
"Aaaah, ada berondong sesasar!" teriak ibu setengah baya karyawan konfeksi AA.
"Mana berondongnya, untukku saja?"
"Waaaah ganteng dia, aku mau!"
Semakin lama banyak ibu-ibu yang mendekati dia, mentowel pipinya ada yang mencubit lengannya, ada pula yang memeluknya dari belakang. Bahkan dia ditarik ke kanan dan kiri tanpa bisa melawan. kelakuan ibu-ibu absurt itu hanya agar tidak sembarang orang masuk ke konfeksi tanpa permisi.
"Tunggu dulu ibu-ibu, aku bukan brondong kesasar, aku ini calon suami Desi!" teriak Surya mencoba melepaskan diri dari mereka.
"Calon suami Bu Desi!" kata mereka bersamaan.
"Tetapi mengapa masuk konfeksi tanpa izin dan nyelonong saja?" tanya salah satu dari mereka.
Surya kaget dan gugup, tidak mungkin memberikan alasan jika sedang menyamar menjadi suami Bu Mitha. "Aku kebelet pingin ke kamar kecil jadi aku langsung masuk, tolong panggilkan Desi!"
Sorakan dan teriakan karena kecewa tidak bisa lagi mengerjai orang yang baru masuk. Salah satunya memanggil Desi yang berada di dalam kantornya. Saat Desi keluar sudah melihat Surya dalam keadaan kusut dan berantakan penampilannya.
"Bang Surya, ada apa?"
"Ini ibu-ibu ...!"
"Bu Desi, maaf kami kira ada brondong kesasar yang masuk, jadi kami kerjain."
"Maaf Ibu-ibu permisi, ayo Bang ke kantor aja!"
Desi menarik Surya ke dalam kantornya sambil nyengir dan kesal. Surya hanya tersenyum dan membungkukkan badannya berpamitan kepada ibu-ibu yang menatap dengan perasaan bersalah. Sampai di dalam Desi baru melepaskan tangan Surya, tetapi Surya menarik Desi dalam pekukannya.
"Bang, ini kantor jangan macam-macam!"
"Aku hanya ingin satu macam saja, sebentar aku mau menghilangkan jejak tangan ibu-ibu tadi, ganti dengan kulitmu." Surya menggosokan wajahnya ke pipi Desi, dan terakhir mencium lembut bibirnya.
"Bang jangan modus, bilang saja pingin menciumku, sana katanya mau ke kamar kecil!"
"Tidak itu hanya alasan saja, duduklah aku ceritakan!"
"Ada apa sih, Bang?"
"Tetapi janji jangan cerita kepada siapapun termasuk dengan Bu Mitha!"
"Ini cerita tentang Bu Mitha, baiklah ceritakan!"
Surya menceritakan semua kisah antara Ningtiyas aparamitha dengan Alfarizi Zulkarnain dari awal sampai yang terjadi sampai sekarang ini. Dan niat tuannya untuk kembali lagi kepada Bu Mitha setelah selesai gugatan cerai di putuskan serta ada Rangga Siregar yang mengejarnya dan sekarang menunggu di halaman konfeksi.
"Apakah sekarang orangnya masih di depan, Bang?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, coba kamu cek dulu, aku tunggu di sini!"
"Baiklah, aku tinggal sebentar ya, Bang?"
"Ingat jangan lama-lama, nanti aku rindu!"
"Lebay ..."
Desi keluar kantor diikuti senyum Surya yang mengembang. Langsung ke halaman konfeksi mencari orang yang bernama Rangga Siregar. Halaman tampak kosong, hanya ada satu mobil yang terparkir di depan pintu konfeksi, tetapi orang yang di maksud tidak menampakkan batang hidungnya.
"Tidak ada Bang, hanya ada satu mobil mewah yang terparkir di depan pintu konfeksi." kata Desi setelah kembali dari halaman.
"Yang itu aku yang bawa, itu mobilnya Papinya Al, sssttt!"
"kalau gitu cepatlah Abang pulang, nanti kalau ketahuan Bu Mitha matilah aku, Dia orangnya tertutup dan tidak mudah percaya pada pada orang."
"Mengapa kamu malah mengusirku?"
"Please Bang, aku tidak ingin kejadian dulu terulang lagi."
"Ok baiklah dengan satu syarat!"
"Apa Bang syaratnya?"
"Memangnya mereka menyentuh bibir Abang, dasar modus."
Surya tetap mencium bibir Desi dengan lembut walau tanpa persetujuan Desi. Dan anehnya Desi juga membalas dan menikmatinya. Sampai pintu terbuka saat Ibu Ani masuk mereka tidak menyadarinya.
"Eee maaf, mengapa ada adegan 18+ di kantor, Neng Desi?" kaget Ibu Ani memalingkan badan agar tidak melihatnya.
"Maaf Bu, Abang sih sana pulang!" jawab Desi kesal.
"Tunggu dulu, aku tadi mendengar para Ibu-ibu katanya salah ngerjain brondong kesasar ternyata kamu?" tanya Ibu Ani kaget karena mengenali Surya.
"Iya Bu, maaf aku pacarnya Desi."
"Bukankah kamu asistenya Papinya Al?"
"Iya Bu, aku pamit dulu, takut Bu Mitha pulang,"
"Bu Ani nanti aku yang menjelaskan, Abang pulang aja sono!"
Surya bergegas keluar kantor dengan perasaan yang gembira. Bu Ani dan Desi duduk berhadapan di kantornya menceritakan semua yang terjadi di Musium Mandala sampai adanya Rangga Siregar yang ada di depan konfeksi menunggu halaman depan.
Surya langsung ke rumah Alfrizi yang berada di belakang konfeksi AA. Menceritakan saat dia di keroyok oleh ibu-ibu sampai badan merah-merah. Membuat Alfarizi tertawa lepas karenanya.
__ADS_1
"Tega banget sih Tuan, aku berjuang demi Anda, badanku sakit semua, Anda malah tertawa!" Surya mengerucutkan bibirrnya karena kesal.
"Tidak usah bersedih, kamu juga menang banyak, bisa mencium pacarmu itu, aku kapan bisa bermesraan dengan istriku?"
"Ngarep aja Tuan, rintangan Anda masih panjang, yang penting semangat, ngomong-ngomong apa yang Anda bicarakan saat berdua dengan Bu Mitha tadi?"
"Bisnis."
"Ha ha ha, berdua bukannya merayu dia, mengapa bicara tentang bisnis?"
"Hanya tentang bisnis dia mau menjawab panjang lebar pertanyaanku, Oya, kamu atur jadwal meeting dengan istriku, tetapi jangan terlihat memaksa, yang penting aku bisa bertemu."
"Bu Mitha setuju meeting dengan Anda?"
"Iya, katanya mau lihat jadwal dia dulu, jangan lupa harus ada kunjungan baik di konfeksi AA atau di kantor kita yang di Jakarta!"
"Anda mau mencuri kesempatan, dasar kodus!"
Di Butik AA bersamaan Neng dan Alfian sampai mall bersamaan pula datang Isya dan tunangannya Stefano Darwan. Isya ingin melihat perkembangan baju pengantin yang di pesannya. Pernikahan mereka tinggal dua minggu lagi.
"Kak Mitha ...!" panggil Isya dari kejauhan.
"Isya, ayo silahkan masuk!"
"Terima kasih Kak, perkenalkan dia Bang Fano tunangan aku."
"Salam kenal Fano, aku Mitha dan dia putraku Al, kebetulan ke sini ayo sekalian fitting bajunya saja!"
"Salam kenal juga Kak, hai Al, tos dong sama Om Fano!"
"Hai Om, toss!" Al dan Fanno menyatukan tangannya dan bersuara tetapi tidak terasa sakit.
Fano memperhatikan dengan seksama wajah Alfian. Setelah Isya menceritakan siapa sebenarnya Mitha dan Alfian Fano penasaran dan ingin melihat dan berkenalan sendiri dengan mereka. Fano seolah melihat calon abang iparnya itu saat masih kecil.
Isya dan Fano melakukan fitting di bantu oleh salah satu karyawan. Neng duduk di sofa sambil memperhatikan Isya dan Fano yang bergantian fitting baju. Meng mendengarkan dan pencatat permintaan Isya yang masih kurang pas di bagian tertentu.
Datang salah satu karyawan sambil berlari kecil mendatangi Neng sambil membungkukkan badannya, "Permisi Bu, diluar ada seorang laki-laki bersama anaknya ingin bertemu dengan Anda."
"Siapa namanya mbak?"
"Maaf Bu, saya lupa tidak bertanya namanya siapa."
Neng tertegun mengerutkan keningnya dan bergumam sendiri, "Apakah Rangga Siregar lagi yang datang?"
"Bagaimana Bu, apakah Anda ingin menemui tamu itu?" tanya karyawan itu masih menunggu jawaban Neng.
__ADS_1