Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Berdamailah


__ADS_3

Dokter Harry memandang lekat-lekat wajah Mitha. "Mitha, Dia Mitha, mengapa dia kamu sebut istrimu, kurang aj*r jadi kamu Pohon Pisang itu?"


"Bug ...!"


"Bug ... bug... ini untuk depresinya Mitha selama delapan tahun!"


"Bug ... bug ... ini untuk adikku yang tidak bisa di sentuh oleh laki-laki manapun karena kamu selalu mendoktrinnya dia hanya milikmu, tak boleh seorangpun bisa menyentuhnya!"


"Bug ... bug ... ini untuk Alfian yang selalu ingin merasakan disayang oleh Papinya!"


"Dokter, apa yang Anda lakukan, cukup!" Surya mencoba menghentikan Dokter Harry yang menghajar Alfarizi sampai babak-belur.


"Surya, kamu diam, ini ponselku, kamu hubungi istriku suruh kesini sekarang!"


Alfarizi tidak membalas pukulan Dokter Harry. Dia memikirkan ucapannya dari depresi, doktrin, dan putranya yang ingin merasakan kasih sayang. Rasanya dunia kembali hancur berkeping-keping, kesalahannya di masa lalu ternyata membuat wanita yang melahirkan keturunannya itu mengalami penderitaan yang dalam.


Al menangis tergugu bukan merasakan luka di wajah yang sudah babak-belur, tetapi merasakan nyeri di hati karenanya istri siri dan putranya tidak bisa merasakan hidup sempurna seperti yang dia rasakan selama ini. "Ampuni aku Harry, ampuni aku; aku sudah menerima karma karena perbuatan burukku!" tangisan Al semakin tergugu.


"Apa maksudmu menerima karma, kamu hidup bahagia bersama istri dan putrimu, baru kemarin aku melihat di infotaiment kamu merayakan kepemilikan mall ini, bug ... bug... breng sek kamu!"


"Dia bukan putriku Harry, dia hasil selingkuhan istriku dengan kekasih gelapnya; Neng ampuni aku, hiks hiks hiks!" Kembali Al tergugu duduk bersimpuh di lantai dekat kaki Dokter Harry.


Dokter Harry ikut duduk bersimpuh di samping Al. Emosinya mulai mereda setelah tangannya terasa nyeri berkali-kali memberikan bogem mentah ke wajah Al. Neng masih terbaring di tempat tidur tanpa bergerak sedikitpun.


Al terus tergugu sambil mengusap tangan Neng, sudah satu jam berlalu tetapi dia belum sadarkan diri. Antara kasihan, marah dan emosi masih dirasakan Doker Harry kepada Al sehingga dia tidak mengajaknya bicara. Dia berkali-kali menghubungi istrinya Ria yang katanya datang bersama Ibu Ani.


Di dampingi oleh Surya masuk Ibu Ani dan Rianti dengan perasaan yang khawatir. Saat mereka berdua melihat Al yang bersimpuh sambil menangis tergugu mereka semakin khawatir. Wajah Al babak-belur tidak terlihat jelas sehingga mereka berdua tidak menyadari jika wajahnya mirip dengan Alfian,


"Papa ada apa, mengapa wajah orang ini babak-belur?"


"Dia yang sering disebut Pohon Pisang oleh Mitha!" Teriak Dokter Harry kembali emosi.

__ADS_1


"Dasar Pohon Pisang, punya jantung tidak memiliki hati, kamu yang selalu menyikiti Mitha adikku!" Rianti memukuli Alfarizi menggunakan dompet besar yang dipegangnya.


"Sudah Neng Ria, cukup; jika semua emosi siapa yang akan menyadarkan Neng Mitha?" Ibu Ani yang paling bijak saat ini.


"Dia masih pingsan Bu, sudah satu jam, Mitha akan cepat sadar setelah mendengar suara Alfian putranya." Dokter Harry berkata sambil menatap tajam Al yang masih tergugu.


"Jangan panggil dia, Dokter; cidera kakinya belum sembuh, lebih baik sambil menunggu Neng Mitha sadar kalian ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" perintah Ibu Ani bijak.


"Aku yang salah Bu, aku adalah suami siri dari Ningtiyas Paramitha, ampuni aku Bu, aku akan menebus semua kesalahan masa lalu, ampuni aku!"


"Tidak Nak, kamu tidak ada salah dengan kami, kamu harus meminta maaf kepada Maminya Al!"


"Baik Bu, aku mohon berikan aku kesempatan untuk menebus dosa-dosaku!"


"Tidak semudah itu Al, kamu akan sangat bekerja keras untuk itu."


"Aku tidak perduli, walaupun seumur hidup aku akan terus mengejarnya!"


Mereka keluar dari kamar milik Al dengan hati yang cemas terutama Al. Dia harus bolak-balik menoleh ke belakang berharap pujaan hatinya bisa membuka mata. Dokter Harry sampai menarik tangannya agar cepat keluar dari kamar.


Setelah setengah jam berlalu, di gosok telapak tangannya, di berikan minyak gosok bahkan diajak berbincang tentang putranya Alfian. Akhirnya Neng membuka matanya dengan perlahan. Rasa lega di hati Ibu Ani setelah melihat putri angkatnya sadar.


"Bibi Minah, apakah aku sedang berada di villa?" kata Neng setelah matanya menyapu kamar yang dia tempati persis seperti kamar yang ada di villa delapan tahun yang lalu.


"Neng Mitha, lihat aku dan Kak Ria, Nak; tidak ada Bibi Minah disini!" kata Ibu Ani sambil mengusap lengannya.


Neng termenung setelah teringat baru saja bertemu dengan papi dari putranya. Kepalanya terasa berputar, bahkan kamarnya seolah bergoyang seperti tersapu ombak. "Aaaagrh, Ibu kepalaku pusing sekali, apakah Ibu lihat obatku?"


"Tidak Nak, sebentar aku panggilan Dokter Harry."


"Kak Ria, mengapa disini, apakah Abang juga di sini?"

__ADS_1


"Mitha, kamu ingat kamu ada di mana sekarang?" Neng hanya mengangguk, pikirannya seolah kosong antara masa lalu dan sekarang tidak ada bedanya karena sekarang seperti berada di kamar villa.


Neng langsung meneteskan air matanya. Bisa menebak kemungkinan orang yang selama ini selalu disembunyikan identitasnya mulai terkuak. Dokter Harry berlari mendekati Neng yang menangis terisak.


"Abang, apakah bawa obat untukku?"


"Ini minumlah, seharusnya kamu sudah lama tidak minum obat ini lagi!" kata Dokter Harry sambil memberikan obat depresi dan satu botol air mineral.


"Maaf Bang." Neng bergegas minum obat yang diberikan olehnya.


"Mengapa Abang ada di sini, apakah semua sudah tahu kalau ...!" Neng tidak melanjutkan ucapannya.


Dokter Harry langsung memotong ucapannya. "Ya, kami sudah tahu, sayangnya si Pohon Pisang itu teman sekolah SMP Abang."


Al hanya bisa mengintip dari balik pintu percakapan mereka. Sudah diancam oleh Dokter Harry jika ikut masuk akan dihajar kembali. Hatinya terasa nyeri setelah dirinya disebut sebagai Pohon Pisang yaitu memiliki jantung tetapi tidak memiliki hati. Seburuk itukah yang dilakukannya dahulu.


"Bang, aku mau pulang, pasti Alfian menungguku, tadi pagi dia pesan opor ayam kampung kesukaannya." kata Neng mencoba bangun dari tempat tidur.


Al langsung menutup mulutnya saat mendengar Neng menyebut makanan kesukaan putranya sama seperti dirinya. Rasa bersalah itu semakin besar tidak bisa mendampingi putranya dari lahir sampai sekarang. Kembali Al menangis tergugu, rasa sakit, bahagia berbaur menjadi satu.


"Cukup Mitha, jangan kamu lari dari kenyataan, coba dari dulu kamu cerita, kamu harus bisa hadapi semuai ini, ingat kamu sekarang ada Alfian, apakah kamu tidak ingin Alfian bahagia?" tanya Dokter Harry dengan tegas.


"Neng Mitha, semua orang punya salah, semua orang pasti akan mendapatkan cobaan hidup, kamu tidak boleh lari dari kenyataan terus menerus, hadapilah dengan hati yang ikhlas!" Nasehat Ibu Ani.


"Mitha, kamu harus bisa berdamai dengan hatimu, ingat Alfian juga berhak mendapatkan haknya sebagai seorang anak, berjuanglah demi dia!" Rianti juga ikut menasehati.


"kamu sudah siap bertemu dengan Pohon Pisang itu sekarang, Mitha?" tanya Dokter Harry.


Jangan lupa mampir di novel teman author ya


__ADS_1


__ADS_2