
Badan Neng mengeluarkan keringat dingin membuat Alfarizi teringat saat dia pingsan ketika dituduh pelakor. Dia menjadi panik dan ketakutan depresi yang pernah dialami Neng tiba-tiba kambuh lagi. Ingin rasanya langsung menggendongnya berlari ke rumah saki,t sampai dia tidak ingat padahal ada Dokter Harry dalam rombongan.
"Papi, jangan panik Mami baik-baik saja. Tolong peluk Mami sebentar!"
Sambil memeluk Neng dengan erat, Alfarizi meraih ponselnya setelah teringat Dokter Harry ada di kamar sebelah, "Kakak Ipar ke kamar ku sekarang!"
Tanpa menunggu jawaban dari Dokter Harry Alfarizi langsung mematikan ponselnya secara sepihak membuat Dokter Harry mengerutu sendiri, "Dasar ipar nggak jelas, main perintah saja."
Sambil menggerutu Doker Harry berlari ke kamar yang ada di sebelahnya yang jaraknya tidak ada dua meter. Langsung mendorong pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Saat melihat mereka berpelukan dengan erat, dokter Harry menggelengkan kepalanya, "Aku ke sini hanya untuk melihat kalian bermesraan?"
"Abang ...!" panggil Neng dengan lirih.
Dokter Harry baru menyadari keadaan Neng setelah mendengar suaranya dan wajah yang terlihat pucat. Dia langsung berlari mendekati adik angkatnya dan memeriksa dahi dan lengan, "Mitha kamu kenapa?"
Alfarizi memukul bahu Dokter Harry karena dia berani memengag istrinya tanpa izin, "Tidak memegang istriku juga dong!"
"Eee ... dia adik gue, dodol," gerutu Dokter Harry.
"Dia istri gue, Kakak Ipar nggak jelas."
Dokter Harry menghubungi Rianti istrinya dengan ponselnya, "Mama tolong bawa tas kerja Papa ke kamar Mitha, sekarang!"
Alfarizi masih memeluk Neng dengan erat saat Dokter Harry memeriksa denyut nadi Neng, "Apa yang kamu pikirkan, Mitha. Apakah Pohon Pisang ini menyakiti kamu lagi?"
"Kakak Ipar jangan ngadi-ngdi ya kalau ngomong, tidak bisa melihat apa cintaku setinggi gunung dan seluas samudra, sembarangan aja kalau menuduh!"
"Tapi nyatanya ...?" Dokter Harry masih ngotot ingin menjawab tetapi langsung di potong oleh Neng.
"Abang ... Papi cukup, jangan berdebat lagi!"
Rianti datang membawa tas kerja suaminya sambil berlari, "Apa yang terjadi Mitha, apakah kamu berantem sama suamimu?" Rianti juga berpikran buruk dengan Alfarizi karena melihat Neng pucat dan terlihat lemah.
"Tuuuh istriku juga ... ?" Kembali dokter Harry menuduh Alfarizi setelah istrinya juga mencurigainya.
__ADS_1
"Abang ... Kak Ria, ini tidak ada hubungannya dengan Papi, aku terlalu memikirkan pertemuan dengan Ayah Asep, pikiranku seolah berperang sendiri, padahal dari dulu aku sudah ikhlas dan memaafkan Ayah." Neng bercerita jujur agar tidak terjadi kesalah fahaman.
"Oooo ... baiklah, coba sekarang berbaringlah. Abang akan mengecek tenti darah dan detak jantung!"
"Ayo Honey, Papi bantu."
Neng mengangguk dan merebahkan tubuhnya sambil mengambil napas panjang. Alfarizi mengusap pipi dan pundaknya sambil memndang wajahnya dengan khawatir. Dokter Harry mulai memeriksa dengan teliti kondisi Neng.
Setelah Dokter Harry selesai memeriksa dengan cepat Alfarizi bertanya, "Bagaimana keadaanya, apakah perlu ke rumah sakit, apa sebaiknya kita batalkan saja bertemu dengan Ayah Asep?"
"Eee pertanyaan satu-satu dong, jangan borongan susah jawabnya. Semua normal tidak ada yang perlu di khawatirkan, sekarang minum obat dan jangan berpikir macam-macam."
"Baiklah mana obatnya?" Alfarizi menengadahkan tangannya kepada Dokter Harry.
"Mitha, kalau kamu belum siap tidak usah di paksakan atau di undur besok saja bertemu dangan Ayah Asep?" tanya Rianti setelah Neng meminum obat.
"Aku tidak apa-apa Kak, jangan di undur."
"Tapi Honey, Papi takut nanti kalau ...!"
Alfarizi tersenyum merasa lega setelah mengetahui istrinya baik-baik saja. Setelah Dokter Harry dan Rianti keluar kamar, Alfarizi kembali memeluk Neng dengan erat, "Papi selalu mendukung Mami, Papi akan selalu ada untuk Mami, jangan berpikir seperti dulu lagi. Semua akan baik-baik saja, ingat Papi selalu mencintai Mami setulus hati."
"Iya Papi, Mami tahu, Mami juga sangat mencintai Papi, jangan pernah tinggalkan Mami lagi!"
"Tentiu Honey." Alfarizi semakin erat memeluk Neng sambil menciumi tengguk Neng dengan mesra.
"Papi, awas ingat jangan sampai kebablasan. Jangan mengajak gergoyang sebentar lagi Alfian berangkat wisata!"
"Ha ha ha ... Mami tahu aja. coba pegang dia sudah bangun!" Alfarizi menuntun tangan Neng di tempat senjatanya walau masih terhalang celana panjang.
"Iiiih dasar Papi mesum." Neng menarik tangannya dengan cepat karena bersamaan pintu terbuka Alfian masuk bersama Julio dan Zain sudah siap berangkat wisata.
"Papi ... Mami, Abang pamit mau berangkat. Di mana Adik Cantik Abang, kok tidak ada?"
__ADS_1
"Iya Bang selamat bersenang-senang, tetap hati-hati ya," jawab Neng.
"Baby Elfa sama Bibi Siti di kamarnya, Bang." Alfarizi juga ikut menjawab.
Alfian dan rombongan di dampingi Doni, Ibu Ani, Lilis dan Rianti berangkat ke tempat wisata. Neng di temani Alfarizi, Dokter Harry dan Encang Ginanjar serta Bibi Siti yang menggendong baby Elfa dalam satu mobil dan sopirnya Junaidi. Mereka berangkat sesaat setelah rombongan Alfian berangkat.
Dalam perjalanan Neng selalu di peluk oleh Alfarizi. dia mengusap pundaknya dengan lembut untuk memberikan dukungan penuh. Menautkan tangannya dengan sempurna agar tidak mengalami gejala depresi yang akan datang tiba-tiba.
Neng masih terdiam dan banyak melamun. Sesekali mengambil napas panjang untuk menata hatinya. Meyakinkan diri sendiri semua akan baik-baik saja, hanya perlu ikhlas dan yakin pasti akan berjalan dengan lancar.
"Encang, kita langsung ke rumah Ayah atau ke mana dulu?" tanya Alfarizi.
"Biasanya jam segini dia masih narik angkot, coba kita lewat pangkalan angkot saja, siapa tahu bertemu di sana!" jawab Encang Ginanjar sambil melihat satu persatu angkot yang lewat.
Dengan arahan Encang Ginanjar, Junaidi melajukan mobilnya ke pangkalan angkutan kota yang di tempuh kurang dari satu jam, "Jun, coba parkir di samping halte itu, Encang akan bertanya kepada sopir, kalian jangan turun dulu sebelum Encang panggil, takutnya laki-laki gemblung itu malah bersembunyi!"
"Ya siap," jawab Junaidi sambil konsentrasi memberhentikan mobil di pinggir jalan.
Alfarizi kembali memandangi wajah Neng yang terlihat tegang. Mengusap pipinya dan tangan kirinya masih terpaut dengan sempurna.
"Mami, jangan tegang ya, kita hadapi berdua, ok!"
"Ya Pi, terima kasih."
Hampir setengah jam Encang Ginanjar turun dari mobil. Beliau tidak juga muncul atau menghubungi melalui ponsel. Membuat Neng semakin gelisah dan berdebar-debar.
"Mitha, kamu baik-baik saja?" tanya Dokter Harry mulai khawatir.
"Iya Bang, jangan khawatir."
Encang Ginanjar datang dengan langkah panjang dan langsung masuk mobil, "ayo jalan lagi, Jun!" perintahnya dengan raut wajah yang khawatir.
"Cang ada apa, apakah Ayah Asep tidak ada di pangkalan ini?" tanya Alfarizi ikut khawatir.
__ADS_1
"Encang mendapatkan informasi ayahmu sekarang ini ada di Puskesmas, Encang sudah mendapatkan alamatnya. Kita ke sana sekarang!'"