Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Kami Membutuhkan Mami


__ADS_3

Alfarizi berlari dengan kekuatan penuh, hanya memakai satu kaos kaki dan satu sepatu, memegang kunci mobil, dompet dan tas juga tidak dibawa. Untungnya ponsel sudah ada di dalam kantong celana. Sampai di depan pintu rumah pintu masih dalam keadaan terkunci dari dalam.


Tok ... tok ... tok!"


"Cepat Nak ... buka!" teriak Alfarizi dari luar.


Alfian berlari membuka pintu sambil menangis. Dia menarik tangan papinya sampai tidak sempat untuk beristirahat dengan napas yang ngos-ngosan. Melihat Neng yang memejamkan mata tetapi air mata terus mengalir.


"Neng Geulis, stay with me please!" Alfarizi mencoba membangunkan Neng yang tidak bergerak sama sekali.


"Ssstttt ... punggungku, sa ... sakit tidak bisa bergerak, Pi!"


"Sabar ... ya kita ke rumah sakit, aaaah siit aku tidak bawa mobil hanya kunci yang aku bawa!" Alfarizi baru menyadari dia berlari bukannya membawa mobil.


"Papi, telepon Uncle Harry!" teriak Alfian yang jongkok sambil mengusap pipi maminya, "Sabar Mami, Papi lagi usaha, Al usap pundak Mami untuk mengurangi sakitnya ya!"


Neng terus mengeluarkan air mata tanpa kata, rasa sakit punggungnya tidak tertahakan. Badan bagian atas tidak bisa di gerakkan. Hanya kaki tangan dan kepala saja yang bebas bergerak.


Dengan cepat Alfarizi menghubungi Dokter Harry, "Harry kirim ambulance ke rumah istriku sekarang?"


" ...."


"Jatuh dari tangga, cepat!"


"Tut ... tut ... tut!" Suara ponsel yang di matikan sepihak oleh Dokter Harry.


Alfarazi berjongkok mengusap air mata Neng yang terus mengalir. menggenggam satu tangannya untuk memberikan dukungan dan energi positif untuknya. Ingin mengangkatnya tetapi tidak tega takut semakin sakit pungungnya.


"Tunggu sebentar lagi sabar, Honey." Alfarizi dengan sengaja memanggil Neng dengan sebutan honey agar hatinya merasa tenang.


Neng hanya memejamkan matanya tanpa menanggapi panggilan itu. Hatinya tidak memikirkan yang lain kecuali sakit yang teramat sangat di punggung. Hanya mendengar suara Alfarizi dan Alfian yang selalu memberinya dukungan.


Hanya dalam seperempat jam ambulance datang dengan suara sirine yang memekikkan telinga. Tidak di sangka Dokter Harry langsung menjemput Neng. Turun dari mobil ambulance berlari masuk rumah menghampiri duo Al yang sudah pucat pasi.

__ADS_1


"Ffttt ..." Dokter Harry menahan tawa melihat penampilan Alfarizi anti mekstrim.


"Mengapa kamu malah menahan tawa, ada apa?"


"Coba kamu lihat penampilan kamu!"


Datang Isya, Umi Anna, dan Abi Ali tanpa mengetuk mintu menjawab perkataan Dokter Harry, "Gelo dia, sepatu dan kaos kaki hanya satu, bawa kunci mobil tetapi dia berlari tanpa memperdulikan panggilan Abi dan Umi."


Alfarizi hanya memperhatikan penampilannya sendiri sambil menepuk dahinya sendiri. Karena panik dan khawatir terjadi pada istrinya dia tidak memperhatikan penampilannya sendiri. Tidak perduli di tertawakan oleh Dokter Harry dan kedua orang tuanya.


Petugas rumah sakit langsung masuk dengan membawa tandu dan penyangga leher. Di pakaikan penyangga lehernya di angkat di atas tandu perlahan terutama Alfarizi, dia memeluk Neng sambil mengangkatnya di bantu oleh Dokter Harry serta pegawai rumah sakit.


"Al ini sepatumu pakai dulu!" perintah Abi Ali saat Alfarizi yang sudah naik ambulance.


"Ya Abi terima kasih, Al ikut Opa dan Auntie Isya ya ke rumah sakitnya! "


"Al mau ikut Mami, hiks hiks!"


"Ya Auntie ..."


Ambulance kembali berjalan membelah ramainya lalu-lalang kendaraan yang beragam dengan suara sirine yang membuat orang meminggirkan kendaraanya. Dokter Harry duduk di samping sopir. Hanya Alfarizi yang menemani Neng di tambah satu petugas yang memeriksa keadaan Neng.


Air mata Neng tetap menetes tanpa henti menahan sakit yang tidak terkira. Alfarizi tetap menggenggam tangannya, mengusap air matanya dengan lembut. Selalu mengusap dan mengelus tagannya tanpa henti sebagai dukungan dan menenangkan hatinya.


"Sabar ... sebentar lagi sampai, tahan sedikit lagi, ok!"


Ambulance berhenti sempurna di depan UGD. kembali di angkat masuk ruang UGD sudah di sambut oleh dokter jaga teman Dokter Harry. Alfarizi tetap saja menggenggam tangannya, tak seditikpun melepaskan genggaman tangan itu. Saat ada suster yang akan melarang Afarizi masuk Dokter Harry memberikan kode kepada suster agar membiarkan dia ikut masuk.


Selesai dokter jaga memeriksa, branker tempat tidur Neng langsung di dorong lagi ke ruang ronsen untuk mengetahui cidera punggungnya. Hanya membutuhkan waktu setengah jam Dokter Ortopedi menemui Dokter Harry dan Alfarizi yang berdiri di samping Neng.


"Dokter Harry ini hasilnya lihatlah, ada tiga tulang punggung tengah yang patah yang membuat pasien merasakan nyeri dan sakit yang teramat sangat, ini harus segera di operasi!"


"Bagaimana Al?" tanya Dokted Harry kepada Alfarizi.

__ADS_1


"Lakukan yang baik untuknya sekarang, aku tidak tega melihat dia kesakitan!"


"Ok Dok, siapkan operasi sekarang!" Dokter Harry langsung membantu dokter mempersiapkan ruang operasi.


Isya, Alfian, Ummi Anna dan Abi Ali bergabung menunggu Neng di ruang ronsen. Alfian masih terisak melihat maminya tergeletak tak berdaya. Alfarizi memeluk putranya dengan erat mengusap pundaknya.


"Al berdoa ya Nak, Mami mau di operasi, semoga operasinya berjalan lancar, ok!"


"Ya Papi, Al maunya Mami sehat, Al tidak minta apa-apa, tidak jadi minta wisata bertiga, Al cuma minta Mami sehat, Mami jangan mikirkan ulang tahun Al ya?"


Neng hanya menjawab dengan mengangguk pelan, memejamkan matanya agar tidak menangis lagi. Tidak ingin membuatnya khawatir lagi, tidak bisa mengabulkan harapannya saat ulang tahun saja membuatnya sangat merasa bersalah. Hanya bisa mengambil napas panjang berjanji dalam hati akan di ganti di lain waktu.


Ruang operasi sudah siap, Ada rasa khawatir pada raut wajah Alfarizi. Masih menautkan tangannya pada Neng, "Berjuanglah untuk sembuh, Papi dan Al membutuhkan Mami."


Neng hanya menatap tajam wajah Alfarizi terlihat khawatir. Bisa merasakan cintanya semakin besar di lihat dari sorot mata yang seperti mendamba. Hanya saja stasusnya lah yang selalu mengganjal di hati, baginya nikah siri sama seperti status halu.


"Mami, Al tunggu di luar, Mami harus sembuh, jangan tinggalkan Al, I love you."


"I love you too, Nak." jawab Neng hampir tak terdengar suaranya hanya gerakan mulut saja.


Alfarizi jongkok dan mendekatkan wajahnya mendekati telinga Neng sambil berbisik, "I love you, Honey."


Neng kembali memejamkan matanya, tidak menjawab peryataan cintanya. Tidak ingin berharap terlalu besar padanya karena hati pernah kecewa. Walau hatinya selalu mendampa tetapi logikanya selalu membentengi diri tanpa di sadari.


Belum sempat Alfarizi mendengar jawaban dari Neng, ada Dua petugas rumah sakit langsung mendorong brankar tempat tidur Neng menuju ruang operasi. Dengan pasrah Alfarizi, Alfian dan keluarga mengikuti dari belakang. Neng hanya menatap Alfarizi dan Alfian secara bergantian dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan.


Operasi baru berjalan sekitar satu jam, saat ada satu suster yang keluar mendekati keluarga yang sedang menunggu dengan cemas, "Permisi apakah ada saudara kandung atau orang tua kandung dari pasian, dia membutuhkan donor darah dengan segera?"


"Waduh ...!" jawab Alfarizi bingung.



sambil menunggu up besok, mampir di novel tenan ya shobat, rekomen banget lo

__ADS_1


__ADS_2