Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Di Jodohkan


__ADS_3

Alfian tersentak kaget saat maminya masuk kamar tanpa mengeguk pintu. Membuatnya gugup dan menjawab sekenanya, "Ini Mami, Abang lagi menghitung laba dari villa tetapi salah terus, karena nominalnya yang terlalu banyak." jawab Alfian sambil menunjuk monitor laptop.


"Waaah putra Mami memang hebat, masih muda sudah suskes." Mami Mitha hanya mengerutkan keningnya pura-pura tidak mendengar padahal tadi jelas mendengar ucapan putranya.


"Siapa dulu dong, putra Mami!" Alfian memeluk memeluk maminya erat.


"Ha ha ha bisa aja, ayo makan dulu opor ayam sudah matang, Papi juga sudah menunggu di ruang makan!"


"Papi sudah pulang, Mi?"


"Iya baru saja, mendengar Abang datang Papi langsung pulang, katanya kangen sama Bang Al."


"Ayo Mi, Abang juga kangen sama Papi."


Alfian dan Mami Mitha keluar kamar sambil bergandengan tangan. Bergegas menuruni tangga dengan langkah panjang, "Papi ...!" teriak Alfian.


Papi Alfarizi langsung menengok, berdiri dan merentangkan tangannya, "Bang ... gagahnya putra Papi." Berpelukan sambil menepuk punggung.


"Papi juga tampan, apa kabar Pi?"


"Papi sehat, Bang."


Papi Alfarizi teringat dua hari yang lalu di hubungi oleh Umi Anna. Saat Alfian kembali ke Riyadh nanti seluruh keluarga di minta untuk ikut. Ada hal penting yang akan di sampaikan oleh Umi Anna.


Saat Papi meminta di sampaikan lewat CV saja, Umi Anna menolaknya. Kata beliau sekalian ingin bertemu cucu kesayangan Elfa dan Faiz putra dari Auntie Isya. Kebetulan besok hari Jum'at adalah hari libur nasional, sehingga bisa berkunjung ke Riyadh selama tiga hari.


"Abang tahu mengapa Oma Anna meminta kita ke sana bareng Abang?" tanya Papi Alfarizi.


"Abang tidak tahu Pi, kapan Oma menghubungi Papi?"


"Dua hari yang lalu."


"Ya sudah, kita berangkat Kamis sore mengunjungi Oma dan Opa, Elfa juga udah sangat merindukan mereka."

__ADS_1


"Mami yang akan menghubungi Auntie Isya dan Faiz agar bersiap-siap."


Datang Elfa yang baru pulang sekolah berjalan masuk rumah bersama Nenek Ani. Elfa melihat abangnya yang sedang menikmati opor ayam kesukaannya langsung berlari mnghampirinya, "Abang Al ...!" teriak Elfa sambil memeluknya dari belakang.


"Hai cantik ... mengapa sudah besar masih minta di temani Nenek, manja banget sih?"


"Cuma jemput El aja Bang, Nenek tidak nunggu di sekolah kok."


Gadis belia yang baru memasuki Sekolah Menengah Pertama itu memang manja dan sangat dekat dengan kedua neneknya selain lengket dengan papinya. Sifatnya yang sangat manja dan ceria selalu menjadi kesayangan seluruh keluarga. Dia akan sangat galak dan pemarah saat papinya di dekati orang yang tidak di kenalnya.


"Sudah besar di kurangi manjanya dong." Alfian mengajak rambutnya dengan gemas.


"Abang ... rambut El berantakan nich!" Elfa cemberut dan merapikan kembali rambutnya sambil cemberut.


"El mau makan atau ganti baju dulu?" tanya Mami MItha.


"El lapar Mami, makan dulu aja." Elfa duduk di antara Mami Mitha dan Papi Alfarizi.


"Nenek sini duduk dekat Abang, mengapa berdiri saja di situ?"


"Sehat Nek, Nenek jangan lupa jaga kesehatan, jangan selalu menuruti gadis manja itu," Alfian melirik Elfa yang menunggu Mami Mitha mengambilakan menu makan siang.


Mami ... Papi, El tidak manja Abang tuuuh baru datang sudah meledek El!" Elfa mengerucutkan bibirnya kesal karena di ledek abangnya.


"Sudah ayo makan, ributnya nanti setelah selesai makan saja!" Papi Afarizi menengahi agar tidak berlanjut.


"Wuuek ...!" Elfa menjulurkan lidahnya meledek sedangkan Alfian yang hanya menggelengkan kepalanya.


Bersama keluarga, Alfian bisa terhibur dan tidak terbayang gadis yang selalu ada di pikirannya. Bisa mengalihkan pikirannya yang sudah tercemar oleh tubuh polos gadis itu. Membuatnya sedikit terhibur dan tidak banyak termenung dan melamun.


Kamis sore seluruh keluarga dan keluarga Auntie Isya terbang menggunakan pesawat pribadi ke Riyadh. Mengantar Alfian yang sudah berakhir liburannya dan akan melanjutkan kuliah di sana. Juga memenuhi permintaan Umi Anna yang akan membicarakan sesuau yang penting,


Setelah satu hari beristirahat dan melepaskan rindu dengan cucu kesayangan, Umi Anna baru mengutarakan maksud memanggil putra dan menantunya ke Riyadh. Umi Anna dan Abi Ali bercerita kepada mereka di saksikan Nenek Ani tanpa ada Alfian. Akan menyampaikan kepada Alfian setelah mendapatkan persetujuan dari Papi Alfian, Mami Mitha dan Nenek Ani.

__ADS_1


Umi Anna dan Abi Ali bercerita jika mereka mempunyai teman bisnis orang Indonesia keturunan Arab memiliki gadis yang masih kuliah di Australia. Teman bisnis bernama Bahtiar yang tinggal di Dubai dan Bandung itu pernah melihat dua kali Alfian saat mereka berkunjung di rumah Umi Anna. Melihat Alfian yang kalem dan sopan mereka sangat menyukainya dan ingin menjodohkan putrinya dengan Alfian.


Umi Anna melihat karena selama kuliah Alfian tidak pernah memiliki pasangan atau kekasih. Cucunya adalah pemuda yang pendiam dan susah jatuh cinta kepada lawan jenis. Sehingga Umi Anna menyetujui teman bisnisnya saat tertarik dengan Alfian.


Putri pengusaha terkenal itu kuliah di Australia semester empat dengan jurusan kedokteran bernama Sandra Bahtiar. Gadis cantik, tinggi dan berambut panjang itu terlihat serasi saat fotonya di sandingkan dengan foto Alfian. Umi Anna sangat antusias ketika bercerita karena melihat kehidupan keluarga pengusaha Bahtiar.


Mami Mitha mengerutkan keningnya saat Umi Anna bercerita dengan antusias bercerita gadis cantik yang akan di jodohkan oleh putranya. Rasa tidak suka terbersik di hati karena tanpa di sadari Umi Anna melihat dari segi materi. Hanya saja Mami Mitha tidak menunjukkan ketidak setujuannya, dia menyadari jodoh ada di tangan yang Maha Kuasa.


"Alfian sepertinya punya pacar, Umi. Karena kemarin aku tidak sengaja mendengar ucapannya saat di kamar," cerita Mami Mitha setelah Umi Anna dan Abi Ali bercerita.


Papi Alfarizi yang tidak pernah tahu putranya memiliki kekasih langsung bertanya kepada istrinya, "Apakah Abang bercerita pada Mami?"


"Tidak Papi, Abang tidak bercerita kepada Mami. Tetapi sebaiknya Umi katakan saja sama Abang, asal tidak memaksa dan kita serahkan keputusannya pada Abang Al."


"Ya Papi setuju pendapat Mami, kita katakan saja kepada Abang. Asalkan kita tidak memaksa dan kita akan menerima apapun keputusan Abang."


"Baiklah Umi juga setuju. Bagaimana dengan Abi dan Ibu Ani?" tanya Umi Anna.


"Abi juga setuju."


"Ibu juga setuju."


Akhirnnya malam harinya mereka memanggil Alfian setelah makan malam. Menceritakan niat Umi Anna dan keluarga pengusaha Bahtiar yang ingin menjodohkan dirinya dengan Sandra Bahtiar. Mereka bercerita dengan terus terang perjodohan ini tidak memaksa karena baru niatan orang tua dari Sandra Bahtiar.


awalnya Alfin hanya mendengarkan cerita omanya tanpa berkomentar sepatah katapun. Pandangan matanya datar dan menerawang jauh ke villa miliknya. Hati kecilnya tidak rela setelah teringat dengan gadis itu.


"Bagaimana Bang, apa pendapat Abang tentang perjodohan ini?" tanya Mami Mitha.


"Di jodohkan Mami, tapi Abang ...?"


BERSAMBUNG


Sambil menunggu up jangan lupa mapir ya

__ADS_1


ini di NT juga lo dan rekoment banget



__ADS_2