
Julio harus memutari area gedung tempat resepsi dan lobi hotel. Matanya menyapu seluruh area hotel, Lorong dekat lift juga tidak luput dari pengawasannya. Dia langsung keluar hotel setelah di dalam tidak ada, mencari di halaman dan parkiran yang berada di samping hotel.
Saat fokus melihat pos security terdengar suara ramai, tertawa dan bercanda. Julio mengenali suara seorang wanita yang tidak asing baginya. Dia langsung berlari mendekati pos untuk memastikan.
Melihat Titin Suhartin yang masih memakai baju kebaya. Duduk di antara beberapa security tertawa lepas dan bercanda tanpa beban. Semua terdiam setelah kedatangan Julio terutama Titin suhartin.
"Bu ... mangapa masih di sini?"
"Jam segini sudah tidak ada kendaraan umum untuk pulang," jawabnya jutek.
"Mengapa tidak ikut Nyonya Mitha pulang ke rumah Abang Al?"
Titin Suhartin hanya menggelengkan kepalanya tidak berani ikut pulang. Nyalinnya ciut saat teringat ancaman penjara setelah tanda tangan perjanjian satu minggu yang lalu. Dia juga merasa di cuekin oleh semua keluarga saat acara resepsi, hanya Rania yang terkadang masih memperhatikan di sela-sela menyambut tamu yang datang.
"Aku tidak berani ikut, takut melanggar perjanjian itu, aku mau pulang saja."
"Ayo ikut Bu, ada sopir yang mengantar Ibu pulang."
"Ya terima kasih,"
Julio menghubungi Alfian hanya menggunakan WA. Takut mengganggu malam bersama istrinya. Julio tahu betul apa yang di lakukan tuannya pasti berperang badan dengan istrinya.
"Bang, Ibu mertua Anda masih di sini, tadi dia sedang merbincang dan bercanda dengan security, katanya mau pulang tetapi sudah tidak ada angkutan umum." tulis Julio dalam pesannya.
Sampai di lobi hotel, Julio menunggu jawaban dari Alfian. meminta Titin Suhartin untuk duduk di sofa dekat meja resepsionis, "Bu silahkan duduk di sini dulu!"
Titin Suhartin menjawab dengan mengangguk, tetapi matanya jelalatan melihat area hotel. Dia mengagumi hotel bintang lima dengan fasilitas yang sangat mewah. Matanya berbinar saat melihat lalu lalang orang yang keluar masuk hotel dengan penampilan yang mewah.
Setelah sepuluh menit menunggu Julio mendapat jawaban dari Alfian, "Sewakan kamar hotel yang single bed saja kasihan. Besok pagi sopir kantor saja suruh mengantar Ibu pulang!"
__ADS_1
"Siap Bang."
Julio langsung memesan kamar untuk Titin Suhartin satu malam. Mendapatkan kunci pintu kamar hotel bergegas memanggilnya, "Bu, malam ini Anda menginap di hotel saja sampai besok. Mari ikut saya!"
Titin Tuhartin tersenyum dan mengangguk mengikuti langkah panjang Julio menuju kamar hotel. Senyumnya tidak hilang dari bibir bisa menginap di hotel bintang lima. Kesempatan langka yang tidak di bayangkan sebelumnya bisa tidur di kamar mewah.
"Silahkah Ibu, besok akan ada yang menjemput Ibu untuk pulang ke desa!"
"Terima kash."
Di kamar hotel Alfian selesai membalas pesn WA dari Julio. kembali menyedot tenga Rania untuk ke dua kalinya. Bahkan Rania belum sempat mengenakan baju setelah mandi tadi.
Tumbang di smping Rania setelah mencapaipuncak berdua. Sambil memeluk Rania dari samping, Alfian kembali bertanya, "Sudah di pikirkan, Rani mau meminta hadiah apa dari Abang?"
"Rani boleh minta jalan-jalan ke Labuan Bajo?"
"Tentu, mau berapa hari?"
"Rani istrirahat dulu, Abang akan mencari Julio untuk merencanakan pesawat ke sana."
Julio yang ada di kamarnya sendiri tidak jadi beristirahat. Karena di ajak bertemu Alfian di restoran hotel untuk merencanakan berlibur ke Labuhan Bajo.
"Berapa hari di sana Bang?" tanya Julio setelah mendengar perintah dari Alfian.
"Dua hari saja. kali ini elo boleh ikut kalau perlu ajak Zain!"
"Siap ... Abang beristirhat saja, Abang tahu beres."
Hampir tidak tidur Julio mengkoordinasi pesawat pribadi milik Mami Mitha. Mengurus semua dari hal kecil sampai jadwal keberangkatan. Dilakukan hanya dalam tiga jam semua selesai dan siang terbang.
__ADS_1
Pukul empat pagi pesawat sudah take of dari bandara Sukarno Hatta menuju bandar Udara Internasional Komodo Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur di tempuh dalam waktu empat jam. Rombongan langsung menikmati sarapan pagi di villa yang mereka sewa. Dengan menu khas Labuan Bajo diantaranya Kolo, Soup ikan kuah dan Jagung bose.
Kolo adalah nasi bakar khas dari pulau komodo yang sangat istimewa. Kolo dibakar menggunakan alat yang khusus dan bara api. Sebelum dibakar nasi diberi bumbu khas lalu dibakar menggunakan bambu selama 30 menit.
Kolo sangat nikmat di dampingi dengan soup ikan kuah asam. Rasanya yang segar dan enak dengan kuah asam berasal dari belimbing wuluh yang dimasukkan sebagai salah satu bumbu. Perpaduan akan semakin nikmat dengan rasa gurih dari ikannya.
Zain yang tidak terbiasa sarapan nasi pada pagi hari dia memilih sarapan jagung bose. Makanan ini dikenal sebagai pengganti nasi oleh masyarakat lokal Labuan Bajo. Jagung putih yang ditumbuk dengan menggunakan alat bernama lesung. Setelah itu lalu dimasak dengan campuran kacang merah dan santan untuk mendapatkan rasa gurih.
Pukul sepuluh pagi rombongan berwisata ke Pulau Komodo. Ini merupakan habitat asli binatang purba komodo bernaung. Hewan yang menyerupai kadal raksasa ini menjadi daya tarik tersendiri terutama Rania dan Alfian.
Rasanya berjarak dekat dengan binatang purba itu, Rania seperti berada di dunia masa lampau. Seperti sedang masuk dalam film jurasic park yang nyata. Rania terus saja bergelayut manja di lengan Alfian karena ada di paronama semak belukar.
Rania tidak berani mendekati komodo yang berkeliaran bebas, dia hanya berdiri dari kejauhan. Zain dan Julio berdiri di belakang dua pemandu wisata yang sedang memegang kayu yang ujungnya bercabang. Memberikan makanan untuk komodo yang berjalan mendekat sambil menjulurkan lidahnya yang panjang.
"Abang kalau mau turun memberikan makan untuk komodo seperti mereka silahkan, Rani di sini saja?"
"Tidak Abang memilih dekat Rani saja."
"Kok mulutnya seperti ngiler terus gitu ya, Bang?"
"Iya Sayang, itu air liur komodo memiliki banyak bakteri yang menyebabkan infeksi."
"Berarti kita tidak boleh terkena itu dong, Bang?"
"Iya lah bahaya sekali itu."
Sampai istirahat siang rombongan kembali ke villa. Setelah makan siang mereka berpencar dengan tujuan yang berbeda-beda. Rania mengajak Alfian ke Bukit Cinta yaitu tempat pilihan favorit pasangan-pasangan yang ingin menghabiskan waktu bersama. Pemandangan di atas bukit sangat memanjakan mata.
Duduk berdua sambil menautkan tangan sangat memuaskan rasa penasaran sekaligus mengobati lelah. Suasana romantis sangat terasa, bahkan Rania tidak mau beranjak sampai menjelang matahari terbenam. Rania ingin sekali mengambil foto di saat matahari yang berwarna jingga ketika akan tenggelam.
__ADS_1
Hampir setengah hari duduk dengan romantis, Alfian otaknya mulai treveling dan modus, "Sayang ... dari tadi mata terus yang di manjakan, kapan kurna jumbo Abang juga di manja dong?"
"Eee Abang mau menyedot tenaga Rani di sini, tidak boleh dong Abang Sayang?"