Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Wanita Breng Sek


__ADS_3

"Aauww ... Mami capit kepitingnya jangan di pinggang!" teriaknya Papi Alfarizi sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.


Alfian yang kaget karena teriakan Papi Alfarizi langsung bertanya cepat, "Papi ... ada apa dari tadi teriak terus?"


Rania yang tadi mendengar sekilas bisikan Papi Alfarizi kepada Mami Mitha langsung menjawab, "Papi mengajak bergo ... Eee maaf keceplosan. Abang Tuan jangan bertanya cepat atuuh!"


"Ha ha ha ... maaf Sayang." Alfian tertawa terbahak-pahak di ikuti oleh Abah.


Papi Alfarizi dan Mami Mitha hanya saling pandang karena bingung. Pertama karena jawaban Rania yang jujur saat ada yang bertanya cepat. Dan yang ke dua karena Rania memanggil suaminya dengan sebutan Abang Tuan.


Mami Mitha menjadi teringat saat pertama memanggil Papi Alfarizi dengan sebutan tuan. Teringat pernah menyebutnya sebagai pohon pisang yang memiliki jantung tetapi tidak memiliki hati. Teringat juga saat pertemuan ke dua setelah delapan tahun berpisah.


Beda lagi dengan Papi Alfarizi, ada rasa nyeri di dada saat teringat awal pernikahan sirri saat itu. Mengharuskan istrinya memanggil tuan, harus melayani hubungan suami istri dengan paksa. Bahkan harus menerima amarah yang sebenarnya dia tidak tahu masalahnya.


"Abang ... mengapa istrimu memanggil pakai sebutan Tuan?" bisik Papi di telinga Alfian.


"Dia terbiasa memanggil begitu, Papi. Susah suruh berubah, semoga suatu saat nanti bisa berubah."


Mami Mitha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Seolah sedang melihat dirinya saat muda setelah melihat dan bertemu dengan calon menantu. Hanya melihat dia sekali saja Mami Mitha rasanya cocok dan langsung menerima Rania sebagai calon menantu.


Mereka masih berbincang dengan akrab di temani camilan yang di buat oleh bibi. Saling bercerita keseharian masing-masing sambil bercanda. Rania juga langsung nyaman saat bertemu dengan ke dua calon mertua.


Alfian mendapat notivikasi pesan WA dari Julio. Mengatakan baterai ponselnya habis hampir dua jam terakhir. Setelah mengisi daya, kini dia baru bisa menghubungi Alfian.


Julio mengirim foto lama yang di dapat dari ibunya Rania. Foto ayah kandung Rania yang terlihat masih muda. Biodata lengkap ayah dan ibu kandung Rania dan kisah masa lalu sampai sekarang.


Mata Alfian langsung fokus dengan dengan foto yang familier dan tidak asing lagi baginya. Hanya saja terlihat masih muda dan terlihat gagah dengan baju yang terlihat elegan. Tanpa sadar Alfian membaca dan menyebut nama dari biodata yang di kirim Julio, "Doni Surya ... Titin Suhartin." Alfian membaca nama itu sampai berkali-kali.


Bersamaan datang Ibu Ani mendampingi Elfa baru pulang dari les private matematika. Ibu Ani yang mendengar dua nama yang di sebut Alfian berulang kali langsung mendekati Alfian, "Coba ulang nama yang baru saja Abang sebut tadi!"

__ADS_1


"Titin Suhartin dan Doni Surya, ada apa, Nenek?"


"Ada hubungan apa Abang dengan wanita breng sek itu?"


Elfa hanya menutup mulutnya saat mendengar perkataan nenek yang kasar dan terlihat marah. setelah mencium pipi mami, papi dan Alfian. Elfa langsung berlari menuju lantai atas menuju kamarnya sendiri.


Rania kaget dengan ucapan seorang nenek yang terlihat marah dan emosi karena mendengar nama ibunya yang kurang baik, "Eee Abang Tuan mengapa dia bilang ...?" Rania tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Alfian meletakkan jari telunjuknya di bibir, "Sebentar ya, Sayang."


"Iya ...."


"Nenek mengenal orang yang Abang sebut tadi?"


"Siapa dia, Bu?" tanya Mami Mitha.


Ibu Ani mengambil napas panjang duduk di samping Mami Mitha tanpa menyalami atau menegur dua tamu. Emosinya meningkat hanya karena mendengar nama itu. Seolah mengalami peistiwa yang di lakukan oleh wanita yang baru saja di sebut oleh Alfian.


"Nenek sangat mengenal wanita breng sek itu, dia yang mengusir Nenek dari rumah Nenek sendiri."


"Eee jangan menangis dulu. Semua bisa di jelaskan jangan berkecil hati dulu, ok!"


Alfian langsung memeluk Rania yang semakin tergugu. Abah mengusap pundak Rania dengan lembut sebagai dukungan penuh. Ibu Ani menjadi bingung dan terbengong melihat Alfian memeluk seorang gadis yang menangis tergugu.


Datang Doni dari pintu depn setelah memarkirkan mobilnya selesai mengantar Elfa dan ibu Ani. Heran melihat Alfian yang memeluk seorang gadis yang sedang menangis. Dan yang lain memandang dengan khawatir termasuk ibu sambungnya.


"Abang, mengapa tiba-tiba gadis ini menangis?" tanya Ibu Ani.


"Abang ... Ada apa ini?" tanya Doni heran.


"Om Doni, apakah nama Anda Doni Surya?" tanya Alfian.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya, Abang. Papi jadi bingung."


"Tunggu Papi, Abang yang akan menjelaskan nanti."


Alfian langsung menghadap Doni yang masih bingung dan berdiri di samping Ibu Ani. Gantian Abah yang menenangkan Rania yang masih tergugu. Mami Mitha dan Papi Alfarizi yang menunggu apa yang akan di lakukan Alfian.


"Om Doni, sampai sekarang masih belum menemukan keluarga?"


"Belum menemukan keberadaan mereka, Bang. Ada apa sebenarnya Om Doni menjadi semakin bingung?"


"Nenek juga bingung, Bang cepat jelaskan!"


"Tunggu Nenek, Abang akan jelaskan nanti. Abang ingin bertanya pada Om Doni lagi, apakah Om Doni memiliki keturunn?"


"Iya bang, Om memiliki satu putri."


"Sejak kapan Om berpisah dengan putri Om Doni?"


Doni dan Ibu Ani bercerita tentang masa lalu dari mulai mengusir Ibu Ani, menjual rumah, berfoya-foya karena gaya hidup mewah istrinya. Kecelakaaan saat bekerja bersamaan istrinya pergi meninggalkan dirinya saat sedang di rawat di rumah sakit Bandung.


Doni juga bercerita menggelandang dan berpindah tempat untuk mencari istri, putri dan ibu agkatnya yang telah di usir dulu. Sampai bertemu dengan ibu di Bekasi dan meminta ampun atas semua kesalahannya. Dan sekarang mempunyai pekerjaan tetap sampai sekarang.


Sampai sekarang Doni masih tetap mencari keberadaan istri dan putrinya tanpa ada rasa lelah. Dari daerah Bekasi, Jakarta dan sekitarnya sudah di carinya tanpa terkecuali. Hanya sayangnya sampai sekarang ini dia tidak pernah menemukan jejak mereka sama sekali.


Teman-teman dari istrinya sudah di kunjungi oleh Doni satu persatu tetapi hasilnya masih nihil sampai sekarang. Bahkan Doni pernah bertemu dengan salah satu teman sosialita istrinya dan harus membayar uang arisan yang di tinggal begitu saja. Jumlah uang yang tidak sedikit untuk membayar hutang istrinya saat itu.


Awalnya Rania masih bingung saat mendengarkan cerita Doni dan Ibu Ani secara bergantian. Tidak mengenal sama sekali siapa mereka kecuali nama yang sudah di sebutkan suaminya. Nama belakang seperti nama ayahnya yang lama tidak pernah di temuinya.


"Om boleh tahu siapa nama istri dan putri Anda?" tanya Alfian lagi.

__ADS_1


"Putri Om namanya Kirana Rania dia sering Om panggil Rara."


"A ... Ayah ...?"


__ADS_2