
Zain seperti berperang dengan dirinya kali ini. Rasa rindu yang mengebu dan saran Julio. Ponsel dibuka, ditutup, diputar dan diletakkan di samping tempat tidur berkali-kali.
"Aaaargh ...!" teriak Zain sambil mengacak rambutnya.
Capek selama tiga hari bekerja tanpa henti tidak se-capek memikirkan pujaan hati. Berguling, terlentang dan tengkurep seperti cacing kepanasan. Zain tidak bisa mengendalikan rasa rindu yang bergejolak di hati.
Zein memilih tidak jadi mengubungi Dakter Atha. Mengirim pesn WA-pun tidak. Dia justru iseng melihat tiket pesawat penerbangan terakhir malam ini.
Untung malam ini para tim medis memilih menginap di hotel yang berada di kota. Tidak seperti kemarin yang menginap di tenda. Sehingga jarak bandara dan hotel bisa di tempuh dengan satu jam perjalanan.
Zain hanya berpamitan kepada rombongan tim medis. Dia lebih memilih pulang menggunakan pesawat komersil. Dari pada menunggu pesawat angkatan udara seperti awal berangkat kemarin.
Rasa rindu yang teramat sangat tidak bisa di bendung lagi kini. Dia rela berlari dari taksi yang mengantar dari hotel ke tempat cek-in karena waktu yang mepet. Tidak kurang dari sepuluh menit jarak Zain tiba di bandara dan pesawat sudah take-off menuju Jakarta.
Dokter Atha kebetulan malam ini sedang ada operasi caesar mendadak di rumah sakit Aljazeka. Menolong nyawa ibu dan putrinya yang harus di selamatkan walau waktu sudah di luar jam kerja. Dedikasi yang tinggi selalu di tunjukkan olehnya selama bekerja di rumah sakit milik adik tirinya.
Ini adalah satu cara Dokter Atha agar tidak terlalu fokus dengan kehidupan pribadinya. Teutama tentang hati yang mulai merasa kehilangan. Sudah tiga hari seperti tidak ada warna setelah Zain pergi tugas luar kota.
Tidak ada yang menggangu seperti biasanya. Tidak ada yang merayu seperti hari-hari yang dilalui beberapa bulan ini. Rasanya ada yang hilang dari kesehariannya.
Dokter Atha tidak menunjukkan kelemahan hati dihadapan siapapun. Bahkan saat bertemu dengan Alfian atau Julio. Berkali-kali mereka menggoda dan bertanya, tetap saja Dokter Atha bisa menyembunyikan debaran hati.
Pengalaman pahit saat masih kecil selalu saja terbayang di pelupuk mata. Mulai dari kehilangan kasih sayang Papi Alfarizi. Sampai kehilangan mama dan calon adik laki-laki yang masih ada di dalam perut Mama Sinta.
__ADS_1
Pengalaman pahit itu tetap membuat pertahanan hati yang mulai mendamba. Tekatnya tetap bulat tidak ingin mendampa apalagi seorang lelaki yang suka berpetualang cinta. Tekatnya semakin kuat saja walau hati tidak bisa di pungkiri rasa sudah muali tumbuh di hati.
Pukul satu dini hari pesawat Zain sudah landing di Bandara Sukarno Hatta. Zain tidak memesan taxi ke rumahnya sendiri melainkan langsung ke apartemen milik Dokter Atha. Menarik koper, menaiki lift dan menekan bel berkali-kali setelah sampai apartemen.
Sayangnya tidak ada tanda-tanda pintu terbuka atau wajah cantik yang diharap bisa dilihat muncul. Ada dua kursi dan meja tepat di samping pintu apartemen. Zain langsung duduk setelah meletakkan koper diatas meja.
Koper dipakai untuk tumpuan kepala dan memejamkan mata. Antara rasa rindu yang tidak bisa di tahan dan rasa lelah bekerja masih berkecamuk di dada. Lama-kelamaan napas teratur dan tertidur lelap.
Pukul dua dini hari Dokter Atha melajukan mobilnya untuk pulang ke apaetemen. Inilah tujuannya tidak mau tunggal bersama Alfian saat di minta Papi Alfarizi kemarin. Tidak akan merepotkan dan khawatir jika pulang sewaktu-waktu.
Mata sudah mulai mengantuk saat mobil terparkir sempurna di parkiran. Dokter Atha langsung berjalan dengan langkah panjang menuju lift. Ingin cepat merebahkan tubuhnya setelah bekerja keras.
Tidak di sangka ada wajah tampan sedang duduk dan tertidur lelap di samping pintu apartemen. Dokter Atha hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Masuk apartemen dengan langkah pelan agar dia tidak membangun.
Dokter Atha keluar lagi dengan membawa selimut tebal. Di selimuti dari kaki yang masih memakai sepatu sampai leher. Di tinggal masuk kembali dengan perlahan dan menutup pintu juga perlahan.
Oma yang ada di Australia selalu berpesan setiap pribadi pasti tidaklah sama. Pasti memiliki masa yang kelam dan pernah melakukan kesalahan. Orang yang mau berusaha dan berubah adalah orang yang paling baik.
Oma juga berpesan jangan salahkan Papa Mario yang belum sempat berubah sampai beliau meninggal. Tidak mungkin semua laki-laki memiliki rasa cinta dan dendam secara bersamaan. Jangan semua laki-laki di nilai sama seperti Papa Mario dan Om Rangga Siregar.
Rasa takut yang berlebihan saat teringat peristiwa tabrakan mobil beradu mobil antara Mama Sinta dengan Papa Mario. Adik bayi yang masih dalam kandungan ikut berpulang bersama Mama. Menambah trauma semakin dalam.
Kesendirian dan kesepian sejak sejak kecil. Kurangnya kasih sayang membuatnya tidak berani berubah tangga. Rasa takut memiliki komitmen dengan lawan jenis akan bernasib seperti Mama Sinta.
__ADS_1
Sering melihat dan menyaksikan pertengkaran demi pertengkaran antara Mama Sinta dan Papa Mario. Rasa dendam dan iri yang selalu ada di pikiran Papa Mario. Mama Sinta yang selalu membandingkan dengan kebaikan Papi Alfarizi, menambah trauma Dokter Atha semakin dalam.
Rasa sesal kini semakin dalam karena harus jatuh cinta dengan laki-laki yang suka berpetualang. Banyak dikelilingi dan dipuja wanita cantik. Pacar dan mantan pacar ada di mana-mana.
Semakin kuat tekatnya untuk tidak mengenal lawan jenis. Seperti dulu saat cinta pertama dengan teman SMA. Cintanya berhasil di hilangkan dari pikiran dan hati.
Dengan mengisi kegiatan dan kesibukan yang menumpuk bisa berhasil dan tidak lagi memikirkan yang namaya cinta. Sekarang ini Dokter Atha juga bertekat sama seperti semasa SMA. Rasa cinta yang tumbuh kini berusaha di hilangkan di dalam hati.
Dokter Atha melirik jam hampir satu jam dia melamun dan termenung. Mata tetap tidak bisa diajak kompromi. Pikirannya terus saja berada diantara dua masa, masa lalu dan masa sekarang.
Sekarang ini waktu ada di ujung sepertiga malam. Bersimpuh menghadap sang pencipta dengan linangan air mata. Memasrahkan segala keresahan jiwa, memohon agar bisa menghilangkan rasa cinta yang ada.
Pukul lima pagi ada seorang suster yang menghubungi. Ada lagi opersai mendadak yang harus di lakukan. Untuk menyelamatkan dua nyawa korban kecelakan yang baru saja terjadi.
Sebelum pergi Dokter Atha membuat kopi di termos kecil. Nasi goreng di letakkan di box penghangat dan memo kecil. Di letakkan di samping koper untuk orang yang masih terlelap.
Zain mengerjapkan mata pukul enam pagi. Tersenyum ketika sudah memakai selimut saat bangun. Menebak pasti tadi malam sang pujaan hati yang menyelimuti.
Kembali tersenyum saat ada termos kopi dan sarapan pagi. Ada juga memo kecil di samping dua kotak dan bergegas di baca dengan cepat, "Aaaargh ... sial mengapa begini Atha!" teriaknya.
BERSAMBUNG
ayo mampir Shobat
__ADS_1
jangan lupa ya ini rekomen lo