Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Pak Tua


__ADS_3

"Selamat pagi, Pak. Apakah Anda tahu siapa yang baru saja berkunjung di makam Ibu kami?" tanya Alfarizi.


"Saya tidak mengenal namanya Tuan, tetapi dia datang setiap satu bulan sekali, saya pernah menanyakan namanya dia hanya tersenyum saja. Jadi saya sering memanggil dia dengan sebutan Pak Tua."


"Berapa kira-kira umurnya Pak Tua itu, Pak?" tanya Neng penasaran.


"Rambutnya sudah putih semua, kemungkinan seumuran dengan Tuan yang ini, Nyonya. Badannya kurus setiap kesini dia memakai motor metik warna merah," jawab Penjaga makam sambil menunjuk Abi Ali yang berada di samping Umi.


"Baiklah Pak terima kasih. Maaf telah mengganggu waktunya, tolong terima ini sebagai tanda terima kasih kami sudah menjaga makam ibu kami." Alfarizi memberikan lima lembar uang berwarna merah.


"Terima kasih Tuan, semoga di lancarkan rezekinya."


"Aamiin."


"Apakah kemungkinan itu Ayahmu, Nak Mitha. Karena seumuran dengan Abi?" tanya Umi Anna.


"Tapi mengapa rambutnya sudah putih semua, Abi kan masih ada yang hitam?" tanya Abi Ali heran.


Neng hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Seharusnya Ayah Asep dan Abi Ali umurnya lebih tua Abi Ali tetapi Abi Ali masih terlihat muda dan belum banyak ubannya. Neng terus mengingat siapa lagi selain Ayah Asep yang kemungkinan yang berkunjung di makam ibu.


"Ayo kita pulang Honey, nanti Junaidi yang akan mencari tahu siapa yang berkunjung ke sini setiap bulan, ok!"


"Iya Papi, terima kasih."


Dalam perjalanan pulang, Neng masih termenung dan menyebut berkali-kali nama pak tua dalam hati. Membayangkan wajah ayahnya yang kini semakin menua. Di mana dan bersama siapa ayahnya kini, gumam dan pertanyaannya dalam hati.


Alfarizi memeluk Neng dari samping sambil mengelus perutnya dengan lembut. Seolah mengingatkan agar bersabar ada putrinya yang ada dalam rahimnya perlu juga di pikirkan. Memahami pasti istrinya sedang memikirkan keberadaan ayah kandungnya yang kini entah di mana.


"Sabar Mami, Ayah pasti ketemu."


"Iya Pi ...."


"Sudah berapa tahun Nak Mitha tidak bertemu dengan Ayah?" tanya Abi Ali penasaran.


"Sepuluh tahun mungkin lebih Abi, aku sudah lupa."

__ADS_1


"Lupakan masa lalu Nak, jangan menyimpan dendam dalam hati. Dendam akan membuat kita tidak akan hidup tenang, akan selalu menggerogoti hati." Umi Anna menasehati Neng.


"Iya Umi, Abi terima kasih. "


Sampai villa, Neng langsung masuk kamar untuk beristirahat. Seluruh keluarga masih berkumpul, bercanda dan menikmati suanana asri pegunungan yag sejuk. Mereka berada di taman belakang villa sambil menikmati jagung bakar dengan riang.


Neng merebahkan tubuhnya di tempat tidur, miring dan memeluk lututnya. Pikirannya di penuhi sosok wajah ayah dan ibunya, senyum dan tawa mereka saat dulu masih bersama seperti terngiang di telinga. Hati terasa nyeri setelah teringat terakhir kali mendengar suaranya saat berteriak di depan pintu gerbang villa saat ayah akan menikah lagi.


Antara rindu, iba dan khawatir kini berkecambuk di hati Neng. Di sertai bawaan bayi yang sering baper, kini hati Neng sedang di rundung kegalauan. Ada penyesalan mengapa dulu selalu dendam dan membencinya, mengapa dulu meninggalkan dia begitu saja walau bagaimanapun juga dia tetaplah ayah kandungnya.


Alfarizi tahu jika istrinya tidak tidur, masih teringat sosok pak tua yang di ceritakan oleh penjaga makam. Dia langsung ikut berbaring dan memeluk istrinya dari belakang, "Honey ...."


"Hhmm ...."


"Apakah masih teringat dengan Pak Tua berambut putih?"


"Hhmm ..."


Alfarizi ingin mengalihkan perhatian istrinya yang baper bawaan ibu hamil dengan membahas hadiah yang tadi pagi di terimanya, "Honey, mengapa inisial di cincin itu AM, seharusnya AN?'


Neng langsung membalikkan badannya kearah Alfarizi. Melihat dia sedang memutar cincin yang berinisial Am rancangannya sendiri, "Mami lebih suka dengan nama Mitha, jika nama Neng selalu saja mengingatkan Mami pada ayah Asep, nama Neng adalah nama panggilan kesayangan Ayah pada Mami, sedangan Ibu dulu selalu memanggil Mami dengan nama Mitha."


"Dijari Papi sudah ada cincin kawin, mengapa harus di pakai lagi yang ini tidak usahlah!"


"Harus dong Mami, ini adalah cincin yang paling berharga dan terindah buat Papi, ayo pakaikan!"


"Mengapa begitu?" tanya Neng sambil memakaikan cincin.


"Karena di balik cerita cincin inilah akhirnya Papi tahu ternyata istri Papi ini sangat mencintai Papi, Papilah cinta pertama dan terakhir Mami, I love you so much."


Neng tidak menjawab ucapan suaminya, dia memilih mendekatkan wajahnya di dadanya. Alfarizi langsung memeluknya dan mengecup keningnya berkali-kali. Alfarizi mulai modus merayu dengan kata-kata yang memabukkan dan membuat melayang yang mendengarnya. Saat Alfarizi tangannya mulai ingin beraksi tetapi diurungkannya karena mendengar suara napas Neng yang teratur.


"Yaaah, Mami ini bagaimana sih, Papi sudah merayu, merangkai kata yang indah menciptakan moment indah yang tak terlupakan saat Papi ulag tahun. Eee malah tidur pulas, daaah deh merana niiih senjata onta arab Papi," gumam lirih Alfarizi kembali mendekap istrinya yang terlelap dalam tidurnya.


Setelah setengah jam mendekap istrinya yang tertidur lelap, sambil tersenyum sendiri akhirnya Alfarizi turun dari tempat tidur setelah menggantinya dengan guling. Keluar kamar mencari Junaidi dan Surya, ternyata mereka sedang berbincang dengan Dokter Harry dan Fano di halaman belakang villa.

__ADS_1


"Jun ... Surya!" teriak Alfarizi dari kejauhan.


"Ya Tuan ...." jawab Surya dan Junaidi bersamaan.


"Apakah kalian bisa mencari informasi tentang Pak Tua itu sekarang juga?"


"Siapa Pak Tua itu, Tuan?" tanya Surya.


Akhirnya Junaidi bercerita sekilas tentang peristiwa saat berziarah ke makam ibu kandungnya Neng. Dia juga bercerita sudah hampir tiga bukan ini mencari informasi tentang keberadaan Ayah Asep dari tetangga sekitar villa. Mencari silsilah keluarga Ayah Asep yang masih ada di sekitar villa tetapi tidak menemukannya.


"Baiklah, ayo Jun, kita cari CCTV yang ada di sekitar makam!" perintah Surya.


"Ok Bang, kita pinjam motor milik security saja biar lebih cepat."


Sementara Junaidi dan Surya keluar villa untuk mencari informasi tentang pak tua. Alfarizi duduk bergabung dengan Dokter Harry dan Fanno. Bahkan Dokter harry mengerucutkan bibirnya melihat kelakuan bosnya yang semena-mena terhadap anak buahnya yang seharusnya libur masih di perintahkan untuk bekerja.


"Tega banget sih anak buah mau liburan harus kerja rodi, dasar bos kejam," kata Dokter Harry sambil melempar kulit kacang yang sedang di nikmatinya.


"Sirik aja nich Abang Ipar," seloroh Alfarizi ikut menikmti kacang yang ada di depannya.


"Apakah Kak Mitha belum menemukan ayahnya, Bang?" tanya Fano.


"Belum, kemungkinan Pak Tua itu ayah mertuaku,"


"Jangan berharap besar dulu Bro, siapa tahu bukan ayah mertua melainkan kakak dari ayah mertua." Kembali Dokter Harry memberikan pendapatnya.


"Mengapa Kakak Ipar bilang begitu apa alasannya?"


"Ini analisaku, kamu dan Mitha beda usia 12 tahun, seharusnya ayah mertuamu lebih muda dari Abi Ali, tetapi yang datang ke pemakaman Pak Tua berambut putih, berarti kemungkinan besar dia bukan ayah mertuamu."


"Jadi dia siapa dong?"


BERSAMBUNG


******

__ADS_1


Ini promo hari ini ya mampir yok



__ADS_2