
Setelah Alfarizi berhasil merayu Alfian ikut berkunjung ke rumah baby Faiz dan menginap di sana. Alfarizi langsung tancap gas merayu Neng tanpa jeda. Dia dengan leluasa mengajak onta arab bergoyang tanpa ada gangguan. Hanya saja sekarang ini Alfarizi selalu berhati-hati tidak ingin membuat istrinya terlalu capek.
Alfarizi ikut berbaring di samping Neng, mengelus pipinya dengan lembut. Menatap matanya dengan berbinar, rasa cinta yang diekspresikan dengan sentuhan tangan. Mengangkat kepalanya dan mencium bibirnya dengan lembut.
"Boleh sekarang Papi menengok Adik Cantik?"
Neng mengangguk dan tersenyum, "Asal Papi pelan-pelan."
"Tentu ...."
Dari mulai mencium bibirnya sampai puas. Turun memberikan tanda kepemilikan di mana saja selalu dilakukan Alfarizi dengan lembut dan penuh penghayatan. Sampai mendaki puncak gunung setelah membuka helaian benang satu persatu tetap dilakukan lembut.
Hanya mendaki dan melahap puncak gunungnya yang bergantian yang Alfarizi lakukan dengan penuh semangat. Di tempat favoritnya inilah yang selalu membuatnya tidak bisa menahan diri. Di ikuti suara terdengar manja istrinya, membuat Alfarizi semakin menggila.
Setelah puas di sana, melanjutkan aksi untuk mengajak senjata onta arab bisa bergoyang dan menengok adik cantik sesuai divinisi Alfarizi. Kembali Alfarizi melakukan dengan lembut dan perlahan. Sampai keduanya mencapai nirwana berdua, Alfarizi tumbang memeluk Neng dari samping.
"Honey, terima kasih, kerinduan onta arabnya sudah terobati, sekarang istirahat dulu ya jangan sampai drop atau capek!" kata Alfarizi setelah selesai melakukan adegan panasnya.
"Sama-sama Papi." Neng menyelimuti tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun membenamkan wajahnya di dada suaminya yang bidang, "Mami mau tidur dulu ya, Pi."
"Tidurlah, l ove you so much." Alfarizi memeluknya dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Love you too."
Hanya dalam sepuluh menit Neng sudah terlelap dalam dekapan Alfarizi. Napasnya terdengar teratur dan damai. Alfarizi tersenyum sangat bahagia semakin hari semakin bisa memahami dan mengenal sifat istrinya. Cinta Alfarizi semakin tumbuh dalam hati semakin besar.
Senin sore Alfian, Umi Anna dan Abi Ali baru kembali dari rumah. Alfarizi benar-benar puas bisa berdua dengan Neng tanpa gangguan selama seharian penuh. Alfian juga sangat bahagia setelah bisa bermain dengan baby Faiz sesampainya di rumah melihat maminya sudah sehat seperti sedia kala.
Di week and berikutnya Neng mengajak keluarga untuk ziarah ke makam ibu kandungnya dan berniat menginap di villa. Konvoi menggunakan mobil, mereka berangkat Jum'at sore untuk menghindari kemacetan. Perjalanan menuju villa jika week and akan mengalami macet parah karena tempat wisata di sana sangat ramai saat libur tiba.
Alfarizi bersama Neng dan Alfian dalam satu mobil. Umi Anna, Abi Ali dan Ibu Ani bersama Doni sebagai sopirnya. Isya bersama Baby Faiz juga ikut bersama ke dua mertuanya dan Fano sendiri yang menyetir mobilnya.
__ADS_1
Di tambah anggota baru Dokter Harry, Rianti dan dua putranya Zaki dan Zain ikut juga. Serta pengantin baru Surya dan Desi juga menggunakan mobilnya sendiri. Juaidi dan Lilis bersama putranya Julio sudah berada di villa mempersiapkan kedatangan bos dan keluarganya datang.
Ada momen penting hari sabtu besok yang akan di rayakan mereka sebagai surprise yang di rencanakan Umi Anna dan Neng. Di villa sudah di persiapkan oleh Junaidi, Lilis dan Bibi Tinah beserta security yang bekerja di villa. Rencananya acara akan di laksanakan pada pagi hari saat sarapan.
Sampai di villa malam hari, mereka langsung beristirahat di kamar masing-masing. Villa sekarang ini sudah di bangun lebih besar dan lebih luas satu tahun yang lalu sehingga mereka dengan nyaman menempati kamar masing-masing. Sebagian besar langsung beristirahat di kamar hanya Umi Anna, Ibu Ani, Lilis yang sibuk mempersiapkan semuanya, Neng di larang ikut campur agar suaminya tidak curiga.
Di kamar, Neng sengaja selalu bed mood saat Alfarizi mengajak bercanda atau modus. Alfarizi jadi bingung dan serba salah karena selalu salah saja di mata Neng. Apalagi saat Alfarizi akan merayu dan mengajaknya bergoyang juga selalu dibuatnya bingung.
Saat Alfarizi mencium bibirnya dengan lembut, "Papi, habis makan apa sih kok tumben mulutnya bau sih?"
"Tidak makan apa-apa Honey, cuma makan opor ayam aja, masak bau sih."
"Papi sikat gigi dulu sana, Mami tidak suka baunya!"
"Baiklah tunggu Honey, Papi ke kamar mandi dulu."
Alfarizi berjalan ke kamar mandi dengan langkah panjang. Neng menahan tawa dengan menutup mulutnya. Sampai Alfarizi kembali ke tempat tidur, Neng kembali menunjukkan mode juteknya.
"Hhmm ...." Neng langsung mendorong Alfarizi agar melepaskan tautan bibirnya.
"Apa lagi Mami, apakah masih bau?"
"Bau odol, Mami tidak suka."
"Ya sudah Papi pindah di sini saja," Alfarizi berpindah ke bawah sedikit dengan memberikan jejak kepemilikan di sana.
"Papi, jangan di situ ya sekali-kali pindah ke bawah lagi, ok!"
Alfarizi hanya mengangguk dan sedikit kesal, aksinya selalu di potong dan membuyarkan konsentrasinya. Saat dia membuka satu persatu helaian benang dan ingin melahap salah satu ujung puncak gunung. Neng kembali berulah mendorong pundaknya, "Papi sebentar dulu naaah, Mami pingin buang air kecil!"
"Aaaah Mami mengapa malam ini selalu menghentikan senjata onta arab mau bergoyang sih, Papi jadi kesel," gerutu Alfarizi sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Papi marah?" tanya Neng dengan suara manja sambil cemberut berdiri di tempat tidur tidak melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
Alfarizi tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak Mami My Honey, sana ke mamar mandi dulu, Papi tunggu ok!"
Neng tersenyum berbalik badan berjalan ke kamar mandi sambil menahan tawa. berhasil membuat Alfarizi menahan amarah walaupun sebenarnya dia emosi karena ulahnya. Di kamar mandi Neng langsung tertawa tanpa di tutup-tutupi lagi.
Neng berjalan mendekati Alfarizi yang sedang duduk di pinggir tempat tidur tanpa memakai sehelai benangpun sambil merentangkan tangannya, "Kemarilah Honey!"
Tidak ingin menghilangkn mood suaminya dan Neng juga terbawa suasana. Akhirnya sampai keduanya terpuaskan, Neng tidak bisa membuat suaminya emosi. Malahan membuatnya tersenyum mengembang karena dia selalu terpuaskan dan berakhir dengan memeluknya dengan rasa cinta yang mendalam.
Neng berulah kembali saat suaminya tanpa sengaja menarik selimutnya dan membuat dia terlihat nyata ke dua gunung kembarnya, "Iiiih Papi, jangan lihat ini lagi, di larang menambah tayangan, Adik Cantik tidak ingin bertemu dengan Papinya lagi!" kata Neng dengan cemberut.
"Iya ... maaf, Papi selimuti lagi ya."
"Tidak usah, Mami juga bisa sendiri," jawab Neng dengan jutek.
"Kenapa sih Honey, jutek banget?"
"Tahu, Mami lagi kesel."
Sampai pagi hari Neng masih cemberut setelah selesai mandi, keluar kamar berdua dan turun tangga untuk bergabung sarapan pagi bersama keluarga. Tiba-tiba seluruh keluarga keluar dari balik tangga dengan mengucapkan, "Surpise ...!"
"Happy birthday ... Papi!" teriak Alfian.
BARSAMBUNG
*******
Hari ini author promo lagi ya novel di NT, mampir yook
__ADS_1