
Setelah Alfarizi mendapatkan hukuman dari Neng malam itu Neng memilih mengajak Alfian tidur di kamarnya lelama wisata dari Hongkong. Kembali ke Riyadh selama tiga hari untuk menunaikan ibadah umroh bersama keluarga Fano. Ibadah di lakukan dengan khusuk tanpa ada drama dan pertengaran sampai tahapan demi tahapan selesai tepat waktunya.
Hari Minggu sore pesawat kembali ke Indonsia bersama seluluh keluarga termasuk keluarga Fano. Hanya Umi Anna dan Abi Ali yang tidak ikut kembali ke Jakarta. Hampir menjelang pagi tiba di Bandar Udara Sukarno-Hatta. Kembali ke rumah dengan hati yang bahagia terutama Alfian.
Bisa berwisata dengan seluruh keluarga adalah impiannya sejak belum bertemu dengan papinya kini sudah terwujud. Beban di hati Neng juga sedikit demi sedikit berkurang seiring berjalannya waktu. Luapan cinta dari Alfarizi kepada istri dan putranya juga mengubah pandangan Neng menjadi lebih baik sekarang.
Alfian hanya sempat beristirahat sekitar beberapa jam saja. Dia tetap semangat menjalankan aktifitasnya hari ini masuk sekolah hari pertama setelah kenaikan kelas dua minggu yang lalu. Pagi ini meminta ke dua orang tuanya untuk megantarnya ke sekolah.
"Mami, Papi hari pertama sekolah Al mau di dampingi Mami dan Papi."
"Iya Nak, Papi siap antar Al sekolah, tunggu Papi persiapkan mobilnya."
Berjalan menuju garasi mobil di temani oleh Neng yang juga akan mengecek mobil miliknya. Saat Neng ingin membuka pintu mobilnya Alfarizi sengaja memeluk Neng dari belakang. Sengaja senjata onta arab di tempelkan sempurna di badan Neng bagian belakang.
Neng menjadi tersentak kaget karena mengira suaminya itu mendekati mobilnya sendiri. "Papi, katanya mau mempersiapkan mobil, apa lagi itu di tempelkan di situ?"
"Hari ini hukumannya selesai. Papi boleh buka puasa, kan?"
"Tidak sekarang juga dong Papi, nanti Al terlambat sekolah, cepat sana!"
"Sebentar aja Mami, Papi mau pemanasan dulu." Alfarizi sengaja menggesekkan senjata onta arab pada ****** Neng dengan cepat.
"Papi, geli tahu, mengapa di gesek-gesekkan gitu?"
Alfarizi hanya terkekeh dan terus memeluk dari belakang. Terus saja menggosok-gosokkan senjata onta arab perlahan. Neng berbalik badan dengan cepat, "Kalau Papi modus di garasi, Mami tambahin lagi nich hukumannya, mau?"
"Eeee no, jangan di tambah lagi hukumannya, bukan hanya mati berdiri nanti Papi, nanti Papi mati berlari."
"Garing tau, ayo cepat antar Al sekolah sekarang!"
Pagi itu dengan di gandeng Mami dan Papinya Al masuk kelas barunya dengan bahagia. Dari masuk Sekolah Dasar baru kali ini saat mengawali semester baru ada papi yang mendampingi. Dulu dia hanya memendangi keharmonisan keluarga itu pada teman-temannya.
__ADS_1
"Terima kasih Papi, dulu setiap awal semester Al selalu iri pada teman Al yang masuk kelas dengan bergandengan tangan seperti ini."
"Mulai dari sekarang Papi akan selalu mendampingi Al dalam momen penting yang lain, Papi sangat sayang Al dan Mami."
"Al juga sayang Papi dan Mami."
"Al masuk kelas, Mami pulang dulu ok!"
"Iya Mami, terima kasih."
Dalam perjalanan pulang ke rumah Alfarizi selalu melirik istrinya yang sedang konsentrasi pada ponselnya. Neng sedang membaca email yang masuk di ponselnya dari Desi. Alfarizi menarik tangan kanan Neng di menggenggamnya dengan erat.
"Mami jangan ke kantor dulu ya hari ini!"
"Mami banyak pekerjaan, Papi."
"Sehari ini saja, plaese!"
"Sepuluh hari yang efektif cuma tiga hari Honey, sisanya hukuman yang sangat menyiksa. Mami tega banget sih!"
Neng hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya semakin hari Alfarizi semakin absurt jika sedang berdua. Rasa cintanya selalu di tunjukkan dengan mengajaknya bergoyang dan bergoyang lagi. Perubahan sikapnya sekarang ini selalu membuat hatinya bisa tersenyum dan bahagia.
Sampai di tikungan jalan sepi Neng melihat ada seorang laki-laki yang di kejar dua orang preman yang berbadan kekar. Siluet tubuhnya tidak asing lagi bagi Neng walau baru dua kali bertemu dengannya. Dia berlari menyusuri jalan pinggir parit seberang jalan yang dialui oleh Neng.
"Papi lihatlah bukankah itu Bang Doni?" Neng menunjuk ke arah Doni yang terus berlari menyusuri jalan pinggir parit.
Alfarizi melihat laki-laki yang selalu memakai baju lusuh dan tanpa alas kaki berlari searah dengan jalan mobilnya, "Iya Mami, dia putra dari Ibu Ani."
"Kasihan Papi ayo kita tolongin dia!"
"Ok, Papi teriakin dia agar menyeberang ke sini."
__ADS_1
"Tunggu Papi, sebaiknya Papi bunyikan klakson terlebih dahulu, siapa tahu orang yang mengejarnya berhenti mengejarnya!"
"Ide bagus Honey."
Sambil menyetir megimbangi larinya Doni, Alfarizi menyetir mempercepat lajunya mobil kemudian menekan klakson dengan cepat, "Tiiin ... tiiin ...tiiiiiiiiin!"
Suara klakson Alfarizi mengagetkan banyak pengendara yang lewat. Mobil yang dari arah depan atau yang ada di belakangnya semua menengok kearah tiga orang yang sedang berlari. Ada pengendara motor dan orang pejalan kaki ikut melihat arah orang yang sedang berlari menelusuri parit.
Doni menengok kearah mobil Alfarizi sambil tetap berlari kencang. Ke dua preman yang mengejar Doni perlahan mengurangi kecepatan karena banyak yang memperhatikan mereka. Kembali Alfarizi membunyikan klakson mobilnya, "Tiin ... tiiiin ... Doni!"
Doni dengan spontan melompati parit dan berlari kencang mendekati mobil Alfarizi. Alfarizi menyalakan lampu sen untuk menepi. Mobil berjalan pelan, masih sambil berlari Doni membuka pintu mobil dan naik dengan cepat.
Dengan napas yang tersengal dan keringat yang bercucuran Doni merebahkan tubuhnya di jok mobil belakang, "Terima kasih Tuan Al, terima kasih Anda telah menyelamatkan nyawa saya."
"Ini minum dulu Bang!" Neng memberikan satu botol air mineral kepada Doni yang masih bernapas ngos-ngosan.
"Terima kasih Nyonya."
"aku adikmu Bang, jangan panggil seperti itu, kita memiliki Ibu yang sama walaupun bukan Ibu kandung."
"Maaf, terima kasih aku merasa tidak pantas Anda sangat baik terhadap Ibu sedangkan aku ...!" Doni tidak lagi melanjutkan ucapannya. Dadanya terasa sesak saat mengenang perbuatannya kepada ibu tirinya.
"Bang Doni, semua orang pernah salah, aku juga pernah melakukan kesalahan yang besar, tetapi kita masih bisa memperbaikinya asal niat dengan tulus." nasehat Alfarizi akhirnya mengakui dia sebagai abangnya karena melihat kesungguhan dia bertaubat.
"Terima kasih sudah mau menganggap saya saudara, terima kasih." Doni meneteskan air matanya tanpa terasa setelah mendengar putri angkat dari ibunya mau menerima dia dengan sepenuh hati.
Doni mengambil napas panjang duduk di jok mobil membuka botol air mineral di tenggak satu botol tanpa sisa. Rasa lega dan tenang mulai di rasakan Doni setelah bisa lepas dari dua orang yang mengejarnya. Kembali Doni mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Sekarang ceritakan, memgapa tadi kamu bilang telah menyelamatkan nyawamu, ada apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Alfarizi setelah melihat Doni mulai tenang.
"Mereka akan membunuh saya."
__ADS_1
"Apa yang Abang lakukan, mengapa mereka ingin membunuh Abang?" tanya Neng penasaran.