
Alfarizi berjalan dengan langkah panjang tetapi masih mendengar ucapan mama dari teman sekolah Al. Langsung masuk mobil dan bernapas dengan lega. Alfarizi termenung setelah memikirkan perkataan wanita muda itu.
Yang diingatnya wanita itu istrinya Rangga Siregar. Mengapa tadi memanggil nama emaknya bukan nama suaminya. Membuat Alfarizi jadi penasaran siapa sebenarnya dia.
Alfarizi mengambil ponsel mengambil satu foto wanita itu dan langsung di kirimnya kepada Zunaidi dan Surya melalui pesan WA. Ditambah pesan dengan tulisan, "Dia istrinya Rangga Siregar, sudah tiga minggu ini selalu berusaha mendekati aku dan Alfian, tolong selidiki dia sampai ke dua orang tuanya tinggal dimana!"
Surya keberulan berada di perusahaan yang ada di Jakarta dari kemarin. Mendapat perintah dari Tuannya, Surya langsung menghubungi Junaidi yang posisinya ada di satu perusahaan. Hanya dalam sepuluh menit Junaidi yang sekarang menjabat sebagai kepala Security di seluruh perusahaan milik Alfarizi itu datang menemui Surya.
"Bang Surya, apakah Anda juga mendapat perintah dari Tuan Al?"
"Iya baru saja."
"Ini mulai dari mana kalau cuma foto saja tanpa keterangan lain, Bang Surya?"
"Aku punya alamat lengkap Rangga Siregar, tetapi maaf apakah bisa kali ini kamu bisa menyelidiki bersama anak buahmu sendiri, aku tidak bisa membantu."
"Apakah pekerjaaan Bang Surya banyak sekali?"
"Tidak juga sih, rencana bulan depan aku mau menikah."
"Waaaah selamat kalau begitu, ok tugas ini aku yang akan mengerjakan tetapi sesekali aku bisa minta petunjuk atau pendapat."
"Tentu, setiap saat kalau perlu sesuatu langsung hubungi aku."
"Siap Bang, aku permisi dulu."
Hari ini juga Junaidi membentuk tim menjalankan tugas pribadi dari bosnya. Dengan mendapat bonus dari bos semua bekerja dengan semangat. Penyelidikan dikerjakan setelah pulang kerja sehingga tidak mengganggu pekerjaan mereka.
Surya hari ini setelah pulang kerja langsung menuju Butik AA menjemput Desi. Rencananya hari ini akan menghadap bosnya untuk meminta izin bulan depan akan menikah. Rencana pernikahan sudah matang sejak bosnya bulan madu.
__ADS_1
Surya dan Desi langsung ke rumah Neng setelah jam kerja selesai saat melihat Neng sudah pulang menggendarai mobilnya sendiri. Mereka mengikuti Neng dari belakang sampai depan rumah tanpa sepengetahuan Neng.
"Bu Mitha ...." panggil Surya setelah dia memarkirkan mobilnya di belakang Neng dan Desi juga ikut turun dari mobil.
"Surya ... Desi, ayo masuk!"
"Apakah Tuan Al belum pulang Bu, kok mobilnya tidak ada?"
"Ada kok dia pulang tadi jam tiga sore pusing katanya, mobilnya mungkin sudah masuk garasi, silahkan duduk dulu!"
"Terima kasih, Bu."
Neng berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Rasanya tidak tega suaminya tadi menghubungi pulang cepat karena pusing. Harus melanjutkan meetingnya dengan setengah hati, tetapi tetap harus bertanggung jawab setelah selesai langsung pulang.
"Papi ...."panggil Neng setelah membuka pintu.
"Hai Honey, lama betul sih pulangnya Papi menunggu Mami dari jam tiga."
"Tidak bisa harus tunggu giliran dulu, Papi duluan nunggu Mami setelah selesai baru temui mereka."
"Eeee sekarang sudah ketemu, cepat temui mereka sekarang!"
"Bukan Papi yang menunggu, tetapi senjata onta arab yang menunggu Mami."
Sesaat kemudian Neng sudah melayang karena di gendong bridal menuju kamar mandi. Mau protes bagaimanapun tetap Neng tidak akan bisa menolak saat senjat onta arab meminta bergoyang. Dengan terpaksa Surya dan Desi menunggu satu jam sampai musik bosnya berhenti.
Untungnya Surya dan Desi ditemani Bu Ani dan Dani untuk berbincang. Waktu terasa singkat saat mereka berbincang dan bercerita rencana pernikahan mereka. Alfarizi dan Neng turun dari tangga dengan bergandengan tangan dengan wajah yang berseri-seri dan rambut yang masih basah.
Sambil menggelengkan kepalanya Surya bisa menebak bosnya itu sedang apa selama satu jam. Setelah menikah terkadang bosnya itu selalu memamerkan kemesraan. Membuat Surya memajukan pernikahanya karena otaknya sudah terkontaminasi mesum bosnya.
__ADS_1
"Bos, tega banget sih aku menunggu Anda dari tadi, katanya pusing kok segar bugar begitu?"
"Iya tadi pusing, diobati barusan sama dia sekarang sudah sehat," jawab Alfarizi sambil mengedipkan matanya kepada Neng.
Neng langsung mengeluarkan jurus capitnya ke pinggang Alfarizi. Rasa tidak enak dan sungkan sudah meninggalkan tamunya lama di ruang tamu. Alfarizi langsung berteriak manja sambil tergelak, "Waaauw sakit, Honey. Tega banget sih!"
"Surya mau perlu sama Papinya Al, sebaiknya ke ruang kerja saja!" perintah Neng mengalihkan perhatian Alfarizi yang sedang mengusap pinggangnya.
"Saya perlu dengan Tuan Al dan Anda, ini bukan tentang pekerjaan," jawab Surya cepat.
"Baiklah, aku duduk kalau perlu dengan kami, katakan!"
"Kami mau minta izin bulan depan akan melangsungkan pernikahan."
"Akhirnya, aku turut bahagia untuk kalian selamat, acaranya apan, awal bulan atau kahir bulan?" tanya Neng tersenyum bahagia.
"Rencanya akhir bulan, diadakan di hotel yang tidak jauh dari mall," jawab Desi kemudian
"Kalian jadwal ulang saja untuk bulan depan, jadwal meeting di pindah diawal bulan saja, nanti kalian bisa bulan madu diantar menggunakan pesawat pribadi plus akomodasinya."
"Waah benarkah Tuan, terima kasih." Surya tersenyum sambil melirik Desi. Tidak sia-sia menunggu lama setelah akan mendapatkan paket honemoon dengan pesawat pribadi.
Desi dan Surya bercerita bergantian tentang sekitaran rencana pernikahan mereka. Mulai dari rias pengantin, catering, undagan sampai tujuan bulan madu. Neng juga meminta Desi membuat sendiri rancangan gaun pengantin yang diinginkannya dengan mengambil bahan dari butik karena Desi sejatinya juga perancang handal karena dulu mereka adalah teman kuliah.
Sedang asyik berbincang, ada notivikasi pesan WA masuk di ponsel milik Surya dari Junaini. Rupanya Junaidi langsung tancap gas menyelidiki tentang Rangga seregar setelah pulang kerja. Surya langsung membuka pesan WA yang di kirim Junaidi di ponselnya.
Di hari pertama Junaidi menyelidiki tentang Rangga Siregar sudah menemukan hal yang mengagetkan bagi Junaidi. Junaidi pulang kerja di temani wakilnya di perusahaan yang kemarin membantu menyelidiki Dani, Surya langsung menuju alamat rumah Rangga Siregar. Kebetulan melihat Rangga Siregar keluar rumah sendirian menggunakan mobilnya menuju sebuah rumah sakit di pinggir kota.
Junaidi dan temannya melihat Rangga Siregar masuk rumah sakit dan menuju ke sebuah kantin menemui seorang laki-laki menggunakan seragam dokter. Wajah dokter itu sangat dikenal oleh Junadi karena sebagian besar perbuatan laki-laki itulah nonanya menderita bertahun-tahun. Melihat wajah licik mereka membuat Junaidi mengepalkan tangannya dengan kuat.
__ADS_1
Saat mereka berpelukan Junaidi mengambil fotonya dan langsung mengirim foto mereka kepada Surya. Di sertai dengan tulisan, "Bang, apa hubungannya Rangga Siregar dengan Dokter bang sat ini, tanganku sudah gatal ingin sekali menghajar dia, apakah boleh?"