
"Mami tidak jahat sama Papi, Al. Justru Papi nich bikin Mami kesel, adik bayi pingin di elus perutnya Papi malah cium perut Mami." Neng mengadu pada Al dengan suara manja.
"Ooo sini Abang Al saja yang elus perut Mami." Alfian mengelus perut Neng yang masih rata sambil menggeser Alfarizi yang sedang salah tingkah di hadapan Alfian.
"Ayo Papi, adik bayi minta di elus!" pinta Alfian sambil mengelus perut neng.
"Iya iya, maaf. Papi sayang adik bayi dan Abang Al." Afarizi ikut mengelus perut Neng.
Neng hanya tersenyum melirik Alfarizi yang terlihat cemberut masih terbawa perasaan karena teringat dengan keadaan Marta yang belum stabil dan kritis. Neng ingin membuatnya semangat dan tidak terlalu bersedih dengan memanfaatkan kehamilannya. Dia teringat saat hamil Alfian dulu ingin makan buah duku tetapi dia salah beli yang dibelinya langsat.
"Papi, Mami pingin makan buah duku dan langsat, apakah bisa tolong belikan?"
Alfarizi langsung bersemangat, ini adalah permintaan ngidam istrinya yang pertama, "Ok Mami, Papi beli sekarang ya."
"Papi, Al ikut!"
"Ayo ... kita cari buah untuk adik!"
Sayangnya sekarang ini sedang tidak musim dua buah itu sekarang. Sudah puluhan toko di carinya tetapi tidak ada yang menjual sama sekali. Ada yang menyarankan jika biasanya di supermarket besar ada yang menjualnya walaupun dalam jumlah terbatas.
Di mall miliknya ada supermaarket yang menjual buah-buahan lengkap di sana. Alfarizi langsung menuju kesana sebelumnya menghubungi managernya untuk mengecek apakah ada buah yang diinginkan isrtinya. Setelah manager mengabarkan di sana ada buah duku dan langsat Alfarizi langsung menuju mall miliknya sendiri.
Di sambut langsung oleh manajer di depan supermarket Alfarizi dan Alfian langsung menuju buah yang di tuju, "Ini Tuan, satu dus buah duku dan yang ini satu dus buah langsat."
"Tolong bawa semuanya di masukkan di mobilku yang ada di parkiran!"
"Siap Tuan."
"Papi, apakah Al boleh jajan yang Al suka?"
"Tentu dong Al, itu keranjangnya belilah semua yang Al inginkan."
Alfarizi hanya mengikuti Alfian memilih makanan favoritnya. Saat berjalan melewati susu ibu hamil dia teringat dengan Dokter Maria yang menyarankan minum susu hamil. Sehingga dia berniat untuk membelikan Neng susu ibu hamil.
"Al, biasanya Mami suka minum susunya coklat atau yang lain?"
"Mami suka minum susu Vanila dan susu coklat."
__ADS_1
"Baiklah kita beli susu sekalian buat adik bayi ya."
"Ya ...Papi!'
Tidak Alfarizi namanya kalau belanja tidak berlebihan. Dia mengambil dua rasa setiap merk susu ibu hamil. Kotak susu itu sampai memenuhi troli yang di ambilnya sendiri, bahkan belanjaan milik Alfarizi tiga kali lipat banyaknya dari belanjaan milik Alfian.
Sampai di rumah dengan riang Alfian membawa belanjaannya sendiri ke kamarnya. Sedangkan belanjaan Alfarizi di turunkan oleh security di bantu Doni. Semua belanjaan di letakkan di dapur kering dan diawasi oleh bibi yang sedang memasak makan malam.
Alfarizi langsung memanggil istrinya yang sedang beristirahat di kamarnya. Neng dan Alfarizi keluar kamar dan turun tangga bersamaan datang Ibu Ani dari rumah lama milik Neng yang sekarang ini di tempati karyawan wanita. Ibu Ani dan Neng sama-sama terkejut ada belanjaan yang banyak di dapur sambil menggelengkan kepalanya.
"Papi, kebiasaan ya, mengapa belanja buah dan susu ibu hamil sebanyak ini?"
"Ya Allah Nak, kemarin mau buka apotik, apa sekarang mau buka toko buah dan toko klontong?" tanya Ibu Ani heran.
"Tadi carinya susah buahnya, sudah lebih dari sepuluh toko buah tidak ada yang jual, jadi ada di mall kita ya Papi bawa pulang, kalau tidak habis bisa di bagi karyawan Mami yang ada di rumah belakang selesai, kan?"
"Ok buah bisa di bagikan, bagaimana dengan susunya hamilnya, Papi mau bantuin minum susu hamil?"
"Tidak mau Mami, Papi sukanya susu yang itu, bukan susu hamil," jawab Alfarizi melirik dada Neng dan diikuti Ibu Ani dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Nak Alfarizi ada-ada saja sih, lain kali kalu beli secukupnya saja jangan berlebihan begini."
"Mana bisa begitu Papi, karyawan Mami rata-rata umurnya sekitar 50 tahun, tidak mungkinlah mereka minum susu hamil seharusnya minum susu tulang, Papi memang aneh."
Ibu Ani semakin tertawa lebar diikuti para bibi yang ada di dapur sedangkan Alfarizi hanya nyengir kuda, "Sudah jangan marah Mami my Honey, ayo Papi bukain buahnya nanti keburu adik bayinya ileran!"
"Malas, Mami sudah tidak mut lagi." Neng melenggang berjalan kearah ruang keluarga dan duduk disana.
Alfarizi membuka dus buah duku dan dus langsat. Ibu Ani memberikan keranjang kecil tempat buah, diisi keranjang kecil dengan dua macam buah. Menyusul ikut duduk di samping Neng, dan langsung membuka buahnya, "Ayo buka mulutnya Mami, Papi suapin!"
"Hhmm ...!" Neng menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya.
"Mami, ayolah jangan sampai adik bayinya ileran, kalau Mami tidak mau makan Papi aja yang makan Mami."
"Eee...."
Terpaksa Neng makan satu persatu buah duku dan buah langsat tanpa harus membukanya terlebih dahulu. Rasanya segar dan manis menurut Neng sehingga membuat Alfarizi jadi pingin ikut mencobanya. Setelah di kupas Alfarizi langsung makan buah langsat satu buah, "Wuuuek ... Mami asam banget!" teriak Alfarizi sambil memuntahakan buah lngsat dari mulutnya.
__ADS_1
Neng tertawa terbahak-bahak karena melihat Alfarizi merasa kaget ternyata rasanya asam, "Itu bukan asam Papi, tetapi segar."
"No Mami asam banget."
Keesokan paginya Junaidi dan Lilis datang ke rumah Neng pukul enam pagi. Mereka datang langsung dari Bandung degan menggunakan kereta api. Mereka sarapan bersama sebelum Junaidi melaporkan penyelidikannya tentang keluarga Ayah Asep.
Alfian berangkat sekolah diantar oleh Doni karena papinya akan mengadakan meeting bersama di kantor pribadi milik Alfafizi, "Maaf ya Nak, Papi tidak bisa antar ke sekolah kali ini."
"Ya Papi, tidak apa-apa, Ayo Om Doni kita berangkat!"
"Siap ganteng."
Di kantor pribadi miliknya, Alfarizi di dampingi Neng, Junaidi dan Lilis duduk berhadapan, "Katakan Jun, apa yang kamu ketahui tentang istrinya Rangga Siregar!"
"Namanya Esih Suprihatin umurnya baru dua puluh tahun, dia lulus SMA satu tahun yang lalu dan saat menikah dengan Rangga Siregar status dia sudah berstatus janda." Awal cerita Junaidi.
"Sudah berstatus janda, sebelumnya dia menikah dengan siapa?" tanya Alfarizi kaget.
"Esih tidak menikah resmi sebelumnya Tuan, Dia menikah secara siri di kampung kami dekat villa Anda," Lilis ikut bercerita.
Neng kaget dan merasa miris, pikirannya melayang terbayang saat dia di nikahkan paksa saat baru selesai wisuda, "Apakah Esih juga di nikahkan secara paksa oleh Ayah?"
BERSAMBUBG
******
Anisa Rahman adalah seorang gadis yang hidup tanpa ayahnya. Ia hanya hidup dengan sang ibunya yang bekerja sebagai guru sedari kecil. Walau ia membutuhkan figur seorang ayah, Animasi tak pernah meminta hal itu pada sang ibu.
Hingga usianya yang ke 18 tahun, ibunya harus menyusul ayahnya ke alam sana hingga membuatnya sebagai yatim piatu. Tak mau sedih terus menerus atas kepergian sang ibu, Anisa terus melanjutkan hidupnya dengan kuliah dan bekerja paruh waktu. Hingga mempertemukan Anisa dengan orang dari masa lalunya.
"Aku mencintaimu Anisa, maukah kau menikah denganku?"
Ungkapan itu membuat Anisa senang karena dilamar oleh orang yang juga ia cintai, tapi disisi lain ia juga bimbang karena statusnya yang kini belum jelas dan masih kuliah. Apa nanti ia bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya?
Sebuah keputusan besar yang Anisa ambil akan membuatnya mengalami tahap baru yaitu pernikahan.ANISA
__ADS_1
(Tyatul)