
"Tu ... Tuan?" Terbata-bata Rania ingin mengatakan sesuatu tetapi jarak wajah Alfian yang terlalu dekat. Dia kembali terpaku dan gagal fokus.
"Kenapa, bukankah kamu sudah menganggap aku suamimu?"
"Ra ... Rania anu anu ...!"
"Aku juga menganggap kamu ...?" Alfian tidak melanjutkan ucapannya karena datang suara motor mendekati angkot.
Rania dengan spontan mendorong Alfian dan ingin keluar dari angkot. Alfian langsung menarik tangan Rania sampai badannya menempel di badan Alfian, "Jangan pergi dulu, aku mau bicara denganmu!"
"Ta ... tapi Tuan, Rania mau turun."
Alfian masih menggenggam tangan Rania dengan erat. Dengan terpaksa Rania tidak bisa turun dari angkot dan diam seribu bahasa melihat Julio datang mendekati angkot yang ada di dekat pintu kemudi angkot. Alfian tetap memegang tangan Rania sambil memanggil Julio, "Jul ... kemarilah!" teriaknya.
"Ya Bang, ada apa?"
"Kamu melihat dua sopir yang tadi menuju ke sini?"
"Ya Bang, mereka masih di belakang karena terjebak macet saat ada rombongan keluarga yang berduka cita dan jenazah lewat."
"Kamu jaga di sini cegah mereka untuk bertemu dan masuk ke rumah Abah sampai Abang selesai!"
"Siap Bang."
Alfian melepas tangan Rania, "Ayo turun kita temui Abah!"
Rania hanya mengangguk dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia hanya bergumam dalam hati dari mana dia tahu alamat dan tempat tinggalnya. Mengapa dia bisa tahu tentang khayalan dan suami halu yang ada di dalam hati.
Alfian berjalan masuk rumah Abah sambil menarik tangan Rania. Masuk rumah Alfian tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia masuk seolah sudah mengenal seluruh bagian rumah selama bertahun-tahun lamanya. Berjalan masuk rumah sambil mencari keberadaan Abah, "Kakek ... Kakek Anda di mana sekarang?" tanya Alfian sambil berteriak.
Abah muncul dan keluar dari kamar setelah mendengar teriakan dari pintu utama rumah. Memandangi wajah pemuda tampan yang tidak asing lagi baginya sambil menggandeng cucu angkatnya.
__ADS_1
"A ... Abang Al!" teriak Abah menghentikan langkahnya sambil menutup mulut.
"Kakek mengenali Abang?"
Abah menganguk pelan, masih heran dan bingung mengapa tiba-tiba ada cucu kandungnya datang masuk sambil menggandeng Rania. Cucu yang selalu di lihatnya dari kejauhan saat dia masih sekolah SMP ataupun SMA.
Sekarang bukan hanya Rania yang terpana, tetapi Abah juga terpana. Ada pemuda tampan berdiri diantara keduanya. Yang satu menganggap suami dan yang satu mengenali cucu kandung sendiri.
"Abah mengenal suami ha ...?" Rania tidak melanjutkan ucapannya, menutup mulutnya agar tidak keceplosan lebih jauh lagi.
"Ha ha ha, Kakek sudah dengar sendiri?"
"Neng Rani, jadi dia yang Neng anggap suami halu itu?" tanya Abah.
Rania hanya menganggukkan kepalanya, masih menutup mulutnya. Wajahnya merah seperti tomat karena walaupun tidak melanjutkan ucapannya tetapi tetap ketahuan. Alfian tetap bisa menebak ucapan dan apa yang di pikirannya.
"Kakek, kami sudah terikat walaupun hanya sekali bertemu, mungkin in sudah jalan yang di tunjukkan oleh Allah."
"Kakek berusaha menghindari Mami, selalu menjauhi Mami. Abang tidak pernah tahu apa sebenarnya alasan Kakek, yang Abang tahu hanya Mami selalu memandangi wajah Kakek dari kejauhan dengan sedih selama bertahun-tahun."
Abah tertunduk dan duduk di sofa yang ada di depannya. Di bantu oleh Rania yag masih bingung dengan situasi saat ini. Melihat wajah Abah yang terlihat sedih dan mata berkaca-kaca. Rania hanya bisa mengusap pundak Abah dengan lembut.
"Abah apa yang sebenarnya terjadi, apa hubungan Abah dengan suami halu Rani?" tanya Rania sambil duduk di samping Abah yang terlihat sedih.
Abah hanya mengambil napas panjang dan menghembuskan perlahan. Sudah hampir separuh hidupnya di gunakan untuk berlari dari kenyataan pahit tentang perbuatannya sendiri. Sudah bertahun-tahun menghilangkan rasa bersalah yang teramat berat kepada putrinya sendiri.
Memutuskan hidup jauh dari putrinya agar tidak ada pengaruh buruk dirinya. Menganggap dirinya pembawa sial, menganggap dirinya sangat berdosa walaupun sudah berlalu tetapi kesalahannya sangatlah fatal. Selalu berusaha lari dari kenyataan dan pengalaman pahit masa lalu yang selalu membuatnya tidak ingin bertemu dengan putrinya.
Masih ada satu lagi mengapa Abah tidak berani dan menemui putrinya sendiri. Selain di hantui dan di temui walau hanya dalam mimpi oleh istrinya. Selalu di katakan ayah durhaka, yang paling menyakitkan hati Abah adalah uang yang pernah di terimanya dari mahar saat itu, raib entah ke mana dan tidak ada manfaatnya sama sekali.
Pengorbanan yang sangat besar dari putrinya berbanding terbalik dengan kesenangan sesaat ayah kandung yang membuat Abah sangat merasa bersalah. Sudah bertahun-tahun berlalu Abah tetap saja merasa bersalah. Sesekali dia hanya mengunjungi putri dan cucunya dari kejauhan saja.
__ADS_1
"Abah ... mengapa melamun?"
"Eee iya ada apa, Neng Rani?"
Abah belum sempat menjawab pertanyaan Rania, Alfian duduk berjongkok di depan Abah, "Mulai sekarang Kakek harus ikut kata Abang, sudah saatnya Kakek mengubah pendirian dan mulai mau menemui Mami. Kakek tahu sudah bertahun-tahun Mami selau menangis saat melihat Kakek dari kejauhan. lihatlah ini ... Abang selalu mengambil diam-diam foto Mami." Alfian memberikan foto kegiatan saat ke dua orang tuanya mengunjunginya diam-diam.
Abah melihat satu persatu foto yang di tunjukkan oleh Alfian. Rania juga ikut melihat foto itu. Sesekali Rania juga mencuri pandang melihat wajah tampan suami halunya. Alfian hanya tersenyum simpul sambil pura-pura tidak tahu jika Rania memandangi wajahnya diam-diam.
"Satu lagi Kakek, mulai saat ini dia adalah istri Abang, jadi kakek dan dia adalah tanggung jawab Abang sekarang!" Alfian berkata tegas sambil menunjuk Rania.
"Tetapi Tuan, Rani ...?"
"Tidak ada kata tapi, kamu harus nurut apa kata suami."
Kembali Abah melamun, mengingat Rania pernah bercerita jika ada seorang pemuda yang pernah berfoto berdua tanpa disertai benang sehelaipun. Membuat hatinya nyeri teringat bagaimana rasa sakitnya saat dulu putrinya harus melayani suami sirihnya ketika di paksa menikah. Teringat juga dulu saat pertama kali bertemu Rania di makam isrinya pada tengah malam.
Tidak ingin terjadi peristiwa masa lalu terulang kembali, dan ingin mengetahui kesungguhan hati cucunya sendiri tentang cucu angkatnya. Abah memutuskan untuk mulai menerima apa kata Alfian. Abah berpikir kini sudah saatnya mengubah pendiriannya.
Umurpun kini sudah tidak muda lagi, sudah saatnya memperbaiki diri sebelum ajal menjemput. Hanya akan pasrah dengan takdir yang di gariskan Allah padanya. Membuat Abah semakin yakin dan merasa tenang setelah mengetahui jika cucu kandungnya adalah jodoh dari cucu angkatnaya.
"Baiklah Bang, Kakek akan mengikuti semua apa yang di katakan Abang. Kakek hanya minta satu syarat dari Abang."
"Apapun syarat Kakek akan Abang lakukan demi kebahagiaan Mami dan dia. katakanlah!" Alfian menunjuk Rania lagi.
"Abang harus menikah sekarang juga dengan Neng Rania!"
"Eeee ... Abah!" teriak Rania.
BERSAMBUNG
Tunggu up besok lahi ya shobat AST nya, lebih baik sekarang kunjungi novel author juga, rekomen banget lo
__ADS_1