
Ulang tahun ke dua Alfian tinggal satu minggu lagi, Neng duduk di ruang makan bersama Ibu Ani. Dia ingin merayakan ulang tahun putranya tetapi akan bingung jika nanti banyak yang bertanya mengapa sudah dua tahun Papinya Al belum pulang. Neng meminta pendapat Ibu Ani saat sedang makan malam.
"Apakah aku boleh usul, Nak?"
"Iya Bu, silahkan!"
"Aku ingin berkunjung di desa putriku, selama aku bekerja dan mendapatkan gaji darimu aku sudah menabung, bagaimana kalau kamu ikut aku kesana, bilang saja kepada karyawan jika kita akan bertemu Papinya Alfian di desa?"
"Ide bagus Bu, ini akan membuat banyak orang tidak bertanya lagi tentang Papinya Al, aku beli tiket ya Bu?"
"Iya Nak, mau berapa hari disana?"
"Terserah Ibu saja satu Minggu juga boleh,"
Neng membeli tiket kereta api untuk tiga orang. berpamitan kepada karyawan dan teman kampus jika akan bertemu dengan Papinya Al di desa. Sedangkan Neng berpamitan kepada Dokter Harry dan istrinya ingin berkunjung ke desa putrinya Ibu Ani.
Mereka berangkat hari Sabtu pagi ke stasiun menggunakan mobil online. Ini adalah perjalanan pertama jarak jauh Alfian dan Neng. Alfian sangat bahagia saat naik kereta api untuk yang pertama kalinya.
\*\*\*
Setelah dua tahun berlalu di Kediaman mewah milik Alfarizi sekarang ini tidak ada kedamain disana setelah satu bulan lalu Sinta kembali terjun ke dunia modeling. Janjinya ingin fokus mengurus rumah tangga saat awal mengadopsi Marta sudah menguap seiring berjalannya waktu. Sinta sering meninggalkan Marta dengan Baby Sister berhari-hari dengan alasan pemotretan.
Perusahaan milik Alfarizi semakin hari semakin berkembang dengan pesat. Dia jarang pulang ke rumah, sering keluar kota berhari-hari dengan asisten barunya yang bernama Surya Budiman. Membuat Sinta akhirnya memutuskan kembali terjun ke dunia yang membesarkan namanya yaitu menjadi model.
Alfarizi mulai lelah dengan tingkah manja Sinta. Akhirnya membiarkan dia kembali ke dunia model. Selama tidak terjun ke dunia model Sinta juga sering tidak pulang dengan alasan berkumpul dengan teman sosialitanya. Alfarizi tidak pernah mengetahui jika istrinya memiliki selingkuhan di luar sana.
Saat ini Alfarizi berada di Australia sedang melakukan pertemuan bisnis. Ingin mengunjungi oma dan opa mertua. Dan ingin bertemu dengan adik kandung perempuan satu-satunya yang kuliah semester lima bernama Alfarisya Zulkarnain.
Pada malam hari setelah Alfarizi berkunjung dari rumah oma dan opa mertua. Dia langsung menuju apartemen milik Isya adiknya. Tanpa mengetuk pintu Al menekan password apartemen yang sudah di kirim adiknya melalui pesan WA.
__ADS_1
"Abang datang, Isya kamu dimana?"
"Bang, Isya di dapur, kemarilah sudah siap nich makan malam kesukaan Abang!"
"Kamu memang is the best, masih ingat aja opor ayam kesukaan Abang."
Alfarizi langsung duduk di kursi ruang makan. membuka piring dan mengambil nasi, opor ayam dan sambal terasi. Isya mengambilkan air mineral dan diletakkan di depan Al.
"Krupuknya mana Neng--?" Alfarizi tidak melanjutkan ucapannya karena spontan menyebut nama itu tanpa sengaja.
Isya mengerutkan keningnya saat mendengar Al memanggilnya dengan nama Neng. Sudah lama tidak berkumpul dengan dia, terlihat ada perubahan dalam sikap dan bahasanya. Isya mengira panggilan itu bahasa gaul di Jakarta.
Alfarizi langsung melamun dan terdiam karena teringat dengan Neng. Sudah hampir tiga tahun meninggalkan Neng begitu saja tanpa mengetahui kabarnya. Sendok dan garpu hanya dipegang, tidak segera dimakan.
"Bang, mengapa melamun, ayo cepat dimakan, nanti dingin lo!"
"Eee iya, terima kasih."
Al merasa ada yang kurang dan hampa saat bersama dengan Sinta. Apalagi sekarang setelah Sinta kembali terjun ke dunia model Al semakin merasa jauh dan tidak diperhatikan lagi seperti dulu.
"Abang, melamun lagi ya, apakah ini gara-gara Kak Sinta?"
"Tidak, Abang hanya lelah saja, Kakakmu baik-baik saja."
"Apakah aku boleh berterus-terahg tentang Kak Sinta, Bang?"
"Tentu saja boleh, apa itu?"
Isya mengambil napas panjang dan duduk di samping Al. Ragu-ragu untuk mengatakan peristiwa satu bulan lalu karena tidak ada bukti yang bisa ditunjukkan kepada Al. Takut Al tidak mempercayai ucapannya lagi jika berita yang di dengarnya adalah bohong.
__ADS_1
"Satu bulan lalu aku mendapatkan berita dari teman kuliahku, katanya dia pernah melihat Kak Sinta berjalan di mal yang ada di Sidney sambil bergandengan tangan dengan seorang laki-laki memakai seragam dokter."
Mata Alfarizi terbelalak lebar mendengar cerita adiknya. Seolah tidak percaya jika istrinya akan berselingkuh karena baru dua bulan terkhir ini Sinta menjadi seorang model. Al mengingat dua bulan terakhir ini Sinta sering bolak-balik Autralia Jakarta untuk pemotretan.
"Tidak mungkin Isya, Sinta hanya melakukan pemotretan jika dia ke sini, siapa teman kamu yang bercerita seperti itu?"
"Teman kuliah aku, Bang; Dia dari Bandung dan salah satu penggemar Kak Sinta."
"Apakah dia mempunyai buktinya?"
"Tidak Bang, sayangnya aku hanya di caritakan, tetapi terserah Abang aja mau percaya atau tidak."
Al kembali termenung, masih teringat tiga tahun lalu walaupun ragu mengambil keputusan tetap bersama istrinya. Ini dilakukan karena yakin bahwa istrinya sangat mencintainya buktinya walaupun dia tidak bisa memberikan keturunan tetapi Sinta menerima dengan ikhlas.
Berkali-kali Al meyakinkan hatinya bahwa Sinta sangat mencintainya. Tidak percaya dengan cerita adikknya sendiri karena tidak adanya bukti. Al mengira Sinta hanya merasa jenuh tidak memiliki banyak kegiatan saat menjadi ibu rumah tangga.
Ada perang batin saat ini di hati Alfarizi. percaya dengan istrinya atau adiknya. Mengingat saat dokter menyatakan tidak akan memiliki keturunan. Al kembali memilih percaya kepada istrinya bahwa dia menerima apa adanya,
"Iiiih Abang melamun lagi, sudahlah aku mau beritirahat, besok aku ada kuliah pagi, Abang mau tidur di sini atau kembali ke hotel bersama Surya?"
"Abang tidur di sini saja, besok harus terbang ke Malaysia setelah pamit ke rumah Opa."
Setelah Isya masuk kamar Al duduk di ruang tamu apartemen milik adiknya. Ingin sekali menghubungi istrinya dan bertanya dimana saat ini berada. Handphone Sinta tidak aktif saat Al menekan tompol hijau berkali-kali.
Kemudian Alfarizi menghubungi rumah untuk mengetahui dimana Sinta saat ini, "Halo, dimana Nyonya sekarang, Bibi?"
"Maaf Tuan, sudah dua hari ini Nyonya tidak pulang, katanya sedang melakukan pemotretan di Bali." jawab Bibi yang bekerja di rumahnya.
"Apakah Marta ikut ke Bali?"
__ADS_1
"Tidak Tuan, Nona Marta bersama Baby Sister."
Al hanya mengambil napas panjang, sekarang ini Sinta tidak pernah lagi memperhatikan dirinya dan Marta. Selalu sibuk dengan dunia model dan teman sosialitanya. Hanya berfoya-foya bersama mereka dan jarang pulang.