
Alfian menggenggam tangan Rania duduk berdampingan di pinggir tempat tidur. Menunggu Dokter yang sedang memeriksa tespack dengan beberapa merk. Hati mulai gelisah menunggu dokter yang sedang menunggu hasilnya.
"Ini dari tiga taspack semua menunjukkkan dua garis. Selamat Tuan sebentar lagi Anda akan menjadi seorang Ayah."
"Alhamdulillah ...!" Alfian, Zain dan Rania mengusap syukur bersamaan.
"Baiklah, sebaiknya kami tunggu pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit," Dokter menyaranakan kepada Alfian dan Rania.
"Tolong cari dulu dokter kandungan wanita sebelum kami ke rumah sakit!" perintah Alfian.
"Kalau itu tanggung jawab gue, hari ini sudah ada yang mendaftar, dia lulusan terbaik dari Australia."
Dokter, Bidan dan perawat kembali ke rumah sakit. Zain juga langsung ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan yang akan bekerja di rumah sakit.
Alfian berkali-kali mencium perut Rania yang masih rata. Kebahagiannya kini berlipat ganda karena sebentar lagi ada Alfian junior yang akan menambah kebahagian. Mengabari kabar seluruh keluarga membagi kebahagiaan.
"Bagaimana rasanya, Sayang ada buah hati kita di sini?" Alfian berkali-kali mengelus perut Rania.
"Belum ada rasanya, Bang."
"Jaga kesehatan, kalau Rani pingin apapun bilang Abang ya!"
"Hhmm ...."
Sambutan kebagahagiaan keluraga dan ucapan selamat datang silih berganti baik memalui telepon ataupun pesan WA. Terutama Umi Anna yang tinggal satu rumah. Beliau langsung memberikan wejangan agar ibu hamil sehat.
Zain yang berlari dari parkiran ingin cepat sampai kantornya. Tidak ingin keduluan dengan seorang dokter ahli kandungan wanita yang sudah berjanji bertemu. Tanpa sengaja Zain menabrak seorang wanita tinggi berambut sebahu yang berjalan tergesa-gea.
"Bruuuk ...."
"Kalau berjalan pakai mata!" teriak Zain kesal.
"Kamu yang seharusnya yang berjalan menggunakan mata, dasar aneh!" Wanita itu juga naik pitam.
"Apa elu bilang?"
"Percuma meladeni orang tidak jelas seperti kamu, permisi aku ada janji dengan orang." Wanita itu meninggalkan Zain dengan hati yang kesal.
"Dasar wanita aneh, bukan cuma elu saja yang punya janji!"
Zain bergegas memasuki kantor milik pribadinya. Memakai jas dokter dan duduk di kursi kebesaran. Menunggu orang yang sudah membuat janji sambil membaca biodata.
__ADS_1
"Tok ... tok ... tok!"
"Masuk ...!" teriak Zain,
Asisten Zain yang bernama Leo masuk bersama seorang wanita yang tadi di temuinya. Zain langsung berdiri dan berteriak bersamaan dengan wanita itu, "Kamu ...!"
"Tunggu ... Dokter Zain sudah kenal dengan Doker Atha?" tanya Asisten Leo.
"Ya wanita yang berjalan tidak pakai mata." Zain menjawab dengan kesal.
"Kamu yang berjalan tidak pakai mata." Wanita yang di panggil Dokter Atha juga ikut menjawab dengan jutek.
"Bersikaplah profesional, pertengkaran bisa di selesaikan di luar sana!" Asisten Leo menengahi dengan bijak.
"Maaf Dok." Dokter Atha mengalah sambil membungkukkan badannya.
"Hhmm ..."
Zain membaca biodata seorang wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Bernama Marta Inayah lahir di Jakarta tetapi beralamat di Australia. Menempuh pendidikan dokter di Australia dengan lulusan terbaik. Wajahnya terlihat tegas, berwibawa dan serius.
Zain mengerutkan keningnya teringat nama itu tidak terlalu asing baginya. Di ingatnya berkali-kali nama itu tetapi tetap saja lupa dan tidak mengenal dia. Sesekali melirik wanita yang menunggu dengan harap cemas.
"Baik kamu di terima... mulai kapan bisa praktek?"
"Bagus, Leo tunjukkan ruang khusus untuk dia!"
"Siap Dok."
"Tunggu dulu, apakah kamu setuju tentang penerimaan gaji yang sudah di tetapkan di rumah sakit ini?"
"Ya saya menerima semua ketentuan dan peraturan rumah sakit. Tidak di gajipun saya tetap akan bekerja di sini."
"Maksudmu Apa?"
"Aku sudah di gaji sebelum bekerja di sini."
Zain bingung dengan jawaban dari dokter yang ada di depannya. Masih tidak memahami apa yang dikatakan olehnya. Seluruh dokter yang di wawancarai hanya dia yang menjawab aneh, dokter yang lain mematok gaji yang tinggi, tetapi dia tidak menuntut apapun.
"Hari ini Pukul tiga sore kamu akan mendapatkan tugas khusus. Kamu akan memeriksa istri dari owner pemilik rumah sakit ini, Sanggup Dokter Atha?"
"Siap Dok."
__ADS_1
Zain langsung mengirim kabar kepada Alfian. Untuk datang ke rumah sakit pukul tiga sore. Zain juga mengirim biodata Dokter Atha lengkap dengan foto dan alamat lengkap.
Zain juga bercerita nama lengkap dokter kandungan wanita itu terdengar tidak asing baginya. Hanya saja Zain lupa dan tidak mengingat siapa dia. Zain juga mengirim data lengkap dokter kandungan itu kepada Papa Harry.
Alfian yang baru saja menerima biodata seorang dokter wanita langsung teringat masa kecil. Alfian langsung mengirim juga biodata dokter wanita kepada Mami Mitha, Papi Alfarizi dan Asisten Surya.
"Ada apa sih Bang, dari tadi sibuk tidak memperhatikan Rani sama sekali?' tanya Rania saat melihat Alfian selalu mengerutkan keningnya dan sibuk dengan ponselnya. Alfian langsung meletakkan ponselnya setelah selesai mengiirim biodata Dokter Atha kepada Asisten Surya dan Julio.
"Kemarilah ... Rani pingin apa?"
"Rani tidak menginginkan apa-apa. Maunya di perhatiin dan di manja Abang aja."
"Sini Abang peluk!"
Rania duduk di pangkuan Alfian, dia berkali-kali mencium rambut Alfian dengan menghirup dalam-dalam, "Sayang, mengapa rambut Abang diciumi begitu?"
"Bau rambut Abang enak, Rani suka."
Umi Anna yang masuk kamar Alfian dan Rania tanpa mengetuk pintu, "Kalian ngapain pangu-pangkuan begitu?"
"Ini Oma, Rani menciumi rambut Abang terus, baunya enak katanya."
Umi Anna tersenyum duduk di samping Alfian, "Ngidamnya kok aneh banget sih, Sayang."
"Adakah ngidam menciumi rambut suami, Oma?" tanya Alfian bingung.
"Itu ada istri Abang."
"Oma ada apa ke sini?"
"Mami dan Papi dalam perjalanan ke sini, mereka juga ingin bertemu dengan dokter kandungan itu."
Rania mengerutkan keningnya turun dari pangkuan Alfian dan duduk di samping Umi Anna, "Dokter Kandungan, siapa Oma, dia perempuan atau laki-laki?"
"Perempuan," jawab Umi Anna singkat.
"Nanti Abang ceritakan kalau sudah bertemu dengan dia."
Dari Papi Alfarizi, Mami Mitha, Surya, Desi, Rianti sampai Isya datang ke rumah Alfian. Di samping untuk mengucapkan selamat akan adanya anggota keluarga baru. Merekaa ingin bertemu dengan dokter kandungan yang membuat penasaran.
Rombongan datang pukul tiga sore ke rumah sakit. Seluruh owners rumah sakit datang bersamaan membuat sebagian karyawan dan tenaga medis menyambut dengan seadanya. Tidak menyangka laporan Zain membuat keluarga penasaran.
__ADS_1
dokter Atha hanya mempersiapkan mental bertemu dengan Alfian dan Rania. Setelah melihat seluruh rombongan keluarga masuk di kantornya, dia hanya berdiri dan menunduk tanpa berani menatap wajah mereka satu persatu.
Alfian yang sangat mengenalnya lansung mendekati dokter kandungan yang menunduk tidak berani mendongakkan wajahnya, "Apa maksudnya ini, mengapa tidak ke rumah dulu?"