
"Neng Mitha... Neng Mitha tunggu, Nak!"
Neng dan Desi menoleh ke belakang mencari suara Ibu Ani yang terlihat terisak dan khawatir. Suara napas tersengal Ibu Ani yang berlari tergesa-gesa menambah kekhawatiran Neng. Neng menyerahkan laptop kepada Desi dan mendekati Ibu Ani.
"Ibu, ada apa?" tanya Neng sambil mencium punggung tangan Ibu Ani.
"Neng Mitha, itu Nak, Al mengalami cidera kaki saat bermain bulu tangkis di sekolah."
"Sekarang di mana Al, Bu?"
"Sudah di bawa ke rumah sakit, ayo Neng Mitha kita ke sana!"
"Iya Bu, Desi tolong kamu yang mewakili aku untuk bertemu dengan pemilik mall!"
"Siap Bu, semoga Al sehat selalu!"
Neng dan Bu Ani bergandengan tangan berlari keluar mall dengan tergesa-gesa. Tidak memperdulikan lagi tentang undangan yang harus dihadirinya. Yang utama bagi Neng adalah kesehatan putra semata wayangnya.
Al yang awalnya bengong dan tertegun melihat Neng masuk dengan wajah yang sangat cantik dan anggun menjadi tersadar setelah di tepuk pundaknya oleh Surya. Al kebingungan saat Neng berlari keluar dari area itu menuju parkiran. Surya langsung berlari mendekati Desi ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Desi, apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Bu Mitha pergi dari sini?"
"Maaf Bang, putra dari Bu Mitha sedang mengalami cidera, jadi aku yang akan mewakili Butik AA."
"Baiklah silahkan masuk!"
Acara ramah-tamah tetap berjalan tanpa kehadirian Neng di sana. Al yang sudah mendapatkan titik terang tentang keberadaan Neng dan putranya hatinya mulai tenang. Al sudah mulai yakin tentang satu hal yaitu anak kandungnya adalah seorang anak laki-laki.
Acara perkenalan Al degan para staf, pengusaha dan owner berjalan hambar tanpa adanya Neng. Pikirannya hanya tertuju kepada wanita yang baru saja dilihatnya. Al melamun dan terus melamun walau berada dalam hiruk-pikuk pesta perkenalan yang terlihat akrab.
Ada suara riuh rendah dari luar pintu karena ada tamu istimewa yang datang, dia disambut dengan tepuk tangan meriah dari para undangan. Mata Al dan Surya terlihat terbelalak sempurna saat melihat siapa yang datang. Super model terkenal se-Asia Tenggara dan istri dari pemilik mall yang baru datang bergabung.
"Sial, breng sek mengapa wanita ular itu datang ke sini!" Al bermonolog sendiri dan hanya di dengar oleh Surya.
Sinta Zulkarnain berjalan bak bintang yang di elu-elukan oleh para penggemarnya, melipatkan kedua tangannya di dada. Sinta menuju arah di mana Al dan Surya duduk di sofa. Para tamu undangan banyak yang mengambil foto dan mengabadikan moment langka yang tidak bisa ditemuinya setiap hari.
__ADS_1
"Al, apa kabarmu sayang, maaf aku menyusul dan ikut bergabung tanpa di undang." kata Sinta dan sok akrab duduk di pinggir sofa milik Al.
"Apa tujuan kamu ke sini, mengapa kamu tinggalkan Marta?"
"Aku ke sini menjemputmu, Marta menanyakan kamu terus Al, ponselmu tidak aktif jadi terpaksa ke sini." jawab Sinta sambil mengusap lengan Al.
Al hanya diam saja, tetapi justru diam dan bungkamnya Al membuat banyak orang beranggapan Sinta dan Alfarizi masih hidup bahagia selayaknya suami istri yang bahagia. Berita itulah sekarang yang berada di infotaiment seorang Alfarizi berhasil mengembangkan bisnisnya karena dukungan istrinya.
Di rumah sakit Neng sedang duduk di ruang ronsen memangku Al, kaki kirinya bengkak, tidak lepas dari pelukan Neng. Anak laki-laki mandiri itu selalu manja saat sakit. Awalnya tidak mau saat akan di foto ronsen, tetapi setelah di temani maminya dia setuju walaupun tidak mau lepas dari pelukannya.
"Bagaimana Dok, apakah yang terjadi dengan kaki putraku?" tanya Neng kepada Dokter ortopedi.
"Hanya retak sedikit Bu, ini hanya perlu di gips selama dua Minggu, minum obat secara teratur pasti sembuh."
"Al kuat kan?, anak Mami harus kuat, ok!"
"Iya Mi, Al kuat, tapi minum obatnya jangan pahit ya, Al tidak suka!"
"Tentu, nanti Dokter akan memberi obat untuk Al yang manis."
"Tidak perlu Bu, hanya kontrol aja setiap tiga hari sekali sampai sembuh."
Dokter Harry datang ke ruang Dokter Ortopedi setelah mendengar kabar dari putranya Zain. Kebetulan Dokter Harry tugas pada pagi hari. Setelah melakukan visit di pasien rawat jalan.
"Selamat pagi, jagoan Uncle kenapa?" tanya Dokter Harry mengusap punggung Alfian.
"Kaki Al retak Uncle, tapi Al kuat kok, ya Mami?"
"Iya, Al kuat, siapa dulu, anak Mami?"
"Waah Al memang kuat, Uncle bangga, tapi Al harus nurut Mami dan Nenek, biar cepat sembuh, ok!"
"Ok Uncle!"
Pulang dari rumah sakit, dengan di gendong Dokter Harry sampai parkiran mobil. Neng membawa mobil sendiri pulang bersama Ibu Ani dan Alfian. Sampai di rumah disambut oleh seluruh karyawan yang sangat menyayangi putra dari owner.
__ADS_1
Malam hari ini Al seperti orang yang sedang mabuk. Surya berhasil mengambil CCTV saat Neng datang ke mall, diambil dari pintu masuk mall sampai pintu masuk tempat acara ramah-tamah. Berkali-kali Al memurat tayangan CCTV itu tanpa bosan.
Al baru memandangnya dari jauh wajah Neng yang sekarang sudah mabuk kepayang, senyum selalu tersungging di bibirnya. Apalagi jika Al sudah memeluknya seperti apa rasanya. Marah, emosi saat bertemu dengan Sinta tadi hilang menjadi rasa bahagia saat sudah memandang Neng yang berjalan dengan elegan sambil tersenyum ramah kepada orang.
Al mengirim vedio CCTV kepada Umi Anna yang berada di Riyadh. Dengan percaya diri mengabarkan kepada kedua orang tuanya bahwa sekarang sudah menemukan istri dan putranya. Dan langsung melakukan vedio call dengan mereka.
"Umi, Abi, Isya, apakah kalian sudah melihat vedio yang aku kirim?" tanya Al sambil melihatkan senyumnya yang paling indah.
"Siapa dia Bang, cantik, anggun dan sangat elegan?" tanya Isya setelah dia dan kedua orang tuanya melihat vedio yang dikirim oleh Al.
"Dia ibu dari putra kandungku."
"Apakah Al sudah beremu dengan dia?" tanya Umi Anna penasaran.
"Belum Mi, aku baru melihatnya dari kejauhan, aku yakin dia adalah istriku."
"Abang PD banget sih, dia emang sudah di pastikan mau sama Abang?"
"Apa maksudmu Isya, ya harus mau lah, aku ini ayah dari putranya."
"Isya benar Al, kamu berusaha dulu dekati dia lagi, ingat jangan kamu paksa dia seperti dulu lagi!" nasehat Abi Ali kepada putranya.
"Iya Abi, terima kasih nasehatnya."
"Kalau menurut isya tidak mungkin dia mau sama Abang!"
"Mengapa Isya bicara begitu?"
"Coba Abang pikir, dia umurnya masih muda, sekarang Abang umurnya berapa, kalau aku jadi dia, aku lebih memilih cari laki-laki yang lebih muda dan sukses dari Abang."
Saat ini pikiran Alfarizi seperti naik roller coster, setelah dari tadi sore membumbung tinggi, tetapi mendengar ucapan Isya adiknya seperti terhempas jatuh di lubang yang paling dalam. Terhempas dengan keras sampai hatinya pecah berkeping-keping. Umurnya sekarang memasuki 38 tahun, berbeda 10 tahun dari Neng. Sedangkan Neng sekarang di umur yang sangat ideal, pasti banyak laki-laki yang mengejarnya.
Promo novel teman lagi, untuk menunggu up baca dulu ya trims
__ADS_1