
Yang awalnya Alfarizi emosi karena dipukul tanpa tahu alasannya. Setelah mendengar Junaidi menyebut Nona dan bayinya, dia mulai bingung dan menahan amarah. Mengusap bibirnya yang berdarah dan mencoba menahan diri.
"Tunggu Surya kamu diam saja, ini urusanku dengan sekuriti ini!" Alfarizi menahan Surya yang akan balik memukul Junaidi.
"Kamu jauh sana b*d*h!" Lilis mendorong Surya.
"Katakan apa maksudmu Nona dan bayinya?" tanya Alfarizi mendekati Junaidi
Lilis yang dari awal menahan emosi ikut juga memukuli Alfarizi menggunakan tas kecilnya, "Buug, dasar laki-laki tidak bertanggung jawab, buug; di mana Neng sekarang, anaknya laki-laki atau perempuan, ayo katakan di mana sahabatku sekarang?"
"Tunggu sebentar, aku tidak tahu apa maksud kalian, satunya menyebut Neng dan satu lagi menyebut Nona, maksud kalian istriku memiliki ---?" Alfarizi menutup mulutnya setelah menyadari yang di maksud mereka adalah istri sirinya.
"Di mana Nona sekarang Tuan, aku mohon katakan kepada kami, kami sudah mencarinya lebih dari lima tahun, tetapi tidak juga menemukannya, bagaimana kabar anak Anda Tuan, hiks hiks hiks?" Junaidi duduk bersimpuh di dekat kaki Alfarizi sambil menangis tergugu.
Alfarizi langsung ikut duduk di depan Junaidi tanpa ragu. Dunianya seolah runtuh mendengar ucapan dua orang yang baru saja memukulnya. antara percaya dan tidak saat mengetahui Neng hamil anaknya padahal dokter mengatakan dia tidak bisa memiliki keturunan.
"Anda tahu Tuan, saat Nona keluar dari villa dia sedang hamil delapan Minggu," Junaidi mengusap air matanya menatap tajam kearah Alfarizi yang terlihat bingung.
"Kamu siapa namanya?"
"Aku Jun, Junaidi Said sekuriti villa yang Anda beli sebelum Anda menikah siri dengan Nona."
"Jun, aku masih bingung, aku tidak tahu di mana dia, coba kamu ceritakan!"
"Tuan sebaiknya duduk dulu sambil mendengarkan dua orang ini bercerita aku akan mengobati lebam di muka Anda!" kata Surya membantu Alfarizi untuk duduk.
Junaidi dan Lilis bercerita secara bergantian tentang Neng setelah dia meninggalkan villa. Junaidi terakhir kali bersama Neng sstelah mengantar Neng ke bank dan ke rumah Ayah Asep.
Junaidi sampai mengawasi rumah Ayah Asep selama satu tahun. Pernah juga Junaidi mengancam Ayah Asep agar mau mengatakan di mana Neng tinggal. Ayah Asep bercerita jika ijasah Neng hilang tetapi tidak pernah bertemu dengannya sejak Neng pergi ke villa milik Tuan Alvarizi.
Di Jakarta dan sekitarnya, Junaidi sering mencari Neng dengan cara membagikan selebaran, pengumuman orang hilang dan sering berkeliling sendiri tetapi tidak pernah menemukannya. Rasa putus asa yang dirasakan Junaidi dan Lilis membuatnya nekad ingin mengetahui informasi dari mantan bosnya.
Pikiran Alfarizi seperti lepas entah kemana, perang batin antara keterangan Dokter Mario dan kemarahan Junaidi seolah membuatnya bingung dan tidak bisa berpikir jernih. Mendadak kepalanya pusing, mata berkunang-kunang badan terasa lemas. Al langsung pingsan di depan Junaidi.
__ADS_1
"Tuan ...Tuan, bangunlah!" kata Surya menepuk pipinya berkali-kali.
"Pak cepat kita bawa ke rumah sakit!" perintah Surya kepada sekuriti.
Menggunakan mobil milik Surya mereka membawa Alfarizi ke rumah sakit terdekat diikuti oleh Junaidi dan Lilis. Sampai di tengah perjalanan Al siuman dari pingsannnya. Walaupun masih bingung dengan apa yang terjadi Al bertekat untuk menyelidiki siapa yang benar.
"Surya, hentikan mobilnya!" perintah Al dengan tegas.
"Aku bilang hentikan mobilnya sekarang!" Kembali Al membentak asistennya dengan tegas.
Surya terpaksa meminggirkan mobilnya dengan cepat tidak ingin Tuannya semakin marah. Mobilnya berhenti tepat di sebuah hotel bintang lima. Al langsung melihat arah hotel dan memiliki ide untuk menginap di sana.
"Kalian kembali ke perusahaan, aku akan menginap di hotel itu sekarang!"
"Tapi tuan, aku ---!" Surya tidak melanjutkan ucapannya karena Al langsung turun dari mobil berjalan menuju hotel yang ada di pinggir jalan raya.
Di dalam kamar hotel Al hanya termenung memikirkan langkah apa yang harus dilakukan. Teringat Isya adiknya yang dulu pernah bercerita jika Sinta kemungkinan memiliki selingkuhan. Akhirnya Al memutuskan untuk menyelidiki terlebih dahulu sebelum akan mengambil langkah selanjutnya.
Selama bersatu kembali dengan Sinta, setelah meninggalkan Neng, Alfarizi selalu ragu dan bimbang. Hanya karena mengetahui jika dia tidak bisa memiliki keturunan. Sekarang ini keraguan itu mulai muncul kembali di hatinya setelah bertemu dengan Junaidi dan Lilis.
Alfarizi menceritakan semua kepada Surya, mulai dari permasalahannya dengan Sinta dan pernikahan sirinya dengan Neng. Al berharap Surya bisa membantu menyelesaikan semua polemik yang di alaminya. Dia juga berharap bisa menemukan di mana Neng sekarang ini tinggal.
"Sebaiknya Anda melakukan tes ulang terlebih dahulu sebelum melakukan langkah selanjutnya!" saran Surya setelah Al selesai menceritakan semua masalahnya.
"Aku akan melakukan tes di Singapura saja, kamu atur jadwal ulang semua agendaku!"
"Baik Tuan, berapa hari Anda disana?"
"Dua hari, ingat rahasiakan ini dari siapapun, termasuk istriku!"
"Siap Tuan, bagaimana dengan sekuriti dan istrinya itu, apa yang aku katakan pada mereka jika bertanya?"
"Kamu bawa mereka kesini besok sebelum aku berangkat ke Singapura!"
__ADS_1
"Baik Tuan, aku pamit dulu."
Ada rasa bersalah dan bahagia saat ini yang dirasakan oleh Alfarizi. Bahagia jika benar dia memiliki keturunan dari istri sirinya. Bersalah tidak bisa mendampingi keturunannya lahir dan tumbuh apalagi saat mengingat keturunannya itu tumbuh tanpa seorang ayah.
Pada pagi harinya Junaidi dan Lilis berkunjung ke hotel di mana Alfarizi menginap. Mereka diantar oleh Surya masuk hotel menuju kamar milik Al. Walaupun tidak tahu apa yang akan di bicarakan Tuan Al dengan Junaidi dan Lilis, Surya selalu melaksanakan perintah Bosnya dengan baik.
"Selamat pagi Tuan," kata Surya setelah mengetuk pintu kamar milik Al.
"Pagi, duduklah aku akan berbicara dengan kalian bertiga!"
"Baik terima kasih." jawab mereka bertiga serempak.
"Untuk kamu Jun, aku akan ke Singapura selama dua hari, kamu datangkah ke villa, kamu tugas disana ajak anak dan istrimu, setelah dari Singapura aku akan menyusul kesana!"
"Bagaimana dengan pekerjaan saya Tuan?" tanya Lilis bingung harus pulang kampung padahal pekerjaanya sangat menumpuk.
"Kamu jangan khawatir, Surya yang akan mengaturnya, gaji kalian aku naikkan, jika perlu kalian ke sana menggunakan mobil kantor."
"Baik Tuan, terima kasih."
Hanya dalam dua jam perjalanan menggunakan pesawat, Al sudah sampai di rumah sakit terbesar di Singapura. Al bertemu dengan dokter ahli di sana. Serangkaian tes di lakukan oleh Al hampir seharian ini.
Al menginap di hotel bintang lima yang ada di komplek sekitar rumah sakit. Hasil tes yang di lakukannya Al akan keluar besok sore. Waktu yang tersisa di gunakan untuk menyusun rencana dan langkah selanjutnya.
Hai shobat author rekomend novel bagus untukmu
Arumi Nadya Karima, seorang wanita yang terlahir dari keluarga berada.
Hidupnya semakin sempurna saat menikahi seorang pria tampan yang bernama Gibran Erlangga.
Dua tahun pernikahannya Gibran selalu perhatian dan memanjakan dirinya. Arumi mengira dirinya wanita paling beruntung, hingga suatu hari kenyataan pahit harus ia terima.
__ADS_1
Gibran ternyata selama ini menduakan cintanya. Perhatian yang ia berikan hanya untuk menutupi perselingkuhan. Arumi sangat kecewa dan terluka. Cintanya selama ini ternyata diabaikan Gibran. Pria itu tega menduakan dirinya.
Apakah Arumi akan bertahan atau memilih berpisah?