Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
MP


__ADS_3

[Awas satu bab full adegan kesukaan author yang tidak kuat jagan lupa modusin Pak Su atau Bu Is masing-masing, dan satu yang perlu di ingat author tidak dendam dengan Alfarizi ya hanya kesal sedikit wk wk wk]


Alfarizi mengelus pipi Neng dengan penuh cinta sebelum keluar dari kamar. Berjalan dengan langkah panjang mengikuti Alfian yang ada di depannya. Menemui para tamu yang akan berpamitan pulang, menepuk pundak Dokter Harry sambil berbisik di telinganya, "Mengganggu aja!"


Dokter Harry terkekeh merangkul sahabatnya ikut berbisik, "Ini masih sore banyak setan yang lewat mengganggu."


"Iya termasuk kamu setannnya," celoteh Alfarizi ikut terkekeh.


Betul saja kata Dokter Harry setelah semua tamu berpamitan pulang, Alfian menarik tangan papinya mengajaknya ke kamar di lantai atas, "Papi temani Al tidur sebentar ya, please!"


"Ok, ayo Papi temani sebentar!"


Sekitar dua jam Alfarizi menemani putranya di kamar. Belajar, bermain, bercerita di tempat tidur sampai dia tertidur pulas. Mematikan lampu, menyelimuti putranya kemudian kembali ke kamarnya yang ada di lantai bawah.


Membuka pintu kamar perlahan, lampu kamar sudah berganti dengan lampu tidur. membaringkan tubuhnya di samping Neng dan langsung memeluknya dengan erat, "Honey, apakah sudah tidur?"


"Hhmm, jam berapa Pi?" jawab Neng dengan lirih.


"Baru jam sepuluh kok."


"Apakah Abang Harry baru pulang?"


"Sudah dua jam yang lalu, kenapa nunggu Papi ya?"


"GR aja Papi maah, Mami mau tanya obat mana yang harus diminum malam ini?"


"Oya belum minum obat ya, Papi jadi lupa gara-gara Papi pikirannya ke situ meluluk," jawab Alfarizi sambil menunjuk bibir Neng.


"Dasar modus."


Menyalakan lampu, mengambil obat yang memang biasanya di persiapkan olehnya dan mengambil air putih satu gelas, "Ayo bangun minum obatnya dulu!"


Dibantu bangun olehnya sambil curi-curi kecup pipi, sebagai pemanasan yang tadi tertunda sambil tersenyum, "Ini obat dan minumnya!"


"Terima kasih."


Setelah selesai Alfarizi meletakkan kembali gelas di meja dan duduk di sebelah Neng, "Apakah boleh bersambung yang tadi sempat terputus?"


"Apa yang terputus, Pi?"

__ADS_1


"Jangan bikin gemes nach!" Masih dalam posisi duduk Alfarizi meraih dagunya dan mencium bibir Neng dengan lembut.


Neng hanya menikmati aksi lembut bibir Al tanpa membalasnya membuat Alfarizi gemas dan melepaskan tautannya dan metowel pipinya dengan gemas, "Mengapa tidak dibalas sih?"


"Emang bagaimana cara balasnya?" jawab Neng asal.


"Ayo, Papi ajari caranya, jangan lupa dibuka mulutnya kalau Papi ingin masuk, ok!"


Tanpa menunggu jawaban Neng, Al langsung melakukan reka adegan dan memberikan kode untuk Neng membuka mulutnya. Dengan lembut Al mengeksplor dan mengabsen satu persatu yang ada di dalam mulutnya sampai pasokan oksigen Neng mulai menipis.


"Ffftt ...!" Neng langsung melepaskan tautan itu dengan cepat.


Alfarizi hanya terkekeh, walaupun masih tidak membalasnya dia bisa menikmati sentuhannya, "Ayo rebahan aja nanti takut sakit lo punggungnya!"


Neng hanya mengangguk dan tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah kata. Rasa malu dan nervous masih saja di rasakannya walau sudah sejauh ini. Hanya mengikuti kata hati dan menikmati sensesasi yang mendebarkan hati.


Kembali tangannya sebagai tumpuhan badan Alfarizi melayang berada di atas Neng, dia mulai bergerilya di tempat favorit memberikan beberapa tanda dan jejak di sana. Turun sedikit demi sedikit sambil tangan kirinya membuka satu persatu helaian benang yang di kenakannya. Hanya menciumi area gunung yang masih tertutup penghalang dengan sempurna.


Neng hanya memejamkan matanya menikmati sensasi yang diciptakan Alfarizi sampai dia tumbang kembali di samping istrinya. Neng langsung memandangnya penuh tanya tetapi hanya dengan gerakan mata, "He he tangan Papi kesemutan, istirahat sebentar ya?"


Neng hanya terkekeh sambil mengangguk. Alfarizi melanjutkan lagi menggerakkan tangan membuka helaian benang atas dan bawah yang menempel pada dirinya dilemparkan di sembarang tempat. Kembali beraksi dengan bergerilya di wajah mulus Neng, "Boleh Papi buka semua?"


Tanpa menunggu lama perlahan satu persatu helaian benang itu terlempar entah kemana, Neng juga tidak mengenakan sehelai benangpun yang ada padanya, "Ayo menghaplah ke sini, Honey?"


Perlahan Neng miring menghadap suaminya dengan sempurna. Dengan cepat Al langsung mendaki naik turun sampai puncak tanpa henti, mendaki lembahnya berhenti di puncaknya dan melahap ujungnya bergantian kanan dan kiri. Tanpa sadar Neng melingkarkan tangannya di pundak Alfarizi dan semakin membenamkan kepalanya membuat Al semakin menikmati kenyalnya ujung gunung dengan lembut.


Puas bermain di sana Al mulai turun sedikit mengeksplor bawah gunung dan sekitarnya. memberikan tanda di setiap centi tanpa terkecuali. Mendongakkan wajahnya memandangi Neng sambil tersenyum membuat Neng tersipu malu, "Boleh di lanjut lagi?"


Dengan anggukan Neng tanda setuju, Al membimbing Neng menghadap keatas perlahan. Kembali Alfarizi menggunakan satu tangannya sebagai tumpuhan dan mulai meraba dengan tangan satunya, "Papi Izin masuk, Honey?"


"Pelan-pelan ya, Pi!"


"Tentu Honey."


Perlahan tapi pasti senjata onta arab masuk dengan sempurna. Awalnya hanya terdiam untuk membuat Neng merasa nyaman, "Apakah sakit, Honey?"


Neng menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata. Membuat Al melanjutkan aksinya tanpa ragu, menggerakkan perlahan naik turun dan tangan tetap bertumpu untuk tidak melukai punggung Neng. Setelah terasa semakin nyaman Al terus menggerakkan senjata onta arab semakin cepat. Tanpa sadar Neng mengeluarkan suara syahdu yang terdengar di telinga Al membuatnya semakin memacu gerakannya.


Di tambah Al yang ikut bersuara sampai diatas nirwana dunia dengan di tandai ke duanya puas dalam waktu yang hampir bersamaan. Alfarizi langsung merobohkan tubuhnya di samping Neng sambil terkekeh, "Ada apa Pi, ada yang lucu?" tanya Neng heran.

__ADS_1


"Bukan lucu Honey, tangan Papi tadi kan kesemutan sekarang ini sudah menjadi kegajahan."


"Apa itu kegajahan, Papi?"


"Tadi tangan Papi cuma kebas dan baal sedikit, sekarang sampai siku kebasnya, jadi kegajahan namanya."


"Papi bisa aja, maaf ya Pi!"


"Eee mengapa minta maaf, kalau Papi bisa merasakan nikmatnya seperti ini, kegajahan sampai pundak juga Papi akan jabanin."


"Eee Papi maah, modus terus."


Bukan tidak ingin mengulang lagi adegan manis yang membuat Alfarizi melayang sampai nirwananya dunia. Alfarizi masih belum tega jika Neng terlalu capek karena ulahnya. Dia harus menjaga agar Neng istirahat dengan baik.


"Ayo ke kamar mandi, Papi tidak ingin Mami terlalu capek."


Alfarizi tidak bisa menggendong Neng secara bridal karena akan melukai punggungnya. Hanya memapahnya sambil merangkul pinggangnya perlahan sampai kamar mandi. Membantunya mandi, membantunya mencuci rambut dan menjaga agar luka punggungnya aman.


Selasai mandi Alfarizi membantu memakaikan baju Neng dan meminta dia untuk duduk di kursi meja rias, "Duduklah, Papi bantu untuk mengeringkan rambutnya!"


"Terima kasih."


"Apakah tadi Papi melukai punggung Mami?"


"Tidak, aman kok."


"Terima kasih Papi sangat bahagia hari ini, I love you Mami my Honey." Neng tersenyum dan mengusap tangan Alfarizi yang sedang mengeringkan rambutnya.


Kembali merebahkan badannya di tempat tidur berdua, "Istirahatlah sudah malam, kita lanjut besok lagi, ok!"


"Ya Pi...."


Alfarizi memeluk dan melingkarkan tanganya di pinggang Neng, "Selamat tidur Honey, I love you so much."


Neng baru memejamkan matanya sejenak tersentak kaget setelah tangan Alfarizi menyusup masuk di balik helaian benang dan mendarat tepat di puncak gunung. "Papi ... katanya besok lagi, ini ngapain tangannya ada di sini?"



Ayo mampir shobat sambil menunggu up lagi

__ADS_1


Trims


__ADS_2