sampai hari H tiba, Nak Mitha hanya bertugas mendesain sendiri baju pengantin dan dan baju untuk keluarga sesuai impiannya.


"Cocok, Umi setuju dengan Abi, mulai saat ini putri Umi tidak boleh menangis lagi, jika Umi mendengar Nak Mitha menangis lagi, Al akan Umi lempar sampai benua Antartika!"


"Iiiih Umi tega banget, Al tidak sengaja membuat istri tercinta Al menangis, mengapa ibu kandung lebih kejam dari ibu tiri sekarang?"



ini rekomen hari ini ya shobat

__ADS_1


jangan lupa mampir ok, trims


I love you all


__ADS_2