
Encang Ginanjar marah besar setelah mendengar Cek Kokom mengajukan permintaan ingin bertemu dengan Ayah Asep. Beliau tidak setuju dengan permintaan itu, "Tidak Al, Encang tidak setuju. biarkan saja dia membusuk di penjara!" teriak Encang Ginanjar dengan emosi.
"Sebaiknya bilang saja kepada tersangka jika kita tidak tahu di mana keberadaan Ayah Asep, Tuan," usul Surya.
"Ya kamu hubungi pengacara sekarang, bilang kita tidak mengetahui tentang Ayah Asep. Teruskan saja tuntutan kita!" perintah Alfarizi.
"Satu lagi Al, sebaiknya suruh pengacara untuk bertanya pada wanita ular itu di mana laki-laki gemblung itu tinggal?"
"Maksud Encang, kita mengetes kejujuran mantan istri Ayah Asep?" tanya Alfarizi.
"Ya seperti itu."
"Baik Cang."
Satu minggu berlalu tanpa ada kesepakatan antara Alfarizi dan Cek Kokom. Cek Kokom tidak mengetahui di mana Ayah Asep tinggal. Pihak Alfarizi juga mengatakan hal yang sama sehingga ke duanya belum ada kesepakatan.
Sudah dua minggu Alfarizi mengawasi Ayah Asep dalam kesehariannya. Sampai saat ini beliau belum tahu kabar tentang mantan istrinya. Beliau masih semangat mencari rezeki tanpa lelah dan terlihat bahagia serta sehat.
Dua minggu berlalu kasus tidak ada perkembangan membuat Neng mulai gelisah. Kecemasan Neng semakin meningkat setelah mantan ibu tirinya itu masih kekeh ingin bertemu dengan ayahnya. Dia selalu melamun dan termenung memikirkan apa yang akan terjadi saat ayahnya menemui mantan istrinya.
Neng jarang bisa konsentrasi bekerja padahal saat ini Desi sedang hamil muda. Hanya Mpok Atun yang sering diandalkan oleh Neng untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan Doni sekarang memiliki lebih banyak pekerjaan karena membantu Mpok Atun.
Hari Jum'at Alfarizi pulang sebelum istirahat siang karena menghubungi Neng berkali-kali tidak di angkat. Ponsel Neng masih aktif tetapi tidak ada jawaban membuat Alfarizi khawatir. Tanpa pikir panjang dia langsung pulang setelah mencari di butik AA tidak ada.
Sampai di rumah Alfarizi melihat Bibi Siti dan Elfa sedang bermain di ruang bermain, "Bibi, di mana Nyonya?"
"Nyonya ada di kamar, katanya tidak enak badan. Setekah minum obat Nyonya langsung beristirahat."
"Pi ... Pi ... Pi!" teriak Elfa memanggil papinya dengan riang.
Gadis balita yang belum genap satu tahun setengah dan baru belajar berjalan menyambut papinya dengan gembira. Dia langsung berjalan tertatih-tatih mendekati papinya dengan riang. Tangannya di rentangkan ingin digendong Alfarizi.
"Elfa mau di gendong Papi?"
"Ya ... Pi ... Pi!"
Alfarizi langsung menggendong putri kecilnya. Mencium pipi kanan dan kiri, "El bermain sama Bibi lagi ya!"
__ADS_1
Alfarizi langsung berkari ke lantai atas setelah menyerahkan putrinya kepada Bibi Siti. Rasa khawatirnya semakin besar setelah mengetahui istrinya tidak enak badan. Masuk kamar dengan membuka pintu perlahan melihat Neng yang berbaring di tempat tidur memakai selimut tebal.
"Honey ...."
Neng tertidur mulas setelah minum obat sehingga tidak mendengar saat ponselnya berdering. Alfarizi langsung berganti baju setelah meletakkan tas kerjanya. Duduk di pinggir tempat tidur memeriksa suhu tubuh Neng di dahi dan di telapak tangan. Suhu tubuhnya sangat tinggi, Alfarizi menanggalkan pakaiannya hanya tinggal CD saja dan di letakkan di samping bantal. Membuka kancing baju Neng perlahan.
Neng terbangun saat ada yang membuka kancing bajunya, membuka sedikit matanya dan berkata lirih, "Papi, jangan mengajak bergoyang, Mami tidak enak badan," katanya lirih.
"Iiih jangan su'uzon terus sama suami, Papi mau skin to skin biar suhu tubuh Mami cepat turun."
"Hhmm ...."
Alfarizi berbaring masuk di dalam selimut memeluk Neng tanpa terhalang benang sehelaipun. Memeluk dengan erat untuk mengurangi suhu tubuh yang tinggi. Sesekali tanganya memeriksa dahi dan pipi Neng sudah turun atau belum suhu tubuhnya.
"Diam Papi jangan bergerak terus, Mami mau tidur!"
"Iya Honey tidurlah!"
Semakin erat Alfarizi memeluk Neng, menyalurkan suhu tubuhnya yang hangat agar berkurang panasnya. Ikut memejamkan matanya agar otaknya tidak tertuju pada senjata onta arab yang mulai menegang. Tidak bisa di pungkiri, memeluk istrinya dalam keadaan polos pasti otaknya akan traveling dengan liar.
Menahan rasa dengan sekuat tenaga, sambil memejamkan mata. Akhirnya ikut tertidur setelah Neng kembali terlelap dengan napas yang teratur. Hampir satu jam berlalu mereka tertidur sambil berpelukan.
Perlahan Alfarizi turun dari tempat tidur dan mengenakan baju kembali. Membetulkan selimut istrinya agar tetap terlelap. Keluar dari kamar untuk meminta air hangat untuk mengompres.
"Bu, ada air hangat?" tanya Alfarizi kepada Ibu Ani.
"Ada Nak, apakah Neng Mitha masih panas?"
"Sudah turun sih Bu, tetapi belum normal."
"Ini air hangatnya, di kompres saja dulu Neng Mithanya. Ibu buatkan bubur dan teh hangat," kata Ibu Ani memberikan air hangat di wadah kecil.
"Iya Bu."
Alfarizi kembali ke kamar dengan langkah panjang. Sampai di kamar melihat istrinya sudah terjaga dan ingin bangun, "Honey, jangan bangun dulu!"
"Mami haus, Pi. Mau minum."
__ADS_1
"Minum teh hangat atau air putih?"
"Terserah Papi aja."
"Ini air putih saja dulu, ayo minum Papi bantu."
Neng hanya minum beberapa teguk saja, "Sudah Pi, mulut Mami rasanya pahit."
"Berbaring lagi, papi kompres dulu ya!"
Neng berbaring, baju masih terbuka belum sempat di tutup. Alfarizi membuka selimut dan meraih baju Neng untuk di kancingkan, "Mau apa lagi sih, Pi. Jangan macam-macam!"
"Mami my Honey, pikiran Mami yang macam-macam kali ya, Papi mau mengancingkan baju Mami yang masih terbuka. Tidak mungkin Papi tega mengajak Mami bergoyang walaupun senjata onta arab Papi sudah terbangun dari tadi."
"Ooo maaf, habisnya Papi kerjaannya modus sih. Jadi Mami ketularan otaknya seperti Papi."
"Ha ha ha ... Mami bisa aja."
Setelah kancing baju tertutup dan Neng berbaring kembali. Alfarizi mengompres menggunakan sapu tangan handuk di dahi nya, "Jangan terlalu memikirkan kasus mantan isri Ayah Asep, Honey. Semua pasti akan baik-baik saja."
"Mami tidak memikirkan itu, Pi."
"Akhir-akhir ini Mami sering melamun, apa yang di pikirkan sih?"
"Mami hanya kepikiran Ayah saja."
"Ayah Asep sehat dan baik-baik saja. Mami harus ikhlas tentang Ayah Asep. Di manapun beliau berada yang penting kita masih bisa melihat dan mengawasi."
"Hhmm ...."
"Ingat Honey, Papi, Al dan El sangat menyayangi Mami, kami sangat membutuhkan Mami, ingat itu!"
"Apa sih, Pi. Memangnya Mami mau ke mana?" tanyanya kesal tetapi suara lirih seperti tidak ada tenaga.
"Maksudnya Mami harus semangat, jangan berpikir macam-macam lagi. Jangan pikirkan Ayah Asep, kalau tidak turun panasnya kita ke rumah sakit ya?"
"Tidak mau Papi, panggilkan Bang Harry saja ya."
__ADS_1
"Eee jangan panggil kakak ipar, nanti dia malah pegang-pegang Mami. Papi tidak suka."