
Dokter Atha meneteskan air mata saat mendengar pihak yang berwajib berteriak ada noda darah. Pikirannya sudah memastikan jika Zain ada di langit saat ini. Dia membuktikan pesan terakhir yang ditulis kemarin.
Alfian mengusap lengan kakaknya agar tenang. Ada teriakan dari pihak yang berwajib lagi setelah dia memeriksa ban mobil yang tidak terkena paku, "Ada tikus besar yang mati di sini!"
Tikus besar itu masih berada di bawah ban mobil. Darahnya sudah mulai mengering. Mereka mengatakan jika kemungkinan besar darah itu berasal dari tikus yang terlindas ban.
Ada rasa lega di hati Dokter Atha setelah melihat sendiri tikus mati. Bergegas dia mengusap air mata agar tidak terlihat. Mencoba menata hati agar tenang dan berpikir positif.
Mobil dibawa pulang oleh Asisten Leo ke bengkel. Ban yang kempes akan di periksa atau di tambal. Kemudian akan diantar ke apartemen Zain.
Dokter Atha tetap terpaku tidak beranjak dari dia berdiri. Mobil sudah diderek ke bengkel. Sebagian besar keluarga sudah pulang dengan perasaan yang sedih.
Alfian menepuk pundak kakaknya untuk memberikan dukungan. Agar bisa lebih sabar dan berpikir positif. Tidak merasa bersalah terus-menerus.
"Kak Atha ...!"
"Bagaimana ini, Dik?"
"Apanya, Kak?"
"Ke mana dia sekarang, apakah ini semua salah Kakak?"
"Kakak tidak bersalah, Cinta dan perasaan tidak bisa dipaksakan. Jika Zain memutuskan pergi mungkin itu keputusannya."
Kata Alfian memang benar, tetapi hatinya tidak bisa menerima jika Zain pergi karena ada hubungannya dengan dirinya. Mengambil napas dalam-dalam itu saja yang dilakukan oleh Dokter Atha. Bingung dan merasa bersalah terus saja menghantui pikirannya.
"Kakak harus menyadari satu hal dalam kejadian ini, Di manapun Zain berada saat ini jika memang dia jodoh Kakak pasti itu akan terjadi, karena jodoh, maut, pertemuan dan perpisahan hanya yang Maha Kuasa yang menentukan."
Kembali Dokter Atha mengangguk sambil mengahirup udara dalam-dalam. Perkataannya selalu menenangkan hati. Sekarang ini hanya bisa berdoa dalam hati semoga dia selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa.
"Ayo kita pulang, Kak!"
"Hhhmm ...."
Setengah hari ini Dokter Atha tidak diizinkan kembali ke rumah sakit oleh Alfian. Tidak boleh juga tinggal sendiri di apartemen. Lebih baik tinggal bersama di rumah ada si Kasep Al yang bisa mengurangi gundah gulana hatinya.
__ADS_1
Seluruh keluarga masih mencari sejak Zain saat ini. Sekarang mulai menghubungi teman dan kolega yang ada di luar daerah Jakarta, Bekasi dan Bogor. Hanya Julio yang banyak mengetahui siapa saja teman Zain saat sekolah ataupun kuliah.
Keesokan harinya di pinggir Sungai Mahakam Samarinda Ada seorang laki-laki gagah berkaca mata hitam. Memakai celana jeans dan kaos bertuliskan I love Borneo. Duduk sedang memandang ke tengah sungai yang menghampar luas.
Dia sedang menyaksikan dua pasang ikan yang sangat langka khas sungai itu. Sepasang ikan Pesut Mahakam yang sedang berenang beriringan. Sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar.
Melihat dengan penuh kekaguman karena tidak setiap hari ikan itu muncul di permukaan. Di temani sepasang suami istri Dokter May dan suaminya La Ricco. Pemuda bersuku Bugis yang berprofesi sebagai dokter juga.
Kemarin adalah hari pernikahan May dan La Ricco. Saat Zain menerima telepon dari Dakter May sedang berdua dengan Dokter Atha sarapan pagi. Ternyata Dokter May mengundang secara khusus untuk ke Samarinda.
Terbang ke Pulau Kalimantan disamping menghadiri pernikahan. Zain bertujuan menghilang sejenak seperti rencana yang diusulkan Dokter May. Bahkan tiket dan okomodasi sudah disediakan oleh Dokter May.
Zain benar-benar menghilang dan raib seperti di telan bumi. Tidak satupun meninggalkan jejak sejak dia keluar dari rumah Alfian. Termasuk ATM tidak juga di gunakan sekalipun.
Dia membawa uang cash dalam jumlah banyak. Membeli ponsel dan nomor baru dan tidak menyimpan nomor siapapun juga. Dia mencari informasi Keluarga di Jakarta dengan menggunakan media sosial.
Dokter May menepuk pundak Zain menyadarkan dari lamunannya, "Lihatlah ikan Pesut kebanggaan daerah kami saja berpasangan, elu yang terkenal perayu wanita sekarang merana berdiri di sini," ejeknya sambil tertawa.
"Jangan mengejek, sebentar lagi gue juga akan menyusul kalian mengikrarkan akad nikah seperti Kemarin." jawabnya sambil terus saja netranya mengikuti ikan itu berenang.
"Apa yang Abang ingin ketahui tentang ikan Pesut Mahakam?" tanya La Ricco.
La Ricco menjelaskan ikan ini dinamakan pesut mahakam karena banyak ditemukan di perairan Sungai Mahakam. Sebenarnya kalangan peneliti barat lebih mengenal hewan ini dengan nama Irrawaddy Dolphin. Ikan ini hidup di sungai beriklim tropis dan satwa langka yang dilindungi undang-undang.
Ciri-ciri Pesut mahakam mempunyai kepala berbentuk bulat seperti umbi. Dengan kedua matanya yang kecil. Karena beradaptasi terhadap air yang berlumpur.
Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah serta tidak memiliki pola khas. Sirip punggungnya kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahinya tinggi dan berbentuk bundar, tidak ada moncong seperti lumba-lumba lain dan sirip dadanya lebar membundar.
Pesut mahakam bergerak dalam kawanan kecil. Pandangan mata tidak begitu tajam walaupun pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur. Ikan Pesut merupakan pakar dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan.
Kemungkinan hewan ini menggunakan gelombang ultrasonik. Tujuannya untuk mendapatkan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya lumba-lumba laut. Mereka muncul tidak bisa di prediksi oleh pengunjung yang ingin melihat secara langsung.
"Waaah berarti aku termasuk orang yang beruntung ya, Kak Ricco."
"Benar sekali, Bro. Anda sangat beruntung saat ini."
__ADS_1
"Mungkin mereka tahu elu sedang galau jadi bertujuan menghibur pengunjung yang sedang merana," jawab Dokter May sekenanya.
Zain hanya mengerucutkan bibirnya tanpa menjawab perkataan Dokter May. Perkataan Sahabatnya itu seperti mengejek. Hanya saja selalu benar saat berkomentar walau terdengar pedas di telinga.
Hati yang merindu terasa menyesakkan dada. Berkali-kali Zain menyakinkan hati untuk bersabar. Rindu memang sangat berat karena terpisah jarak dan waktu.
Terkadang hati kecilnya ingin berlari dan langsung ingin memeluknya. Hanya saja benteng yang masih ada di hati pujaan hati tak kunjung runtuh. Kokohnya pertahan hatinya terkadang membuatnya putus asa.
"Elu mau pulang kapan?" tanya Dokter May.
"Elu mengusir gue?" Zain gantian bertanya dengan ketus.
Dokter May justru tertawa lebar mendengar Zain emosi. Sepertinya rindu dihatinya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia mudah tersulut emosi karena hati yang gelisah.
"Tidak mengusir juga sih, atau perlu elu berguru dulu pada ikan itu agar mendapatkan pasangan segera?" Kembali Dokter May mengejek sambil tertawa.
"Sehari lagi gue di sini, gue mau mapir ke rumah Author favorit gue Muda Anna di Balikpapan."
"Eeee ...?"
BERSAMBUNG
Hai Shobat semua jangan lupa mampir di Novel temen
ini rekomen banget lo, sambil menunggu AST up lagi
Gadis Kesayangan Tuan Agra
Author: Nurmay
Bagaimana rasanya di tinggalkan untuk selamanya di hari pernikahan. Hari yang harusnya membuat bahagia, namun itu membuat luka.
Dan gadis cantik itu pun harus menerima cacian dan makian, dan di cap sebagai gadis pembawa sial.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba, ada seorang laki-laki yang bersedia menikahinya agar membuang kesialan itu. Laki-laki yang tidak dia kenal sama sekali, tiba-tiba menjadi suaminya.
Siapakah Laki-laki itu? Dan bagaimanakah kehidupan rumah tangga mereka? Apakah cinta akan tumbuh di hati mereka?