
Waktu cepat berlalu, dua puluh Alfarizi lewati tanpa meminta jalan lain menuju Roma. Rasa yang hanya di rasakan sendiri tanpa melihat istrinya terpuaskan membuat dia memilih untuk berolah raga di ruang Gym Center Mini miliknya saat senjata onta arab on dan ingin bergoyang. Rasa cinta terhadap istri membuat semakin berpikir rasional dan bisa mengendalikan diri.
Setelah merasakan merawat sendiri putrinya, Alfarizi sering fokus pada baby Elfa dan tidak terlalu terfokus kepada keinginannya mengajak senjata onta arab bergoyang. Sampai akhirnya hari ini adalah Neng selesai masa nifas. Sampai setiap hari Alfarizi menandai di buku agenda kerja agar tidak terlupa kapan hari nifas istrinya berakhir.
"Mami hari ini sudah 40 hari berarti mulai nanti malam Papi boleh bergoyang dong?" kata Alfarizi pagi ini saat akan berangkat meeting bersama Surya.
Neng tersenyum sambil membantu suaminya merapikan dasinya, "Iya Papi tetapi hari ini Mami mau konsultasi ke dokter terlebih dahulu, dan hari ini baby Elfa juga melakukan imunisasi."
"Jam berapa Mami ke rumah sakit, mengapa tidak bilang Papi, Papi bisa atur ulang meetingnya?"
"Mami bisa di temani Ibu Ani kalau Papi tidak bisa, jangan khawatir. Lagian setelah istirahat kok Pi, Mami ke rumah sakit."
"Ooo setelah istirahat Papi bisa antar Mami, tunggu Papi pulang ya!"
"Iya, sudah rapi sekarang dasinya, ayo kita sarapan!"
"Eee tunggu dulu dong Mami."
Alfarizi langsung menarik Neng dalam pelukan setelah selesai membetulkan dasinya, "Papi mau melakukan pemanasan sedikit." Alfarizi memiringkan kepalanya ingin mencium bibirnya.
Belum sempat bibirnya menyentuh bibir Neng ada suara tangisan melengking dari kamar baby Elfa. Neng tertawa lepas sambil meninggalkan suaminya, "Papi tahan aja dulu ya pemanasannya sampai waktu yang tidak di tentukan."
"Mami tega banget sih, padahal hanya satu menit tidak sampai." Alfarizi menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya.
Tepat pukul dua belas siang Alfarizi bergegas pulang tidak ingin melewatkan sedikitpun jika mengenai perkembangan putrinya. Dia tidak mau melewatkan mendampingi baby Elfa melakukan imunisasi. Juga mendampingi Neng untuk berkonsultasi tentang kesehantan setelah melewati masa nifas.
__ADS_1
"Sudah siap Mami, apakah mau berangkat sekarang?"
"Papi makan dulu baru kita berangkat, baby Elfa masih tidur, kasihan kalau di bangunkan."
"Baiklaah, ayo temani Papi makan tetapi apa boleh sekarang Papi minta cicilan yang tadi pagi tidak jadi?"
"Iiih Papi ngawur aja, lihatlah di dapur ada bibi, ada Ibu Ani dan Bang Doni yang sedang minum kopi. Memangnya Papi mau pemer pada mereka?"
Alfarizi duduk di meja makan sambil cemberut dan wajah yang di tekuk. Sudah dua puluh hari mati-matian menahan hasratnya agar senjata onta arab tidak mengajak bergoyang. Terkadang ingin mencium bibir Neng saja di urungkan takut kebablasan.
"Sabar dong Papi, tidak ganteng tahu kalau wajahnya di tekuk begitu."
"HHmm...."
Neng dan tersenyum dan menggelengkan kepala melihat Alfarizi cemberut dan di tekuk. Wajah itu persis seperti saat Alfian jika lagi marah dan tidak suka sesuatu. Hanya saja bedanya jika Alfian akan terus bertanya alasannya sedangkan Alfarizi akan diam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Dasar Papi, dua Al sama-sama aneh kalu kemauannya tidak di turuti," monolong Neng sendiri sambil menyusul ke lantai atas.
Baru sampai di depan pintu, Neng berniat memanggil suaminya yang sedang marah. Dia sudah melayang dalam gendongan bridal suaminya sambil di cium dengan penuh gai*ah. Sampai persediaan oksigen Neng mulai habis Alfarizi melepaskan tautan bibinya dan menurunkan Neng di dekat tempat tidur.
"Huuuf Papi ... dasar mesum. Mami kira marah ternyata memancing Mami untuk menyusul ke kamar gara-gara mau nyicil ceritanya?"
Alfarizi tersenyum dengan devil sambil membuka dasinya, "Apakah boleh Papi bergoyang sekarang, rasanya Papi tidak tahan lagi. Senjata onta arab Papi on terus dari tadi pagi meeting saja Papi tidak konsentrasi?"
"Eeee tunggu dulu dong Papi, jangan buru-buru gitu, Mami ...!" Neng tidak melanjutkan ucapannya karena baby Elfa terbangun, dia tidak menangis tetapi dia ngoceh dengan suara planet yang tidak di ketahui artinya sambil membuka mulutnya mencari ASI kesukaannya.
__ADS_1
"Ada apa Mami?"
"Tuuuh tugas negara memanggil coba dengarkan suaranya!" Neng berlari menuju kamar putrinya.
"Yaaah ... gagal lagi. Sabar dulu ya alamat kita tidak bisa bergoyang sekarang ini, tunggu sampai nanti malam, ok!" Alfarizi mengajak senjata onta arabnya berbicara.
Neng yang mendengar suaminya berbicara sendiri dengan senjata onta arab tertawa sambil mengajak berbincang baby Elfa, "Coba dengarkan Papi, lagi bicara sama siapa ya dia?"
Neng mengganti baju baby Elfa sambil terus mengajak berbincang, "Papi yang aneh ya, Elfa tidak boleh mengikuti cara Papi, bicara sendiri. Kita siap-siap ke rumah sakit ya Sayang. waktunya Elfa imunisasi, ok!"
"Hayo ... Papi dengar ya, jangan ngomongin Papi!" Alfarizi langsung bergabung dengan istri dan putrinya, tetapi anehnya baby Elfa malah tersenyum lebar mendengar suara papinya.
"Eee malah tertawa, emangnya Papi lucu. Papi lagi kesel sama Mami gara-gara gagal melulu." Baby Elfa kembali tersenyum lebar seolah menertawakan papinya yang gagal maning modusin mami.
Siang itu Neng berkonsultasi dengan Dokter Maria tentang alat kontrasepsi yang cocok untuk ibu menyusui. Neng lebih memilih suntik per tiga bulan sekali di samping karena aman untuk ibu menyusui. Dokter Maria mengatakan suntik ini akan dapat mengurangi resiko munculnya kanker ovarium dan kanker rahim.
Selasai bertemu dengan Dokter Maria, Neng kemudian bertemu dengan Dokter anak yaitu Dokter Tanti Jadwal imunisasi BCG dan Polio 1 yang seharusnya di lakukan satu minggu yang lalu. Karena cuaca hujan yang terus mengguyur Bekasi, Neng terpaksa berkonsultasi dengan Dokter Tanti agar imunisasi bersamaaan dengan dirinya berkonsultasi dengan Dokter Maria.
Dokter Tanti berpesan jika nanti baby Elfa mengalami demam dan suhu tubuhnya meningkat di kompres dengan air hangat dan maminya meminum obat penurun panas sebelum memberikan ASI. Sebagian besar bayi setelah di suntik akan rewal dan menangis. Ini karena bayi sedang mengekspresikan diri jika di suntik itu sangat sakit hanya saja bayi belum bisa bicara.
Malam harinya Alfarizi sudah bersiap-siap dengan semangat empat lima. Rasanya dia tidak sabar lagi untuk menikmati indahnya malam berdua dengan istri tercinta. Membayangkan saja senjata onta arab langsung on tanpa di komando.
Pukul sepuluh malam bangun tidur baby Elfa menangis dengan keras. Badannya panas dan suhu tubuhnya 38 derajat. Neng panik karena baby Elfa selalu rewel dan tidak mau turun dari gendongan, "Ada apa Nak, kok tumben nangis terus?" tanya Alfarizi yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Badannya panas Papi, dari tadi minta gendong terus."
__ADS_1
"Waduh kasihan putri Papi, ayo Papi yang gendong, Mami istirahat aja dulu, tapi ingat jangan tidur tunggu Papi!" bisik Alfarizi di telinga Neng.