
Esih berlari saat melihat ada ibu yang memiliki kontrakan berbicara dengan Abah, Ibu Ani dan Doni. Ada rasa tidak enak di hati saat mendengar ibu kontrakan membicarakan tentang uang kontrakan. Bisa menebak pasti Abah akan segera mengatasi masalah dan kesulitannya.
"Tunggu ...!" teriak Esih.
"Esih, maaf ya ... Ibu bercerita kepada Bapaknya Raffa kalau kamu belum membayar uang kontrakan selama tiga bulana ini," kata Ibu Kontrakan mendekati Esih.
"Bapaknya Raffa siapa, Bu?"
"La itu Dia yang berdiri di samping Raffa." Ibu kontrakan menunjuk kearah Doni.
Doni hanya melipatkan tanagannya di dada sambil tersenyum. Kemudian melihat ada ayah sambungnya yang berdiri di samping Ibu Ani, "Ayah maafkan Esih." Esih meraih punggung tangan ayahnya bersalaman dan mencium punggung tangannya bergantian pada Ibu Ani, "Ibu ... Saya Esih. Apakah Ibu istrinya Ayah yang baru?"
"Eee Bukan...!" Ibu Ani memundurkan badannya sambil melambaikan tangan.
"Maaf Bu."
Abah mendekati Esih dan mengamabil dompet yang berada di kantong celana, "Nanti saja bertanyanya. Berapa uang kontrakan yag harus di bayar?"
"Jangan Ayah ... Esih tidak mau merepotkan Ayah lagi. Besok Esih gajian Insyaallah bisa untuk bayar kontrakan."
Ibu Kontrakan yang tahu betul berapa gaji Esih langsung mendekati Abah, Kalau hanya gaji bulan ini tidak mungkin cukup untuk membayar kontrakan tiga bulan."
"Tapi Bu, bisa aku cicil karena Esih sudah mendapatkan pekerjaan ke dua menjadi buruh cuci di gang sebelah sana."
"Esih diam dulu, nanti berurusan dengan Ayah. Bu berapa uang kontrakan yang belum di bayar?" tanya Abah.
"Tiga bulan 1.8 juta, Pak."
Abah mengambil uang yang ada di lipatan dompet bagian dalam. Uangnya di dilipat kecil dengan diikat karet. Semua berwarna merah dan bergambar Soekarno dan Mohammad Hatta.
"Ini ada 2,5 juta Eee ... tunggu diambil satu lembar untuk Raffa, dan 2,4 juta untuk empat bulan." Abah memberikan uang kepada Ibu kontrakan dan Raffa.
"Terima kasih Pak, saya permisi."
Esih berlinang air mata melihat Abah membayar uang kontrakan langsung empat bulan. Rasa bersalah semakin besar ada di dalam hati. Seumur hidupnya selalu saja membuat ayah tirinya susah.
__ADS_1
"Maafkan Esih, Ayah. Esih memang tidak berguna selalu saja membuat Ayah repot." Esih semakin tergugu dengan menciumi punggung tangan Abah.
Raffa mendekati Esih ikut menangis, "Mama ... lauknya mana Raffa lapar?"
Esih semakin tergugu dan memeluk putranya. Rasa sakit dan merasakan tidak berdaya melihat putranya kelaparan. Berusaha mencari rezeki yang halal untuk putranya sangatlah berat, "Maafkan Mama, Raffa. Ayo kita masuk ini sudah Mama bawakan ayam kecap."
Abah sampai membuka matanya dengan lebar mendengar ucapan Esih. Esih hanya memakai tas slempang kecil tanpa membawa bungkusan ayam kecap yang di maksud. Kedua tangannya kosong tidak memegang apapun membuat heran di mana dia membawa ayam kecapnya.
"Eee Raffa Bapak ...?" Doni belum sempat melanjutkan ucapannya Raffa langsung menarik tanggannya.
"Mama, Bapak dan Abah tadi bilang juga belum makan. Apakah Mama hanya membawa satu potong ayam kecap seperti biasa?"
Esih yang awalnya berhenti menangis, kini kembali meneteskan air mata, "Maaf Nak, Mama Hanya kuat membeli satu potong untuk Rafffa saja."
"Ya Allah ya Tuhanku!" Ibu Ani ikut meneteskan air mata.
Ibu Ani bisa merasakan betapa berat perjuangan putri tiri dari Abah. Bisa merasakan kesulitan yang di alami berjuang mencari nafkah sendiri untuk putranya. Ibu Ani teringat perjuangan Neng Mitha saat hamil Alfian dulu.
"Raffa, Nenek juga lapar, yok temani Nenek makan. Raffa pingin makan apa?"
"Apakah di sana masakan Padangnya enak?" tanya Ibu Ani lagi.
Raffa menggelengkan kepalanya, "Raffa tidak tahu, Nenek. Dari dulu Raffa ingin makan di sana tetapi Mama belum punya uang."
Esih hanya menunduk sambil berlinang air mata. Sudah lama Raffa ingin makan di restoran yang terkenal laris dan kata masyarakat rasa yang enak. Takut harganya mahal sampai sekarang belum bisa membelikan.
"Doni, ayo kita makan di restoran Padang!"
"Iya Bu, ayo Raffa kita makan nasi padang!"
Senyum Raffa mengembang sambil mengusap air mata mamanya. Berjalan mengikuti Abah, Doni dan Ibu Ani dan Raffa menggandeng Esih. Berjalan dengan semangat karena sudah lama menginginkan makan di restoran yang menurutnya sangat mewah.
Sampai di restoran Raffa antusias memesan nasi satu porsi dengan lauk rendang daging. Memesan minum es teh dan Makan dengan lahap sambil tersenyum dengan wajah yang berseri-seri.
"Enak Raffa?" tanya Abah.
__ADS_1
"Enak sekali, Abah. terima kasih."
"Raffa mau tambah lagi rendang dagingnya?" taya Doni.
"Tidak Bapak, Raffa sudah kenyang."
Sementara Raffa makan dengan semangat dan bahagia. Esih menikmati makan nasi Padang dengan tangan bergetar. Teringat dulu sering diajak berfoya-foya oleh ibunya dengan menggunakan uang Abah yang di minta dengan paksa.
Abah mengalihkan pikiran Esih dengan bercerita tentang Doni dan Ibu Ani. Tentang cucu kandung yang sekarang sedang bulan madu ke Eropo. Bercerita sekarang berniat tinggal bersama putri kandungnya Neng Mitha.
Bercerita tujuan ke villa dan mampir ingin bertemu Raffa. Kebetulan hari ini adalah hari Sabtu, Abah berniat mengajak Esih dan Raffa untuk brkunjung ke Bekasi, "Raffa mau ikut Abah ke Bekasi?"
"Maaf Ayah, besok Esih tidak libur."
"Raffa saja yang ikut Abah, nanti Doni yang mengantar Raffa pulang."
"Mama, Raffa boleh ikut Abah dan Bapak. Raffa ingin teman sekolah bisa melihat kalau Raffa punya Bapak."
"Iya Nak, Raffa boleh ikut. Ayah sampaikan kepada Maminya Abang Al, Esih meminta maaf atas semua kesalahan Esih dan Almarhumah Ibu."
"Baik nanti Ayah sampaikan."
Malam itu mereka langsung pulang ke Bekasi. Papi Alfarizi juga masih beristirahat karena ada urat pinggang yang kecepit. Sehingga harus istirahat setelah di tangani tukang urut Alnertatif khusus yang mengetahui tentang urat syaraf.
Sementara Alfian dan Rania malam ini baru saja tiba di negara yang ke tiga yaitu di Negara yang terkenal dengan kincir angin yaitu Negara Belada. Negara yang terkenal yang memiliki bunga tulip ini menjadi tempat wisata di Eropa paling banyak dikunjungi setiap tahunnya.
Mereka sekarang ini berada di Amsterdam ibukota negeri kincir angin ini adalah salah satu tempat paling populer di Belanda. Jadwalnya besok pagi akan banyak sekali destinasi yang akan di kunjungi. Seperti De Waag, Dam Square, Vondelpark.
Malam ini Alfian sedang melakukan meeting bersama Julio secara online selama satu jam. Rania berada di kamar hotel sendirian. Dia menghabiskan waktu dengan menonton film di kamar sambil menikmati makanan ringan.
Perut Rania terasa melilit tiba-tiba, ada tanda akan datang tamu bulanan. Dia memegangi perutnya sambil nungging saat Alfian datang masuk kamar, "Sayang ... ngapain nunggging begitu, apakah sudah tidak tahan mau setor tenaga pada Abang?"
"Abang Tuan, perut Rani sakit. Akan ada tamu yang tidak diundang datang."
"Mana tamunya, biar Abang usir saja?"
__ADS_1