Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Menjadi Ibuku Saja


__ADS_3

Sambil menangis tergugu Ibu Ani bercerita kepada Neng jika Doni Surya adalah putra sambung dari suami keduanya, sepuluh tahun yang lalu Ibu Ani menikah dengan duda beranak satu yaitu Ayahnya Doni, dia merawat Doni seperti putranya sendiri, dua tahun lalu Ayahnya Doni meninggal dunia terkena serangan jantung kaget lantaran Doni ingin meminta harta warisan kepada ayahnya takut semua peninggalan ayahnya di wariskan kepasa ibu sambungnya.


Sebelum menikah Doni adalah pemuda yang pendiam dan patuh kepada kedua orang tuanya, tetapi setelah menikah dengan Titin tiga tahun lalu Doni mulai berubah dan sering marah dan memaki Ibu sambungnya.


Perubahan Doni terjadi karena gaya hidup istrinya Titin yang ingin selalu hidup mewah, dan karena dulu saat melamar Titin, Doni mengaku anaknya orang kaya sehingga semua keinginan Titin selalu di turuti olehnya bahkan dia rela mengusir ibu sambungnya yang telah merawatnya dengan hati yang tulus.


Ibu Ani memikili satu putri kandung saat menikah dengan suami pertamanya, tetapi putrinya memilih ikut ayah kandungnya setelah mereka berpisah, dan sekarang putrinnya sudah menikah dan di karuniai dua anak, mantan suami Ibu Ani sudah menikah lagi di kampung dekat putrinya tinggal yaitu di daerah perbatasan Jawa tengah dan Jawa Timur.


Suami pertama Ibu Ani adalah berasal dari suku Jawa, sedangkan Ibu Ani adalah asli suku Betawi, sekarang ini dia hidup sebatang kara karena dia anak tunggal sedangkan kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.


Selesai Ibu Ani bercerita Neng langsung memeluknya dengan erat, memberikan dukungan, ternyata Neng masih lebih beruntung masih bisa bertahan dan tidak sendiri, ada janin yang ada di perutnya untuk menyongsong hari esok.


"Ibu yang sabar ya, aku juga sendiri, eee tidak aku berdua dengan anakku yang masih ada dalam kandungan,"


"Ya Allah, Neng Mitha sedang hamil, berapa bulan?"


"Tiga bulan lebih, hampir empat bulan,"


"Kemana suami Neng Mitha dan mengapa menginap di sini?"


Neng mengambil nafas panjang, merasa tidak enak hati menceritakan masalah pribadinya sedangkan Ibu Ani sedang bersedih karena musibah yang baru saja dialaminya.


"Cerita saja Neng Geulis, mungkin bisa mengurangi beban pikiranmu, seperti aku cerita kepadamu!"


"Ibu sedang terkena musibah, aku tidak tega menceritakan tentang masalahku,"


"Tidak apa-apa, aku merasa lega setelah bercerita, kita bisa saling mendukung dan menguatkan, ayo ceritalah!"

__ADS_1


"Baiklah Bu."


Akhirnya Neng bercerita mulai dari hidup hanya berdua dengan Ayah Asep, di nikahkan paksa hanya dengan nikah siri dengan mahar yang fantastis, perlakuan suami sirinya, Ayah Asep yang menikah lagi, bertujuan untuk mencari pekerjaan yang sesuai pendidikannya, dan keluar dari desa dan sampai Neng bertemu dengan Doni dan Titin di kedai bubur ayam tanpa sengaja serta mendengar percakapan mereka.


Mereka kembali berpelukan setelah Neng selesai bercerita tentang kisah hidupnya, walaupun baru saja bertemu keduanya seolah seperti sudah lama saling mengenal.


"Neng Mitha, aku punya teman di daerah Bekasi, dia sering mengambil orderan jahitan ke pabrik seperti Neng Mitha inginkan, bagaimana kalau besok kita kesana?"


"Boleh Bu, terima kasih,"


"Tetapi Neng Mitha, apakah aku boleh bekerja dengamu, jadi apalah pembantu juga aku mau?"


"Bagaimana kalau Ibu Ani menjadi Ibuku saja, kita berjuang bersama, tolong dampingi aku membesarkan anak yang aku kandung ini, aku tidak punya siapa siapa lagi?"


"Tentu Nak, aku akan sangat bahagia jika kamu mau menganggap aku sebagai Ibumu."


Ibu Ani memeluk Neng dengan erat, seolah sedang memeluk putrinya yang sudah lama di rindukan tetapi sudah lama tidak bisa bertemu dengannya karena kendala kesulitan hidup.


Selama dua hari menginap di Tangerang, Neng menghabiskan waktu berdua dengan Ibu Ani di kamar hanya bercerita dari hati ke hati, membuat rencana untuk mereka berdua saat tiba di Bekasi nanti.


Tetapi Ibu Ani ingin sekali melihat rumahnya sebelum mereka meninggalkan Tangerang, "Neng Mitha, apakah boleh aku melihat rumahku untuk yang terakhir kalinya?" tanya Ibu Ani setelah sarapan pagi.


"Tentu Bu, kita cek-out dari hotel jam satu siang, nanti pukul sepuluh pagi kita lewat rumah Ibu,"


"Terima kasih, apa jadinya aku saat ini tanpa kamu Nak, aku tidak punya apa-apa bahkan uang sepeserpun aku tidak punya," kata Ibu Ani dengan berlinang air mata.


"Bu sudahlah, jangan bermikir macam-macam, sudah sewajarnya seorang putri akan mengurus ibunya, ayo kita bersiap-siap aku akan mengubah penampilan Ibu agar tidak di kenali orang lain."

__ADS_1


Neng memakaikan celana panjang dan kaos woody yang di belinya di toko yang ada depan hotel, wig rambut hitam sebahu, kaca mata hitam dan sepatu pantofel.


"Neng Geulis aku di apakan ini, aku tidak pernah memakai celana, rasanya aneh, rambutnya segala mengapa di pakaikan wig segala?"


"Ibu diam dulu ini belum selesai, Ibu terlihat cantik seperti baru berumur 20 tahun, sekarang tinggal memakai make-up, Ibu duduklah!"


Ibu Ani mengangguk dan tersenyum mengikuti saja apa yang di lakukan oleh Neng, sedangkan Neng tersenyum simpul sambil memoles wajah Ibu Ani menggunakan make-up miliknya.


"Sudah selesai, waah Ibuku terlihat cantik, coba sekarang Ibu berkaca!" kata Neng setelah selesai mengubah penampilannya.


"Neng Mitha, ini siapa, mengapa aku tidak nengenalinya sama sekali?" kata Ibu Ani sambil membelalakkan matanya.


"Ibu cantik sekali kan?"


"Iya, Neng Mitha memang pintar, ayo kita melihat rumahku sekarang, Doni dan Titin tidak mungkin mengenaliku!"


"Tunggu Bu, aku ganti baju dulu, kita sekalian jalan-jalan aku ingin mencari rujak,"


"Waah, cucuku lagi pingin makan rujak ya, aku tahu tempat rujak bebeg di dekat sini yang sangat enak dan segar,"


"Aku mau Bu, rujak bebeg air liurku rasanya ingin menetes."


Neng dan Ibu Ani berjalan menyusuri jalanan dengan bergandengan tangan, menuju rumah milik Ibu Ani yang sudah di jual oleh putra sambungnya sendiri.


hanya dalam setengah jam mereka sampai tempat yang di tuju, dalam jarak tiga meter Neng menghentikan langkahnya karena ada dua mobil yang memasuki area rumah milik Ibu Ani, mobil Avanza berwarna putih berhenti terlebih dahulu, keluar Doni dan Titin dengan tersenyum bahagia, dan ada satu mobil Lamborghini hitam berhenti di sebelah mobil Avanza putih, ada sekitar tiga orang yang keluar dari mobil itu.


Ibu Ani langsung berlinang air matanya setelah melihat raut wajah putra dan menantunya yang tersenyum bahagia sambil bergandengan tangan memasuki area rumah yang pernah di tunggalinya bertahun-tahun.

__ADS_1


"Bu, apakah mereka orang yang membeli rumahnya?" tanya Neng sambil memperhatikan rumah yang ada tidak jauh darinya.


"Aku tidak tahu Nak, aku hanya memperhatikan Doni, dia mempunyai mobil baru sekarang, dia terlihat sangat bahagia."


__ADS_2