
"Laki-laki tua, apakah kemungkinan itu Ayah Asep, Papi?"
"Tidak mungkin Mami, jika Ayah Asep pasti langsung ke sini tanpa minta didampingi oleh Pak RT."
"Betul juga analisa Papi, jadi siapa dong?"
"Ayo kita temui mereka saja!"
Alfarizi dan Neng bergegas keluar menemui tamunya yang masih berdiri di depan pintu, di sana ada Junaidi yang sedang berbincang dengan ke dua tamu yang sedang mencari Neng. Neng memandangi ke dua tamunya dengan lekat, wajah mereka sama sekali tidak di kenali oleh Neng. Alfarizi langsung menyalami ke dua tamunya sambil tersenyum.
"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?"
"Maaf mengganggu malam-malam begini, apakah Anda Tuan Al?" tanya laki-laki tua.
"Ya betul, ada apa Pak?"
"Nama saya Abah Tamran kakak sepupu dari Minah, saya ingin bertemu dengan istri Anda yang sering di panggil Minah dengan sebutan Nona."
"Ya Abah saya yang sering di panggil Nona oleh Bibi, ada apa dengan Bibi Minah?"
"Maaf Nona, sudah tiga hari Minah sakit keras, dia selalu memanggil Anda setiap saat, dokter menyarankan untuk memanggil Anda."
"Sekarang ini Bibi Minah dirawat di mana Abah?" tanya Neng lagi.
"Ada di rumah sakit Bogor."
__ADS_1
"Bagaimana Papi, kita ke sana kapan?"
Alfarizi melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sebelas malam. Terlalu berbahaya jika melakukan perjalanan pada malam hari apalagi jika mengantuk. Jalan yang bekelok-kelok di daerah pegunungan juga membutuhkan konsentrasi ekstra saat berkendara jika melakukan perjalanan sekarang ini.
"Besok pagi saja Honey!"
"Tuan, sebaiknya saya dan Abah Tamran yang ke sana sekarang, ini sudah terlalu malam, sebaiknya Anda beristirahat dulu saja. Ini saya juga baru saja mendapatakan laporan tentang Doni putra dari Bu Ani."
"Ok baiklah."
Malam ini senjata onta arab tidak bisa bergoyang sesuai harapan si empunya. Dia hanya bisa memeluk dan mencium bibirnya sekilas sebelum tidur. Tidak ingin terlalu memaksakan harus bergoyang karena pikiran istrinya selalu teringat dengan bibi yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.
Pagi buta Alfarizi, Neng dan Alfian keluar villa menuju Bogor untuk menjenguk Bibi Minah yang sedang kritis di rumah sakit. Saat tiba di sana dokter sudah berusaha dengan maksimal namun Bibi Minah tidak ada perubahan. Keluarga saat ini menunggu kehadiran Neng berharap bisa memulihkan kesehatan nenek mereka.
Dua jam setelah pertemuan Neng dengan Bibi Minah akhirnya beliau menghembuskan napas yang terakhir. Seluruh keluarga ikhlas dan berterima kasih kepada Neng karena bisa memenuhi keinginan terakhir Almarhumah sebelum meninggal dunia. Mereka langsung memakamkan di pemakaman yang tidak jauh dari rumahnya yang ada Bogor.
Keesokan harinya saat Alfarizi dan Surya selesai meeting bersama investor yang berada di Jakarta, Junaidi menghadap untuk melaporkan tentang penyelidikan putra dari Bu Ani. Junaidi di temani satu orang security yang melakukan menyelidikan secara langsung selama beberapa hari ini. Security dan Junaidi bergantian menceritakan tentang Doni.
Ceritanya berawal dari lima tahun yang lalu saat istri Doni melahirkan seorang anak perempuan di sebuah rumah sakit swasta di Tangerang. Terpaksa melahirkan dengan operasi ceasar karena istri Doni yang bernama Titin mengalami kecelakaan terpeleset di kamar mandi rumahnya sendiri padahal umur kandungannya baru delapan bulan. Bayi yang di lahirkan harus di rawat di inkubator selama lima bulan.
Pendapatan dan pengeluaran yang tidak seimbang membuat rumah tangga Doni menjadi goyah, apalagi gaya hidup Titin yang sangat mewah dan selalu berfoya-foya. Saat putrinya berumur satu tahun kekayaan mereka semakin berkurang, membuat mereka sering cek-cok mempermasalahkan harta dan pendapatan. Doni bekerja sebagai supir di sebuah dealer mobil untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Suatu ketika Doni kecelakaan saat mengantar bosnya meeting di Bandung, dia mengalami koma selama satu bulan. Untungnya bos tempat dia bekerja bertanggung jawab membiayai pengobatannya. Doni di rawat di rumah sakit yang ada di Bandung tanpa di dampingi oleh siapapun.
Titin hanya berkunjung sekali ke Bandung setelah Doni kecelakaan. Setelah itu dia meninggalkan begitu saja Doni yang tergeletak lemah tak berdaya. Rumah dan seluruh harta benda dijual oleh Titin, dia menghilang bersama dengan putrinya sampai saat ini Doni belum pernah menemukannya lagi.
__ADS_1
Setelah satu bulan koma Doni pernah berhenti bernapas sesaat, oleh dokter sudah di nyatakan meninggal dunia. Saat tidak bernapas itulah Doni seperti bertemu dengan ke dua orang tua kandungnya yang memakai baju putih muncul dari balik kabut menghampiri Doni. Ke dua orang tuanya murka dan marah besar, mereka menampar pipi Doni berkali-kali.
Dalam pertemuan dengan ke dua orang tua itu mereka mengatakan, "Belum waktunya kamu menemui Ibu dan Ayah, jangan sekali-kali kamu makan yang bukan menjadi hakmu, isilah perutmu dengan hasil keringatmu sendiri, sana kembalilah dan perbaiki hubunganmu dengan Ibumu!"
Karena tamparan dari ayah dan ibunya akhirnya Doni tersadar dari komanya. Saat itu seorang suster hendak menutup wajah Doni dengan kain putih dan akan di pindahkan ke kamar mayat. Doni tersadar dengan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seperti orang yang kesakitan karena di tampar.
Setelah sehat Doni kembali ke rumah ingin bertemu dengan Titin dan putrinya. Ingin bertanya mengapa tega meninggalkan dia sendirian tanpa sanak saudara di rumah sakit Bandung. Setelah sampai rumah ternyata rumah sudah berpindah tangan atas nama orang lain dan tidak tahu di mana istri dan putrinya berada.
Sejak saat itu Doni berkelana dari kota satu ke kota lainnya untuk mencari keberadaan istri dan putrinya serta ibu yang pernah di usirnya dulu. Dia menjadi pemulung untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong. Tidak pernah menetap di satu tempat selalu berpindah dari kota yang satu ke kota yang lain sampai menemukan Ibu Ani di Bekasi setelah melihat tayangan televisi di warteg saat dia membeli nasi bungkus.
Setelah Junaidi selesai bercerita Surya mendapat laporan melalui pesan WA dari security yang berada di mall yang ada di Bekasi, "Bang Surya, setelah kami selidiki ternyata laki-laki dalam foto ini setiap hari selalu datang dan memperhatikan Tuan Alfarizi dari kejauhan."
Surya langsung menunjukkan pesan WA itu kepada Alfarizi, "Tuan lihatlah!"
"Panjang umur anak itu, baru kita bicarakan, Jun coba kamu kirim semua bukti yang kamu dapat ke ponsel Surya!"
"Siap Tuan."
"Surya, kamu kumpulkan semua bukti dan cerita dari Juniadi, kirim ke email istriku sekarang!"
"Siap Tuan."
"Satu lagi Surya, perintahkan security mall untuk menahan Doni sampai aku datang, ayo kita pulang sekarang?"
[Jangan lupa like, komen, bunga dan vote nya ya shobat, give away nanti terutama untuk TOP FANS urutan satu, dua dan tiga. terima kasih. jangan lupa jaga kesehatan]
__ADS_1