Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Pak Mil


__ADS_3

Alfarizi dan Neng keluar dari kamar mandi dengan bergandengan tangan, testpeck dipegang di tangan Alfarizi di sebelah kanan. Ibu Ani mengunggu dengan cemas di depan pintu kamar mandi. Melihat mereka keluar kamar mandi dengan tersenyum Ibu Ani merasa lega.


"Bagaimana Nak, positif?"


"Tidak Bu," Alfarizi menjawab sambil menyerahkan testpecknya ke Ibu Ani dengan keterangan bergaris satu.


"Kok bisa, apakah kalian tidak salah pakai?" tanya Ibu Ani bingung.


"Bisalah Bu, itu tastpack memakai urine Papi, kalau yang ini baru positif," jawab Neng menyerahkan testpeck yang dari tadi di sembunyikan di belakang badannya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha Nak Al ini absurt banget, pasti negatif lah, mana ada laki-laki melakukan pemeriksaan kehamilan!"


"Ini anggap saja permintaan ngidamnya bumil Bu, tadi-kan disuruh cek juga," jawab Alfarizi sambil ikut tertawa.


Pagi hari ini Neng tidak berangkat kerja baik di butik AA ataupun kofeksi. Desi sudah membuat janji dengan dokter obgym untuk pemeriksaan kehamilan. Rencananya setelah mengantar Alfian sekolah mampir di taman kota sebentar untuk mencari sarapan kesukaan Neng jika sedang main di sana. Selain es krim rujak Neng suka bubur ayam Bandung yang mangkal di sana tetapi sekarang bukan Neng yang ingin makan bubur tetapi Alfarizi.


"Honey, duduk di sini saja, Papi yang antri membeli buburnya, ok!"


Neng hanya tersenyum dan mengangguk, rasanya lucu melihat Alfarizi mau mengantri bersama banyak orang. Tidak merasa sungkan atau risih seperti orang kaya yang sok cool dan jaim. Dia yang lebih antusias sekarang karena dialah yang saat ini ngidam pingin bubur ayam.


Berdiri hampir setengah jam mengantri, sampai peluh menetes di pipi tidak di hiraukan oleh Alfarizi. Tampilan bubur ayam yang menggugah selera membuat Alfarizi tetap tidak menyerah sampai tiba di gilirannya memesan bubur, "Bang tiga porsi bubur ayam komplit, makan di sini!"


"Siap Bos, tambah sate atau tidak?"


"Yang ada sate apa saja, Bang?"


"Sate usus, hati ampela dan telur puyuh."


"Aku mau lima setiap macam satenya dibawa ke meja nomor lima ya Bang!"


"Ok di tunggu Bos, nanti kami antar."


Namanya juga Alfarizi, jika membeli sesuatu pasti dalam jumlah banyak. Saat semua pesanan sudah tersaji di meja Neng hanya menggelengkan kepalanya. Yang di pesan sauaminya itu seperti menu sarapan untuk tiga sampai lima orang atau lebih, satenya ada tiga piring.

__ADS_1


"Papi, apakah sanggup menghabiskan sarapan sebanyak ini?"


"Kita sekarang ini bertiga Honey, jadi sarapannya harus ada tiga porsi minimal."


"Mami hanya satu mangkok saja, karena yang ngidam Papi, Papi harus bisa menghabiskan semuanya!"


"Di lihat nanti Mami, ayo di makan!"


Kalau hanya satu mangkok saja memang kurang bagi Alfarizi, karena setiap pukul tiga pagi dia akan memuntahkan semua menu makan malam yang dia makan akhir-akhir ini. Hanya dalam sepuluh menit Alfarizi sudah menarik mangkuk ke dua untuk di santapnya, "Papi pelan-pelan makannya, tidak usah buru-buru!"


Alfarizi mengangguk dan tersenyum saat Neng mengusap bibirnya yang ada sisa bubur, "Terima kasih Honey, seharusnya pakai itu aja membersihkan sisa buburnya biar terlihat romantis!" Alfarizi menunjuk bibir Neng sambil tetap menikmati sisa bubur yang tersisa di mangkok.


"Ini tempat umum Papi, memang mau Papi di tangkap satpol PP?"


"Memang bermesraan dengan istri di depan umum juga di tangkap polisi?"


"Iya di tangkap, Papi mau coba?"


"Eeee tidak mau, kalau Papi di penjara bahaya."


"Jelas dong Mi, nanti kalau senjata onta arab Papi ingin bergoyang bagaimana?"


"Papi sih aneh-aneh saja."


Sambil berbincang Alfarizi menikmati bubur dengan lahap. Neng hanya mengambil beberapa tusuk sate. Sisanya satu persatu di makannya setelah bubur di mangkuk habis tanpa sisa.


"Sudah habis semua Mami, perut Papi kenyang banget."


"Lihatlah perut Papi jadi gendut, kita nanti saingan."


"Kalau yang ini jangan dong, Honey. Papi harus terlihat six pack dan kotak-kotak kayak roti sobek gitu, biar Mami terus tergila-gila sama Papi."


"Sudah aah, cepat dibayar Papi, ayo ke rumah sakit!"

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan satu jam Neng dan Alfarizi sampai di rumah sakit. Dokter Harry langsung menyambut adik angkat dan sahabatnya setelah mendapatkan pesan WA dari Neng saat mereka dalam perjalanan ke sana. Rasa bahagia mendengar adiknya akan memiliki momongan membuat Dokter Harry langsung menyambut mereka.


"Hai ... Bro, selamat ya kamu tok cer juga." Dokter Harry langsung memeluk Alfarizi dengan erat.


Perut Alfarizi yang sangat kenyang terasa mual setelah mencium parfum Dokter Harry. Rasanya perut seperti di aduk dan di kocok dengan cepat, "Kakak Ipar mengapa parfumnya bau banget? ... huuuek ... huuuek!"


"Papi ... ayo ke kamar mandi itu cepetan, jangan muntah di sini!"


Dengan telaten Neng menggandeng Alfarizi ke kamar mandi yang tidak jauh dari tempat dia bertemu dengan Dokter Harry. Dokter Harry mengikuti Alfarizi dan Neng sambil terkekeh dan menutup mulutnya. Seorang dokter pasti tahu saat melihat Alfarizi muntah dan mual.


Sampai kamar mandi dua mangkuk bubur dan setumpuk berbagai macam sate keluar semua sampai habis. Alfarizi sampai menggelengkan kepalanya karena mulutnya terasa pahit baru perutnya tidak mual lagi. Untung saja Neng selalu membawa air mineral di dalam tasnya.


"Minum dulu Papi, biar tidak pahit mulutnya!"


Alfarizi langsung menenggak air mineral dengan cepat sampai habis tanpa sisa, "Kok Mami tahu mulut Papi pahit, Papi belum cerita lo!"


"Dulu saat Mami hamil Al juga seperti itu Papi, ini Papi mending ada Mami yang merperhatiin Papi, Dulu Mami benar-benar sendiri sebelum bertemu dengan Ibu Ani."


Alfarizi langsung memeluk istrinya dengan erat, air matanya langsung menetes mengenai pundaknya. Rasa bersalah itu kini mulai muncul kembali setelah melewati kebahagiaan yang di alami. Membuat Dokter Harry tergelak dan memukul pundak Alfarizi, "Dasar lebay ... ayo cepat di tunggu Dokter Obgym!"


"Kakak Ipar ini, tidak lihat apa aku lagi galau, mengganggu saja!" Alfarizi mengerucutkan bibirnya karena kaget.


"Sabar Bang Harry, ini lagi jadi Pak Mil dia!"


"Apa itu Pak Mil, Mitha?" tanya Dokter Harry.


"Bapak yang ngidam karena istri Hamil."


Dokter Harry semakin tertawa lebar karena julukan Alfarizi dari istrinya sekarang lebih absurt lagi dari Pohon Pisang sekarang menjadi Pak Mil, "Al ... Al kamu ini selalu saja membuat adikku memiliki pikiran yang aneh-aneh, tetapi terima kasih sekarang Mitha terlihat bahagia, wajahnya semakin berseri-seri."


"Terima kasih juga sudah menjaga istriku selama ini."


Mereka berjalan beriringan menuju ruang dokter obgym yang sedang prakter. Karena asyik berbincang Alfarizi hanya memperhatikan sekilas nama dokter yang tertera di samping pintu, "Tunggu sebentar, siapa kemarin yang membuat janji dengan dokter, aku tidak mau istriku di periksa oleh dokter bejat ini!"

__ADS_1


"Eee ada apa sih, Papi?"


__ADS_2