
"Katanya Papi tiga hari di Arab Saudi, mengapa sekarang sudah pulang lagi?"
"Opa sudah sehat setelah melihat kamu Nak, Papi di suruh pulang cepat karena Opa ingin berbincang dengan Alfian," jawab Alfarizi berjalan mendekati mereka yang sedang duduk lesehan di ruang tamu Bibi Minah.
"Di mana Opa sekarang, Papi?"
"Opa masih di rumah sakit Riyadh Arab Saudi, Opa mau vedio call dengan Al, tetapi minta ijin dulu dengan Mami, ok!"
"Ya Papi ...!" Alfian mendekati Neng masih terbengong melihat kehadiran Alfarizi yang datang tanpa di sangka-sangka. "Mami, apakah Al boleh bicara dengan Opa?"
"Silahkan saja, Nak."
"Apakah Mami mau ikut Al dan Papi untuk berbincang dengan Opa?"
"Tidak usah Nak, Opa ingin berbincang dengan Al, Mami tunggu di luar ya, Mami mau mempersiapkan mobil untuk pulang nanti, ok!"
Alfarizi tersenyum mendengar Alfian mengajak Neng untuk berbincang dengan Abi Ali. Saat Neng menolaknya Alfarizi hanya bisa pasrah. Melihat Neng yang berlalu tanpa kata, Alfarizi hanya menatapnya dengan tatapan mata yang tidak bisa diartikan.
"Ibu, Mpok Atun ayo bantu aku mempersiapkan barang yang akan kita bawa!"
"Ya ...." jawab mereka serenpak.
Neng dan Bibi Minah kembali berbincang bersama rombongan kecuali Desi. Desi sedang mojok berdua dengan Surya di teras rumah. menunggu Alfian hampir setengah jam tidak kunjung datang akhirnya Neng memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
"Desi ...." panggil Neng dari Mobilnya.
"Ya Bu!" teriak Desi dari teras rumah.
"Kamu dan Alfian pulang bareng Papinya Al saja ya, kami pulang duluan!"
"Baik Bu."
"Jangan lupa nanti Alfian antar langsung ke rumah, besok harus sekolah!"
Neng berpamitan kepada Bibi Minah dan keluarga. Tanpa pamit kepada Alfarizi dan Alfian, rasanya masih canggung dan menjaga jarak kepada ayah dari putranya. Melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang kembali ke rumah.
Dalam perjalanan Neng masih memikirkan putranya yang di tinggal bersama papinya. Setelah Alfian bertemu papinya dia terlihat bahagia dan sering meminta sesuatu yang belum pernah di rasakannya selama ini. Hal yang sederhana tetapi sangat berkesan bagi Alfian.
Neng menyadari sekarang ini Alfarizi ingin selalu mendekatinya walaupun terlihat santai dan tidak memaksa. Alfarizi selalu menjaga agar dirinya terasa nyaman. Hanya Neng saja yang masih canggung dan masih menjaga jarak dengannya.
__ADS_1
Sampai di rumah Neng langsung masuk kamar, membersihkan diri dan beristirahat. Tidak berniat untuk keluar kamar karena tidak ingin bertemu dengan papinya Al saat mengantar Alfian nanti. Rasa gelisah di hati Neng menunggu Alfian datang karena hampir satu jam dia menunggu mereka tidak kunjung terlihat batang hidungnya.
Neng memutuskan ingin keluar kamar dan ingin melihat Alfian di kamarnya. Di lantai bawah Neng mendengar suara Ibu Ani dan Alfarizi berbincang berbisik sambil Al sedang menggendong putranya. Alfian terlelap dalam pelukan papinya, Neng langsung masuk kamar kembali.
"Di mana kamar Alfian, Bibi?"
"Kamarnya ada di atas, mari aku antar, Nak!"
Alfarizi melangkah mengikuti langkah Ibu Ani yang berjalan di depan. Rasa bahagia di dalam hatinya bisa masuk rumah Neng, walaupun dia tidak bisa bertemu dengan Neng. Sambil melangkah Alfarizi memperhatikan setiap sudut ruangan.
"Yang ini kamarnya, silahkan masuk, Nak; ini kamar Alfian!" kata Ibu Ani sambil membukakan pintu kamar.
Harum rasa parfum vanila masuk di hidung Alfarizi saat masuk kapar putranya. Mengingatkan dia saat dulu di villa, Neng sering titip parfum itu kepada Junaidi dan selalu di gunakan Neng setelah mandi. Setelah Alfarizi membaringkan putranya yang sudah terlelap dengan pelan-pelan, dia langsung keluar dari kamar mengikuti Ibu Ani kembali.
Sampai di depan kamar Neng, Ibu Ani berhenti, "Ini kamar Neng Mitha, apakah mau bertemu dengannya?"
"Tidak usah Bu, aku tidak mau istriku kecapean, biarkan dia istirahat saja."
"Oya sudah, kita turun saja!"
Alfarizi turun tangga sambil bergumam dalam hati tunggu kamarku, istriku sebentar lagi aku pasti bisa masuk dan berdua bersamamu. saat belum sampai tangga paling bawah ada foto Neng yang sedang merangkul Alfian di dinding, Alfarizi mengambil foto selfi dan wajahnya di tempelkan di pipi Neng. Hanya sekali selfi agar tidak di lihat oleh Ibu Ani.
Alfarizi langsung berpamitan pulang kepada Ibu Ani. Melangkah sambil tersenyum karena ini adalah prestasi yang sangat membuatnya bahagia. Bisa masuk rumah istrinya walaupun tanpa harus bertemu dengannya ini adalah kemajuan yang membuanya bangga.
"Ada apa, bukankah kamu harusnya ada di Jakarta?"
"Isya mau menunjukkan sesuatu pada Abang!"
"Mengapa tidak dari kemarin saat kita berangkat ke Riyadh?"
"Kemarin masih galau gara-gara Abi, coba lihatlah ini, kemarin dia menemui Kak Mitha, sepertinya Abang mempunyai saingan berat untuk mendekati Kakak Ipar!"
Isya menunjukkan foto milik Junaidi yang sedang bertemu dengan Neng saat di butik kemarin. Alfarizi tertawa lebar setelah melihat foto itu sambil mengibaskan tangannya. "Dasar sok tahu, dia itu anak buahku yang pertama memberitauhukan jika istri cantikku itu mengandung putraku."
"Ha, yang betul Bang, yaaah gagal dong mau membuat Abang kebakaran jenggot."
"Bukan dia saingan Abang, ada satu laki-laki yang mengejar istriku namaya Rangga Siregar. tapi Abang yakin istriku itu tidak pernah pindah ke lain hati, ha ha ha!"
"Percaya diri banget Abang ini, tetapi mengapa sampai sekarang Abang belum berhasil dekat dengan Kakak Ipar?"
__ADS_1
"Abang masih menunggu surat cerai dari pengadilan, lihat saja tanggal mainnya."
"Kapan Bang, putusan surat cerai itu?"
"Tiga hari lagi, Abang juga sudah ada janji bertemu dengannya lima hari lagi."
"Apakah berkencan dengan Kakak Ipar?"
"Tidak, urusan bisnis."
"Mengapa malah berbisnis, seharusnya Abang menikahi dia secara resmi?"
"Tudak usah usil, tunggu saja tanggal mainnya, sudahlah aku mau istirahat."
Tiga hari berlalu dengan cepat Sabtu pagi ini Alfarizi menghadiri persidangan terakhir yaitu putusan cerai dari pengadian. Sinta tidak hadir saat persidangan terakhir ini sehingga membuat persidangan di putus dengan cepat. Pengadilan mengabulkan gugatan cerai Alfarizi dengan di tandai di terimanya surat cerai dari pengadilan.
Mulai hari ini Alfarizi berstatus duren atau duda keren mulai saat ini. Keluar dari pengadilan Alfarizi sudah di tunggu para para pewarta untuk wawancara. Dengan senang hati Alfarizi menjawab pertanyaan mereka.
"Bagaimana perasaan Anda sekarang, Tuan?" tanya salah satu wartawan cantik yang ada di depannya.
"Rasanya lega." jawab Alfarizi singkat.
"Apakah Anda sudah menemukan penggantinya, Tuan?"
"Pengganti apa maksudnya aku tidak faham?" pura-pura Alfarizi tidak faham pertanyaan mereka.
"Duren seperti Anda pasti sudah banyak cewek yang mengantri untuk daftar menjadi istri Anda, apakah Anda sudah menerima salah satunya untuk di jadikan istri?" wartawan gaek bertanya dengan tersenyum.
"Sayangnya yang mengantri itu tidak ada yang sesuai kretaria."
"Jadi yang masuk kreteria sudah ada, Tuan?"
"Mohon doanya saja, ok, terima kasih saya permisi dulu!" Alfarizi meninggalkan para pewarta sambil melipatkan kedua tangannya di dada.
\*\*\*\*
Mohon lahir dan batin
selamat idul fitri bagi yang merayakannya
__ADS_1
Jika ada tutur kata yang salah mohon di maafkan
Muda Anna dan Keluarga