Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Situasi Pernikahan


__ADS_3

"Mami ada apa?" tanya Al kaget semua penumpang yang berada di belakang berteriak dan terjatuh.


"Maaf, aku salah injek gas, apakah ada yang terluka?" tanya Neng sambil melihat spion yang ada di atas kepalanya.


"Kami tidak apa-apa Bu, cuma kaget saja!" jawab Desi.


Neng hanya tersenyum kecut sambil tetap konsentrasi menyetir. Teringat ada mobil yang datang saat berangkat tadi adalah Rangga Siregar. Walaupun dia datang menggunakan mobil yang berbeda tetapi Neng bisa mengenali siluet tubuhnya saat dia akan turun dari mobilnya ketika Neng tancap gas.


Untungnya tidak ada yang menyadari jika yang datang adalah Rangga Siregar termasuk Alfian. Alfian hanya hafal mobil dari Rangga Siregar yang sering dipakai mengantar Putri. Rangga Siregar membawa mobil yang berbeda dan tidak mengajak Putri.


Di sepanjang perjalanan yang di belakang bercerita dan bercanda untuk mengisi waktu agar tidak mengantuk. Alfian hanya konsentrasi membaca komik kesukaannya. Neng hanya sesekali tersenyum mendengar candaan mereka sambil melamun.


Melamun bagaimana cara bisa menghindari Rangga Siregar dan Alfarizi Zulkarnain. Keduanya sama-sama berusaha mendekatinya. Selama ini Neng tidak pernah bisa berinteraksi secara personal, biasanya jika ada pelanggan laki-laki harus di dampingi Desi atau bahkan Desi yang menghadle. Neng mempunyai karyawan semua perempuan.


Sampai di rumah Bibi Minah hampir tengah hari, banyak sudah tamu yang datang. Memarkirkan mobilnya di belakang rumah Bibi Minah yang sangat sederhana. Langsung di sambut oleh Bibi Minah setelah melihat Rombongan Neng Mitha.


"Nona, waah Anda sekarang geulis pisan." kata Bibi Minah berlari mendekati rombongan Neng.


"Apa kabar Bibi?" Neng langsung memeluk orang yang parnah menyayangi dan menjadi bagian hidup di masa lalu.


"Baik Nona, apakah Dia ...?" Bibi Minah tidak melenjutkan ucapannya saat melihat Alfian yang berdiri di belakang Neng.


"Iya Bibi, ini Alfian putraku."


Bibi Minah duduk jongkok mengusap rambut Alfian, "Wajahmu mirip sekali dengan dia, Tuan Muda Kecil."


"Jangan panggil begitu Bibi, panggil Al saja." kata Neng lagi.


Setelah Neng memperkenalkan satu persatu rombongan. Mereka di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan. Neng duduk tepat di hadapan Bibi Minah, saling melepas rindu sudah bertahun-tahun tidak bertemu.


Cerita dari hati ke hati sambil berlinang air mata antara Bibi Minah dan Neng berada di kamar sederhana milik Bibi Minah. Kehidupan keluarga Bibi Minah yang serba kekurangan. Walaupun Bibi Minah tidak mengeluh Neng bisa merasakan kehidupan yang berat di alami mereka.

__ADS_1


Anak dan menantu Bibi Minah hanya buruh cuci dan kuli bangunan, sedangkan cucu menantunya adalah tukang ojek penggolan yang ada di daerah Bogor. Rumah mereka sangatlah sederhana bahkan dapurnya hampir saja roboh. Yang lebih mengenaskan lagi acara pernikahan itu banyak sekali tamunya tetapi hidangan makanannya hampir habis.


Keluarga semua pada panik dan bingung harus berbuat apa, sedangkan mereka sudah tidak memiliki uang. Neng yang mendengar kegelisahan mereka langsung memanggil Junaidi dan Lilis untuk bertanya tentang situasi pernikahan itu.


"Aa Jun, Lilis ... sebenarnya apa yang terjadi mengapa acaranya kacau begini?"


"Aku juga kurang faham, katanya karena acara resepsi pernikahan di shere oleh grop tukang ojek, karena mereka kasihan kepada pengantin yang menikah dalam keadaan yang seadanya." cerita Lilis panjang.


"Jadi bagaimana solusinya, tamu semakin banyak?" tanya Junaidi bingung.


"Aa, coba kamu datangi warung bakso dan warung soto yang ada di daerah sekitar sini, borong semua, angkat sekalian rombongnya, nanti aku yang bayar!" perintah Neng dengan cepat.


"Ide bagus Nona, berapa warung yang harus saya datangi?" Junaidi dengan antusias bertanya.


"Untuk sementara dua warung bakso dan dua warung soto."


"Baik, aku juga akan minta bantuan keluarga Bibi Minah, aku panggil mereka sekarang."


"Ide bagus, panggil mereka sekarang!" perintah Neng lagi.


Lilis berlari keluar rumah menuju tukang gado-gado. Bibi Minah terpaku melihat Neng yang bertindak cepat mengatasi masalah sambil berlinang air mata. Neng hanya tersenyum dan mengusap punggungnya untuk memberi dukungan.


Saat hidangan yang di masak oleh keluarga Bibi Minah ludes, bersamaan datang dua rombong bakso dan soto serta bibi gado-gado. Mereka mulai menyiapkah hidangan untuk para tamu yang mulai datang kembali. Para keluarga Bibi Minah bernapas lega semua bisa di atasi tanpa ada drama yang membuat malu.


Sampai pukul lima sore undangan sudah mulai berkurang. Tanpa terasa Junaidi sudah memanggil 4 rombong bakso, 2 rombong soto dan dua bibi gado-gado. Yang paling sibuk saat ini adalah Desi, sang asisten itu bolak-balik harus mentransfer pembayaran untuk para pedagang.


Pukul enam sore sudah tidak ada lagi tamu yang datang, acara berjalan dengan lancar walaupun sempat ada kebingungan karena dana. keluarga Bibi Minah bahkan mengucapkan berkali-kali terima kasih kepada Neng. Bahkan Bibi Minah terus-menerus menangis melihat Neng sekarang sudah berhasil dan mau membantunya tanpa perhitungan.


"Nona terima kasih banyak, atas bantuannya, bagaimana cara aku membalasnya?" kata Bibi Minah kembali tergugu sambil memeluk Neng dengan erat.


"Apa sih Bibi ini, tidak perlu berterima kasih, Bibi sudah aku anggap seperti Ibuku sendiri."

__ADS_1


"Terima kasih banyak, apakah Nona tidak mau menginap di sini, ini sudah senja?"


"Lain waktu saja Bi, besok Al harus sekolah."


Rencana mereka mau pamit pulang saat Alfian protes mau ke kamar mandi bingung tidak ada air. Al tidak bisa memompa dari sumur bor yang berada di belakang rumah, "Mami, Al mau buang air kecil, tidak ada air, cepat keburu ngompol!"


"Ayo cepat, Om Jun saja yang mengambilkan air!"


"Ya ayo cepetan, Al sudah tidak tahan!"


Alfian berlari ke belakang rumah bersama Junaidi. Ada suara ponsel Desi berbunyi, dia menerima panggilan telepon sambil keluar dari rumah. Mereka kembali bersiap-siap untuk pulang karena waktu semakin sore.


Al datang duduk di samping Neng dan bertanya, "Mami kasihan sekali rumah Nenek, bagaimana kalau Nenek Minah diajak pulang ke rumah kita saja?"


"Coba Al sendiri yang mengajak Nenek ikut kita pulang?"


Al belum bertanya kepada Bibi Minah, beliau langsung menjawab, "Tidak usah Tuan muda ganteng, Nenek sangat bahagia tinggal disini."


"Nenek tidak mau Mi, jadi bagaimana dong?"


"Kita tidak boleh memaksa dong, Nak."


"Apakah Nenek tidak capek mompa airnya setiap hari?" tanya Al penasaran.


"Tidak, Nenek malah suka, setiap hari olah raga menjadi lebih sehat."


"Mami, apakah Al boleh minta pada Papi untuk membuat rumah Nenek menjadi bagus seperti rumah kita?"


"Eee, tidak boleh merepotkan Papi dong Al, Mami ...?"


Neng belum sempat melanjutkan ucapannya, ada suara bariton yang memotong perkataanya sambil berjalan mendekati mereka, "Sesuai permintaan kamu Nak, Papi akan membangun rumah Nenek sampai bagus."

__ADS_1


"Papi ...!" teriak Al berlari mendekati Alfarizi dan memeluknya.


__ADS_2