Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Kena Hukuman


__ADS_3

Alfarizi bangun tidur sudah tidak ada Neng di sampingnya. Enggan membuka mata karena tidur sudah menjelang pagi. Masih dalam keadaan polos karena baju tidurnya masih terlipat rapi berada di samping bantal.


Masih malas untuk bangun dan turun dari tempat tidur. Kembali menarik selimut dan memeluk guling dengan erat. Ingin memejamkan matanya kembali karena masih mengantuk dan ingin tidur lagi.


Baru mau memejamkan mata, Neng datang dengan membuka pintu. Sambil menggelengkan kepala berniat membangunkan dengan menarik selimut, tetapi Neng sudah tertarik dan masuk dalam selimut, "Aaaa Papi!" teriak Neng karena kaget.


"Kita boyang lagi yuk!" bisik Alfarizi sambil memeluk sampai tidak bisa bergerak.


"Tidak mau Papi, Mami masih kesal tadi malam janji katanya mau bercerita sampai selesai, eee malah tertidur mulas setelah bergoyang. Padahal masih banyak yang ingin Mami tanyakan," gerutu Neng berusaha bangun dan keluar dari selimut dan kungkungan Alfarizi.


"Tanya apa pasti Papi jawab sambil ...?"


"Pokoknya tidak titik, cepat bangun dan mandi sana, Papi di tunggu Encang Ginanjar, Junaidi dan Surya!"


"Honey, ini sudah bangun lo senjata onta arab Papi, bagaimana dong?"


"Suruh tidur lagi aja, itu sebagai balasan tadi malam membuat kesal Mami." Neng langsung bangun dan berlalu meninggalkan Alfarizi sambil tersenyum devil.


"Mami ... raja tega ya sekarang, maafkan Papi ngantuk banget soalnya tadi malam!" teriak Alfarizi.


"Sudah di maafkan Papi, dengan syarat cepat mandi dan temui Encang Ginanjar. Papi kena hukuman di larang bergoyang sampai waktu yang belum di tentukan."


"Aaaaa ampun Mami hukumannya sampai sore saja ya. Nanti malam boleh bergoyang lagi, please!" Alfarizi memohon dengan suara menelas.


"Memangnya beli sayur bisa di tawar. Di lihat nanti aja."


Neng tersenyum devil sambil keluar kamar. Berhasil menggoda suaminya yang baru bangun tidur adalah hal yang menyenangkan. Padahal hanya bercanda agar matanya tidak ngantuk lagi dan bergegas mandi.


Neng mendengarkan Encang Ginanjar tentang peristiwa tadi malam. Beliau juga bercerita sampai sekarang belum bisa menggubungi Ayah Asep. Kemungkinan besar Ayah Asep mengganti nomor ponsel karena di hubungi dari kemarin tidak pernah tersambung.


"Jadi kemungkinan besar Ayah tidak tahu tentang tertangkapnya Ibu Kokom ya, Cang?" tanya Neng.


"Belum Neng Mitha, lebih baik ayahmu tidak tahu."

__ADS_1


"Mengapa begitu, Cang?" tanya Neng lagi.


"Jika ayahmu tahu pasti laki-laki gemblung itu pasti akan menolong mereka. Dia itu selalu menuruti semua permintaan wanita ular itu, Encang aja sampai jengkel dan kesal!"


Alfarizi datang dari kantai atas langsung menyahut dengan suara lantang, "Jangan di kabari Ayah Acep, Cang. Untuk sementara biarkan Ibu di penjara agar mereka tidak mempermainkan Ayah Asep lagi."


"Sampai berapa lama Ibu Kokom dan Esih di penjara, Papi?"


"Belum tahu dong Mami, tunggu keputusan hakim. Mami setuju, kan?"


Neng mengangguk walaupun agak ragu. Mungkin inilah jalan yang terbaik agar mereka tidak lagi membuat ulah. Agar mereka tidak mengganggu lagi kehidupan Ayah Asep yang tenang di Bogor.


Alfarizi duduk di samping Neng memanfaatkan momen tentang dia setuju, "Berarti Mami setuju juga hukumannya sampai sore saja, nanti malam Papi boleh tancap gas bergoyang lagi, kan?" bisiknya di telinga Neng.


Neng langsung melotot dan mencapit dengan kencang paha Alfarizi yang menumpang di kaki Neng saat duduk, "Auw ... sakit Mami!" teriak Alfarizi dengan keras.


"Ada apa Nak Al?" tanya Encang Ginanjar kaget.


Tidak ada yang berani tertawa lebar kecuali Ecamg Ginanjar dan Neng. Jika dihadapan istrinya Alfarizi bucin habis dan terlihat kocak. Padahal saat di hadapan para karyawan dia terlihat garang dan jutek, Surya dan Junaidi hanya tersenyum simpul saja.


"Surya bacakan laporannya pagi ini!"perintah Alfarizi dengan tegas.


"Siap Tuan, Roy pagi tadi melunjur bergabung dengan anak buah yang ada di Bogor. Yang di Bogor saat ini masih mengikuti Ayah Asep. Beliau melakukan kegiatan seperti biasa sampai pukul sepuluh pagi."


"Terus ...?"


"Seperempat jam yang lalu Ayah Asep pergi ke konter membeli ponsel, setelah di selidiki ternyata kemarin Ayah Asep nyunsep di parit dekat pangkalan. Ponselnya jatuh di parit dan mati total."


"Ha ha ha!" Encang Ginajar tertawa lepas mendangar carita Surya. Neng ingin tertawa tetapi takut dosa.


"Lanjutkan Surya!" perintah Alfarizi lagi.


"Sekarang ini mungkin nomor ponsel Ayah Asep sudah aktif kembali."

__ADS_1


"Perintahkan untuk tetap awasi Ayah, jangan sampai lengah!" perintah Neng.


"Satu lagi Tuan, pengacara hari ini masih mempelajari kasus peristiwa tadi malam, besok pagi kemungkinan baru akan ke kantor polisi menemui mantan istri dan putri tiri Ayah Asep."


"Ok sekarang kamu, Jun ada yang akan kamu laporkan?"


"Ya Tuan, saya akan melaporkan tentang Cek Kokom."


Junaidi bercerita mendapatkan kabar dari masyarakat sekitar rumahnya. Bahwa setelah menjual rumah yang ada di Bandung dia membeli rumah kecil dengan harga murah yang tidak jauh dari rumah Neng. Junaidi memastikan kebenaran itu ke ketua RT setempat.


Junaidi juga berpendapat jika Cek Kokom sudah mengetahui jika hutangnya sudah di bayar lunas oleh Neng. Kemungkinan besar Cek Kokom mempunyai rencana besar untuk bisa mendapatkan uang dari Neng. Dan mereka berniat pindah dari Bandung untuk tinggal di kampung.


"Saya punya usul Tuan!" kata Surya setelah Junaidi selesai bercerita.


"katakan apa itu?"


"Untuk menghindari masalah yang lebih besar ke depannya nanti, rumah yang di beli Cek Kokom sebaiknya Anda beli saja."


"Ide bagus itu, Encang aja yang membelinya. Dengan cara menyuruh masyarakat sini untuk membelinya." Encang Ginanjar membelikan solusi yang lebih baik.


"Maksudnya gimana Cang?" tanya Neng.


"Maksudnya kita jangan terlibat langsung dengan wanita ular itu, kita menyuruh masyarakat sekitar sini yang sudah mengenal dia. Pasti dia akan membutuhkan uang selama di penjara untuk berusaha keluar dari penjara."


Alfarizi mengangguk setuju dengan pendapat Encang Ginanjar. Sebaiknya memang kita menghindari berhubungan langsung dengan mantan istri Ayah Asep. Jika bisa jangan sampai dia tinggal di sekitar rumah Neng ataupun villa. Agar ke depannya nanti tidak akan membuat masalah lagi terutama dengan Neng atau Ayah Asep.


Surya mendapat kabar dari Roy jika dia sudah bergabung dengan anak buah yang ada di bogor. Roy mengirim pesan saat ini dia sedang duduk di angkot milik Ayah Asep. Sampai di perjalanan Ayah asep mendapat telepon dari seseorang. Dengan cepat Roy merekam percakapan Ayah Asep dan lansung di kirim ke Surya.


"Halo ya ada apa?" tanya Ayah Asep.


" .... " suara lawan bicara Ayah Asep, Roy tidak bisa mendengarnya.


"Ya ... aku ke sana sekarang!" suara ponsel Ayah Asep langsung di matikan.

__ADS_1


__ADS_2