Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Sehat Kembali


__ADS_3

Hari ini tepat satu bulan Neng di rawat di rumah sakit. Keadaannya sudah seperti sedia kala walaupun masih harus banyak beristirahat. Tidak boleh mengangkat barang terlalu berat karena akan mempengaruhi proses penyembuhannya.


Rencananya sore nanti Neng sudah di perbolehkan pulang. Pagi ini Surya yang melakukan pembayaran administrasi rumah sakit. Umi Anna dan karyawan Konfeksi AA sedang mempersiapkan kedatangan Neng di rumah baru. Alfarizi mulai packing barang baik milik Neng ataupun miliknya sendiri yang ada di ruang rawat inap.


Alfarizi selalu melakukan perawatan yang terbaik untuk Neng, selalu membantu saat Neng beraktifitas selama di rumah sakit. Sebelum pulang Neng mempersaipkan diri, Alfarizi membantu Neng untuk berganti baju, "Mau di bantu buka baju atau di pakaikan bajunya?"


"Tidak usah Papi, sudah bisa sendiri sekarang."


"Tidak apa-apa ayo Papi bantu, itu pekerjaan favorit Papi selama di sini"


"Idih itu maah, modus Papi aja."


"Istri cantik Papi memang paling tahu."


Perjalanan pulang hanya di tempuh kurang dari satu jam mereka sudah sampai rumah. Mobil di parkirkan di depan rumah Neng, Alfarizi ingin menunjukkan pintu yang baru dibuat satu minggu lalu dengan merobohkan tembok penghubung di antara Konfeksi AA dan rumah Alfarizi. Sehingga Neng di gandeng pelahan oleh Alfarizi berjalan melewati pintu itu.


"Mami ...Al mau peluk dulu." Alfian menyambut maminya dengan memeluk Neng dengan erat.


"Mami sayang Al selalu." jawab Neng sambil memeluk putranya.


"Papi siapa yang peluk?" kata Alfarizi merentangkan tangannya.


"Al juga sayang Papi." Alfian bergantian memeluk papinya dengan erat.


Bergantian dengan seluruh karyawan Konfeksi AA dan Butik AA menyambut sambil berpelukan dengan hangat. Berbincang di ruang tamu sambil makan bersama sebagai rasa syukur karena owner nya yang sudah sehat kembali. Dan tidak lupa mengucapkan selamat kepada pasangan yang baru bersatu.


Sayangnya Neng masih belum boleh lama-lama duduk, punggungnya akan terasa nyeri. Neng berpamitan untuk beristirahat setelah menikmati makan bersama. Para karyawan akhirnya hanya berpincang dengan Umi Anna, Isya, Desi dan Rianti.


"Ayo Papi antar unkuk beristirat di kamar, Al, ayo Nak antar Mami ke kamar dulu!"


"Iya Papi, Mami Al bantu." Alfian menggandeng tangan Neng sebelah kiri dan Alfarizi di sebelah kanan.


"Terima kasih Nak."


Walaupun hanya kamar cadangan tetapi semua fazilitas sangat lengkap. Lebarnya dua kali lipat dari kamar milik Neng sendiri. Termasuk baju dan kosmetik yang biasa di pakai juga sudah tersedia lengkap di meja rias.

__ADS_1


Sampai di dalam kamar berbincang sejenak kemudian Alfarizi ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri. Alfian duduk di samping maminya, "Mami, untuk sementara di sini, nanti kalau sudah sehat betul bisa pindah di atas dekat Kamar Al."


"Iya Nak, apa Al mau bobok di sini bareng Mami?" tanya Neng sambil melirik kamar mandi.


"Tidak mau Mami, Al mau main game bersama Zain. Mami kan ada Papi yang menemani."


Neng hanya tersenyum dan mengangguk, saat ini Neng benar-benar merasa gugup. Ketika di rumah sakit rasanya biasa dan nyaman walau hanya berdua dengan dia. Setelah di rumah rasa gugup dan nervous tidak bisa di sembunyikan lagi.


Neng hanya termenung sendiri setelah Alfian berpamitan keluar kamar untuk bermain bersama Zain sedangkan Alfarizi masih di kamar mandi. Neng teringat malam itu saat di villa melakukan hubungan dengan Alfarizi untuk pertama kalinya tanpa dia mabuk. Teringat keduanya hanyut dalam indahnya memadu kasih, dia selalu mengatakan hanya miliknya dan tak seorangpun bisa menjamah tubuhnya.


Sampai saat ini Neng memang tak pernah mengizinkan seorang laki-lakipun memasuki hatinya. Tanpa sadar hatinya selalu mematuhi ucapan itu sampai sekarang. Rasa cinta itu sebenarnya mulai tumbuh sejak saat malam itu, hanya saja rasa itu selalu di tekan dan di pendam dalam hati.


Alfarizi keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang di lilitkan dari pinggang saja. Rambut yang basah masih menetes di pundak dibiarkan olehnya. Berjalan mendekati Neng yang masih termenung dengan sengaja menggelengkan kepalanya sampai air tetesan dari rambutnya mengenahi wajahnya.


"Papi ... basah nich muka!"


"Mengapa melamun, Honey; mau mandi atau cuma di seka?"


"Papi pakai baju dulu, itu sudah Mami sediakan di sana!"


"Tidak apa-apa, Mami mau ke kamar mandi." Neng berjalan ke kamar mandi rasa gugup itu semakin besar setelah dia memakai baju sambil memandangnya tanpa berkedip, sorot mata penuh cinta yang sekarang ini selalu di tunjukkan membuat dirinya nervous, gugup dan salah tingkah.


Hanya menyeka badannya menggunakan handuk kecil, sikat gigi dan membersihkan mukanya dengan sabun khusus. Alfarizi menyusul setelah selesai memakai baju, "Honey, mengapa pintunya di kunci, buka dulu dong, Papi mau membantu menyeka punggung?"


Neng memakai celana dengan cepat, mau tidak mau memang harus membuka pintu karena setiap sebelum tidur harus di seka punggungnya agar tidak gatal saat malam hari.


"Handuk kecilnya mana?"


"Itu ...." Neng hanya menunjuk handuk kecil yang menggantung sambil menunduk.


Perlahan Alfarizi mengusap punggungnya dengan lembut, "Mi ...!" panggil Alfarizi.


"Hhmm ..."


"Apakah masih sakit?"

__ADS_1


"Tidak terlalu sih, emang ada apa, Pi?"


"Nanti aja lah ngomongnya jangan di kamar mandi."


Setelah keluar dari kamar mandi dan Neng sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur big size. Alfarizi ikut merebahkan tubuhnya di samping Neng sambi miring menghadap sempurna kearahnya. Perasaan cinta yang di rasakannya setiap hari semakin besar apalagi saat berdua seperti sekarang ini di kamar.


"Honey ...." tangan Alfarizi melingkar di pinggang Neng yang tidur terlentang dan menyelimuti badannya dari kaki sampai pinggang saja.


"Apakah masih sakit jika tertekan sedikit?" Tangan Alfarizi pindah ke pipi Neng, mengelusnya dengan lembut.


"Tidak sih, kenapa memang?"


"Papi pingin itu boleh tidak?"


Neng memejamkan matanya sejenak, rasa nyaman yang di rasakan saat ini berdanding terbalik dengan hatinya yang berdegup kencang, "Itu apa sih, Papi?"


"Papi tidak akan memaksa, makanya izin dulu jika Honey belum siap, Papi sabar menunggu!"


Neng hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hanya berani melirik tanpa berani menatap wajahnya. Tidak tahu harus menjawab apa, hatinya selalu mendampa hanya takut dengan luka di punggungnya.


"Honey, kok malah diam. Papi izin mulai perlahan ya dari sini boleh?"


Alfarizi awalnya mengusap bibir Neng yang masih terdiam, "Papi mulai ya?"


Alfarizi memegang dagu Neng, memajukan wajahnya tangan kanannya untuk tumpuhan agar tidak menekan punggung Neng. Awalnya mencium sekilas bibirnya, "I love you, Honey."


Neng tersenyum sambil memandang wajah suaminya yang berada diatas wajahnya, Kembali Alfarizi mulai mencium istrinya pintu terbuka lebar Alfian masuk kamar sambil berlari, "Papi ... Uncle Harry dan tamu yang lain mau pulang, Papi di suruh keluar sama Opa Ali!"


Neng menutup mulutnya sambil menahan tawa karena mendengar suaminya yang ngedumel sendiri dengan lirih, "Yaaah gagal maning ...!"



jangan lupa mampir shobat


sambil menunggu Apa Salahku Tuan?

__ADS_1


Up lagi. TRIMS


__ADS_2